Itsme231019

Konsumerisme

Posted on: April 27, 2008

Saat ingin menulis tentang ‘akidah’ konsumerisme (inggrisnya ” consumerism), saya kesana kemari dulu menjelajahi tulisan-tulisan di internet tentang konsumerisme. Dari penjelajahan tersebut, Ada yang mengatakan bahwa konsumerisme adalah agamanya masyarakat modern.

Tapi, mari kita lihat pengertian menurut wikipedia tentang consumerism.

Consumerism is the equating of personal happiness with the purchasing of material possessions and consumption.”[1]

Terjemahan bebasnya ” konsumerisme adalah penyamaan kebahagiaan personal dengan membeli harta benda (material possession) dan konsumsi.

Dengan kata lain, tak ada kebahagiaan kecuali dengan memiliki kerajaan materi. Karena kekayaan materi adalah perhatian sentral dalam akidah konsumerisme.

Meskipun gaya hidup konsumerisme ini identik dengan dunia barat, namun sesungguhnya ia berlaku juga ditempat lain. Saya bisa melirik bagaimana orang-orang saudi terutama para perempuannya sangat menyukai shoping. Masjid-masjid disaudi sepi dari kajian-kajian, baik laki-laki apalagi perempuan, tapi begitu ke mall, disana bejubel para perempuan. Mereka melakukan shoping dengan suka ria.

Saya pernah mendengar cerita dari teman saya yang bekerja pada seorang majikan bahwa ada anak perempuan majikan (remaja putri saudi) yang rela mengeluarkan uang yang menurut ukuran saya tidak sedikit yakni 600 real (kira-kira 1 juta 300 ribu rupiah) hanya untuk beli satu celana jeans yang lagi trend. Busyeet deh…padahal pembantunya yang habis-habisan bekerja siang dan malam, belum juga di gaji-gaji.

Ternyata fashion telah membuatnya terlena sehingga lupa akan hal yang lebih penting dan lebih urgent dalam hidupnya. Rasa kemanusiannya tak lagi sensitif.

Parah juga memang jika sebuah masyarakat menganut berlebih-lebihan ‘akidah’ konsumerisme. Jurang sosial si kayak dan si miskin akan kian menganga lebar. Dan itu berkontribusi besar pada tingkat eskalasi kecemburuan dan ketimpangan sosial.

Saya jadi ingat waktu saya kuliah dulu di UIN (meski tak tamat). Dosen saya Pak Andi Faisal Bakti yang memiliki Mobile Nokia 3310. didepan mahasiswa, pak Andi bilang bahwa meski Hpnya tak bergengsi tapi yang nelephone adalah para mentri. Dan dia mengatakan bahwa banyak mahasiswanya yang memiliki hp lebih bagus dan lebih mahal dari Hpnya, tapi tak pernah berdering. Suatu saat, Pak Andi ini mendapat sms dari mahasiswanya yang berisi ” kapan pak libur kuliah?”. Hehehe..saya pikir, untuk sms-saja, orang ternyata merasa gak sreg kalau tidak pakai Hp yang mahal.

Saya mendapatkan kutipan yang cukup menarik, berikut ini kutipannya :

“wah aya deui kang contona baju/anggean (pakaian)…, supados disebat gaya turut kana mode, ayeuna mah baju teh loba nu nempokeun bujal jeung bujur padahal pakean eta teh cocok keur budak leutik, walaupun hargana mahal da di beli oge, nu penting teu katinggaleun jaman….!!!” (ksatria_pasundan)[2]

Memang, dalam semangat konsumerisme, orang selalu ingin mengikuti perkembangan zaman, termasuk perkembangan dalam hal fashion pakaian. Yang penting lagi trend, dibeli saja. Apakah baju itu sopan atau tidak, syar’ie atau tidak , comfortable untuk dipakai atau tidak, itumah urusan belakangan.

Saya pikir, kasus semacam itu banyak terjadi diberbagai tempat. Tapi dalam pemahaman saya, terlena dalam sebuah trend tidak lantas equal dengan mengikuti perkembangan zaman. Maka apakah kita bisa bersikap arif dalam menghadapi perubahan zaman atau malah terlena membeo dan membebek begitu saja terhadap hal-hal yang sudah popular ditengah-tengah masyarakat? Jika orang lain mengenakan baju “you can see”, apakah saya juga harus mengikutinya biar di cap modern?

Konsumersime itu ternyata juga banyak terjadi dikalangan muslim. Misalnya saja pada bulan ramadhan. Kecenderungan sikap konsumerisme itu bisa dilihat dari bagaimana mereka berbuka puasa. Semuanya cenderung diada-adakan. Menu makanan pun kian membengkak. Bagaimana jadinya jika hal-hal semacam ini menjadi budaya tahunan. Orang-orang miskin hanya bisa gigit jari karena tidak mampu untuk mengikuti budaya tersebut. Maka sangat bijak, jika yang mampu rela dengan senang hati mau berbagi dengan kalangan fakir dan miskin, setidaknya dilingkungan terdekat mereka. sehingga apa yang si kaya miliki bisa berdampak sosial positif bagi lingkungannya.

Memang, konsumerisme adalah ajaran dimana kepuasan itu ada pada kepemilikan materi. Tapi nampaknya, sekali keinginan itu terpuaskan, akan muncul lagi keinginan baru karena di luar sana ada “sesuatu” yang lebih baru dan lebih cantik yang harus dimiliki juga. Ia pun lupa bahwa yang cantik dan baru diluar sana pun bukanlah yang final, karena pasti yang lebih baru dan lebih cantik segera akan menyusul dan begitu seterusnya. Intinya, keinginan itu tak akan pernah terpuaskan. Makanya, orang yang paling kaya adalah orang yang merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang ada. Ia berusaha untuk mengendalikan keinginannya dan bukan keinginan memperbudaknya.

Jujur saja, saya pun personally masih belajar untuk hidup lebih alami dan bukan atas dasar gengsi. Itu saja.

Advertisements

1 Response to "Konsumerisme"

apa,prinsip dan dasar konsumerisme…..??????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: