Itsme231019

Jadi TKW, No!!!, Bekerja Keras dan Cerdas, YES!!!.

Posted on: April 14, 2008

Ketika saya ingin menulis tentang kehidupan TKW, maka tulisan itu punya keberpihakan dan kepentingan. Kenyataan di depan mata bahwa TKW acap kali menjadi korban tindakan semena-mena majikannya. Keringat, pikiran, perasaan dan tubuh mereka dieksploitasi nyaris hampir habis-habisan.

Mereka para TKW mengharapkan rasa kemanusian, tapi harapan itu selalu kandas karena selain garansi itu selalu tak pasti, majikan yang mempekerjakannya kerap melihat mereka tak lebih dari “property” saja. Mirip komputer, mereka bisa dirental-rentalkan sehingga menjadi komoditas yang mendatangkan uang.

Dan nampaknya bisnis TKW ini selalu menggiurkan. Berbeda dengan bisnis NARKOBA yang kalau dipakai akan habis, bisnis TKW yang notabene manusia kemudian bisa dikatakan unlimited, karena meski “dipakai” beberapa kali, selalu saja ada dan berwujud, kecuali kalau nyawa mereka sudah berada di titik penghabisan. Mengenaskan memang.

Oleh karena itu, katakan No!!! untuk menjadi TKW. Bersikap kritislah terhadap tipuan-tipuan yang acap kali dikemas dan dibungkus dengan cantik. Jangan mudah kena ilusi yang diciptakan orang. Dibelakang “kemasan cantik” mereka, ada sebuah kepentingan besar yang berusaha disembunyikan.

Anda bisa saja dibilangin bahwa anda akan bekerja sebagai pembantu dengan gaji yang bagus dan majikan yang bagus. Tapi anda jangan heran jika ternyata anda akan digaji yang bagus kalau anda mau memberikan “service” yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan anda. Tapi anda jangan heran juga, bahwa anda akan dapat gaji bagus jika anda rela hak-hak anda tidak dipenuhi dan anda harus melakukan sesuatu yang diluar kemampuan anda sebagai manusia. Paradoks semacam itu tidak ada garansi untuk tak terjadi.

Bayangin saja, bisa saja dalam pikiran mereka (para majikan), gaji anda dipararel kan dengan kepatuhan total anda terhadap apa saja yang mereka mau. Bayangin saja jika mereka punya kemauan bahwa anda harus mencuci tumpukan baju, menyetrikanya dalam jumlah yang banyak karena dalam satu rumah, bisa saja ada 4 keluarga dan masing-masing keluarga punya anggota-anggotanya. Terus anda juga harus memenuhi kemauan mereka dalam hal makanan yang acap kali sangat beragam. Anda disuruh harus bisa masak ikan dengan cara yang berbeda-beda sesuai pesanan masing-masing anggota keluarga. Sampai-sampai anda sendiripun tak punya waktu untuk makan, untuk istirahat, untuk shalat. Puih……..gila banget tuh perlakuan, kecuali jika anda superwoman.

Saya berusaha untuk membaca dan menyelami penderitaan mereka menjadi TKW. Mereka menjadi TKW karena mereka ingin mendapatkan uang dengan halal. Niat anda bisa jadi mulia, tetapi anda harus sadar pula bahwa garansi keselamatan dan rasa kemanusiaan itu acap kali isapan jempol belaka. Tak lebih dari sebatas retorika saja.
Saya hanya ingin mengatakan bahwa menjadi TKW bukan satu-satunya jalan mendapatkan uang. Yang terpenting, semangat kerja keras, terus menerus belajar dan tak patah semangat adalah kunci menuju sukses. Bukankah “life is proces of learning” seperti yang dikatakan mba Mulia Hasan dalam blog pribadinya.

Menarik sekali membaca postingan mba Mulia. Dikatakan bahwa prostitusi itu persoalan privacy sementara trafficing itu adalah kejahatan. Berikut ini kutipannya :
“Prostitution is privacy, it’s done based on free will. Trafficking is bad prostitution, it’s a criminal action. But what is free will? To me it’s a will, but forced will, forced by situation though in the end they must accept and put in their head that it’s their destiny”. (French film director Herbet Dubois)

Jika saya tarik kedalam kondisi TKW, maka ada yang menjadi TKW sebagai pilihan personal dan ada yang paksaan dari luar, misalnya dipaksa oleh orang tuanya. Tapi ada juga sebagai pelarian saja, karena kecewa suaminya nikah lagi atau selingkuh dengan cewek lain. Jadi yang kedua dan ketiga ini cerminan dari “will” yang tidak free secara utuh.

Terlepas dari itu, TKW sering disalah gunakan. Mereka bisa dirental-rentalkan. Mereka sesungguhnya hidup dalam lingkungan dimana keberadaan mereka adalah barang saja. Fakta demikian membuatku berkeyakinan bahwa mereka ada komoditas dan bukan manusia. Oleh karena itu, berilah mereka kesempatan untuk menjadi manusia dan menyadari dan menikmati kemanusiannya. Dan itulah yang bagi saya disebut ajaran fitrah, yakni kesucian dan kemanusiaan yang bening dan alami.
Maka, Menjadi TKW, NO!!! Kerja Keras, Cerdas dan Selalu Belajar..YEEEEEEEEEEEEEEEEEESSSS!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: