Itsme231019

Tkw dan Ekploitasi

Posted on: March 13, 2008

Pada hari ini 13/3/2008, saya sempat bingung. Kebingungan saya muncul ketika seorang TKW mengeluh bahwa dirinya tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah melebihi kemampuan dirinya. Meski demikian, anehnya, pihak majikan berkata bahwa tkw tersebut bisanya Cuma tidur dan mengiris bawang saja di dapur. “Itu bukan bekerja namanya”, ucap tkw tersebut mengutip ucapan majikannya.

Meski tkw itu bekerja habis-habisan, namun tetap dimata majikan selalu tidak beres. Keringatnya memang selalu dibayar dengan cemoohan. Malang sekali nasibnya.

Tkw tersebut mengatakan bahwa ia bekerja dirumah yang ukurannya cukup besar dan bertingkat. Didalamnya ada 3 keluarga berikut anak-anaknya. Ruangannya banyak sekali, maklum anggota keluarganya banyak.

Si tkw sering kewalahan dalam menyajikan makanan soalnya masing-masing anggota keluarga dalam rumah itu punya keinginan yang berbeda-beda. Bayangin saja kalau 15 orang punya keinginan untuk dibikinkan makanan yang berbeda-beda oleh hanya satu orang tkw, apa yang bakal terjadi? Tentu saja tidak cukup satu jam atau dua jam. Apalagi jika keinginan mereka diucapkan dengan gaya yang merendahkan dan memaksa, apa yang anda rasakan jika menerima perlakuan semacam itu? Rasa kemanusiaan kita tentu akan berontak.

Disamping itu, si TKW dituntut harus juga menyelesaikan pekerjaan lain seperti mencuci pakaian yang selalu menumpuk dan kemudian menyetrikanya sampai rapih bener. Selain itu, ia juga harus membersihkan setiap ruangan baik lantai bawah dan atas. Belum lagi kamar mandi yang jumlahnya tidak sedikit.

Sering kali tkw tersebut tidak mendapatkan waktu yang cukup walau untuk shalat sekalipun. Seluruh tenaga dan pikirannya diporsir untuk menyelesaikan tugas-tugas rumah yang banyak sekali dan malang lagi, keringatnya tak kunjung dihargai.

Puihhhhhhhhh….saya bisa mengatakan bahwa superwoman lah yang hanya bisa melakukan itu semua. Tkw hanyalah manusia biasa dengan kemampuan yang juga terbatas. Dia dipaksa untuk melakukan pekerjaan yang melampaui batas-batas kemampuan dirinya. Dimata majikannya, itu memang tugas TKW. Kalau dia tidak mau bekerja kayak gitu, kenapa dia mau jadi TKW?

Saya hanya bisa mengelus dada dan berdoa semoga TKW tersebut bisa bertahan dalam menghadapi situasi tersebut. Mereka tak punya hari libur sehingga dalam seminggu, dia terpaksa harus bergelut dengan keringat, rasa letih dan cape. Tentu saja, TKW butuh ruang dimana dia bisa menemukan dan merasakan rasa kemanusiannya. Tapi ruang itu tak pernah ditemukannya.

Menjadi TKW memang mudah terperangkap dalam sistem yang ekploitative. So, C’mon just think twice before you want to be a house maid. Kayaknya butuh sosialisasi bahwa menjadi tkw itu pilihan yang harus dipikirkan dengan seribu satu pikiran. Is there any second opinion?

Advertisements

1 Response to "Tkw dan Ekploitasi"

halo Ahmad, cuma mau kasih tau, aku udah buat blog di wordpress, mampir ya, hehehe thanks :mrgreen:

*alamat webnya ada di namaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: