Itsme231019

Budaya Pop

Posted on: April 19, 2008

Dalam wacana sosial, saya kerap mendengar popular culture, yakni budaya pop. Jujur saja, saya sendiri belum paham betul apa maksud terminologi popular culture tersebut. Oleh karena itu, nampaknya pendefinisian terminology popular culture menjadi penting sebagai landasan untuk pembahasan selanjutnya.

Pertama-tama, saya hendak memecahnya kedalam dua kata (phrasa) yakni popular dan culture. Apa itu popular dan apa itu culture?

Menurut salah satu sumber di internet [1], popular adalah adalah :

  1. Of, pertaining to, or consisting of the common people, or the people as a whole as distinguished from any particular class; constituted or carried on by the people.
  2. Having characteristics attributed to the common people; low, vulgar, plebeian. Obs.
  3. Intended for or suited to ordinary people. a. Adapted to the understanding or taste of ordinary people.

Dari sejumlah definisi diatas, saya bisa menarik sebuah gambaran bahwa popular itu sesuatu yang berkaitan dengan orang kebanyakan atau manusia pada umumnya (common people).

Gambaran diatas menunjukkan pula bahwa sesuatu itu diterima secara luas ditengah-tengah masyarakat.

Saya pun langsung menuju kepada sebuah pertanyaan. Apa yang menjadi popular ditengah-tengah masyarakat itu? Pertanyaan ini akan menggiring saya pada pembahasan terminologi selanjutnya yakni culture atau budaya.

Menurut situs yang sama [2], culture adalah :

1. The totality of socially transmitted behavior patterns, arts, beliefs, institutions, and all other products of human work and thought.

2. These patterns, traits, and products considered as the expression of a particular period, class, community, or population.

3. The predominating attitudes and behavior that characterize the functioning of a group or organization.

4. Intellectual and artistic activity and the works produced by it.

Sementara menurut situs wikipedia [3], culture adalah :

“Culture can be defined as all the ways of life including arts, beliefs and institutions of a population that are passed down from generation to generation. Culture has been called “the way of life for an entire society.”[6] As such, it includes codes of manners, dress, language, religion, rituals, norms of behavior such as law and morality, and systems of belief as well as the art”

Menyimak definisi diatas, saya berusaha memahami pengertian tentang culture. Point yang bisa saya ambil adalah bahwa culture atau budaya merupakan produk pemikiran dan pemahaman manusia yang kemudian menjadi ways of life yang bergulir dari generasi ke generasi selanjutnya. Produk pemikiran ini kemudian diterjemahkan dalam bentuk simbol-simbol dan kode (tanda), misalnya saja, kode berprilaku, berpakaian, berbahasa, beragama dan ritual-ritual (upacara) lainnya.

Karena culture ini merupakan produk pemikiran panjang manusia, maka disana ada banyak culture, karena sejatinya pikiran manusia dengan kondisi dan lingkngan tertentu akan berbeda dengan pikiran manusia lainnya dengan kondisi dan lingkungan yang juga punya ciri khas tersendiri juga.

Tidur adalah persoalan alami (natural), tapi bagaimana cara tidur sudah masuk kedalam wilayah culture (cultural).

Persoalan selanjutnya adalah, apa sih yang dimaksud dengan popular culture atau budaya pop itu?

Pengertian popular culture seperti yang termuat dalam situs wikipedia [4] , ternyata tidak lah tunggal, disana ada banyak nuansa. Namun point yang bisa saya tangkap ditengah-tengah kompleksitas definisi popular culture adalah berikut ini : “…This is seen as a commercial culture, mass produced for mass consumption. From a U.K. (and European) point of view, this may be equated to American culture. Alternatively, “pop culture” can be defined as an “authentic” culture of the people, but this can be problematic because there are many ways of defining the “people.”

Melihat definisi diatas, maka ada keterkaitan erat antara popular culture dengan commercial culture (budaya komersil). Sesuatu sengaja diproduksi untuk konsumsi yang sifatnya massal (common people). Bisa dikatakan bahwa sesuatu itu diproduksi hanya berlandaskan keinginan pasar saja. Dengan demikian, hipotesa saya bahwa budaya pop hanya akan terjadi manakala keinginan pasar menjadi perhatian sentral. Singkatnya, ada selera mainstream di tengah-tengah masyarakat.

Maka, keterangan selanjutnya ada sebuah kritik terhadap popular culture. Berikut ini kutipannya :

Hannah Arendt’s 1961 essay ‘The Crisis in Culture’ suggested that a “market-driven media would lead to the displacement of culture by the dictates of entertainment.” Susan Sontag argues that in our culture, the most “…intelligible, persuasive values are [increasingly] drawn from the entertainment industries”, which is “undermining of standards of seriousness.” As a result, “tepid, the glib, and the senselessly cruel” topics are becoming the norm. Some critics argue that popular culture is “dumbing down”: “…newspapers that once ran foreign news now feature celebrity gossip, pictures of scantily dressed young ladies…television has replaced high-quality drama with gardening, cookery, and other “lifestyle” programmes…[and] reality TV and asinine soaps,” to the point that people are constantly immersed in trivia about celebrity culture.[5]

Membaca kritik diatas membuat saya berfikir bahwa popular culture itu sangat erat kaitannya dengan institusi bernama media, yakni media massa (mass media). Jika berfikir media, saya langsung punya persepsi kuat bahwa media itu tak bisa hidup tanpa iklan. Jika media melemparkan pesan ketengah-tengah masyarakat (audience) melalui televisi misalnya dan kemudian masyarakat luas menyukainya, maka pesan itupun akan diperbanyak produksinya. Makin tinggi pesan itu disukai khalayak audience, makin besar pula keinginan pengiklan untuk memasang iklan pada pesan tersebut, dan itu artinya makin besar pula suntikan nyawa buat media itu sendiri.

Jika pesan yang kemudian disukai khalayak ramai itu adalah berupa entertaintment, gossip, kisah hidup selebritis, bahkan film-film yang beraroma kekerasan, supersiti, dan agresi, maka itulah gambaran atau cermin budaya yang ada ditengah-tengah masyarakat.

Anak kecil yang sering menonton film yang berbau “kekerasan” maka ia akan terpola untuk menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan pula, karena aroma kekerasan dalam film yang dia tonton akan menjadi sumber inspirasi buat dirinya. Bukan tidak mungkin, kekerasan ini akan menjadi bagian dari karakter dirinya. Bahaya juga kan !!!

Sesungguhnya budaya kekerasan adalah cermin dari budaya instant. Segala permasalahan akan selesai hanya dengan cara kekerasan. Menggunakan otak dan kecerdasan pun dalam menghadapi masalah dianggap terlalu berat dan mungkin dianggap hal yang tabu. Kekuatan otak pun ditabukan sementara aurat otot diperlihatkan dengan telanjang bulat bahkan dijadikan mahkota. Busyeeeeeeeeett deh.

Kembali lagi pada persoalan popular culture. Saya pernah bertanya kepada teman saya yang dari mesir, apa sih bahasa arabnya budaya pop. Dia bilang ” al-tsaqofah al-sya’biyyah”. Kalau saya indonesakan dengan sederhana artinya “budaya kerakyatan”. Jadi sebuah budaya yang berbasis pada rakyat.

Maka ada sejumlah pihak yang berkaitan dengan popular culture ini. Ada audience yang menerima pesan yang disampaikan oleh sender melalui media.

Sesungguhnya pembahasan tentang budaya pop ini bisa merembet pula pada budaya konsumerisme, budaya dimana keseriuasan makin deficit, budaya dimana aspek hiburan menjadi kiblat dan bahkan agama baru, dan itu terjadi di zaman yang dijuluki modern ini.

Saya pikir itu saja, untuk pembahasan kali ini tentang budaya pop. Paling tidak pembahasan super simple ini bisa menjadi start untuk membuka jendela dunia secara lebih lebar dan lebih leluasa dalam melihat dunia.

Masukan konstruktive dari teman-teman akan saya apresiasi sekali dan akan menjadi second opinion yang harus saya pelajari dan sesuatu yang sangat saya perhitungkan. Salam pergerakan baut semuanya dari suara sepoi-sepoi di padang pasir.

Advertisements

6 Responses to "Budaya Pop"

kadang saya beranggapan bahwa pop culture bukanlah budaya karena hanya memberi pengaruh negatif kepada kehidupan dan masa depan generasi muda. pemberontakan terhadap nilai dan norma yang sudah mapan adalah suatu pop culture yang diyakini membawa suatu generasi kepada kehidupan yang lebih baik, lebih baru, lebih modern, dll. padahal nilai dan norma gak salah-salah amat, yang salah adalah pemahaman dan penerapan suatu masyarakat terhadap nilai dan norma tersebut sehingga terkesan merugikan.

just thought, thanks

budaya pop sudah meracuni kondisi sosial ,masyarakat indonesia

so be ur self

loving our culture

saya ingat pada suatu kasus ada sejumlah perempuan yang berteriak histeris ketika menonton pertunjukkan group musik yang digemarinya. jadi nge fans banget…fanatik banget. bahkan dikabarkan ada yang meninggal karena saking berjubelnya manusia pada saat pertunjukkan itu. saya melihat kasus ini dari segi budaya pop yang sudah menyeruak ditengah-tengah masyarakat kita.seolah-oleh, kalau tidak tahu musik, dan tidak punya idola dalam belantara musik, tidak gaul. bahkan tidak sedikit karena saking ngefansnya, poto-poto group musik yang diidolakannya dipampang di kamar privatnya. puih….dan ini tak tertutup kemungkinan terjadi pada orang yang julukannya akhwat atau ikhwan.

buar raras, saya pikir memang budaya pop tidak bagus untuk dikembangkan. ia bisa berimbas pada sikap melupakan budaya sendiri, dan norma-norma dimasyarakat makin dicibirkan dan tak menarik lagi dimata mereka.
dikampung sya, remaja-remajanya lebih menyukai nonton sinetron daripada pergi kemesjid untuk mengaji dan berdiskusi. ternyata mereka menyukai hiburan dan hiburan. gawatnya lagi, orang-orang masjid kurang mampu mengemas dakwahnya. mereka cenderung kaku dan rigid, sehingga pengajian menjadi momok yang menakutkan bagi para remaja.
ini nampaknya sebuah challenge bagi para dai dalam mengemas dakwahnya.
saya pikir itu saja, thanks atas masukannya.
ahmad

Begitu indah dan kaya Indonesia ini, mari bersama kita lestarikan budaya kita,, salam kenal dari Pernikahan Adat Di Indonesia

Kalau konteksnya lebih positif, kenapa tidak kita menerima budaya pop?
Menanggapi tnggapan yg mnyinggung ikhwan akhwat td, sy rasa, mmg pd dsrnya ada suatu kcndrungan utk mngidolakan suatu sosok, dan itu mnusiawi, namun sulitnya kita mmbedakan peran suatu kelompok sosial yg cukup baru, yg disebut ikhwan akhwat tsb, sbg salah satu pndukung ‘pop culture’. Dalam klpok yg smakin majemuk tersebut kurang mampu didefinisikan secara terpisah dan membenarkan definisi yg lebih cocok pada pisahan yg lbh cocok pula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: