Itsme231019

Liberation!!!

Posted on: April 1, 2008

I need liberation. This statement is very human. I think that every people need liberation. When I talk liberation, sure it has two meanings, liberation to do (positive) and liberation from something (negative). 

I want to start talking about domestic worker from liberation perspective. Are they (domestic worker) liberated or not?

To answer that, let me explore about that. Well, I witness that sending domestic workers to another country is just like a big business network. Domestic workers are no longer considered human. They become commodity of business.

The employer pays money to agency to recruit the house maid from other country. Both employer and housemaid are actually tied with contract and regulation.

It is said in the contract that there should be at least 6 hours in a day for house maid to have a rest. Again, house maid should be provided with day off one day in a week. Regarding salary, the employer must give monthly salary to house maid without any delay. It is said also that employer should help house maid communicate with her family in her home country. 

Well, I think that regulation is clear and humanitarian enough. But I don’t stop to examine, doest that good regulation work properly?

I am not sure, because too many cases show the opposite sides. The house maid complains that she just has 3 hours for sleeping.  Her employer even neither give her salary, nor food, nor day off. I think, the violation seems to begin.  

I guess such employers think that they can do anything to their housemaid because they have bought them by money. Here, the house maids are treated as their property which can be resold again to other’s hands.

From having such mindset, the abuses will easily develop. The owner will feel that it is okay even to exploit and abuse house maid. The house maid is of course in terrible situation. She really needs liberation from such burden. She needs legal protection. She needs someone to liberate her from trap. But who care about their dreaming on justice and liberation?

It is my dreaming that the people in the power would like to liberate the powerless and give the voice to the voiceless. But again, it is still my dreaming.

In the blind business mindset, the humanism is not important. It is just like hedonic culture. I am really sick of such terrible situation. No feeling, no sense, no aesthetic, no respect, no help, no more humanitarian perspective and the like.

It is okay if you have house maids, but they are just like you too. They are human like you. If you need respect, they need respect too. If you need food, they need food too. If you need rest, they need rest too. They are human like you. You are will be a great man if your power is used to endorse liberation for powerless people. You will be written and recorded in gold history as a great liberator for humanism. I hope.

Advertisements

4 Responses to "Liberation!!!"

Hmmm….hubungan antara majikan dan pembantu rumah tangga emang dilema.

di satu sisi, banyak majikan yang dzalim, pembantunya digaji di bawah standar (gak setara ma beban kerjanya), gak dikasih makan (harus beli sendiri), kalo pembantunya nginap diberi kamar yang sumpek, bau yang persis gudang, dll.

di sisi lain, banyak pembantu yang kurang ajar kepada majikannya. misalnya suka mencuri, berlaku kasar ma anak majikannya (jika baby sitter atau nanny), senang bergosip dengan pembantu di rumah sebelah dan menjelek2an majikannya masing2, genit2an ma supir atau tukang kebun di rumah sebelah, minta kenaikan gaji tapi kerjanya gak ada yang becus, dll.

kayak teori telur dan ayam, lebih dulu mana, telur atau ayam? trus siapa yang jadi telur, siapa yang jadi ayam? jadi emang dilema yach.

kalo kita ingin orang memperlakukan kita dengan baik maka berbuatlah baik kepada mereka. siapa yang menanam kebaikan dia akan menuai berkah, siapa yang menanam kejahatan akan menuai bencana, salam 🙂

salam. memang jika melihat phenomena kehidupan tkw, banyak spektrum yang bisa dilihat.
eksploitasi terhadap mereka tak jarang terjadi tanpa ada proteksi hukum yang kuat. namun, memang ada beberapa tkw yang punya tabiat jelek, sehingga tak pelak terjadi, pencurian dilakukan oleh si pembantu. atau anak majikan mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari pembantu bisa jadi sebagai pelampiasan kekesalannya pada majikan.
saya pikir, jika majikan memperlakukan dengan baik, sopan dan penuh kemanusiaan, maka si pembantu akan belajar menghargai mereka dan memaknai arti tanggung jawab secara proporsional.
memang perih sekali yang dialami tkw jika ia berniat menyelematkan barang dari pembuangan tong sampah, tapi kemudian dituduh mencuri. perih sekali, jika ia berusaha menghindar dari perlakuan kekerasan seksual, tapi kemudian dituduh perempuan nakal dan perempuan murahan. perih sekali jika tkw berusaha mengambil kertas dari mulut bayi tapi dituduh membiarkan bayi memakan kertas dan karenanya si tkw di pukul habis-habisan, seakan-akan kekerasan jalan satu-satunya menasehati tkw. puih……its so absurd.
aneh sekali rasanya majikan melarang tkw melihat atau berbicara dengan supir atau laki-laki, tapi dia sendiri yang mengekploitasinya habis-habisan.
memang betul, ketika tkw bertemu dengan tkw lain dari asal yang sama, mereka bahagia sekali, mereka saling share penderitaan mereka. tentu saja, mereka saling membanding-bandingkan majikan mereka. begitulah.
thanks atas masukannya.

saya penasaran ma tindakan pemerintah kita terhadap ketidakadilan yang luput dari survey dan pemberitaan tsb.
payah ya Mad, cuma dianggap sbg pahlawan devisa tapi gak dapet apa2.
saya kasian ma TKW, kok gak dihargai sana sini yach, salam

salam.
penghargaan terhadap tkw tidak berhenti pada slogan kosong “pahlawan devisa” tapi harus lebih menyentuh dan membumi. contohnya saja seperti perlindungan hukum yang bagus dan menjamin rasa keadilan. keberadaan kedutaaan besar menjadi sangat penting disini. mereka harus menjadi payung yang melindungi warganya.
saya punya ide lain. saya pikir mungkin bagus juga dikirim seorang peneliti perempuan yang berpura-pura jadi tkw. orang ini secara legal dibacking oleh pemerintah dan kedutaaan, dalam rangka meneliti bagaimana proses ekploitasi itu terjadi. saya pikir, dengan cara ini, majikan tidak bisa semau gue dalam memperlakukan tkw, karena tkw sendiri punya kekuatan juga yakni di backing oleh pemerintah dan oleh finance yang kuat.
tapi pertanyaan saya, mau kah pemerintah melakukan terobosan semacam itu?
realitas menunjukkan bahwa mengeruk keuntungan dari proses pengiriman tkw ini nampaknya lebih menggirukan daripada memberi proteksi legal bagi mereka. pahlawan devisa memang slogan yang melukai saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: