Itsme231019

Posts Tagged ‘TKW

Hingga saat ini, pengiriman TKW dari Indonesia masih terus bergulir dengan gelombang besar-besaran. Krisis ekonomi yang berlarut-larut telah memaksa banyak perempuan menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita). Dari sudut lain, pengiriman TKW ini terlanjur menjadi semacam jaringan bisnis yang kuat, terorganisir dan menghasilkan uang, sehingga tidak sedikit orang yang berlomba-lomba untuk “menjaring” dan “berburu” orang terutama perempuan untuk dijadikan TKW. Tak heran, meski banyak yang menentang, namun nyatanya bisnis ini kian menggurita saja.

Issue TKW ini tak akan pernah berhenti untuk dibincangkan, karena sangat berkelindan dengan isu hak asasi manusia yang tengah dan terus diperjuangkan.

Menyimak banyak pemberitaan tentang pahit getir kehidupan ‘pahlawan devisa’ ini, maka TKW selalu tak luput dari penganiayaan dan kekerasan, bahkan hingga detik ini.

Penganiayaan (kekerasan) terhadap TKW ini bisa mengambil bentuk kekerasan fisik, psikologis, atau seksual.

Kekerasan bersifat fisik misalnya memukul, membenturkan kepala, menampar, menendang, menjambak rambut, mencakar, dan kekerasan fisik lainnya yang menimbulkan cacat fisik pada pihak korban.

Adapun kekerasan yang bersifat psikologis adalah kekerasan yang sesungguhnya sistematis yang mengontrol pikiran dan prilaku korban. Misalnya saja mengisolasi korban sehingga tak bisa komunikasi dengan keluarganya, menyekap korban dalam suatu ruangan tanpa makan dan minum, mengancam akan membunuh korban jika si korban “membuka mulut”, memanggil korban dengan julukan yang menghinakan-degradasi (misalnya, hewan, anjing, pelacur, keledai, bodoh, pemalas, pembohong dan panggilan menjijikan lainnya).

Sementara kekerasan seksual adalah pemaksaan terhadap korban untuk melakukan kegiatan seksual. Misalnya saja, memaksa korban untuk melakukan hubungan seksual dengan si pemaksa, atau disuruh berhubungan seks dengan binatang atau bahkan benda.

Dalam konteks TKW, kekerasan-kekerasan diatas acap menyerang mereka habis-habisan. Posisi mereka sebagai TKW acap potensial dan menjadi target empuk bagi terjadinya kekerasan dan penganiayaan.

Namanya juga domestic worker, para TKW itu terperangkap dalam ruangan tertutup sehingga sulit diketahui oleh publik. Tidak sedikit tkw yang mengalami kekerasan seksual oleh majikan laki-laki dipanggil pembohong dan pelacur ketika memberi tahukan kasus itu kepada majikan perempuan. Usaha dia untuk bersikap jujur pun ternyata diludahinya dan dinistakannya oleh sang majikan. Hati dan perasaan TKW begitu terlukai, begitu pedih dan perih.

Saya sendiri banyak mendapatkan informasi bahkan dari para tkw sendiri bahwa panggilan-panggilan seperti “inti hayawan” (kamu dasar hewan) tak jarang menyemburat dari mulut majikan saat mereka marah sama tkw. Acap kali, persoalan itu sengaja diciptakan dan diada-adakan untuk menghina dan menohok diri tkw. Jadi kalau dilihat, disana tergambar satu pihak yang bernafsu menunjukkan dominasinya terhadap pihak lain (baca : tkw) yang dianggap “nothing”. Pada tahap ini, tkw selalu pada posisi powerless, voiceless dan mudah ditekuk.

Pahit getir TKW ini ternyata belum terobati bahkan hingga detik ini. Bagaimana bisa terobati, perlindungan hukum bagi mereka masih sekadar basa-basi saja. Aturan sudah dibikin, tapi selalu saja dilanggar. Dan pelaku pelanggaran tak pernah ditindak secara tegas, bahkan terkesan dibiarkan.

Pengiriman TKW hingga saat ini terus bergelombang dengan jumlah yang terus bertambah. Banyak pihak-pihak yang memanfaatkan peluang ini. Tentu saja, motivasinya adalah profit. Maka muncullah “agen-agen” yang berkeliaran di kampung-kampung mencari mangsa untuk dijadikan tkw.

Jika permintaan besar, dan “stock” tkw sedikit, maka pihak “calo” bisa mematok harga yang besar untuk satu calon tkw. Tak heran, jika kemudian proses “iming-iming” pun diciptakan untuk mendapatkan surplus yang lebih. Disini terlihat jelas orientasi profit lebih kentara daripada perhatian terhadap keselamatan tkw itu sendiri. Ini artinya, devisa yang besar juga untuk pemasukan negara. TKW pun menjadi “mesin” devisa negara.

Ketika pemerintah hanya bisa mengambil profit dari TKW tanpa memberikan garansi keamanan bagi mereka, sesungguhnya pemerintah juga telah ikut berkontribusi pada penciptaan kekerasan secara struktural. Kekerasan bertubi-tubi terjadi terhadap TKW namun pemerintah masih termangu diam melihat borok sosial ini, barangkali bisa menjelaskan kekerasan struktural ini.

Teman saya dari srilangka bilang bahwa pengiriman tkw itu sama artinya dengan zina yang dilegalkan. Karena sesungguhnya, agama terutama islam melarang perempuan pergi tanpa mahram. Dalam konteks tkw, yang terjadi adalah tkw pergi “sendirian” tanpa mahram dan bekerja pada tempat yang bukan mahram. Kalau melihat dari kaca mata agama, jelas haram hukumnya. Tapi karena krisis ekonomi, yang haram-pun mengalami normalisasi sehingga terkesan halal-halal saja. Kadang saya berfikir, kenapa yang jadi pembantu itu selalu perempuan, kenapa tidak laki-laki yang secara biologis kuat?

Pada point ini, perempuan identik dengan pekerjaan domestik ini terlanjur terkonstruksi kuat dalam masyarakat. Sehingga, jika ada laki-laki yang bekerja pada wilayah domestik tidaklah cocok, dan artinya juga tak pantas bagi perempuan melakukan pekerjaan diwilayah publik. Paradigma ini sesungguhnya telah meminggirkan kiprah perempuan. Apakah paradigma semacam ini salah satu bentuk dari kekerasan struktural?

Selain dari Indonesia, TKW yang ada di saudi pun datang dari beberapa negara seperti Srilangka, Pilipina, Bangladesh, India, Nepal dan Negara-negara ketiga lainnya (baca : Negara ‘Miskin’). Namun, Indonesia paling banyak menempati posisi TKW. Posisi seperti pekerja salon, Perawat, Penjahit, ternyata cenderung didominasi oleh mereka yang punya kemampuan bahasa inggris. Dalam konteks ini, pekerja dari pilipina lebih dominan karena mereka punya kelebihan dari segi bahasa inggris. Ini tentu saja sangat terkait dengan pola pendidikan.

Pengalaman saya di Indonesia, jika ada orang yang ingin maju, selalu saja dicemooh. Misalnya saja ” alah, syok banget pake bahasa inggris”. Bahkan pada level-level tertentu, bahasa inggris itu dicuriagi karena dianggap bahasa orang kafir. Ini artinya, memang orang Indonesia menyukai kebodohan dan iri hati jika ada orang lain maju.

Saya punya pengalaman pribadi. Dalam sebuah taksi, saya bincang-bincang dengan sopir taksi dari bangladesh. Kebetulan supir tersebut pintar bahasa inggris. Saya pun menikmati obrolan dengan bahasa inggris. Ketika dia bertanya dari mana saya? Saya bilang, saya dari Indonesia. Dia langsung kaget, pasalnya dia mengira saya ini dari pilipina, karena bisa bahasa inggris. Dia terheran-heran bukan main ketika saya yang dari indonesia mencoba berkomunikasi dengan bahasa inggris. Dan supir itu sudah banyak makan garam hidup di saudi. Seumur hidup di saudi, dia baru menemukan orang Indonesia berbahasa inggris.

Nampaknya sudah terkonstruksi bahwa yang pandai bahasa inggris itu kebanyakan dari pilipina, dan sudah terkonstruksi pula bahwa TKW itu kebanyakan dari Indonesia. Opini publik ini kemudian membentuk suatu cara pandang bahwa yang mengurusi dapur itu cukup dari Indonesia saja, sementara untuk urusan yang lebih profesional, perlu tenaga dari pilipina. Saya pikir ini merugikan sekali.

TKW, bagaimanapun sangat potensial menjadi target kekerasan, karena posisinya lah yang membuat dia selalu subordinat dan submissive pada tuannya yang selalu berposisi diatas. Majikan mereka selalu memakai senjata “kamu tidak bisa mengontrol kehidupan kamu, karena yang menggaji kamu adalah aku, maka akulah yang harus mengontrol kamu’. Tkw pun akhrinya terpaksa harus menyerah pada keadaan. Tkw telah terperangkap dalam fantasi yang diciptakan majikannya, fantasi yang penuh nafsu, ambisi dan dominasi. Kontrol dan dominasi terhadap “ruang pribadi” tkw itulah yang sesungguhnya kekerasan.

Ketika saya ingin menulis tentang kehidupan TKW, maka tulisan itu punya keberpihakan dan kepentingan. Kenyataan di depan mata bahwa TKW acap kali menjadi korban tindakan semena-mena majikannya. Keringat, pikiran, perasaan dan tubuh mereka dieksploitasi nyaris hampir habis-habisan.

Mereka para TKW mengharapkan rasa kemanusian, tapi harapan itu selalu kandas karena selain garansi itu selalu tak pasti, majikan yang mempekerjakannya kerap melihat mereka tak lebih dari “property” saja. Mirip komputer, mereka bisa dirental-rentalkan sehingga menjadi komoditas yang mendatangkan uang.

Dan nampaknya bisnis TKW ini selalu menggiurkan. Berbeda dengan bisnis NARKOBA yang kalau dipakai akan habis, bisnis TKW yang notabene manusia kemudian bisa dikatakan unlimited, karena meski “dipakai” beberapa kali, selalu saja ada dan berwujud, kecuali kalau nyawa mereka sudah berada di titik penghabisan. Mengenaskan memang.

Oleh karena itu, katakan No!!! untuk menjadi TKW. Bersikap kritislah terhadap tipuan-tipuan yang acap kali dikemas dan dibungkus dengan cantik. Jangan mudah kena ilusi yang diciptakan orang. Dibelakang “kemasan cantik” mereka, ada sebuah kepentingan besar yang berusaha disembunyikan.

Anda bisa saja dibilangin bahwa anda akan bekerja sebagai pembantu dengan gaji yang bagus dan majikan yang bagus. Tapi anda jangan heran jika ternyata anda akan digaji yang bagus kalau anda mau memberikan “service” yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan anda. Tapi anda jangan heran juga, bahwa anda akan dapat gaji bagus jika anda rela hak-hak anda tidak dipenuhi dan anda harus melakukan sesuatu yang diluar kemampuan anda sebagai manusia. Paradoks semacam itu tidak ada garansi untuk tak terjadi.

Bayangin saja, bisa saja dalam pikiran mereka (para majikan), gaji anda dipararel kan dengan kepatuhan total anda terhadap apa saja yang mereka mau. Bayangin saja jika mereka punya kemauan bahwa anda harus mencuci tumpukan baju, menyetrikanya dalam jumlah yang banyak karena dalam satu rumah, bisa saja ada 4 keluarga dan masing-masing keluarga punya anggota-anggotanya. Terus anda juga harus memenuhi kemauan mereka dalam hal makanan yang acap kali sangat beragam. Anda disuruh harus bisa masak ikan dengan cara yang berbeda-beda sesuai pesanan masing-masing anggota keluarga. Sampai-sampai anda sendiripun tak punya waktu untuk makan, untuk istirahat, untuk shalat. Puih……..gila banget tuh perlakuan, kecuali jika anda superwoman.

Saya berusaha untuk membaca dan menyelami penderitaan mereka menjadi TKW. Mereka menjadi TKW karena mereka ingin mendapatkan uang dengan halal. Niat anda bisa jadi mulia, tetapi anda harus sadar pula bahwa garansi keselamatan dan rasa kemanusiaan itu acap kali isapan jempol belaka. Tak lebih dari sebatas retorika saja.
Saya hanya ingin mengatakan bahwa menjadi TKW bukan satu-satunya jalan mendapatkan uang. Yang terpenting, semangat kerja keras, terus menerus belajar dan tak patah semangat adalah kunci menuju sukses. Bukankah “life is proces of learning” seperti yang dikatakan mba Mulia Hasan dalam blog pribadinya.

Menarik sekali membaca postingan mba Mulia. Dikatakan bahwa prostitusi itu persoalan privacy sementara trafficing itu adalah kejahatan. Berikut ini kutipannya :
“Prostitution is privacy, it’s done based on free will. Trafficking is bad prostitution, it’s a criminal action. But what is free will? To me it’s a will, but forced will, forced by situation though in the end they must accept and put in their head that it’s their destiny”. (French film director Herbet Dubois)

Jika saya tarik kedalam kondisi TKW, maka ada yang menjadi TKW sebagai pilihan personal dan ada yang paksaan dari luar, misalnya dipaksa oleh orang tuanya. Tapi ada juga sebagai pelarian saja, karena kecewa suaminya nikah lagi atau selingkuh dengan cewek lain. Jadi yang kedua dan ketiga ini cerminan dari “will” yang tidak free secara utuh.

Terlepas dari itu, TKW sering disalah gunakan. Mereka bisa dirental-rentalkan. Mereka sesungguhnya hidup dalam lingkungan dimana keberadaan mereka adalah barang saja. Fakta demikian membuatku berkeyakinan bahwa mereka ada komoditas dan bukan manusia. Oleh karena itu, berilah mereka kesempatan untuk menjadi manusia dan menyadari dan menikmati kemanusiannya. Dan itulah yang bagi saya disebut ajaran fitrah, yakni kesucian dan kemanusiaan yang bening dan alami.
Maka, Menjadi TKW, NO!!! Kerja Keras, Cerdas dan Selalu Belajar..YEEEEEEEEEEEEEEEEEESSSS!!