Itsme231019

TKW , Majikan dan Kekerasan

Posted on: May 4, 2008

Hingga saat ini, pengiriman TKW dari Indonesia masih terus bergulir dengan gelombang besar-besaran. Krisis ekonomi yang berlarut-larut telah memaksa banyak perempuan menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita). Dari sudut lain, pengiriman TKW ini terlanjur menjadi semacam jaringan bisnis yang kuat, terorganisir dan menghasilkan uang, sehingga tidak sedikit orang yang berlomba-lomba untuk “menjaring” dan “berburu” orang terutama perempuan untuk dijadikan TKW. Tak heran, meski banyak yang menentang, namun nyatanya bisnis ini kian menggurita saja.

Issue TKW ini tak akan pernah berhenti untuk dibincangkan, karena sangat berkelindan dengan isu hak asasi manusia yang tengah dan terus diperjuangkan.

Menyimak banyak pemberitaan tentang pahit getir kehidupan ‘pahlawan devisa’ ini, maka TKW selalu tak luput dari penganiayaan dan kekerasan, bahkan hingga detik ini.

Penganiayaan (kekerasan) terhadap TKW ini bisa mengambil bentuk kekerasan fisik, psikologis, atau seksual.

Kekerasan bersifat fisik misalnya memukul, membenturkan kepala, menampar, menendang, menjambak rambut, mencakar, dan kekerasan fisik lainnya yang menimbulkan cacat fisik pada pihak korban.

Adapun kekerasan yang bersifat psikologis adalah kekerasan yang sesungguhnya sistematis yang mengontrol pikiran dan prilaku korban. Misalnya saja mengisolasi korban sehingga tak bisa komunikasi dengan keluarganya, menyekap korban dalam suatu ruangan tanpa makan dan minum, mengancam akan membunuh korban jika si korban “membuka mulut”, memanggil korban dengan julukan yang menghinakan-degradasi (misalnya, hewan, anjing, pelacur, keledai, bodoh, pemalas, pembohong dan panggilan menjijikan lainnya).

Sementara kekerasan seksual adalah pemaksaan terhadap korban untuk melakukan kegiatan seksual. Misalnya saja, memaksa korban untuk melakukan hubungan seksual dengan si pemaksa, atau disuruh berhubungan seks dengan binatang atau bahkan benda.

Dalam konteks TKW, kekerasan-kekerasan diatas acap menyerang mereka habis-habisan. Posisi mereka sebagai TKW acap potensial dan menjadi target empuk bagi terjadinya kekerasan dan penganiayaan.

Namanya juga domestic worker, para TKW itu terperangkap dalam ruangan tertutup sehingga sulit diketahui oleh publik. Tidak sedikit tkw yang mengalami kekerasan seksual oleh majikan laki-laki dipanggil pembohong dan pelacur ketika memberi tahukan kasus itu kepada majikan perempuan. Usaha dia untuk bersikap jujur pun ternyata diludahinya dan dinistakannya oleh sang majikan. Hati dan perasaan TKW begitu terlukai, begitu pedih dan perih.

Saya sendiri banyak mendapatkan informasi bahkan dari para tkw sendiri bahwa panggilan-panggilan seperti “inti hayawan” (kamu dasar hewan) tak jarang menyemburat dari mulut majikan saat mereka marah sama tkw. Acap kali, persoalan itu sengaja diciptakan dan diada-adakan untuk menghina dan menohok diri tkw. Jadi kalau dilihat, disana tergambar satu pihak yang bernafsu menunjukkan dominasinya terhadap pihak lain (baca : tkw) yang dianggap “nothing”. Pada tahap ini, tkw selalu pada posisi powerless, voiceless dan mudah ditekuk.

Pahit getir TKW ini ternyata belum terobati bahkan hingga detik ini. Bagaimana bisa terobati, perlindungan hukum bagi mereka masih sekadar basa-basi saja. Aturan sudah dibikin, tapi selalu saja dilanggar. Dan pelaku pelanggaran tak pernah ditindak secara tegas, bahkan terkesan dibiarkan.

Pengiriman TKW hingga saat ini terus bergelombang dengan jumlah yang terus bertambah. Banyak pihak-pihak yang memanfaatkan peluang ini. Tentu saja, motivasinya adalah profit. Maka muncullah “agen-agen” yang berkeliaran di kampung-kampung mencari mangsa untuk dijadikan tkw.

Jika permintaan besar, dan “stock” tkw sedikit, maka pihak “calo” bisa mematok harga yang besar untuk satu calon tkw. Tak heran, jika kemudian proses “iming-iming” pun diciptakan untuk mendapatkan surplus yang lebih. Disini terlihat jelas orientasi profit lebih kentara daripada perhatian terhadap keselamatan tkw itu sendiri. Ini artinya, devisa yang besar juga untuk pemasukan negara. TKW pun menjadi “mesin” devisa negara.

Ketika pemerintah hanya bisa mengambil profit dari TKW tanpa memberikan garansi keamanan bagi mereka, sesungguhnya pemerintah juga telah ikut berkontribusi pada penciptaan kekerasan secara struktural. Kekerasan bertubi-tubi terjadi terhadap TKW namun pemerintah masih termangu diam melihat borok sosial ini, barangkali bisa menjelaskan kekerasan struktural ini.

Teman saya dari srilangka bilang bahwa pengiriman tkw itu sama artinya dengan zina yang dilegalkan. Karena sesungguhnya, agama terutama islam melarang perempuan pergi tanpa mahram. Dalam konteks tkw, yang terjadi adalah tkw pergi “sendirian” tanpa mahram dan bekerja pada tempat yang bukan mahram. Kalau melihat dari kaca mata agama, jelas haram hukumnya. Tapi karena krisis ekonomi, yang haram-pun mengalami normalisasi sehingga terkesan halal-halal saja. Kadang saya berfikir, kenapa yang jadi pembantu itu selalu perempuan, kenapa tidak laki-laki yang secara biologis kuat?

Pada point ini, perempuan identik dengan pekerjaan domestik ini terlanjur terkonstruksi kuat dalam masyarakat. Sehingga, jika ada laki-laki yang bekerja pada wilayah domestik tidaklah cocok, dan artinya juga tak pantas bagi perempuan melakukan pekerjaan diwilayah publik. Paradigma ini sesungguhnya telah meminggirkan kiprah perempuan. Apakah paradigma semacam ini salah satu bentuk dari kekerasan struktural?

Selain dari Indonesia, TKW yang ada di saudi pun datang dari beberapa negara seperti Srilangka, Pilipina, Bangladesh, India, Nepal dan Negara-negara ketiga lainnya (baca : Negara ‘Miskin’). Namun, Indonesia paling banyak menempati posisi TKW. Posisi seperti pekerja salon, Perawat, Penjahit, ternyata cenderung didominasi oleh mereka yang punya kemampuan bahasa inggris. Dalam konteks ini, pekerja dari pilipina lebih dominan karena mereka punya kelebihan dari segi bahasa inggris. Ini tentu saja sangat terkait dengan pola pendidikan.

Pengalaman saya di Indonesia, jika ada orang yang ingin maju, selalu saja dicemooh. Misalnya saja ” alah, syok banget pake bahasa inggris”. Bahkan pada level-level tertentu, bahasa inggris itu dicuriagi karena dianggap bahasa orang kafir. Ini artinya, memang orang Indonesia menyukai kebodohan dan iri hati jika ada orang lain maju.

Saya punya pengalaman pribadi. Dalam sebuah taksi, saya bincang-bincang dengan sopir taksi dari bangladesh. Kebetulan supir tersebut pintar bahasa inggris. Saya pun menikmati obrolan dengan bahasa inggris. Ketika dia bertanya dari mana saya? Saya bilang, saya dari Indonesia. Dia langsung kaget, pasalnya dia mengira saya ini dari pilipina, karena bisa bahasa inggris. Dia terheran-heran bukan main ketika saya yang dari indonesia mencoba berkomunikasi dengan bahasa inggris. Dan supir itu sudah banyak makan garam hidup di saudi. Seumur hidup di saudi, dia baru menemukan orang Indonesia berbahasa inggris.

Nampaknya sudah terkonstruksi bahwa yang pandai bahasa inggris itu kebanyakan dari pilipina, dan sudah terkonstruksi pula bahwa TKW itu kebanyakan dari Indonesia. Opini publik ini kemudian membentuk suatu cara pandang bahwa yang mengurusi dapur itu cukup dari Indonesia saja, sementara untuk urusan yang lebih profesional, perlu tenaga dari pilipina. Saya pikir ini merugikan sekali.

TKW, bagaimanapun sangat potensial menjadi target kekerasan, karena posisinya lah yang membuat dia selalu subordinat dan submissive pada tuannya yang selalu berposisi diatas. Majikan mereka selalu memakai senjata “kamu tidak bisa mengontrol kehidupan kamu, karena yang menggaji kamu adalah aku, maka akulah yang harus mengontrol kamu’. Tkw pun akhrinya terpaksa harus menyerah pada keadaan. Tkw telah terperangkap dalam fantasi yang diciptakan majikannya, fantasi yang penuh nafsu, ambisi dan dominasi. Kontrol dan dominasi terhadap “ruang pribadi” tkw itulah yang sesungguhnya kekerasan.

Advertisements

5 Responses to "TKW , Majikan dan Kekerasan"

Yup, selama roda kehidupan berputar saya pikir diskriminasi serta nafsu2 untuk saling menyerang itu takkan pernah bisa dihapuskan sama sekali, dalam konteks ini TKW yang berada di negeri orang- jelas sangat rentan. Meemang seharusnya kita melihat dengan kaca mata lebar bahwa kekerasan terhadap TKW ini terlalu sering terjadi bahkan sampean tadi mengatakan TKW “nothing”.. Disini memang dibutuhkan 2 aspek, internal dan eksternal…
Sebelum memilih menjadi TKW aspek ini sangat penting dibutuhkan… aspek internal berupa pemahaman diri akan konsekuensi, juga mental yang kuat tentunya..dan aspek kedua eksternal berupa perlindungan hukum yang kuat, dimana kita tahu pemerintah blom sepenuhnya mampu melindungin hak2 hukum TKW sehingga kasus2 tragis selalu saja terjadi…

Maaf mungkin hanyalah analisa dangkal, saya bukahlah TKI ataupun tergabung dalam assosiasi buruh migran yang jelas saya salut dengan perjuangan kawan2 di perantauan.. Sukses!

salam.
betul apa yang dikatakan kang azaxs, bahwa persoalan internal tkw serta persoalan external seperti perlindungan hukum (legal protection) dari pemerintah, harus menjadi perhatian. nampaknya, pemerintahan Indonesia belum ‘jantan’ dalam kebijakan-kebijakan mereka. saya tidak tahu persis kenapa kebijakan pemerintah selalu saja tidak tegas. tapi aroma “orientasi bisnis” bisa mudah di endus.
dari sisi tkw sendiri, tingkat pemahaman dan konsep diri mereka sangatlah lemah, sehingga tidak sedikit dari mereka mudah ditekuk dan dibohongi.mereka nampaknya menjadi victim dari unjust society. apakah Indonesia se unjust itukah?

TAHUNAN, DUA TKI/W MADIUN HILANG KONTAK
* Keluarga Bingung, PJTKI dan Disnakertrans ‘Lepas Tangan’

MADIUN—-Persoalan dialami Tenaga Kerja Indonesia / Wanita (TKI/W) dari hari ke hari tak pernah kunjung tuntas dan perlindungan terhadap pahlawan devisa ini nyaris diabaikan oleh pemerintah. Kali ini, dua TKI/W asal Kabupaten Madiun, yang sudah bekerja diluar negeri bertahun-tahun kehilangan kontak dengan keluarganya. Akibatnya, pihak keluargapun kini bingung harus mengadu dan mencari keberadaan anaknya kemana.
Sementara itu, pihak Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) dan Pemerintah Kabupaten Madiun khususnya Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) sendiri hingga kini terkesan tutup mata atas masalah dialami TKI/W tersebut. Alasan yang dicetuskan selalu klasik, menyalahkan TKI/W yang dianggap tidak pernah koordinasi dengan pihak Pemerintah Daerah.
Informasi dihimpun Memo, kedua TKI/W yang kehilangan kontak dengan keluarga ini diketahui bernama Sumilah (32) anak pasangan Sunari dan Parmi buruh tani, warga Dusun Selosari, Desa Prambon Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun. Peristiwa serupa juga dialami keluarga Ahmad Hani (36) di Prambon juga putus komunikasi dengan Ahmad sejak dua tahun yang lalu pamit bekerja sebagai sopir di Mekkah.
Keterangan keluarga Sumilah, sejak bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di ke Jeddah, Arab Saudi selama 15 tahun ini tidak bisa komunikasi dengan anaknya. Sebelum berangkat ke Jeddah, selama dua tahun Sumilah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Surabaya. Namun karena upah yang kecil, Sumilah kembali pulang ke rumah.
Tak lama kemudian, Sumilah yang masih berusia 16 tahun ini mendapat tawaran dari Kepala Desa Prambon, Kalim untuk bekerja ke Jeddah Arab Saudi. Demi membantu ekonomi keluarga, Sumilah akhirnya nekat berangkat ke luar negeri dengan bekal Sumber Daya Manusia (SDM) seadaanya dan diberangkatkan melalui PJTKI Servindo Konsorsium yang berkantor pusat di Jakarta.
Awalnya, setelah satu tahun pergi bekerja, Sumilah masih bisa mengirimkan surat sekaligus uang sebesar Rp 810.000 kepada Sunari melalui Kalim. Dari uang sebesar itu, Sunari membayarkan Rp 500.000 diantaranya ke perwakilan PJTKI Servindo Konsorsium di Prambon untuk mengganti biaya keberangkatan Sumilah. Adapun isi surat menceritakan kondisi Sumilah yang baik di Jeddah.
“Setelah itu ya tidak ada lagi kabar dari anak saya (Sumilah,red). Di mana dia tinggal di Jeddah, kami keluarga pun tidak tahu. Pak Kalim saat kita tanya mengenai keberadaan Sumilah, mengaku tidak tahu,” ungkap Sunari orangtua Sumilah kepada wartawan.
Perjuangan orangtua mencari tempat tinggal kerjanya anaknya tak putus sampai disitu saja. Saat kepala desa Prambon dijabat oleh kades baru bernama Widayati tahun 2005 lalu, pihak keluarga berusaha melaporkan masalah ini kepada kades setempat dengan harapan mendapatkan jalan keluar dan bisa mengetahui seluk beluk keberadaan anaknya.
Sayangnya, kendati Kades sudah meminta bantuan Disnakertrans Kab Madiun, namun hasilnya tetap nihil. Pihak Disnakertran sendiri juga kesulitan mencari Sumilah. Alasannya, pihak keluarga tidak tahu keberadaan terakhir Sumilah.
Mengetahui ada Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat berkunjung ke Pemkab Madiun, Kamis (18/9), kesempatan itu langsung dimanfaatkan Kades setempat untuk mengadukan persoalan dialami warganya yang menjadi TKIW. Saat itu, Jumhur berjanji akan membantu mencari. “Kami sangat berharap mendengar kabar dari Sumilah. Apapun kondisinya sekarang, kami siap menerimanya,” ujar Parmi.
Sementara itu, keluarga Ahmad Hani (36) Desa Prambon juga dalam penantian dan kegelisahan, lantaran anaknya tak kunjung bisa dikontak. Awalnya, Ahmad yang bekerja sebagai sopir di Mekkah, biasanya selalu memberi kabar ke Nanik (saudara Ahmad,red) atau ke istrinya yang tinggal di Solo.
“Namun sejak tiga bulan setelah dia berangkat bulan Agustus 2006, tidak ada lagi kontak dengan Ahmad. PJTKI yang memberangkatkan dia sudah tutup, sehingga kami bingung harus mencari kemana. Majikan dari Ahmad di Mekkah juga tidak tahu kemana Ahmad pergi,” ujar Nanik.
Sedangkan para pihak yang berkompeten menangani masalah itu, baik PJTKI maupun Disnakertrans hingga berita ini diturunkan, belum ada yang memberikan keterangan resmi atas musibah dialami keluarga TKI/W yang mengalami masalah hilang kontak dengan anaknya yang kerja jadi TKI/W. (hendri w)

HENDRI WAHYU W
081335667176
JL RAYA SOLO JIWAN KABUPATEN MADIUN
NGO : PUSAT STUDY ADVOKASI RAKYAT (PUSAR) DI MADIUN
ISUE : ADVOKASI BURUH MIGRAN

gw udah capek dan kebal dengan berita tkw, gw sendiri tki disaudi dan pada akhirnya aku menyesal terlahir di indonesia.

oke bro (wongbulu) maybe kamu benar…pada intinya kemabli ke jiwa masing2 tkw…yang jg ga sedikit mereka sendiri yang mempersulit hidup di sna…lihat cermin sendiri..indonesia memang bgini adanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: