Itsme231019

Archive for May 2008

My wife said to me that she is envious when she witnesses the other couple of her neighbor caring their baby together as well as doing their errand. My wife said that she prefers to do the job together as her neighbor did. That is why, she always asks or even begs me to come back to Indonesia for sharing in family life. Yes she loves to get me living together with her and the lovely son.

Basically, I do want to have a life together with them but the situation simply hinder me to have such dream. I have to complete my two years job contract in Saudi Arabia. Besides, I have to earn some money here and sent it to support my family, my wife and lovely son. If I come back to Indonesia, I think it will be hard for me to get a job there, since the job opportunity is not always available especially that fits my skill. I my self do not know about my own special skill but I believe that everything can be done if I think that way.

To my wife, I said that it was not my intention to leave her and the baby. I went abroad (to saudi arabia) just to earn money with halal way. So my going was the matter about the love to the family. The intention was about how to rise the family. And the opportunity that time was going to saudi arabia as TKI. From the desert, i just scream in my deep down inside, I love you my baby, and the last but not least, I love you too my wife.

I told to my wife, that she had better feel proud of her self and I am really proud of her. It is no need to feel envious too much. I told her that she should take caring baby as a fun, so no feeling of burdern any more. I just hope that my wife can absorb my discussion with her through chatting.

Advertisements

Hingga saat ini, pengiriman TKW dari Indonesia masih terus bergulir dengan gelombang besar-besaran. Krisis ekonomi yang berlarut-larut telah memaksa banyak perempuan menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita). Dari sudut lain, pengiriman TKW ini terlanjur menjadi semacam jaringan bisnis yang kuat, terorganisir dan menghasilkan uang, sehingga tidak sedikit orang yang berlomba-lomba untuk “menjaring” dan “berburu” orang terutama perempuan untuk dijadikan TKW. Tak heran, meski banyak yang menentang, namun nyatanya bisnis ini kian menggurita saja.

Issue TKW ini tak akan pernah berhenti untuk dibincangkan, karena sangat berkelindan dengan isu hak asasi manusia yang tengah dan terus diperjuangkan.

Menyimak banyak pemberitaan tentang pahit getir kehidupan ‘pahlawan devisa’ ini, maka TKW selalu tak luput dari penganiayaan dan kekerasan, bahkan hingga detik ini.

Penganiayaan (kekerasan) terhadap TKW ini bisa mengambil bentuk kekerasan fisik, psikologis, atau seksual.

Kekerasan bersifat fisik misalnya memukul, membenturkan kepala, menampar, menendang, menjambak rambut, mencakar, dan kekerasan fisik lainnya yang menimbulkan cacat fisik pada pihak korban.

Adapun kekerasan yang bersifat psikologis adalah kekerasan yang sesungguhnya sistematis yang mengontrol pikiran dan prilaku korban. Misalnya saja mengisolasi korban sehingga tak bisa komunikasi dengan keluarganya, menyekap korban dalam suatu ruangan tanpa makan dan minum, mengancam akan membunuh korban jika si korban “membuka mulut”, memanggil korban dengan julukan yang menghinakan-degradasi (misalnya, hewan, anjing, pelacur, keledai, bodoh, pemalas, pembohong dan panggilan menjijikan lainnya).

Sementara kekerasan seksual adalah pemaksaan terhadap korban untuk melakukan kegiatan seksual. Misalnya saja, memaksa korban untuk melakukan hubungan seksual dengan si pemaksa, atau disuruh berhubungan seks dengan binatang atau bahkan benda.

Dalam konteks TKW, kekerasan-kekerasan diatas acap menyerang mereka habis-habisan. Posisi mereka sebagai TKW acap potensial dan menjadi target empuk bagi terjadinya kekerasan dan penganiayaan.

Namanya juga domestic worker, para TKW itu terperangkap dalam ruangan tertutup sehingga sulit diketahui oleh publik. Tidak sedikit tkw yang mengalami kekerasan seksual oleh majikan laki-laki dipanggil pembohong dan pelacur ketika memberi tahukan kasus itu kepada majikan perempuan. Usaha dia untuk bersikap jujur pun ternyata diludahinya dan dinistakannya oleh sang majikan. Hati dan perasaan TKW begitu terlukai, begitu pedih dan perih.

Saya sendiri banyak mendapatkan informasi bahkan dari para tkw sendiri bahwa panggilan-panggilan seperti “inti hayawan” (kamu dasar hewan) tak jarang menyemburat dari mulut majikan saat mereka marah sama tkw. Acap kali, persoalan itu sengaja diciptakan dan diada-adakan untuk menghina dan menohok diri tkw. Jadi kalau dilihat, disana tergambar satu pihak yang bernafsu menunjukkan dominasinya terhadap pihak lain (baca : tkw) yang dianggap “nothing”. Pada tahap ini, tkw selalu pada posisi powerless, voiceless dan mudah ditekuk.

Pahit getir TKW ini ternyata belum terobati bahkan hingga detik ini. Bagaimana bisa terobati, perlindungan hukum bagi mereka masih sekadar basa-basi saja. Aturan sudah dibikin, tapi selalu saja dilanggar. Dan pelaku pelanggaran tak pernah ditindak secara tegas, bahkan terkesan dibiarkan.

Pengiriman TKW hingga saat ini terus bergelombang dengan jumlah yang terus bertambah. Banyak pihak-pihak yang memanfaatkan peluang ini. Tentu saja, motivasinya adalah profit. Maka muncullah “agen-agen” yang berkeliaran di kampung-kampung mencari mangsa untuk dijadikan tkw.

Jika permintaan besar, dan “stock” tkw sedikit, maka pihak “calo” bisa mematok harga yang besar untuk satu calon tkw. Tak heran, jika kemudian proses “iming-iming” pun diciptakan untuk mendapatkan surplus yang lebih. Disini terlihat jelas orientasi profit lebih kentara daripada perhatian terhadap keselamatan tkw itu sendiri. Ini artinya, devisa yang besar juga untuk pemasukan negara. TKW pun menjadi “mesin” devisa negara.

Ketika pemerintah hanya bisa mengambil profit dari TKW tanpa memberikan garansi keamanan bagi mereka, sesungguhnya pemerintah juga telah ikut berkontribusi pada penciptaan kekerasan secara struktural. Kekerasan bertubi-tubi terjadi terhadap TKW namun pemerintah masih termangu diam melihat borok sosial ini, barangkali bisa menjelaskan kekerasan struktural ini.

Teman saya dari srilangka bilang bahwa pengiriman tkw itu sama artinya dengan zina yang dilegalkan. Karena sesungguhnya, agama terutama islam melarang perempuan pergi tanpa mahram. Dalam konteks tkw, yang terjadi adalah tkw pergi “sendirian” tanpa mahram dan bekerja pada tempat yang bukan mahram. Kalau melihat dari kaca mata agama, jelas haram hukumnya. Tapi karena krisis ekonomi, yang haram-pun mengalami normalisasi sehingga terkesan halal-halal saja. Kadang saya berfikir, kenapa yang jadi pembantu itu selalu perempuan, kenapa tidak laki-laki yang secara biologis kuat?

Pada point ini, perempuan identik dengan pekerjaan domestik ini terlanjur terkonstruksi kuat dalam masyarakat. Sehingga, jika ada laki-laki yang bekerja pada wilayah domestik tidaklah cocok, dan artinya juga tak pantas bagi perempuan melakukan pekerjaan diwilayah publik. Paradigma ini sesungguhnya telah meminggirkan kiprah perempuan. Apakah paradigma semacam ini salah satu bentuk dari kekerasan struktural?

Selain dari Indonesia, TKW yang ada di saudi pun datang dari beberapa negara seperti Srilangka, Pilipina, Bangladesh, India, Nepal dan Negara-negara ketiga lainnya (baca : Negara ‘Miskin’). Namun, Indonesia paling banyak menempati posisi TKW. Posisi seperti pekerja salon, Perawat, Penjahit, ternyata cenderung didominasi oleh mereka yang punya kemampuan bahasa inggris. Dalam konteks ini, pekerja dari pilipina lebih dominan karena mereka punya kelebihan dari segi bahasa inggris. Ini tentu saja sangat terkait dengan pola pendidikan.

Pengalaman saya di Indonesia, jika ada orang yang ingin maju, selalu saja dicemooh. Misalnya saja ” alah, syok banget pake bahasa inggris”. Bahkan pada level-level tertentu, bahasa inggris itu dicuriagi karena dianggap bahasa orang kafir. Ini artinya, memang orang Indonesia menyukai kebodohan dan iri hati jika ada orang lain maju.

Saya punya pengalaman pribadi. Dalam sebuah taksi, saya bincang-bincang dengan sopir taksi dari bangladesh. Kebetulan supir tersebut pintar bahasa inggris. Saya pun menikmati obrolan dengan bahasa inggris. Ketika dia bertanya dari mana saya? Saya bilang, saya dari Indonesia. Dia langsung kaget, pasalnya dia mengira saya ini dari pilipina, karena bisa bahasa inggris. Dia terheran-heran bukan main ketika saya yang dari indonesia mencoba berkomunikasi dengan bahasa inggris. Dan supir itu sudah banyak makan garam hidup di saudi. Seumur hidup di saudi, dia baru menemukan orang Indonesia berbahasa inggris.

Nampaknya sudah terkonstruksi bahwa yang pandai bahasa inggris itu kebanyakan dari pilipina, dan sudah terkonstruksi pula bahwa TKW itu kebanyakan dari Indonesia. Opini publik ini kemudian membentuk suatu cara pandang bahwa yang mengurusi dapur itu cukup dari Indonesia saja, sementara untuk urusan yang lebih profesional, perlu tenaga dari pilipina. Saya pikir ini merugikan sekali.

TKW, bagaimanapun sangat potensial menjadi target kekerasan, karena posisinya lah yang membuat dia selalu subordinat dan submissive pada tuannya yang selalu berposisi diatas. Majikan mereka selalu memakai senjata “kamu tidak bisa mengontrol kehidupan kamu, karena yang menggaji kamu adalah aku, maka akulah yang harus mengontrol kamu’. Tkw pun akhrinya terpaksa harus menyerah pada keadaan. Tkw telah terperangkap dalam fantasi yang diciptakan majikannya, fantasi yang penuh nafsu, ambisi dan dominasi. Kontrol dan dominasi terhadap “ruang pribadi” tkw itulah yang sesungguhnya kekerasan.

Keledai adalah nama hewan yang pernah saya dengar dalam cerita-cerita. Lain kedelai, lain pula keledai. Yang pertama jenis kacang-kacangan dan yang kedua jenis hewan yang mirip kuda.

Dalam bahasa arab, keledai itu dinamakan himar. Sementara dalam bahasa inggris disebut donkey atau ass.

Keledai cukup terkenal karena punya daya tahan tinggi dan bervitalitas lumayan serta cukup bandel (stubborn). Oleh karena itu, sepanjang sejarah, ia sering dijadikan alat untuk mengangkut barang-barang. Selain itu, ia juga memiliki keunikan yakni ringkikannya yang cukup melengking (loud vocalization). Telinganya juga lebih panjang dari telinga kuda biasa. Oleh karena itu, ia diyakini mampu menangkap suara dari jarak yang jauh.

Namun anehnya, keledai ini kemudian masuk kedalam ranah pergaulan social dengan penekanan negative-nya setidaknya pengalaman yang saya alami di saudi. Ia berubah menjadi label-label dalam memanggil seseorang. “inta himar, la ta’arif ayya haajah” yang arti bebasnya ” kamu (itu) keledai, serba tidak tahu”. Dari sini, keledai itu diidentikan dengan kebodohan, tidak tahu apa-apa.

Ketika keledai sudah masuk kedalam label-label, maka ia menjadi ‘name-calling” atau panggilan yang berkonotasi negative. Maka, ia pun sudah masuk dalam kategori “verbal abuse”.

Saya melihat verbal abuse ini bahkan menjadi hal yang dilumrahkan. Tak jarang saya mendengar cerita dari teman-teman yang bekerja disini (Saudi) bahwa panggilan-panggilan yang tak sopan itu disemburatkan kepada mereka oleh majikannya. Bahkan ada anak yang dipanggil “hewan” oleh orang tuanya. Puih….saya hanya bisa mengelus dada.

Bukan saja disini, ketika di Bandung pun, tak jarang saya menjumpai gerombolan anak remaja yang memanggil kawannya dengan panggilan “anjing”. Yang dipanggil pun anehnya tidak marah dan memanggil temannya dengan panggilan yang sama. Saya pikir, wah, nampaknya anjing ini sudah menjadi budaya yang popular setidaknya dalam komunitas remaja gang dilevel perkampungan.

Dalam ajaran islam, penghinaan terhadap orang lain itu dilarang karena bisa jadi yang dihina itu lebih baik dari si penghina itu sendiri. Lihat surat al-hujurat ayat 11. [1]

Dari segi pendidikan, budaya name calling itu sangat berbahaya karena akan mempengaruhi kepribadian seseorang.

Any negative label or insult has the potential to hurt a child’s feelings.  Children who are frequently insulted by their siblings often remember the experience with pain even in adulthood. Children who have been insulted by their parents (i.e. being called “stupid,” “careless,” “sloppy,” bad” etc.) also often remember the pain throughout adulthood. [2]

(arti bebasnya : label-label negative atau penghinaan akan potensial melukai perasaan anak. Anak- anak yang acap dihina oleh saudaranya akan mengendapkan pengalaman pahit tersebut bahkan sampai dewasa. Anak-anak yang “dinistakan” orang tuanya (misalnya, dijuluki “bodoh”, “gegabah”, “kusut’, “jelek” dst) juga akan merekam peristiwa tersebut hingga dewasa.)

Bukan anak kecil saja, orang dewasa pun yang dipanggil dengan nama-nama yang hina dan tidak sopan, jelas akan murka dan marah.

Kembali lagi kepada pembahasan name calling ‘keledai” (bukan kedelai), maka sesungguhnya ia cermin dari budaya suatu komunitas. Jika “keledai” atau hewan-hewan lainnya dijadikan label untuk melabeli orang lain, maka perlu diajukan pertanyaan ” apa sih yang ada dalam batok orang yang menyamakan orang lain dengan keledai dan hewan?

Personally saya tidak setuju dengan label-label semacam itu. Jika anda menjumpai anak anda melakukan kesalahan, jangan lantas anda memanggilnya bodoh. Tapi jelaskanlah bahwa apa yang dia lakukan itu kurang tepat dan kemudian tunjukkan yang benar. Tapi jika anda memanggilnya “bodoh” atau “gak becus”, maka anda telah mematikan daya kreatifitasnya dan akhirnya menjadi penakut dan tak akan perna mencoba lagi. Hatinya telah terlukai. Ternyata name calling itu lebih tajam dan menusuk dari pedang.

Ini juga bisa menjelaskan kenapa di Saudi, banyak TKW yang kabur. Bisa jadi mereka tidak terbiasa dipanggil dengan label-label yang menghinakan. Mereka para tkw sudah kerja banting tulang, tapi pada akhirnya dipanggil bodoh bahkan dijuluki hewan. Siapa yang betah tinggal dalam rumah yang sarat hinaan.

Apakah mungkin memarahi seseorang tanpa menggunakan name calling? Tentu saja ada. Berikut ini petikan yang bagi saya cukup tegas :

“The first step is providing a model. This means that parents never call children names – they never use negative labels.  Many people wonder how it is possible to correct a child without using a negative label.  The secret is this: whenever you want to use a negative label to accurately describe a child’s behaviour (i.e. “rude”), replace the label with the exact opposite word. For example, instead of saying to Junior, “You are being rude,” you can say, “You need to be polite when speaking to me.”  Always use the desired label instead of the offensive label. In this way, your children hear only your target words (your goals for them) throughout their 20 years growing up with you. This helps programme their brains to remember your goals. Thus, you can hope that your children will turn out to be smart, considerate, prompt, honest, helpful, kind, creative, determined, patient and so forth.  However, they must HEAR those words consistently in order to steer themselves in that direction. If all they hear is stupid, lazy, selfish, wild…they will believe this is all that they’re capable of” [3]

Misalnya saja, anak anda kasar dan suka menyentak anda. Dari pada anda menjulukinya “si kasar”, maka lebih baik anda menggunakan ” kamu perlu bersikap sopan ketika berbicara dengan orang tuamu”. Pada point ini, anak anda akan tertuju pada target anda yakni bersikap sopan. Anda harus konsisten menggunakan cara ini, agar lama-lama bisa terbentuk karakter positif yang diinginkan terjadi pada anak anda. Anda pun harus menjadi model kearah sana.

Maka, budaya-budaya yang cenderung merendahkan reputasi orang lain perlu diganti dengan budaya konstruktive yang jelas-jelas membangun dan bukan mematikan. Label label seperti Keledai, anjing, hewan tidak baik untuk dienforced ketengah-tengah pergaulan sosial, karena hal itu bagian dari dehumanisasi. Dan itu menyalahi fitrah dan kesucian manusia.


[1] . O ye who believe! Let not a folk deride a folk who may be better than they (are), not let women (deride) women who may be better than they are; neither defame one another, nor insult one another by nicknames. Bad is the name of lewdness after faith. And whoso turneth not in repentance, such are evil-doers. (11), (surat ke 49 /alhujurat : 11)

[2] . http://www.parenting-advice.net/forum/advice/89-name_calling-0.html

Hijau

Posted on: May 2, 2008

Ketika melihat pemandangan hijau yang terhampar luas, saya pun dipenuhi rasa ‘kagum’ terhadap alam dan apalagi penciptanya. Menyaksikan pemandangan hijau terasa menyejukkan hati, apalagi jika dibumbui dengan angin segar sepoi-sepoi, serasa dunia ini bagaikan surga saja. Elok tenan!!!, itulah fantasi saya tentang hijau.

Betul, hijau itu identik dengan alam. Hijau juga adalah simbol keluguan dan kepolosan (innocence). Suatu keadaan yang belum terkontaminasi oleh ulah “tangan-tangan” yang belum tentu bersih.

Namun, tak bisa ditampik, dunia kini telah berubah dan berevolusi seiring dengan revolusi industri dan globalisasi. Hamparan pemandangan hijau itu pun kini terusik karena harus menghadapi tangan kekar bulldozer yang pongah dan sombong.

Saya menemukan bukti melalui blognya Bung Tasa, bahwa Produk bernama Dove [1] yang digandrungi banyak wanita Indonesia, ternyata menyimpan potret buram tentang bagaimana penggundulan hutan di Indonesia terjadi.

Penggundulan hutan secara tak bertanggung jawab tentu saja sangat kontributif dalam mereduksi keseimbangan alam. Erosi dan tanah longsor akan mudah terjadi. Banjir kini menjadi penyakit kronis dibeberapa kota di Indonesia terutama jika curah hujan tinggi sekali. Selain itu, hewan-hewan yang ada (baik langka atau tidak langka) akan segera punah, karena tak ada ruang bagi mereka untuk survive. Habitat mereka dimusnahkan. Tega sekali!!

Berikut ini, data-data yang saya ambil dari sumber lain:

“Selain curah hujan yang tinggi, semua hutan sudah gundul, mungkin yang tersisa hanya sekitar 200 meter dari jalan raya, di dalamnya sudah gundul seluruhnya. Yang tersisa kira-kira hanya 600-an hektare saja,” ujar Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Soekarwo, Rabu (26/12). [2]

“Dalam 2 tahun belakangan ini, bencana banjir telah menerpa Aceh, Langkat, Riau, Palembang, Padang dan Bandung yang notabene kawasan yang dikelilingi hutan.” [3]

Berikut ini juga, saya menjumpai ekspresi dengan bahasa sunda dari seorang blogger yang tempat asalnya sering terkena banjir, nama tempat itu adalah dayeuh kolot.

“Taya nu anyar. Dayeuhkolot mah disebut dina suratkabar atanapi koran teh mung ukur dina warta banjir atawa macet. Lembur kuring teh emang meuni teu aya bosenna banjir jeung macet. Unggal taun, kudu wae banjir sakali atawa dua kali. Meuni getol pisan kanu banjir teh. Ari macet mah tong ditanya. Teu banjir oge, Dayeuhkolot mah tos macet!” [4]

Hutan-hutan hijau yang digunduli itu ternyata telah menyebabkan banjir dan kemudian merembet menjadi kemacetan. Kita semua pasti sebel dengan kemacetan itu, tapi kita pun perlu sadar, bahwa kemacetan itu tercipta karena ulah kita sendiri sebagai manusia yang ekploitative terhadap alam. Jika kita ingin lingkungah itu asri, gemah, ripah, hijau dan rindang, maka mari kita bersahabat dan apresiative terhadap alam, karena sesunggunya diri kita itu bagian dari alam itu sendiri.

Kita membutuhkan air bersih untuk diminum, udara yang segar untuk dihirup, kicau burung dan gemersik daun-daun yang indah untuk didengar, dan juga semilir angin sepoi-sepoi untuk mengipas-ngipasi tubuh dari sengatan panasnya mentari. Semua itu adalah sangat hijau dan alami sekali. Back to Nature!!!

Kini sudah menjadi fakta dan kita pun tahu bahwa produk Dove yang kita pakai ternyada sejarah prosesnya terkait dengan penggundulan hutan di Indonesia. Pada tahap ini, dimensi hukum untuk melindungi hutan perlu benar-benar dijalankan secara tegas dan bermartabat. Tidak sekadar reaksi-reaksi yang kemudian menghilang. Sebagaimana kejahatan lain, kejatahan dalam bentuk mengekploitasi alam secara habis-habisan perlu ditindak dengan tegas. Sangat tidak bijak jika kemudian pemerintah membiarkan bulldozer itu tetap berkeliaran.

If we think we can, we can. Jika kita berfikir bahwa dove itu bisa terus berjalan namun tetap bersahabat dengan alam, maka itu pun bisa. Alam pun akan kembali berseri, dan saya pun berikut generasi selanjutnya bisa menikmati hijau, menikmati alam dengan segala keluguan dan kepolosannya. Mari kita menaman meski pohon kecil dipipir rumah kita agar hasilnya bisa dirasakan oleh anak cucu kita, karena sayuran yang saya nikmati merupakan jerih nenek moyang saya. Let us preserve our traditional culture which is friendy to nature.

Back to nature, why not??