Itsme231019

Hijau

Posted on: May 2, 2008

Ketika melihat pemandangan hijau yang terhampar luas, saya pun dipenuhi rasa ‘kagum’ terhadap alam dan apalagi penciptanya. Menyaksikan pemandangan hijau terasa menyejukkan hati, apalagi jika dibumbui dengan angin segar sepoi-sepoi, serasa dunia ini bagaikan surga saja. Elok tenan!!!, itulah fantasi saya tentang hijau.

Betul, hijau itu identik dengan alam. Hijau juga adalah simbol keluguan dan kepolosan (innocence). Suatu keadaan yang belum terkontaminasi oleh ulah “tangan-tangan” yang belum tentu bersih.

Namun, tak bisa ditampik, dunia kini telah berubah dan berevolusi seiring dengan revolusi industri dan globalisasi. Hamparan pemandangan hijau itu pun kini terusik karena harus menghadapi tangan kekar bulldozer yang pongah dan sombong.

Saya menemukan bukti melalui blognya Bung Tasa, bahwa Produk bernama Dove [1] yang digandrungi banyak wanita Indonesia, ternyata menyimpan potret buram tentang bagaimana penggundulan hutan di Indonesia terjadi.

Penggundulan hutan secara tak bertanggung jawab tentu saja sangat kontributif dalam mereduksi keseimbangan alam. Erosi dan tanah longsor akan mudah terjadi. Banjir kini menjadi penyakit kronis dibeberapa kota di Indonesia terutama jika curah hujan tinggi sekali. Selain itu, hewan-hewan yang ada (baik langka atau tidak langka) akan segera punah, karena tak ada ruang bagi mereka untuk survive. Habitat mereka dimusnahkan. Tega sekali!!

Berikut ini, data-data yang saya ambil dari sumber lain:

“Selain curah hujan yang tinggi, semua hutan sudah gundul, mungkin yang tersisa hanya sekitar 200 meter dari jalan raya, di dalamnya sudah gundul seluruhnya. Yang tersisa kira-kira hanya 600-an hektare saja,” ujar Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Soekarwo, Rabu (26/12). [2]

“Dalam 2 tahun belakangan ini, bencana banjir telah menerpa Aceh, Langkat, Riau, Palembang, Padang dan Bandung yang notabene kawasan yang dikelilingi hutan.” [3]

Berikut ini juga, saya menjumpai ekspresi dengan bahasa sunda dari seorang blogger yang tempat asalnya sering terkena banjir, nama tempat itu adalah dayeuh kolot.

“Taya nu anyar. Dayeuhkolot mah disebut dina suratkabar atanapi koran teh mung ukur dina warta banjir atawa macet. Lembur kuring teh emang meuni teu aya bosenna banjir jeung macet. Unggal taun, kudu wae banjir sakali atawa dua kali. Meuni getol pisan kanu banjir teh. Ari macet mah tong ditanya. Teu banjir oge, Dayeuhkolot mah tos macet!” [4]

Hutan-hutan hijau yang digunduli itu ternyata telah menyebabkan banjir dan kemudian merembet menjadi kemacetan. Kita semua pasti sebel dengan kemacetan itu, tapi kita pun perlu sadar, bahwa kemacetan itu tercipta karena ulah kita sendiri sebagai manusia yang ekploitative terhadap alam. Jika kita ingin lingkungah itu asri, gemah, ripah, hijau dan rindang, maka mari kita bersahabat dan apresiative terhadap alam, karena sesunggunya diri kita itu bagian dari alam itu sendiri.

Kita membutuhkan air bersih untuk diminum, udara yang segar untuk dihirup, kicau burung dan gemersik daun-daun yang indah untuk didengar, dan juga semilir angin sepoi-sepoi untuk mengipas-ngipasi tubuh dari sengatan panasnya mentari. Semua itu adalah sangat hijau dan alami sekali. Back to Nature!!!

Kini sudah menjadi fakta dan kita pun tahu bahwa produk Dove yang kita pakai ternyada sejarah prosesnya terkait dengan penggundulan hutan di Indonesia. Pada tahap ini, dimensi hukum untuk melindungi hutan perlu benar-benar dijalankan secara tegas dan bermartabat. Tidak sekadar reaksi-reaksi yang kemudian menghilang. Sebagaimana kejahatan lain, kejatahan dalam bentuk mengekploitasi alam secara habis-habisan perlu ditindak dengan tegas. Sangat tidak bijak jika kemudian pemerintah membiarkan bulldozer itu tetap berkeliaran.

If we think we can, we can. Jika kita berfikir bahwa dove itu bisa terus berjalan namun tetap bersahabat dengan alam, maka itu pun bisa. Alam pun akan kembali berseri, dan saya pun berikut generasi selanjutnya bisa menikmati hijau, menikmati alam dengan segala keluguan dan kepolosannya. Mari kita menaman meski pohon kecil dipipir rumah kita agar hasilnya bisa dirasakan oleh anak cucu kita, karena sayuran yang saya nikmati merupakan jerih nenek moyang saya. Let us preserve our traditional culture which is friendy to nature.

Back to nature, why not??

Advertisements

2 Responses to "Hijau"

nice post i like it very much thank for sharing your great experince

great information, thanks for sharing it……:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: