Itsme231019

Archive for April 2008

Ibadah adalah perbuatan baik, pun beramal adalah perbuatan yang shaleh. Namun keindahan ibadah dan amalan itu akan ambruk jika disusupi virus bernama riya.

Apa virus riya itu? Mari sejenak menganalisis apa yang dimaksud dengan term “riya”.

Dalam bahasa Arab, riya merupakan derivasi dari ra’a yang berarti melihat. Riya, dengan demikian, adalah sikap atau perbuatan merekayasa “sesuatu” agar bisa dilihat orang lain. Dalam bahasa arab, ra’yun adalah pendapat, ide, pikiran, persepsi. Dengan begitu, riya juga berarti tindakan merekaya sesuatu agar orang lain punya persepsi yang ingin diciptakan siperekayasa tersebut.

Seorang laki-laki yang tadinya jarang pergi ke masjid, tiba tiba rajin banget ke masjidnya. Ternyata di masjid tersebut, ada sosok perempuan cantik yang suka mengaji. Laki-laki tersebut rajin datang ke masjid bukan karena shalat berjamaah itu baik dan bagus, atau bukan karena pengajian itu secara intrinsik bagus, tapi berlandaskan keinginan agar perempuan tersebut melihatnya dan punya persepsi bahwa laki-laki tersebut anak shaleh karena getol shalat. Itulah persepsi yang ingin dibangun laki-laki tersebut.

Maka, shalatnya, ngajinya, dan rajinnya kemesjid tak punya nilai apa-apa karena hal itu bukan intrinsik baginya, yang intrinsik baginya adalah perhatian perempuan tersebut terhadapnya. Dan sesungguhnya, baik disadari atau tidak, itulah agama bagi dirinya. Tapi saya ingin juga mengatakan bahwa tidak semua orang yang rajin ke masjid, rajin ngaji, lantas identik dengan riya.

Dalam Islam, riya itu bahkan equal dengan syirik yang tersembunyi. Dikatakan tersembunyi (hidden), karena ia pandai sekali menyelinap dalam ruang ketidak sadaran kita.

Seorang imam shalat memperbagus suaranya dan memanjangkan bacaan dalam shalatnya, diluar kesadarannya, terselip sebuah fantasi agar orang-orang dibelakangnya punya persepsi bahwa sang imam banyak hapalannya, atau suaranya bagus. Fantasi akan pujian dari orang lain itulah yang bernama riya. Sekali lagi, tidak lantas semua imam yang memanjangkan bacaan adalah riya.

Menurut yang saya pahami, syirik adalah menduakan Tuhan dalam beribadah. Syirik bisa dikatakan pengkhiatan cinta terhadap tuhan. Syirik berarti upaya menciptakan tuhan-tuhan baru. Inilah yang barangkali kemudian menjelaskan bahwa Tuhan pun ternyata pencemburu.

Apa yang akan anda dan kita rasakan jika kekasih anda/kita mengkhianati cinta anda/kita? Tentu saja akan segera muncul rasa terkhianati, kecewa.

Pada tahap ini, saya bisa mengatakan bahwa ibadah adalah juga cinta. Ibadah adalah totalitas. Ibadah adalah kepatuhan, yakni patuh dan tunduk pada nilai-nilai intrinsik ibadah itu sendiri.

Dalam pemahaman saya, shalat adalah ibadah, puasa juga ibadah, zakat pun ibadah. Tapi amalan shaleh pun bisa berbalik menjadi amalan salah jika niat atau intensi nya salah. Oleh karena itu, konsep niat dalam beribadah sangat memegang peranan penting.

Jika saya boleh mengatakan, niat itu mirip software. Ibadah ritual adalah hardwarenya. Shalat adalah hardware dari sebuah ibadah. Jika ibadah itu dijalankan oleh sofware yang mengandung virus riya, maka sistem pun akan menjadi down, lumpuh dan tak berkutik alias error. Ibadahnya mengalami cacat.

Dalam agama, anonim dari riya adalah ikhlas dan tulus. Bekerja dan beribadah dengan tulus berarti bekerja dan beribadah tanpa mengharapkan “imbalan” atau “pujian” dari luar. Dicemooh atau dipuji, kebaikan itu harus tetap kita jalankan secara konsisten.

Maka, hardware bernama ibadah pun jika dipasang software keikhlasan maka semua sistem akan berjalan mulus lancar. Tapi jika dipasang sofware virus riya, ibadah pun tak lagi bermakna.

Jika ingin berbuat baik, berbuat baiklah, baik ada pujian atau tidak. Andai saja pujian itu tak pernah ada, masihkah kita mau beramal dengan baik?

Konsep riya sesungguhnya mencerminkan suatu sudut persepsi lain bahwa keberagamaan yang ritual formal akan terasa hambar dan tak punya rasa seni jika tidak dihiasi dengan akhlak yang baik.

Pakaian yang kita pakai, mobil yang kita kendarai, emas yang kita miliki, adalah baju luar saja tentang identitas kita. Semua itu adalah identitas semu dan temporer. Siapa sih diri kita sebenarnya? Jika mobil yang kita miliki itu bukan diri kita yang sebenarnya, jika bacaan yang dipanjang-panjangkan dalam shalat itu bukan identitas murni kita, kenapa kita begitu tergoda untuk mengelabui orang agar melihat diri kita sebagai kaya dan alim.

Ternyata virus itu bernama riya…virus yang menggerogoti. Personally, saya pun melihat tulisan saya sebagai cambuk agar hati-hati dengan makhluk halus bernama riya.

Hidup ini hanya satu kali, maka gunakanlah dengan sebaik-baiknya. Tapi haruskan amal baik itu hanya karena ada surga dan neraka? Barangkali itulah apa yang saya pikirkan ketika berhadapan dengan apa yang disebut dengan eskatologi, sesuatu yang berkatian dengan berakhirnya kehidupan ini.

Dalam pikiran sederhana saya, eskatologi itu adalah hari kiamat, titik ujung dari kehidupan ini. Pembicaraan eskatologi lebih memfokuskan diri pada dimensi akhirat, kehidupan di alam baka.

Untuk mengetahui apa itu eskatologi, saya ingin mengutip pengertian dari beberapa sumber. Menurut wikipedia, eskatologi (inggrisnya : eschatology ), adalah :

Eschatology (from the Greek σχατος, Eschatos meaning “last” and -logy meaning “the study of”) is a part of theology and philosophy concerned with the final events in the history of the world, or the ultimate destiny of humanity, commonly referred to as the end of the world [1]

Sementara menurut kamus online merriam webster, eskatologi adalah :

  1. a branch of theology concerned with the final events in the history of the world or of humankind
  2. a belief concerning death, the end of the world, or the ultimate destiny of humankind; specifically : any of various Christian doctrines concerning the Second Coming, the resurrection of the dead, or the Last Judgment [2]

Dengan demikian, eskatologi (eschatology) merupakan studi yang merupakan bagian dari kajian teologi dan filsafat yang berkaitan dengan kejadian final dari sejarah kehidupan ini. Singkatnya, kiamat dan akhirat sebagai fokus pembicaraan.

Saya pun berfikir, jika berbicara akhirat, maka disana akan ada yang disebut surga dan neraka. Surga adalah tempat bagi orang-orang yang berbuat shaleh dan neraka adalah tempat orang-orang yang berbuat salah. Itulah yang ada dalam fikiran saya.

Namun demikian, semua itu ada dalam rahasia Ilahi.

Tapi jika melihat dari aspek eskatologi, memang ada orang yang beribadah dan beramal berdasarkan fantasi dia akan akhirat, yakni mengharapkan surga dan takut neraka. Ibadahnya semata-mata karena mengharap surga. Saya bisa berandai-andai jika surga dan neraka tidak ada, maka masihkah manusia mau beribadah dan beramal?

Pada point inilah, persoalan akan berkembang. Level keberagamaan seseorang pun muncul menjadi wacana. Jadi, ada ibadah yang pamrih dan ibadah yang tulus.

Menarik sekali membaca tulisan kang jalal mengenai keberagamaan seseorang. Berikut ini kutipannya : “Wajah publik adalah penampilan yang ia tampakkan di hadapan umum sedangkan wajah privat adalah penampilan yang ia tampakkan di lingkungan yang terbatas. Bila ia salat di depan orang banyak (di hadapan publik), salatnya amat rajin sementara ketika ia salat sendirian (di lingkungan privat), salatnya menjadi malas. Contoh lain adalah seseorang yang selalu melakukan salat sunat di masjid tetapi selalu meninggalkannya ketika ia di rumah. Orang tersebut akan menambah amalnya bila di hadapan orang banyak dan mengurangi amalnya bila ia sendirian. Ketika di hadapan orang banyak, ia akan sangat memperhatikan waktu salat sementara di rumahnya, ia jarang salat tepat waktu” [3]

Bisa jadi, orang yang beribadah dengan penekanan yang berbeda pada dua wajah (private dan public), sangat terinspirasi oleh khayalan akan semangat eskatologis dalam dirinya. Ia melakukan amal baik bukan karena kesadaran utuh bahwa amal baik itu sangat inherent dan instrinsik tapi melihatnya sebagai kewajiban saja.

Lalu bagaimana dengan orang yang rela membiarkan dirinya mati dalam aksi bom bunuh diri (suicide bombing) hanya karena keyakinan bahwa ia akan mendapatkan bidadari yang selalu jelita di surga?

Pikiran sederhana saya berkata bahwa mereka telah terbuai oleh kenikmatan eskatologis di akhirat nanti. Dimata mereka, tindakan bom bunuh diri itu adalah jihad yang jika mati, maka matinya adalah syahid. Pada tahap ini, saya memiliki pikiran yang terus berkecamuk, kenapa jika ingin mendapatkan surga harus membunuh diri dan membunuh orang lain yang tak bersalah. Jika eskatologi tentang surga dan neraka itu ada, maka alangkah baiknya hidup yang satu kali ini dipergunakan sebaik-baiknya untuk memanusiakan manusia, tapi dengan kesadaran bahwa amal baik itu memang natural dan intrinsik, terbebas dari fantasi eskatologis. Gimana menurut anda?

Saya tahu bahwa surga dan neraka itu didekati dengan pendekatan keimanan, tapi apakah saya harus beramal baik karena mengharap surga dan takut neraka? atau apakah perbuatan baik itu dilakukan dengan kesadaran bahwa itu misi intrinsik manusia dalam bergaul dengan alam dan manusia lainnya? Jika neraka dan surga tiada, masihkah kita mau beramal dan beribadah? saya pikir ini persoalan yang sangat mendasar dalam meniti jembatan kehidupan ini, yang ada titik pangkal dan titik ujungnya.

Saat ingin menulis tentang ‘akidah’ konsumerisme (inggrisnya ” consumerism), saya kesana kemari dulu menjelajahi tulisan-tulisan di internet tentang konsumerisme. Dari penjelajahan tersebut, Ada yang mengatakan bahwa konsumerisme adalah agamanya masyarakat modern.

Tapi, mari kita lihat pengertian menurut wikipedia tentang consumerism.

Consumerism is the equating of personal happiness with the purchasing of material possessions and consumption.”[1]

Terjemahan bebasnya ” konsumerisme adalah penyamaan kebahagiaan personal dengan membeli harta benda (material possession) dan konsumsi.

Dengan kata lain, tak ada kebahagiaan kecuali dengan memiliki kerajaan materi. Karena kekayaan materi adalah perhatian sentral dalam akidah konsumerisme.

Meskipun gaya hidup konsumerisme ini identik dengan dunia barat, namun sesungguhnya ia berlaku juga ditempat lain. Saya bisa melirik bagaimana orang-orang saudi terutama para perempuannya sangat menyukai shoping. Masjid-masjid disaudi sepi dari kajian-kajian, baik laki-laki apalagi perempuan, tapi begitu ke mall, disana bejubel para perempuan. Mereka melakukan shoping dengan suka ria.

Saya pernah mendengar cerita dari teman saya yang bekerja pada seorang majikan bahwa ada anak perempuan majikan (remaja putri saudi) yang rela mengeluarkan uang yang menurut ukuran saya tidak sedikit yakni 600 real (kira-kira 1 juta 300 ribu rupiah) hanya untuk beli satu celana jeans yang lagi trend. Busyeet deh…padahal pembantunya yang habis-habisan bekerja siang dan malam, belum juga di gaji-gaji.

Ternyata fashion telah membuatnya terlena sehingga lupa akan hal yang lebih penting dan lebih urgent dalam hidupnya. Rasa kemanusiannya tak lagi sensitif.

Parah juga memang jika sebuah masyarakat menganut berlebih-lebihan ‘akidah’ konsumerisme. Jurang sosial si kayak dan si miskin akan kian menganga lebar. Dan itu berkontribusi besar pada tingkat eskalasi kecemburuan dan ketimpangan sosial.

Saya jadi ingat waktu saya kuliah dulu di UIN (meski tak tamat). Dosen saya Pak Andi Faisal Bakti yang memiliki Mobile Nokia 3310. didepan mahasiswa, pak Andi bilang bahwa meski Hpnya tak bergengsi tapi yang nelephone adalah para mentri. Dan dia mengatakan bahwa banyak mahasiswanya yang memiliki hp lebih bagus dan lebih mahal dari Hpnya, tapi tak pernah berdering. Suatu saat, Pak Andi ini mendapat sms dari mahasiswanya yang berisi ” kapan pak libur kuliah?”. Hehehe..saya pikir, untuk sms-saja, orang ternyata merasa gak sreg kalau tidak pakai Hp yang mahal.

Saya mendapatkan kutipan yang cukup menarik, berikut ini kutipannya :

“wah aya deui kang contona baju/anggean (pakaian)…, supados disebat gaya turut kana mode, ayeuna mah baju teh loba nu nempokeun bujal jeung bujur padahal pakean eta teh cocok keur budak leutik, walaupun hargana mahal da di beli oge, nu penting teu katinggaleun jaman….!!!” (ksatria_pasundan)[2]

Memang, dalam semangat konsumerisme, orang selalu ingin mengikuti perkembangan zaman, termasuk perkembangan dalam hal fashion pakaian. Yang penting lagi trend, dibeli saja. Apakah baju itu sopan atau tidak, syar’ie atau tidak , comfortable untuk dipakai atau tidak, itumah urusan belakangan.

Saya pikir, kasus semacam itu banyak terjadi diberbagai tempat. Tapi dalam pemahaman saya, terlena dalam sebuah trend tidak lantas equal dengan mengikuti perkembangan zaman. Maka apakah kita bisa bersikap arif dalam menghadapi perubahan zaman atau malah terlena membeo dan membebek begitu saja terhadap hal-hal yang sudah popular ditengah-tengah masyarakat? Jika orang lain mengenakan baju “you can see”, apakah saya juga harus mengikutinya biar di cap modern?

Konsumersime itu ternyata juga banyak terjadi dikalangan muslim. Misalnya saja pada bulan ramadhan. Kecenderungan sikap konsumerisme itu bisa dilihat dari bagaimana mereka berbuka puasa. Semuanya cenderung diada-adakan. Menu makanan pun kian membengkak. Bagaimana jadinya jika hal-hal semacam ini menjadi budaya tahunan. Orang-orang miskin hanya bisa gigit jari karena tidak mampu untuk mengikuti budaya tersebut. Maka sangat bijak, jika yang mampu rela dengan senang hati mau berbagi dengan kalangan fakir dan miskin, setidaknya dilingkungan terdekat mereka. sehingga apa yang si kaya miliki bisa berdampak sosial positif bagi lingkungannya.

Memang, konsumerisme adalah ajaran dimana kepuasan itu ada pada kepemilikan materi. Tapi nampaknya, sekali keinginan itu terpuaskan, akan muncul lagi keinginan baru karena di luar sana ada “sesuatu” yang lebih baru dan lebih cantik yang harus dimiliki juga. Ia pun lupa bahwa yang cantik dan baru diluar sana pun bukanlah yang final, karena pasti yang lebih baru dan lebih cantik segera akan menyusul dan begitu seterusnya. Intinya, keinginan itu tak akan pernah terpuaskan. Makanya, orang yang paling kaya adalah orang yang merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang ada. Ia berusaha untuk mengendalikan keinginannya dan bukan keinginan memperbudaknya.

Jujur saja, saya pun personally masih belajar untuk hidup lebih alami dan bukan atas dasar gengsi. Itu saja.

Dalam wacana sosial, saya kerap mendengar popular culture, yakni budaya pop. Jujur saja, saya sendiri belum paham betul apa maksud terminologi popular culture tersebut. Oleh karena itu, nampaknya pendefinisian terminology popular culture menjadi penting sebagai landasan untuk pembahasan selanjutnya.

Pertama-tama, saya hendak memecahnya kedalam dua kata (phrasa) yakni popular dan culture. Apa itu popular dan apa itu culture?

Menurut salah satu sumber di internet [1], popular adalah adalah :

  1. Of, pertaining to, or consisting of the common people, or the people as a whole as distinguished from any particular class; constituted or carried on by the people.
  2. Having characteristics attributed to the common people; low, vulgar, plebeian. Obs.
  3. Intended for or suited to ordinary people. a. Adapted to the understanding or taste of ordinary people.

Dari sejumlah definisi diatas, saya bisa menarik sebuah gambaran bahwa popular itu sesuatu yang berkaitan dengan orang kebanyakan atau manusia pada umumnya (common people).

Gambaran diatas menunjukkan pula bahwa sesuatu itu diterima secara luas ditengah-tengah masyarakat.

Saya pun langsung menuju kepada sebuah pertanyaan. Apa yang menjadi popular ditengah-tengah masyarakat itu? Pertanyaan ini akan menggiring saya pada pembahasan terminologi selanjutnya yakni culture atau budaya.

Menurut situs yang sama [2], culture adalah :

1. The totality of socially transmitted behavior patterns, arts, beliefs, institutions, and all other products of human work and thought.

2. These patterns, traits, and products considered as the expression of a particular period, class, community, or population.

3. The predominating attitudes and behavior that characterize the functioning of a group or organization.

4. Intellectual and artistic activity and the works produced by it.

Sementara menurut situs wikipedia [3], culture adalah :

“Culture can be defined as all the ways of life including arts, beliefs and institutions of a population that are passed down from generation to generation. Culture has been called “the way of life for an entire society.”[6] As such, it includes codes of manners, dress, language, religion, rituals, norms of behavior such as law and morality, and systems of belief as well as the art”

Menyimak definisi diatas, saya berusaha memahami pengertian tentang culture. Point yang bisa saya ambil adalah bahwa culture atau budaya merupakan produk pemikiran dan pemahaman manusia yang kemudian menjadi ways of life yang bergulir dari generasi ke generasi selanjutnya. Produk pemikiran ini kemudian diterjemahkan dalam bentuk simbol-simbol dan kode (tanda), misalnya saja, kode berprilaku, berpakaian, berbahasa, beragama dan ritual-ritual (upacara) lainnya.

Karena culture ini merupakan produk pemikiran panjang manusia, maka disana ada banyak culture, karena sejatinya pikiran manusia dengan kondisi dan lingkngan tertentu akan berbeda dengan pikiran manusia lainnya dengan kondisi dan lingkungan yang juga punya ciri khas tersendiri juga.

Tidur adalah persoalan alami (natural), tapi bagaimana cara tidur sudah masuk kedalam wilayah culture (cultural).

Persoalan selanjutnya adalah, apa sih yang dimaksud dengan popular culture atau budaya pop itu?

Pengertian popular culture seperti yang termuat dalam situs wikipedia [4] , ternyata tidak lah tunggal, disana ada banyak nuansa. Namun point yang bisa saya tangkap ditengah-tengah kompleksitas definisi popular culture adalah berikut ini : “…This is seen as a commercial culture, mass produced for mass consumption. From a U.K. (and European) point of view, this may be equated to American culture. Alternatively, “pop culture” can be defined as an “authentic” culture of the people, but this can be problematic because there are many ways of defining the “people.”

Melihat definisi diatas, maka ada keterkaitan erat antara popular culture dengan commercial culture (budaya komersil). Sesuatu sengaja diproduksi untuk konsumsi yang sifatnya massal (common people). Bisa dikatakan bahwa sesuatu itu diproduksi hanya berlandaskan keinginan pasar saja. Dengan demikian, hipotesa saya bahwa budaya pop hanya akan terjadi manakala keinginan pasar menjadi perhatian sentral. Singkatnya, ada selera mainstream di tengah-tengah masyarakat.

Maka, keterangan selanjutnya ada sebuah kritik terhadap popular culture. Berikut ini kutipannya :

Hannah Arendt’s 1961 essay ‘The Crisis in Culture’ suggested that a “market-driven media would lead to the displacement of culture by the dictates of entertainment.” Susan Sontag argues that in our culture, the most “…intelligible, persuasive values are [increasingly] drawn from the entertainment industries”, which is “undermining of standards of seriousness.” As a result, “tepid, the glib, and the senselessly cruel” topics are becoming the norm. Some critics argue that popular culture is “dumbing down”: “…newspapers that once ran foreign news now feature celebrity gossip, pictures of scantily dressed young ladies…television has replaced high-quality drama with gardening, cookery, and other “lifestyle” programmes…[and] reality TV and asinine soaps,” to the point that people are constantly immersed in trivia about celebrity culture.[5]

Membaca kritik diatas membuat saya berfikir bahwa popular culture itu sangat erat kaitannya dengan institusi bernama media, yakni media massa (mass media). Jika berfikir media, saya langsung punya persepsi kuat bahwa media itu tak bisa hidup tanpa iklan. Jika media melemparkan pesan ketengah-tengah masyarakat (audience) melalui televisi misalnya dan kemudian masyarakat luas menyukainya, maka pesan itupun akan diperbanyak produksinya. Makin tinggi pesan itu disukai khalayak audience, makin besar pula keinginan pengiklan untuk memasang iklan pada pesan tersebut, dan itu artinya makin besar pula suntikan nyawa buat media itu sendiri.

Jika pesan yang kemudian disukai khalayak ramai itu adalah berupa entertaintment, gossip, kisah hidup selebritis, bahkan film-film yang beraroma kekerasan, supersiti, dan agresi, maka itulah gambaran atau cermin budaya yang ada ditengah-tengah masyarakat.

Anak kecil yang sering menonton film yang berbau “kekerasan” maka ia akan terpola untuk menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan pula, karena aroma kekerasan dalam film yang dia tonton akan menjadi sumber inspirasi buat dirinya. Bukan tidak mungkin, kekerasan ini akan menjadi bagian dari karakter dirinya. Bahaya juga kan !!!

Sesungguhnya budaya kekerasan adalah cermin dari budaya instant. Segala permasalahan akan selesai hanya dengan cara kekerasan. Menggunakan otak dan kecerdasan pun dalam menghadapi masalah dianggap terlalu berat dan mungkin dianggap hal yang tabu. Kekuatan otak pun ditabukan sementara aurat otot diperlihatkan dengan telanjang bulat bahkan dijadikan mahkota. Busyeeeeeeeeett deh.

Kembali lagi pada persoalan popular culture. Saya pernah bertanya kepada teman saya yang dari mesir, apa sih bahasa arabnya budaya pop. Dia bilang ” al-tsaqofah al-sya’biyyah”. Kalau saya indonesakan dengan sederhana artinya “budaya kerakyatan”. Jadi sebuah budaya yang berbasis pada rakyat.

Maka ada sejumlah pihak yang berkaitan dengan popular culture ini. Ada audience yang menerima pesan yang disampaikan oleh sender melalui media.

Sesungguhnya pembahasan tentang budaya pop ini bisa merembet pula pada budaya konsumerisme, budaya dimana keseriuasan makin deficit, budaya dimana aspek hiburan menjadi kiblat dan bahkan agama baru, dan itu terjadi di zaman yang dijuluki modern ini.

Saya pikir itu saja, untuk pembahasan kali ini tentang budaya pop. Paling tidak pembahasan super simple ini bisa menjadi start untuk membuka jendela dunia secara lebih lebar dan lebih leluasa dalam melihat dunia.

Masukan konstruktive dari teman-teman akan saya apresiasi sekali dan akan menjadi second opinion yang harus saya pelajari dan sesuatu yang sangat saya perhitungkan. Salam pergerakan baut semuanya dari suara sepoi-sepoi di padang pasir.

source from“Setiap tahun, ratusan ribu orang Indonesia berangkat ke Tanah Suci, tapi korupsi dan manipulasi tak pernah sepi dari Bumi Pertiwi ini. Mereka berharap dapat haji mabrur, namun yang diperoleh adalah haji mardud (ditolak Allah), karena predikat itu hanya topeng penutup kebusukan.”

kutipan diatas saya comot dari esai Widi Yarmanto, Gatra. Menarik sekali menyimak tulisannya, karena menyinggung sebuah fakta bahwa Meski tiap tahun, gelombang jama’ah haji terus berjalan dan bahkan meningkat, namun jumlah besar orang yang menunaikan haji tak kunjung merubah kondisi bangsa ke arah yang lebih baik.

Bisa jadi, ada orang yang rajin menunaikan ibadah haji, namun ia masih betah menggunjing aib orang lain. jadi, sesungguhnya, apa yang ingin dicapai dari haji itu sendiri? saya pikir, ini persoalan yang cukup mendasar.ini juga persoalan intensi seseorang dalam beribadah.

dalam konteks haji, saya sering mendengar terminologi haji mabrur dan haji mardud. saya penasaran apa sih yang dimaksud haji mabrur dan haji mardud.

Saya pertama-tama hendak melihatnya dari dimensi niat atau intensi, buat apa menjalankan ibadah haji?

Dalam islam dikatakan bahwa segenap amalan itu ditentukan oleh niatnya.jadi motif dari amalan haji itu apakah apa? untuk mendapatkan jodoh kah? mendapatkan kekayaankah? untuk mendapatkan status sosial sebagai pak haji dan bu haji kah? atau hanya sekadar formalitas saja!!. Namun demikian, konsep keikhlasan dalam berhaji seringkali ditekankan. Oleh karena itu, saya bisa mengatakan bahwa buah dari amalan haji itu sangat pararel dengan tingkat penghayatan dan kesadaran akan nilai-nilai dalam ibadah haji itu sendiri.

Salah satu contoh yang bisa dianalisa. orang yang melakukan haji diharuskan menggunakan kain ihram yang tak berjait. tak ada lagi perbedaan yang mencolok, karena baik si kaya dan si miskin,si hitam dan siputih, tampil sama tiada beda. disini jelas sekali nuansa egaliter dan equality-nya,sebuah nilai persamaan kemanusiaan yang terselip dalam lautan kain ihram.

Jika nilai-nilai semacam ini dihayati betul dan dipraktekan secara konsisten, maka hasilnya akan cukup lumayan dan berkontribusi positif pada proses transformasi sosial.

Menurut Haji Freddy E.P.Husein, seperti yang tertulis dalam esai Widi Yarmanto, Haji Mabrur itu bukan sekadar memenuhi syarat, wajib dan rukunnya. Atau, bukan sekadar tidak omong kosong (rafats), kedurhakaan (fusuq), atau tidak bertengkar (jidal) selama di sana (tempat ibadah haji). Dengan kata lain, haji mabrur itu proses penghayatan yang terus menerus terhada nilai-nilai positif haji dan berusaha menerjemahkannya dalam aksi secara konsisten until the rest of the life.

Maka sesungguhnya ini bisa menjadi kritik konstruktif bagi yang melakukan ibadah haji, namun setelah kembali dari hajian, masih saja suka menyakiti, suka bergunjing, bahkan korupsi. tindakan tersebut telah menggerogoti amalan haji yang telah diperbuatnya. hajinya berakhir dengan kualitas mardud. tertolak!!!

Saya jadi ingat terhadap suatu kisah. ada sepasang suami istri yang hendak melakukan ibadah haji. diperjalan, mereka menjumpai orang yang lagi kesusahan. bingung, kalau hajian, berarti ia tak bisa menolong orang tersebut. kalau menolong orang tersebut akan membuat rencananya batal.karena tak rela meninggalkan orang tersebut dalam kesusahan, akhirnya rencana hajinya dibatalkan demi mengangkat orang tersebut dari keterjepitannya. dikatakan bahwa orang tersebut sesungguhnya sudah melakukan haji mabrur.

Saya maaf sekali lupa lagi sumbernya, tapi saya pernah membacanya. jika ada teman-teman yang menemukannya, saya sangat appresiatif sekali.

Berbekal landasan ini, maka amalan haji itu akan menghasilkan output yang berbeda-beda pada setiap pelakunya, sesuai dengan tingkat penghayatannya terhadap amalan yang dikerjakannya.

Maka tidaklah heran jumlah haji meningkat, jumlah korupsi pun tetap saja meningkat. jumlah orang berhaji terus bergelombang besar-besaran dari tahun ke tahun, tapi masyarakat masih saja terpola dalam hidup konsumersime dan kapitalisme, dimana masyarakat terbagi menjadi dua si kaya dan si miskin. si kaya makin kaya, si miskin makin miskin.

Maka haji mabrur sinonim dengan perjuangannya melawan sistem kehidupan yang tidak sehat. haji mabrur adalah anti korupsi. jika si pemilik predikat haji itu kemudian korupsi, berbohong dan doyan melukai hati orang, maka haji nya pun mardud, tertolak. sia-sia saja hajinya.

(ahmad, Riyadh, 10/4/2008)

Tags: ,

Ketika saya ingin menulis tentang kehidupan TKW, maka tulisan itu punya keberpihakan dan kepentingan. Kenyataan di depan mata bahwa TKW acap kali menjadi korban tindakan semena-mena majikannya. Keringat, pikiran, perasaan dan tubuh mereka dieksploitasi nyaris hampir habis-habisan.

Mereka para TKW mengharapkan rasa kemanusian, tapi harapan itu selalu kandas karena selain garansi itu selalu tak pasti, majikan yang mempekerjakannya kerap melihat mereka tak lebih dari “property” saja. Mirip komputer, mereka bisa dirental-rentalkan sehingga menjadi komoditas yang mendatangkan uang.

Dan nampaknya bisnis TKW ini selalu menggiurkan. Berbeda dengan bisnis NARKOBA yang kalau dipakai akan habis, bisnis TKW yang notabene manusia kemudian bisa dikatakan unlimited, karena meski “dipakai” beberapa kali, selalu saja ada dan berwujud, kecuali kalau nyawa mereka sudah berada di titik penghabisan. Mengenaskan memang.

Oleh karena itu, katakan No!!! untuk menjadi TKW. Bersikap kritislah terhadap tipuan-tipuan yang acap kali dikemas dan dibungkus dengan cantik. Jangan mudah kena ilusi yang diciptakan orang. Dibelakang “kemasan cantik” mereka, ada sebuah kepentingan besar yang berusaha disembunyikan.

Anda bisa saja dibilangin bahwa anda akan bekerja sebagai pembantu dengan gaji yang bagus dan majikan yang bagus. Tapi anda jangan heran jika ternyata anda akan digaji yang bagus kalau anda mau memberikan “service” yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan anda. Tapi anda jangan heran juga, bahwa anda akan dapat gaji bagus jika anda rela hak-hak anda tidak dipenuhi dan anda harus melakukan sesuatu yang diluar kemampuan anda sebagai manusia. Paradoks semacam itu tidak ada garansi untuk tak terjadi.

Bayangin saja, bisa saja dalam pikiran mereka (para majikan), gaji anda dipararel kan dengan kepatuhan total anda terhadap apa saja yang mereka mau. Bayangin saja jika mereka punya kemauan bahwa anda harus mencuci tumpukan baju, menyetrikanya dalam jumlah yang banyak karena dalam satu rumah, bisa saja ada 4 keluarga dan masing-masing keluarga punya anggota-anggotanya. Terus anda juga harus memenuhi kemauan mereka dalam hal makanan yang acap kali sangat beragam. Anda disuruh harus bisa masak ikan dengan cara yang berbeda-beda sesuai pesanan masing-masing anggota keluarga. Sampai-sampai anda sendiripun tak punya waktu untuk makan, untuk istirahat, untuk shalat. Puih……..gila banget tuh perlakuan, kecuali jika anda superwoman.

Saya berusaha untuk membaca dan menyelami penderitaan mereka menjadi TKW. Mereka menjadi TKW karena mereka ingin mendapatkan uang dengan halal. Niat anda bisa jadi mulia, tetapi anda harus sadar pula bahwa garansi keselamatan dan rasa kemanusiaan itu acap kali isapan jempol belaka. Tak lebih dari sebatas retorika saja.
Saya hanya ingin mengatakan bahwa menjadi TKW bukan satu-satunya jalan mendapatkan uang. Yang terpenting, semangat kerja keras, terus menerus belajar dan tak patah semangat adalah kunci menuju sukses. Bukankah “life is proces of learning” seperti yang dikatakan mba Mulia Hasan dalam blog pribadinya.

Menarik sekali membaca postingan mba Mulia. Dikatakan bahwa prostitusi itu persoalan privacy sementara trafficing itu adalah kejahatan. Berikut ini kutipannya :
“Prostitution is privacy, it’s done based on free will. Trafficking is bad prostitution, it’s a criminal action. But what is free will? To me it’s a will, but forced will, forced by situation though in the end they must accept and put in their head that it’s their destiny”. (French film director Herbet Dubois)

Jika saya tarik kedalam kondisi TKW, maka ada yang menjadi TKW sebagai pilihan personal dan ada yang paksaan dari luar, misalnya dipaksa oleh orang tuanya. Tapi ada juga sebagai pelarian saja, karena kecewa suaminya nikah lagi atau selingkuh dengan cewek lain. Jadi yang kedua dan ketiga ini cerminan dari “will” yang tidak free secara utuh.

Terlepas dari itu, TKW sering disalah gunakan. Mereka bisa dirental-rentalkan. Mereka sesungguhnya hidup dalam lingkungan dimana keberadaan mereka adalah barang saja. Fakta demikian membuatku berkeyakinan bahwa mereka ada komoditas dan bukan manusia. Oleh karena itu, berilah mereka kesempatan untuk menjadi manusia dan menyadari dan menikmati kemanusiannya. Dan itulah yang bagi saya disebut ajaran fitrah, yakni kesucian dan kemanusiaan yang bening dan alami.
Maka, Menjadi TKW, NO!!! Kerja Keras, Cerdas dan Selalu Belajar..YEEEEEEEEEEEEEEEEEESSSS!!

Perbincangan tentang aurat merupakan perbincangan yang bagi saya cukup menarik. Dikatakan menarik, karena memang terdapat debat didalamnya.

Sebagai muslim, saya kerap kali mendengar kata tersebut, terutama jika dikaitkan dengan tubuh perempuan.

Agama punya bahasanya sendiri tentang aurat. Menurut bahasa agama (barangkali lebih cocok interpretasi terhadap agama), sekujur tubuh perempuan itu aurat kecuali wajah dan tangan. Karena sebuah interpretasi, maka auratpun menimbulkan perspektif yang cukup beragam dikalangan yang concern dengan isu aurat.

Aurat sendiri (secara fiqih) berarti bagian tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh diakses oleh publik.

Karena dianggap aurat, maka sekujur tubuh perempuan itu harus dibalut dengan kain kecuali tangan dan wajah yang boleh tampak.

Tapi bagaimana perempuan itu membalut dirinya? Saya pikir, persoalan cara adalah persoalan yang cukup berkaitan dengan budaya seseorang dengan komunitas tertentu.

Pada point ini, perempuan indonesia punya caranya yang berbeda dalam menutupi tubuhnya dengan perempuan yang ada di saudi misalnya. Begitupun perempuan di iran punya style yang berbeda dalam berbusana dengan perempuan muslim di afrika. Bisa jadi mereka berbeda-beda dalam berbusana, tapi satu prinsip mereka yakni menutup aurat. Itu pun jika konteksnya menutup aurat.

Batasan aurat sendiri bisa jadi sangat beragam mengingat dunia ini tidak lah tunggal. Bahkan bisa jadi ada komunitas yang tak punya konsep aurat sama sekali.

Di irian jaya, laki-laki yang hampir telanjang dan hanya secuil kain dibadannya bisa jadi tidak dianggap aurat karena memang sudah terpola seperti itu. Bahkan dibarat, ada komunitas yang berani tampil telanjang dan bahkan mengambilnya sebagai trend dan gaya hidup. Kehidupan mereka tak punya kamus aurat.

Maka saya membayangkan, telah terjadi cara berfikir yang luar biasa berbeda. Yang satu berfikir bahwa perempuan itu aurat sehingga sekujur tubuhnya harus ditutup dengan kain, tapi dibelahan dunia lain, justru tampil telanjang di depan publik bisa jadi merupakan suatu pilihan yang dibanggakan. Dan hal demikian, bukan saja berlaku buat laki-laki, tapi juga perempuan. Bagi mereka, itu lumrah saja. Orang-orang yang aurat-minded bisa jadi kaget dan terperanjat melihatnya.

Berbicara tentang aurat maka tak lepas dari pembicaraan tentang pakaian untuk menutupinya. Dengan kata lain, bagaimana orang itu berbusana.

Dalam komunitas islam, misalnya, berbusana untuk perempuan menjadi perhatian yang cukup intens. Dan debat didalamnya tak pelak mencuat. Tapi, saya ingin melihat kemungkinan-kemunginan kenapa katakanlah seorang perempuan berkerudung.

Seorang perempuan berkerudung misalnya, tentu ada alasan kenapa ia berkerudung.

Bisa jadi ia berkerudung, karena paksaan dari luar. Misalnya saja ada aturan ketat bahwa seluruh mahasiswi wajib pake kerudung. Pada tahap ini, ia mengenakan kerudung bukan berdasarkan kesadaran tapi karena paksaan dari luar. Maka tak heran ada yang pake kerudung, tapi pakaiannya masih memperlihatkan lekuk-lekuk bentuk tubuhnya. Bukankah hal demikian bisa berpotensi menimbulkan aurat bagi yang melihatnya??

Bisa jadi perempuan berkerudung karena mengikuti fashion saja, yakni terombang ambing mengikuti irama fashion terkini. Tentu saja, fashion belum tentu sesuai dengan prinsip ajaran. Maka tak heran muncul istilah, berkerudung tapi telajang. Itu kan artinya berkerudung tapi tetap saja aurat.

Tapi ada juga yang berkerudung dengan penuh kesadaran bahwa hal itu bisa melindungi dirinya dari jahatnya alam dan merasa nyaman memakainya. Ia berkerudung bukan karena paksaan atau pun fashion. Ia berusaha untuk memadukan kesopanan berbusana (decency) dan kebersahajaan dalam berfikir dan berkepribadian.

Maka, dalam hal ini, implikasinya, sangat mungkin terjadi ada perempuan yang fanatik banget dengan jilbabnya atau kerudungnya, tapi prilakunya sinis dan menyakitkan. Bukankah sikap kecutnya dan muka masamnya adalah aurat juga? Kenapa ia care sama busananya tapi tidak care sama aurat lidahnya yang menyakitkan orang lain?

Implikasinya juga, bisa jadi ada perempuan yang tak berkerudung, tapi sikapnya sangat humanis, ramah, suka menolong dan respek terhadap manusia lainnya. Ia berusaha untuk mencerahkan orang lain.

Maka, saya pun mempertanyakan kembali konsep aurat. Lidah bisa jadi wilayah yang mengandung aurat, karena ia bisa menimbulkan fitnah. Oleh karena itu, lidah perlu dijaga dengan baik dan jangan diumbar sehingga tidak melahirkan kebohongan-kebohongan baik terhadap diri maupun terhadap publik. Tangan pun bisa menjadi aurat jika si empunya menggunakannya untuk menikam dan memukul orang lain.

Orang mungkin berfikir bahwa perempuan yang tak berkerudung adalah aurat. Orang mungkin berfikir bahwa perempuan yang bernyanyi adalah aurat, karena suara perempuan dianggapnya itu aurat. Tapi orang tak pernah berfikir bahwa kemiskinan itu aurat juga yang sifatnya sosial. Orang pun tak pernah menyangka bahwa kekerasan itu adalah juga aurat. Kenapa aurat-aurat sosial itu dibiarkan terbuka didepan mata.

Bukankah aurat-aurat sosial itu membutuhkan pakaian yang pas buat dirinya. Tentu saja pakaian disini tak bisa diartikan tekstual. Sifatnya sangat kontekstual sekali. Pakaian itu bisa berbentuk semangat hidup sederhana, bekerja keras, tidak meminta-minta, respek terhadap sesama, appresiatif terhadap beda, care terhadap lingkungan dan bersahabat. Kalau ada orang yang hidup glamor diatas penderitaan orang lain maka ia sesungguhnya telah memperlihatkan aurat-aurat dirinya kepada orang lain, dan itu haram hukumnya!!

(ahmad, 12/4/2008, Riyadh)