Itsme231019

Nikah Jarak Jauh

Posted on: April 4, 2008

Itulah yang saya alami ketika saya melangsungkan pernikahan dengan calon istri saya, Rina Apriliani, yang kini sudah resmi menjadi istri saya.

Pernikahan ini berlangsung dimana kedua mempelai berada pada jarak yang geographically saling berjauhan. Mempelai istri berada di Bandung, sementara yang prianya berada di Saudi. Tapi alhamdulillah prosesi pernikahan berjalan lancar dengan system taukil (diwakilkan). Waktu itu yang menjadi wakil dari pihak saya adalah bapak dari suami kakak saya, dan kebetulan beliau termasuk sesepuh masyarakat dikampung saya.

Kok bisa sih?

Memang pernikahan ini punya ceritanya sendiri. Waktu itu, neng Rina (begitu saya panggil waktu itu) baru saja datang dari Saudi.  Karena majikannya dan anak laki-lakinya menunjukkan gelagat yang tidak baik, Rina pun memutuskan pulang meski pun masa kontraknya belum habis. ia pun alhamdulillah bisa pulang setelah kira-kira satu tahun tiga bulan bekerja di majikan.

Di kampung, Neng Rina ini cukup getol ke masjid, sehingga sering bertemu dengan ibu saya yang juga rajin pergi ke masjid untuk melakukan shalat berjamaah dan juga pengajian ibu-ibu.

Waktu itu, ibu saya kebetulan membutuhkan perempuan muslimah dalam menjalankan jual beli produk ahad-net. Karena waktu itu, bisnis MLM lagi musim-musimnya. Ibu saya pun, mengajak neng Rina untuk menjalankan bisnis tersebut.

Kalau liburan dari kuliah di Jakarta, saya suka langsung bergegas ke bandung. Maklum, rindu kampung halaman selalu saja ada dalam sanubariku. Ia selalu menerimaku dalam kondisi apapun.

Pertemuan saya pun dengan neng Rina tak terhindarkan yang pada akhirnya saya dan dia merajut komitmen untuk menjaga kesetiaan.

Tapi rajutan ini nampaknya kurang disetujui oleh ibu saya sendiri dengan beberapa alasan diantaranya : ibu saya punya pilihan lain untuk saya, dan kedua, kalau sudah nikah, maka dianggap akan lupa sama orang tua.

Suatu saat, saya ada tawaran bekerja sebagai TKI di Saudi. Akhirnya saya pun mempersiapkan diri untuk bekerja di Saudi. Sebelum berangkat, saya sempat bikin komitment bahwa kepergian saya tak lain sebagai persiapan untuk nikah dengan neng Rina begitu saya kembali ke Indonesia. Neng rina pun mengatakan bahwa dirinya akan menyusul saya ke Saudi, karena saking cintanya sama saya. (heee…..)

Dalam perjalanan di kapal, saya benar-benar merasa bahwa apa yang saya alami itu seolah-olah dalam mimpi saja. “benarkah ini kenyataan” begitulah gumam saya saat di kapal.

Singkat kata, saya pun sudah tiba dan menghirup udara padang pasir. Waktu pun berjalan. Saya kaget banget ketika banyak kabar dan informasi dari teman-teman Indonesia bahwa kondisi tkw di Saudi memprihatinkan sekali. Tak sedikit dari mereka yang dijajah paksa secara seksual oleh majikannya. Saya pun mulai mengelus dada dan menarik napas dalam-dalam.

Oh ternyata persepsi saya tentang keberislaman disini tak seindah persepsi awal saya sebelum berangkat. Persepsi awal saya kini ambruk ketika dibenturkan pada kenyataan ada tkw yang dipukuli oleh majikan perempuan, padahal majikan tersebut memakai busana muslim yang membalut seluruh tubuhnya. Kata ibu saya, muslimah yang baik adalah mulimah yang mengenakan baju muslimah untuk menutupi oratnya.  

Lewat telephone, neng rina menyatakan kembali bahwa dirinya ingin pergi ke Saudi sebagai tkw. Tapi saya kemudian menolaknya sambil mengatakan bahwa jika benar-benar dia mencintai saya, tidak usah pergi ke Saudi, karena risikonya lebih besar dan gawat. Tentu saja, ucapan saya itu mengacu kepada kondisi memprihatinkan yang menimpa banyak tkw dari Indonesia.

Namun, ternyata gesekan kepentingan pun mulai muncul. Ibu saya dan ibunya neng Rina mendukung agar rina pergi menjadi TKW. “saya bilang, lebih baik tinggal di kampung dengan bekerja dan berfikir keras dari pada bekerja di Saudi tapi masuk dalam perangkap ekploitasi”.

Neng Rina pun lebih memilih ucapan saya sebagai tanda cintanya terhadap saya. Saking saling cintanya, maka masing-masing dihinggapi rasa takut kalau ada pihak ketiga yang mengganggu, maksudnya saya tidak menerima kalau ada laki-laki lain mengganggu neng Rina, pun ia tak menerima jika ada cewek lain mengganggu saya.

Kondisi itulah yang kemudian memunculkan keinginan untuk melakukan tunangan saja dan cincin sebagai tandanya. Saya pikir, lebih baik nikah saja biar lebih mantap dan lebih kuat sehingga tidak ada orang lain yang coba mengganggu. Akhirnya, issue tentang pernikahan jarak jauh menjadi topic hangat dikalangan keluarga saya, karena type nikah semacam itu tidak pernah terjadi di keluarga saya bahkan di kampung saya.

Berkat dukungan dari berbagai pihak, pernikahan saya dan neng Rina pun berjalan khidmat dan lancar meski masing-masing mempelai berjauhan.

saya ucapkan terima kasih kepada mereka yang terlibat dalam menyukseskan acara pernikahan ini. Kepada adik dan kakak saya semua yang ikut mempersiapkan segalanya. Pokoknya semuanya deh yang ikut mendukung baik langsung maupun tak langsung.

Kini kami dikaruniai anak yang diberi nama shidqi fuadi. Mudah-mudahan dengan pendidikan yang mencerahkan, ia menjadi pribadi yang kuat, tegas, berani, bertanggung jawab, dan penuh dignity.

Riyadh. 4/4/2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: