Itsme231019

Haji Mabrur VS Haji Mardud.

Posted on: April 16, 2008

source from“Setiap tahun, ratusan ribu orang Indonesia berangkat ke Tanah Suci, tapi korupsi dan manipulasi tak pernah sepi dari Bumi Pertiwi ini. Mereka berharap dapat haji mabrur, namun yang diperoleh adalah haji mardud (ditolak Allah), karena predikat itu hanya topeng penutup kebusukan.”

kutipan diatas saya comot dari esai Widi Yarmanto, Gatra. Menarik sekali menyimak tulisannya, karena menyinggung sebuah fakta bahwa Meski tiap tahun, gelombang jama’ah haji terus berjalan dan bahkan meningkat, namun jumlah besar orang yang menunaikan haji tak kunjung merubah kondisi bangsa ke arah yang lebih baik.

Bisa jadi, ada orang yang rajin menunaikan ibadah haji, namun ia masih betah menggunjing aib orang lain. jadi, sesungguhnya, apa yang ingin dicapai dari haji itu sendiri? saya pikir, ini persoalan yang cukup mendasar.ini juga persoalan intensi seseorang dalam beribadah.

dalam konteks haji, saya sering mendengar terminologi haji mabrur dan haji mardud. saya penasaran apa sih yang dimaksud haji mabrur dan haji mardud.

Saya pertama-tama hendak melihatnya dari dimensi niat atau intensi, buat apa menjalankan ibadah haji?

Dalam islam dikatakan bahwa segenap amalan itu ditentukan oleh niatnya.jadi motif dari amalan haji itu apakah apa? untuk mendapatkan jodoh kah? mendapatkan kekayaankah? untuk mendapatkan status sosial sebagai pak haji dan bu haji kah? atau hanya sekadar formalitas saja!!. Namun demikian, konsep keikhlasan dalam berhaji seringkali ditekankan. Oleh karena itu, saya bisa mengatakan bahwa buah dari amalan haji itu sangat pararel dengan tingkat penghayatan dan kesadaran akan nilai-nilai dalam ibadah haji itu sendiri.

Salah satu contoh yang bisa dianalisa. orang yang melakukan haji diharuskan menggunakan kain ihram yang tak berjait. tak ada lagi perbedaan yang mencolok, karena baik si kaya dan si miskin,si hitam dan siputih, tampil sama tiada beda. disini jelas sekali nuansa egaliter dan equality-nya,sebuah nilai persamaan kemanusiaan yang terselip dalam lautan kain ihram.

Jika nilai-nilai semacam ini dihayati betul dan dipraktekan secara konsisten, maka hasilnya akan cukup lumayan dan berkontribusi positif pada proses transformasi sosial.

Menurut Haji Freddy E.P.Husein, seperti yang tertulis dalam esai Widi Yarmanto, Haji Mabrur itu bukan sekadar memenuhi syarat, wajib dan rukunnya. Atau, bukan sekadar tidak omong kosong (rafats), kedurhakaan (fusuq), atau tidak bertengkar (jidal) selama di sana (tempat ibadah haji). Dengan kata lain, haji mabrur itu proses penghayatan yang terus menerus terhada nilai-nilai positif haji dan berusaha menerjemahkannya dalam aksi secara konsisten until the rest of the life.

Maka sesungguhnya ini bisa menjadi kritik konstruktif bagi yang melakukan ibadah haji, namun setelah kembali dari hajian, masih saja suka menyakiti, suka bergunjing, bahkan korupsi. tindakan tersebut telah menggerogoti amalan haji yang telah diperbuatnya. hajinya berakhir dengan kualitas mardud. tertolak!!!

Saya jadi ingat terhadap suatu kisah. ada sepasang suami istri yang hendak melakukan ibadah haji. diperjalan, mereka menjumpai orang yang lagi kesusahan. bingung, kalau hajian, berarti ia tak bisa menolong orang tersebut. kalau menolong orang tersebut akan membuat rencananya batal.karena tak rela meninggalkan orang tersebut dalam kesusahan, akhirnya rencana hajinya dibatalkan demi mengangkat orang tersebut dari keterjepitannya. dikatakan bahwa orang tersebut sesungguhnya sudah melakukan haji mabrur.

Saya maaf sekali lupa lagi sumbernya, tapi saya pernah membacanya. jika ada teman-teman yang menemukannya, saya sangat appresiatif sekali.

Berbekal landasan ini, maka amalan haji itu akan menghasilkan output yang berbeda-beda pada setiap pelakunya, sesuai dengan tingkat penghayatannya terhadap amalan yang dikerjakannya.

Maka tidaklah heran jumlah haji meningkat, jumlah korupsi pun tetap saja meningkat. jumlah orang berhaji terus bergelombang besar-besaran dari tahun ke tahun, tapi masyarakat masih saja terpola dalam hidup konsumersime dan kapitalisme, dimana masyarakat terbagi menjadi dua si kaya dan si miskin. si kaya makin kaya, si miskin makin miskin.

Maka haji mabrur sinonim dengan perjuangannya melawan sistem kehidupan yang tidak sehat. haji mabrur adalah anti korupsi. jika si pemilik predikat haji itu kemudian korupsi, berbohong dan doyan melukai hati orang, maka haji nya pun mardud, tertolak. sia-sia saja hajinya.

(ahmad, Riyadh, 10/4/2008)

Advertisements
Tags: ,

4 Responses to "Haji Mabrur VS Haji Mardud."

halo Ahmad, aslm. wr. wb

yah itu lah….gimana mau jadi haji mabrur kalo duit ONHnya dari korupsi atau meras orang? secara sumbernya aja udah keruh pasti ke sananya juga keruh dan berkerak sehingga dosa sudah menjadi budaya termasuk korupsi, korupsi mgkn sudah membudaya karena kalo suatu dosa tidak segera ditinggalkan dia akan menjadi kebiasaan, kalo kebiasaan bisa menjadi budaya. ih na’udzubillah.

btw, perasaan orang pergi ke tanah suci gak cuma untuk tujuan mulia tapi sekalian belanja. emang, mutu produk yang di jual di Arab Saudi jauh lebih bagus dari yang dijual di negara lain punya. Bahkan parfum dengan merk sama lebih harum yang dijual di Arab daripada yang dijual di negara lain, tapi harganya bersaing trus emas (katanya Madinah gudangnya emas cantik), baju, asesori, dll pokoknya semuanya kualitas nomor 1 karena emang QC disana sangat ketat, konon kabarnya jika ditemukan satu barang yang lecet maka akan dikembalikan satu kontainer kepada empunya.

jadi pertanyaan lagi, pergi haji untuk berhaji atau berbelanja?? :mrgreen: thanks, wassalam

salam.
hai mba yonna, thanks atas masukannya.
bisa jadi tuh, bagaimana mau mabrur jika ongkosnya juga dari sumber yang tidak halal. ada juga sih orang yang sebetulnya punya uang pas-pasan, tapi memaksakan dirinya untuk pergi haji. dalam pandangan saya, dalam melakukan haji, tidak boleh ada paksaan dalam diri. haji dilakukan bagi mereka yang benar-benar mampu, artinya tidak boleh memaksakan diri.
tak dipungkiri juga bahwa bisa jadi atensi pergi haji selain untuk tujuan ibadah, ada tujuan lain yakni belanja. saya pikir, membeli sesuatu gak jadi soal tapi kalau membeli sesuatu diluar kebutuhan prioritas, maka hasilnya akan memberikan kesan konsumtive. memang dari segi bisnis, haji ini merupakan momentum yang punya nilai bisnis. kegiatan keagamaanpun ternyata bisa dijadikan bisnis juga, ya begitulah dunia.

perlu ada reaktualisasi mengenai haji ini, perlu dikaji ulang apa itu istitho’ah?. istithoah bukan hanya sehat fisik dan mempunyai biaya perjalanan untuk melakukan haji, tapi rohani dan pemahaman mengenai esesnsi dan hakikat haji itu sendiri. dan satu lagi banyak temen-temen ente jebolan gontor yang kuliah di cairo melakukan tahaluf untuk bisa haji dan bekerja di musim haji.

yah semoga yang sudah melakukan ibadah haji dapat perbaiki sampai akhir hayat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: