Itsme231019

Itu Gak Fair !!

Posted on: March 3, 2009

Hidup di saudi, ane sering mendapatkan hal-hal yang kontradiktif dan aneh.

Pada umumnya orang sini nyaris tidak bisa hidup teratur tanpa bantuan pembantu. Kebergantungan mereka terhadap pembantu sangat besar sekali. Bahkan dalam satu rumah, ada 3 atau 4 pembantu (bagian domestik) plus 1 atau 2 supir (bagian non-domestik).

Adalah sebuah budaya bahwa orang sini tidak akan pernah membiarkan anggota keluarganya yang berjenis perempuan terlihat wajahnya (apalagi bagian lainnya) oleh orang asing, terutama laki-laki. Pada tingkatan tertentu, bahkan ketemu pun tidak boleh sehingga harus ada sekat tebal antara kaum perempuan dan laki-laki yang tentunya non-mahram. 

Tapi ane kadang menemukan sikap yang aneh dan tidak konsisten pada orang-orang sini.

Jika memang perempuan-perempuan tidak boleh dilihat laki-laki terutama asing, kenapa tkw (pembantu) boleh dilihat oleh majikan laki-laki yang tentu saja asing (non-mahram) bagi tkw, bahkan tak jarang lebih dari melihat tkw, majikan laki-laki dengan mudah merampas hak dan dignity tkw. Busssheeet deh.

Hal aneh lainnya adalah, ketika tkw tersebut kebetulan terlihat oleh seorang supir, majikan laki-laki begitu nampak gerah, geram, dan seakan menyimpan ketakutan yang besar. Ane pikir kok majikan tersebut gak fair dan tidak konsisten banget. Kondisi ini banyak sekali menyimpan teka teki.

Para remaja dan remaji disini benar-benar dipingit dalam artian tidak boleh bahkan untuk sekadar kenalan secara normal. Walhasil, banyak diantara remaja putri yang sembunyi-sembunyi untuk bisa berkenalan dengan cowok. Restriction yang begitu menggurita dan ada disetiap sudut batok kepala orang sini, sikap jujur dan terus terang akan sulit tercipta. Sedihnya, yang tercipta adalah sikap bohong dan tidak mau menampilkan diri seadanya.

Makanya tidak heran jika banyak orang bilang gaya hidup orang saudi itu penuh ketertutupan. Hal itu bisa dilihat dari miniatur rumah orang saudi. Sangat mudah dijumpai rumah-rumah yang dibentengi tebal dan mendongak ke atas. Puih…ane pikir..jika tkw di rumah itu superwoman…mungkin dia bisa terbang untuk kabur. Tapi nyatanya, tkw hanyalah lulusan SD yang mudah dibodohi. Malang sekali.

Persoalan hukum disini, ane belum melihat supremasi hukum disini. Yang sering terjadi malah sebaliknya..siapa yang kuat..dia akan menjadi pemenang. It is like jungle. Jika benar-benar hukum ditegakkan, maka gak bakal ada lagi tkw yang gak digaji. Akan jarang lagi terdengar tkw yang hamil karena diperkosa. But..hukum ane pikir masih saja indah diatas kertas. Klise memang..tapi itulah faktanya.

Jika saya koneksikan ke situasi di Indonesia. Ane gak mau Islam di Indonesia kayak Islam di Saudi. Ane pengen Islam di Indonesia itu Islam yang mau menjadi power bagi yang powerless..dan menjadi voice bagi yang voiceless. Intinya Islam yang melindungi orang-orang tertindas.

Disaudi, banyak orang yang pake baju yang menutupi apa yang dianggap dengan “aurat”. Tapi sayang aurat sosial dibiarkan begitu saja dan sedikit orang yang care terhadapnya. Bukankah TKW yang tidak digaji setelah habis-habisan bekerja adalah aurat sosial, atau Tkw yang dipukul habis-habisan dan bahkan ada yang diperkosa. Bukankah itu aurat juga yang sifatnya sosial. Itu semua aurat sosial….Tapi siapa yang care??

Untunglah ane menjadi laki-laki sehingga punya sedikit kebebasan walaupun kebebasan itu semu belaka. Soalnya bagaimana bisa bebas, kebebasan itu pun disini sangat ditabukan bahkan diharamkan.  Jika anda perempuan dan mau pergi ke saudi….siapkanlah mental anda dan harus bersabar jika gerak gerik anda dikontrol oleh kultur yang ada disini.

Ane pikir itu saja. Ini hanya serpihan unek-unek saja dan mungkin sifatnya subjektif belaka.

Ahmad.

Advertisements

14 Responses to "Itu Gak Fair !!"

Yang harus kita lebih cermati adalah bagaimana membedakan antara kebudayaan bangsa Arab dengan ajaran Islam. Meskipun Islam hadir di jazirah tersebut, namun dari cerita ente, budaya mereka tidak mencerminkan sama sekali sifat yang islami.
Saya teringat sebuah lelucon. Diceritakan beberapa jama’ah haji asal Indonesia sedang menaiki bus umum hendak menuju ke beberapa spot sejarah di Saudi Arabia setelah menyelesaikan prosesi ritual haji. Dengan niatan ingin menghibur penumpangnya, sang sopir bus menyalakan tape mobil dengan musik-musik yang lagi hits saat itu. Mendengar nada-nada yang melantun, tanpa komando para penumpang pun mengeleng-gelengkan kepala seraya berdzikir dengan tasbih mereka. Mereka berfikir lagu tersebut adalah puji-pujian semacam nasyid di Indonesia padahal lagu tersebut menceritakan tentang percintaan muda mudi. weleh weleh….

Untuk Hendri.

Iya betul juga sih..ane harus membedakan mana yang Islam dan mana yang Budaya Arab. Budaya Arab tidak dengan lantas menjadi Islam.
Tapi yang aneh bagi ane adalah bahwa saudi itu berlandaskan hukum Qur’an dan Hadist dalam bernegara (syariat Islam) tapi Keadilan masih menjadi barang baru dan mahal sekali.
Islam dalam pandangan ane adalah konsistensi antara kata dan perbuatan. yang ane banyak lihat disini adalah justru sebaliknya yakni inkonsistensi dalam bersikap. Orang sini meski tidak semuanya (sesuai pengalaman ane) sering berjanji manis, namun pada saat janji itu harus dipenuhi, ternyata bulshit. ada orang sini yang ngasih saya pekerjaan dan berjanji akan membayar saya jika pekerjaan itu selesai. ok, pekerjaan sudah saya rampungkan dengan baik, namun dia tidak ngasih apa-apa namun dia bilang dia akan memberikannya kepda saya nanti. hingga sekarang gak nongol-nongol tu orang..pengecut amat tuh orang..hehehe payah banget.
Ane pikir, lalu klo landasannya al-Qur’an dan alHadits, kenapa negara orang sini gak menindak warganya yang melakukan kekerasan (fisikal, psikologis dan bahkan seksual) terhadap para tkw.
Ane juga bingung..polisi disini juga gak konsisten. ane pernah menemukan tkw yang baru datang ke saudi. dia kabur dari rumah majikan dan diperjalanan ditemukan dan diambil polisi kekantornya. menurut pengakuan tkw, dikantor polisi itu ada ruangan kosong, disanalah justru tkw itu dilecehkan. tkw itu kabur dari tempat polisi tersebut karena tidak mau dirinya dilecehkan. untung ditengah jalan, ditemukan orang saudi yang alhamdulillah kebetulan baik, dan setelah meminta alamat kbri dari saya, dia mengantarkanna ke kbri (keduataan besar republik Indonesia).
yang menggelitik adalah, polisi yang semestinya menjadi pelindung bagi tkw malah menjadi penjahat baru bagi tkw..bushet deh..
akhirnya ane berfikir…ane belum menemukan Islam di negeri Islam sendiri. yang ane temukan hanyalah kulit luar saja. Disini banyak Masjid bagus-bagus dan megah-megah namun adem ayem aja. Banyak polisi syariat dan bahkan berkeliling mencari targetnya (..tapi ah udah lah, gak baik untuk dilanjutkan banyak2).
thanks Hendri atas komentarnya.

Masya Allah… Pantaslah Allah marah pada manusia, lha wong di tempat asalnya, Islam dilecehkan kayak itu..

Btw, Ibu ana juga seorang TKW di Brunei. Ana sudah ketir-ketir ketika beliau mau berangkat 4 tahun lalu, takut kasus-kasus kekerasan yang sering terjadi pada TKW akan terjadi pada beliau. Alhamdulillah, beliau mendapatkan majikan yang sangat baik hati.

Yang sabar ya Mul…

Ini menarik bos…
Teruslah bercerita apa yang Antum rasakan di sana.
Terus bandingkan dengan cita-cita beberapa gelintir orang yang ingin menerapkan syariat Islam.
Di manakah letak kesalahan yang bisa diperbaiki?

Saya setuju dengan pemikiran bahwa Islam itu berbeda dengan Arabisme. Meskipun dalam beberapa kasus, faktor Arab-lah yang justru membedakan Islam dengan saudarasaudaranya agama semit seperti Kristen yang kuat di budaya Romawi dan Yahudi yang tetap memelihara darah keyahudiannya. Tapi memandang Arab sebagai sebuah minor poin sungguh tidak bijak. Saya sendiri memang belum pernah pergi ke sana dan mengalami sejumlah pengalaman tak terduga sebagaimana yang dialami oleh si pengarang, tapi Arab saat ini memang tidak seindah yang digambarkan dalam sunnah rasul. Kita mendapati mereka sebagai sebuah dunia ketiga yang kehilangan muka. Perasaan superior sebagai salah satu penakluk dunia terus membayangi perasaan inferior mereka sebagai bangsa yang tertaklukkan, belum lagi bayangbayang Syiah Iran yang mengklaim sebagai pewaris sejarah Islam, membuat kebanyakan dari mereka berbuat ofensif akibat post-power syndrome. Mereka memiliki uang, tapi seluruhnya seperti tidak bermanfaat, karena kiblat mereka kini adalah Barat. Di dunia Islam, ia bahkan bukan lagi mayoritas, makanya seruan kembali kepada sunnah Nabi ala Arab, bagi saya seperti panggilan untuk tunduk kepada panjipanji laskar Arab yang berani itu. Mereka saya kira telah terasing dari perkembangan Islam abad XXI.

Menariknya, di Indonesia, ke-Arab-an selalu identik dengan ke-Islama-an. Makanya para TKI kita selalu merasa beruntung pergi ke semenanjung Arabia, karena itu adalah ziarah suci. Betapapun tidak menyenangkan keadaan di sana. Sebenarnya ini adalah modal besar bagi dialog budaya yang lebih luas. Arab dan dunia Islam Indonesia. Sayang sekali, mereka salah langkah. Hubungan yang terbina hanya pada kalangan elit semata: Kiyai dan santri. Hey, apa ada kiyai yang ingin anaknya jadi TKW di Arab, tidak ada bukan. Padahal ada ratusan ribu kaum marjinal yang berhadapan sebagai bemper di sana, dan teteup, kiyai kita itu tidak peka masalah. Arab dipandang sebagai guru dan kita murid, tidak ada dialog, hanya monolog. Dan kita lihat hasil didikan sana yang berbicara seolaholah mereka pewaris tunggal kebenaran Islam. Benarbenar sebuah sistem yang indoktrinal.

Saya teringat kunjungan sejumlah syekh Arab ke Gontor, sebagian dari mereka akhirnya malah menjadi cibiran para santri. Atau juga humorhumor segar yang mengaitkan ke-Arab-an dengan institusi ke-macho-an, vilavila di puncak dan nikah sirri atau mut’ah. Pada akhirnya, mereka teregresi kepada pandangan sinis dari masyarakat kita. Belum lagi kehadiran sejumlah lasykar dengan atribut Arab serta kasus terorisme internasional. Sepertinya banyak sekali PR untuk pemerintah Saudi mengenai masalah tersebut. Satu saran saja, kenapa tidak memperkenalkan budaya Arab yang lebih santun dan beradab melalui sejumlah lembaga budaya macam CCF, British Council dan Goethe Institute, dan jangan sekalisekali berpandangan negatif dengan misi budaya negara lain. Hey, masyarakat Indonesia itu cerdas lho..

Satu lagi, trafficking tersamar, alias biro TKI. Sudah seharusnya itu dihapuskan. Sayang, masih banyak alumni yang mencari nafkah di sana. Ayolah, mari kita mencari nafkah yang halal 😀

@ bang Hery
Seorang kawan, mantan aktifis PKS, menggerutu ketika melihat foto beberapa aktivis sedang berdemo tentang penerapan syariat Islam di Indonesia, terpampang di headline sebuah surat kabar nasional, “kumarahi mereka kemaren pak” dia mengawali pembicaraan. “napa rupanya” tanyaku penuh selidik. “kekmana klean tuh, katanya mo ndirikan syariat islam, klean sendiri masih bau rokok”

Penerapan syariat Islam di Indonesia, saya kira, baru pada tataran konsep saja. Apakah NAD dan Banten telah berhasil?. Apakah syariat islam hanya sebatas jilbab dan hukum cambuk saja?. Saya beberapa kali ke NAD, saya mendapati syariat islam hanya sebagai bungkus dan kulit luar saja.

Syariat Islam seharusnya diterapkan pada titik personal. Kalaulah tiap person yang ada dalam sebuah komunitas telah menerapkan syariat islam, secara otomatis komunitas tersebut akan islami, tul ga’ bang???

@ Bung Hery..thanks atas kunjungannya. Hidup di negeri Islam seperti Saudi, freedom memang agak dan memang sulit untuk di enforce. freedom bisa dianggap ancaman besar. klo saja ada freedom, tentu saja para tkw yang digunting hak-hak nya bisa berdemo dan protes…tapi itu hal yang sangat mustahil terutama untuk saat ini. Untuk kedepan, ane belum bisa memprediksikan, namun kini mulai ada suara-suara minoritas yang menghendaki freedom untuk berekspressi…itu pun masih dibayang-bayangi hantu pencekalan.

@ Himawan, ente punya analisis yang tajam juga. Ane mau yang sederhana aja bahwa di saudi, kultur arab-nya sepertinya lebih mengakar dan kental dibanding nilai-nilai islamnya. Islam kan agama yang toleran, egalitarian, dan tidak ada yang lebih unggul satu dari yang lain kecuali dengan kualiats taqwa.
disini, diskriminasi berdasarkan nationality terlihat secara telanjang, seakan-akan orang pribumi lebih istimewa dibanding orang asing. misalnya saja ente yang bukan saudi akan dapat gaji yang rendah dengan orang pribumi walaupun posisi ente sama dengan dia atau bahkan lebih penting dari dia. (nationality discrimination). namun hal demikian bukan berarti terjadi secara merata. ane baru dengar-dengar bahwa pasti ada pengecualianyakni orang asing yang berasal dari barat sebaliknya punya keistimewaan tersendiri baik dalam hal gaji maupun treatment. ane pikir ada semacam standar ganda dalam bersikap, terlalu hormat sama orang barat dan memandang terlalu rendah sama pekerja kasar terutama pembantu. bukankah itu tidak egaliter sekali.

@Hendri. Hen, ane masih bersikap sangsi sama semangat menegakkan syariat Islam, karena dalam praktek, situasinya banyak yang harus ditinjau ulang. ane pikir sih, syariat islam itu harus identik dengan bagaimana korupsi itu bisa berhenti minimal berkurang gradually. syariat itu harus identik dengan bagaimana kemiskinan bisa ditekan dan pengangguran bisa dikurangi.

persoalan tkw, ane khawatir telah terjadi apa yang disebut dengan “mental ketergantungan” dalam banyak diri tkw. mentalitas mereka adalah hanya ingin menjadi orang yang disuruh-suruh sehingga kehilangan kemampuan untuk berinisiatif dan berkreasi. jika itu menjadi mentalitas, kan ribet juga…
dan kita tahu Indo itu termasuk yang paling giat ngirim pembantu, termasuk ke Saudi.

kayak nya sih, perlu ada perubahan mendasar dalam pembentukan karakter manusianya. perlu revolusi budaya!!!

gw tinggal di jeddah oiiii ini mas Ahmad tinggalnya dimana yach?, btw Islam sudah tidak ada disini yang ada cuman isbal dan satu lagi jenggot. hanya hal-hal yang artifisial seperti itu yang dipentingkan disini. Ibarat percikan air ditempat perciknya sudah lama tenang dan hening. capeeeeeeeeeeek dehc.

great…

jadi gitu…ck..ck..ck…

saya tertarik sekali dengan masalah budaya, apalagi generasi sekarang mulai tergerus dengan budaya pop, oleh karena itu saya mencoba membahas dan melestarikan salah satu budaya pernikahan adat yang ada di Indonesia. Mohon masukan dan dukungannya ya, makasih 🙂

satuju, kang Ahmad…. teu adil nya…
carios-na akang penting…… unek2 namung penting!
kumaha kang, damang?

great information, thanks for sharing it……:)

hidup memang penuh likuliku….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: