Itsme231019

Keledai !!??

Posted on: May 2, 2008

Keledai adalah nama hewan yang pernah saya dengar dalam cerita-cerita. Lain kedelai, lain pula keledai. Yang pertama jenis kacang-kacangan dan yang kedua jenis hewan yang mirip kuda.

Dalam bahasa arab, keledai itu dinamakan himar. Sementara dalam bahasa inggris disebut donkey atau ass.

Keledai cukup terkenal karena punya daya tahan tinggi dan bervitalitas lumayan serta cukup bandel (stubborn). Oleh karena itu, sepanjang sejarah, ia sering dijadikan alat untuk mengangkut barang-barang. Selain itu, ia juga memiliki keunikan yakni ringkikannya yang cukup melengking (loud vocalization). Telinganya juga lebih panjang dari telinga kuda biasa. Oleh karena itu, ia diyakini mampu menangkap suara dari jarak yang jauh.

Namun anehnya, keledai ini kemudian masuk kedalam ranah pergaulan social dengan penekanan negative-nya setidaknya pengalaman yang saya alami di saudi. Ia berubah menjadi label-label dalam memanggil seseorang. “inta himar, la ta’arif ayya haajah” yang arti bebasnya ” kamu (itu) keledai, serba tidak tahu”. Dari sini, keledai itu diidentikan dengan kebodohan, tidak tahu apa-apa.

Ketika keledai sudah masuk kedalam label-label, maka ia menjadi ‘name-calling” atau panggilan yang berkonotasi negative. Maka, ia pun sudah masuk dalam kategori “verbal abuse”.

Saya melihat verbal abuse ini bahkan menjadi hal yang dilumrahkan. Tak jarang saya mendengar cerita dari teman-teman yang bekerja disini (Saudi) bahwa panggilan-panggilan yang tak sopan itu disemburatkan kepada mereka oleh majikannya. Bahkan ada anak yang dipanggil “hewan” oleh orang tuanya. Puih….saya hanya bisa mengelus dada.

Bukan saja disini, ketika di Bandung pun, tak jarang saya menjumpai gerombolan anak remaja yang memanggil kawannya dengan panggilan “anjing”. Yang dipanggil pun anehnya tidak marah dan memanggil temannya dengan panggilan yang sama. Saya pikir, wah, nampaknya anjing ini sudah menjadi budaya yang popular setidaknya dalam komunitas remaja gang dilevel perkampungan.

Dalam ajaran islam, penghinaan terhadap orang lain itu dilarang karena bisa jadi yang dihina itu lebih baik dari si penghina itu sendiri. Lihat surat al-hujurat ayat 11. [1]

Dari segi pendidikan, budaya name calling itu sangat berbahaya karena akan mempengaruhi kepribadian seseorang.

Any negative label or insult has the potential to hurt a child’s feelings.  Children who are frequently insulted by their siblings often remember the experience with pain even in adulthood. Children who have been insulted by their parents (i.e. being called “stupid,” “careless,” “sloppy,” bad” etc.) also often remember the pain throughout adulthood. [2]

(arti bebasnya : label-label negative atau penghinaan akan potensial melukai perasaan anak. Anak- anak yang acap dihina oleh saudaranya akan mengendapkan pengalaman pahit tersebut bahkan sampai dewasa. Anak-anak yang “dinistakan” orang tuanya (misalnya, dijuluki “bodoh”, “gegabah”, “kusut’, “jelek” dst) juga akan merekam peristiwa tersebut hingga dewasa.)

Bukan anak kecil saja, orang dewasa pun yang dipanggil dengan nama-nama yang hina dan tidak sopan, jelas akan murka dan marah.

Kembali lagi kepada pembahasan name calling ‘keledai” (bukan kedelai), maka sesungguhnya ia cermin dari budaya suatu komunitas. Jika “keledai” atau hewan-hewan lainnya dijadikan label untuk melabeli orang lain, maka perlu diajukan pertanyaan ” apa sih yang ada dalam batok orang yang menyamakan orang lain dengan keledai dan hewan?

Personally saya tidak setuju dengan label-label semacam itu. Jika anda menjumpai anak anda melakukan kesalahan, jangan lantas anda memanggilnya bodoh. Tapi jelaskanlah bahwa apa yang dia lakukan itu kurang tepat dan kemudian tunjukkan yang benar. Tapi jika anda memanggilnya “bodoh” atau “gak becus”, maka anda telah mematikan daya kreatifitasnya dan akhirnya menjadi penakut dan tak akan perna mencoba lagi. Hatinya telah terlukai. Ternyata name calling itu lebih tajam dan menusuk dari pedang.

Ini juga bisa menjelaskan kenapa di Saudi, banyak TKW yang kabur. Bisa jadi mereka tidak terbiasa dipanggil dengan label-label yang menghinakan. Mereka para tkw sudah kerja banting tulang, tapi pada akhirnya dipanggil bodoh bahkan dijuluki hewan. Siapa yang betah tinggal dalam rumah yang sarat hinaan.

Apakah mungkin memarahi seseorang tanpa menggunakan name calling? Tentu saja ada. Berikut ini petikan yang bagi saya cukup tegas :

“The first step is providing a model. This means that parents never call children names – they never use negative labels.  Many people wonder how it is possible to correct a child without using a negative label.  The secret is this: whenever you want to use a negative label to accurately describe a child’s behaviour (i.e. “rude”), replace the label with the exact opposite word. For example, instead of saying to Junior, “You are being rude,” you can say, “You need to be polite when speaking to me.”  Always use the desired label instead of the offensive label. In this way, your children hear only your target words (your goals for them) throughout their 20 years growing up with you. This helps programme their brains to remember your goals. Thus, you can hope that your children will turn out to be smart, considerate, prompt, honest, helpful, kind, creative, determined, patient and so forth.  However, they must HEAR those words consistently in order to steer themselves in that direction. If all they hear is stupid, lazy, selfish, wild…they will believe this is all that they’re capable of” [3]

Misalnya saja, anak anda kasar dan suka menyentak anda. Dari pada anda menjulukinya “si kasar”, maka lebih baik anda menggunakan ” kamu perlu bersikap sopan ketika berbicara dengan orang tuamu”. Pada point ini, anak anda akan tertuju pada target anda yakni bersikap sopan. Anda harus konsisten menggunakan cara ini, agar lama-lama bisa terbentuk karakter positif yang diinginkan terjadi pada anak anda. Anda pun harus menjadi model kearah sana.

Maka, budaya-budaya yang cenderung merendahkan reputasi orang lain perlu diganti dengan budaya konstruktive yang jelas-jelas membangun dan bukan mematikan. Label label seperti Keledai, anjing, hewan tidak baik untuk dienforced ketengah-tengah pergaulan sosial, karena hal itu bagian dari dehumanisasi. Dan itu menyalahi fitrah dan kesucian manusia.


[1] . O ye who believe! Let not a folk deride a folk who may be better than they (are), not let women (deride) women who may be better than they are; neither defame one another, nor insult one another by nicknames. Bad is the name of lewdness after faith. And whoso turneth not in repentance, such are evil-doers. (11), (surat ke 49 /alhujurat : 11)

[2] . http://www.parenting-advice.net/forum/advice/89-name_calling-0.html

Advertisements

2 Responses to "Keledai !!??"

Wah tulisan ini sangat bagus. Tidak sangka Mas Ahmad juga suka mengamati pendidikan anak.

salam.
bang Tasa, thanks atas motivasinya. saya juga menyukai tulisan-tulisan saudara. punya greget dan provoking to think and analyze.
thanks atas kunjungannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: