Itsme231019

Rasa?

Posted on: March 10, 2008

Saya pikir hidup ini butuh rasa, karena rasa bisa membuat hidup makin hidup. Contoh kecil saja dalam konteks makanan. Hidangan sayur yang diberi bumbu akan lebih jauh terasa sedap ketimbang sayur tanpa bumbu. Jadi memang rasa itu perlu dan penting.

Konsep rasa ini sangat berkaitan dengan perasaan. Perasaan saya ketika bertemu dengan orang yang wajahnya dihiasi senyum akan berbeda dengan perasaan saya saat berjumpa dengan orang yang wajahnya dilumuri sinis dan judes.

Rasa adalah juga perasaan, feeling, dan karena itu sifatnya halus dan lembut bahkan sensitif.

Oleh karena itu, ketika orang mudah tersinggung, maka orang itu perasa sekali, persis seperti bunga putri malu, begitu tersenggol sedikit, langsung merungkup. Oleh karena itu pula sifat hati-hati dalam hal-hal yang sensitif perlu diperhatikan.

Sebagai manusia, tentu kita punya rasa kemanusiaan, sebuah rasa bahwa kita adalah manusia dan bukan hewan apalagi barang.

Pada tahap ini, saya berfikir, manusia hidup bersama manusia lainnya. Namun dalam proses interaksi, tak jarang rasa kemanusiaan ini hilang digerus oleh kepentingan tertentu, baik itu dilatari kelas, status, agama, ras, atau bahkan politik. Manusia pun bisa semakin jauh dari rasa kemanusiannya karena sudah dibelenggu oleh kepentingan dirinya.

Saya kok heran ada orang yang secara formal menjalankan agamanya dengan baik, namun tak segan memperlakukan manusia lainnya dengan pandangan yang meremehkan, seakan-akan dirinya atau kelasnya saja yang unggul. Mungkin karena perasaan unggul yang berlebihan inilah, dia mengira bahwa dirinya bebas melakukan apa saja sesuai kehendak dirinya walau harus melanggar etika. Hidup nya sudah tak lagi punya rasa juga tak punya nilai estetika.

Rasa adalah kemampuan untuk membedakan. Dengan rasa, kita bisa membedakan mana yang cantik dan tidak. Tentu saja cantik yang saya maksud disini tidak terbatas pada kecantikan lahir (pisikal) tapi juga kecantikan bathini (inner). Terkadang, ada orang yang wajahnya cantik atau tampan, tapi sikapnya justru membuat muak orang lain.

Oleh karena itu, Rasa kemanusian ingin menegaskan bahwa perbedaan warna kulit, status, kelas, agama, nasionality, bentuk wajah atau apapun bukan alasan untuk menyudutkan dan mengkerdilkan manusia lain. Β 

Selain rasa kemanusian, ada juga rasa keadilan. Ada orang yang tak bersalah justru disalahkan, dan pada saat yang sama ada juga orang yang terbukti salah tapi malah dibela bahkan dibenarkan. Kondisi ini jelas sangat melukai rasa keadilan. Lagi-lagi rasa keadilan ini kian terkucil dan dikucilkan disaat kepentingan sempit diberhalakan.

Lalu bagaimana dengan “rasa permusuhan” atau ” rasa kebencian”? jelas, permusuhan dan kebencian adalah sesuatu yang negatif. Tapi jika saya berkata ” saya benci kediktatoran, atau saya benci permusuhan, atau bahkan saya benci terhadap kebencian itu sendiri”. Jadi, yang negatif-pun jika dibenturkan dengan yang negatif lagi akan menghasilkan sesuatu yang saya rasa tidak selalu negatif, bahkan positif. Saya pikir, ini persoalan permainan kata saja.

Namun kembali lagi kepada konsep rasa tadi, bahwa manusia tidak akan menjadi manusia jika tidak punya rasa. Orang yang suka memukul dan menindas orang lemah adalah orang-orang yang perasaannya sudah kering kerontang. Bisa saja orang tersebut menyukai alunan musik, keindahan lukisan, namun nilai estetika yang dinikmatinya tidak membekas dihatinya, sehingga terlampau sulit baginya untuk memadukan estetika dalam irama musik dengan estetika dalam rasa kemanusiaan.

Mungkinkah selera akan sayuran yang punya rasa karena terdiri dari bumbu yang pas, akan mendorong manusia berfikir bahwa perbedaan merupakan bumbu penting yang membuat hidup ini akan terasa enak, sedap dan bahkan indah untuk dirasakan? Rasa may be cultural but rasa kemanusiaan (fitrah manusia) is universal. Is there any second opinion ?

Wallahu a’lam bisshawab.

Advertisements

7 Responses to "Rasa?"

AWW, halo Ahmad….gak sangka artikelnya udh banyak lagi nih πŸ™‚
Hmmm….ya, ya, ya….saya boleh nambahin ya. Kepekaan. Ya kita sebagai manusia harus punya sense of something, punya kepekaan jiwa, punya jiwa yang halus dan lembut. Itulah mengapa Rasulullah SAW diperintahkan Iqro, membaca situasi sekitar dll agar bisa menumbuhkan kepekaan jiwa (CMIIW).
kalo gak ada kepekaan, gimana bisa merasakan? hanya hati yang lembut sajalah yang bisa merasakan hal2 yg udah Ahmad jelaskan. betul gak?
dan kepekaan adalah fitrah manusia, Al Latif telah memercikkan sedikit kepekaannya untuk manusia. salam πŸ™‚

Salam for mba yonna.
Saya sepakat juga dengan pemikiran mba yonna bahwa konsep Iqra juga bisa menjadi wahana untuk mengasah kepekaan seseorang terhadap bukan saja alam tapi juga sesama. Iqra adalah sebuah perintah untuk membaca, bukan saja teks tertulis tapi juga kondisi atau phenomena disekililing kita.
Membaca juga berarti juga upaya untuk mengetahui sesuatu. Proses itulah dinamakan dengan belajar, proses untuk tahu.
Sesungguhnya tulisan diatas merupakan coretan kegelisahan saya tentang kondisi TKW yang sering diperlakukan tidak manusiawi oleh majikannya. Ada seorang TKW yang perasaannya tersinggung saat ia menerima makanan dari sponsornya (baca : majikan). Menurut TKW tersebut, sponsor tersebut menyimpan makanan lalu disodorkan dengan kakinya kehadapan TKW. “ini makanan kamu”, kata TKW tersebut, mengutip perkataan sponsornya. Bukan itu saja, menurut TKW tersebut, makanan yang dihidangkan itu justru sisa-sisa dari makanan yang sudah terpakai.
Saya lalu berfikir ko bisa begitu ya. Padahal islam mengajarkan sikap egaliter terhada sesama manusia. Artinya juga perlakuan yang kita tunjukkan tidak boleh merendahkan. Apapun statusnya, agamanya, keyakinannya, ataupun warna kulitnya tetap harus dihormati.
Sedih sekali dan itu terjadi diantara umat seagama. Agama kini sudah makin tergerus dan terpinggirkan.
Terima kasih buat mba yonna atas masukan-masukannya.

hm ya, kayanya banyak artikel Ahmad yang membahas ttg kehidupan TKW yagh? kasian bagi yang mendapat perlakuan demikian, semoga saja Allah SWT melindungi mereka amin πŸ™‚

ya bener MAd, beberapa orang Islam sepertinya takut atau gengsi menunjukkan identitas keislamannya. takut dibilang ekstrim, berpikiran sempit, intoleran, dll. Identitas disini bukan berarti berpakaian koko, gamis, sorban, peci, topi haji, dll saja tapi bagaimana kita berbicara, bersikap, bekerja, beribadah, bergaul, dll tanpa melanggar syariah. memahami ajaran Islam dengan benar, fleksibel saat menghadapi kenyataan agar kita tidak salah langkah dan melanggar larangan Islam….itu yang saya maksudkan. Memahami sesuatu yang benar emang sulit banget karena perlu proses bertahun2 untuk menemukannya. tapi kalo kita berusaha pasti Allah SWT akan menolong kita dan menetapkan hati kita pada kebenaran πŸ™‚

rasa….harus punya kepekaan untuk mencari hikmah dan hidayah yang tersembunyi dan lalu kita tahu dan paham…kira2 demikian pendapat saya, maaf kalo salah dan gak nyambung hehe :mrgreen: salam

salam.
saya berusaha menyelami denyut nadi kehidupan para tkw di negeri orang. mereka merupakan orang-orang powerless, posisi mereka sangat lemah sekali. memang benar bahwa dihadapan hukum, sama saja, tidak memandang ras, status dan lain sebagainya. tapi karena powerless, pihak tkw sering terkalahkan karena tidak pandai dalam bernegosiasi dan berkomunikasi. dalam banyak hal, pada akhirnya tkw sering terkalahkan. maka saya pikir, pengiriman tkw juga harus dibarengi dengan perangkap hukum yang kuat yang memberi garansi keselamatan bagi mereka. tapi nampaknya, orientasi bisnis lebih dominan. oleh karena itu, nilai-nilai kemanusiaan perlu masuk dalam draft hukum dan perlu dikontrol pelaksanaanya sehingga rasa aman bisa benar-benar dirasakan oleh pahlawan devia itu. betul gak?

salam buat mba yonna. saya pikir identitas keberislaman itu bisa muncul berbeda-beda sesuatu cara pandang yang dipakai.
kalau saya, persis seperti yang mba yonna ucapkan bahwa keberislaman itu ada pada bagaimana kita bersentuhan dengan lingkungan dan alam sekitar. tapi ada juga yang melihat bahwa berislam itu ada pada baju kokok, peci, kopeah haji, janggut dipanjangkan dan identitas-identitas lahiri lainnya. sehingga ada orang merasa gak pas berkhutbah jika tidak pakai kopeah atau pake baju kokok. bahkan ada pesantren yang melihat celana jeans itu haram karena dari budaya barat. aneh banget kan?
saya pikir islam tidak seperti itu. anyway, thanks banget atas komentarnya. thanks atas second opinionnya sehingga suasana akan hidup.
ahmad

wah seru nih lama2 πŸ™‚

ya, penegakan hukum itu berjalan dengan baik atau tidak tergantung dari penguasanya, itu udah lumrah πŸ™‚

nah bener banget, emang ada hadits dan ayat Quran yang menyatakan kalo umat Islam meniru2 orang kafir maka dia juga termasuk kafir. masalah jeans ini emang berasal dari barat, tapi apakah dengan pake jeans menodai keislaman kita? wah saya rasa itu dua hal yang jauh berbeda ya karena banyak orang yang tidak pake jeans tapi cara bicaranya kaya orang kafir yaitu tidak tau sopan santun dan etika maen labrak aja gak mikir orang akan tersinggung atau enggak. tapi lantas bukan berarti orang yang pake jeans lebih baik dari mereka yang gak pake jeans, kalo kelakuannya sama bobroknya ya sama aja jeleknya :mrgreen:

itu Mad, identitas diartikan melulu dari penampilan kasat mata. ya saya setuju kalo jilbab dan busana muslimah merupakan identitas mutlak setiap perempuan beragama Islam, tapi gak cukup sampai disitu, gimana dengan cara berpikir, cara menganalisis, cara bicara, cara mendengar, cara bekerja, cara bergaul, dll apakah sudah Islami atau belum? dan justru itu gak kalah krusial daripada identitas kasat mata. oke lah, saya gak berani mengklaim perempuan berjilbab itu lebih baik daripada perempuan muslimah yang belum berjilbab, karena soal begituan hanya Allah SWT yang berhak menilai. jadi saya menyorot, identitas keislaman secara utuh dan sebagai muslim kita emang harus kaffah termasuk membenahi diri kita dan keluarga kita dan cara berpikir dkk tadi. hmmm…Mad, sepertinya rasa yang memerlukan kepekaan itu adalah karunia Allah SWT ya? kita wajib berdoa agar kepekaan dalam diri kita tidak hilang atau rusak, na’udzubillah! karena hanya hati yang peka yang bisa nerima kebenaran hakiki dan mampu membedakan mana yang benar dan salah (furqon). kita emang harus mengasah kepekaan rasa secara ikhtiar dahulu dan jika sudah usaha insya Allah, Allah SWT akan membukakan hati dan melembutkan hati agar hidayahNya mudah kita serap dan amalkan, amin allahuma amin, salam πŸ™‚

*makasih juga buat komentar2 cerdasnya

salam.
hai mba yonna, wah komputernya sempat masuk ke tukang service nih, sehingga membuat diriku absent selama 2 harian. hehe..
memang di negeri kita, penegakan hukum masih banyak cacatnya, dibutuhkan political will (kemauan politik) yang kuat sehingga siapapun yang bersalah harus ditindak. dan tentu saja persoalan hukum, jika hukum itu tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusian, maka kita sebagai konstitent punya hak untuk merubahnya.
bukankah negara harus menjadi pelayan rakyat bukan minta dilayani…
yap betul sekali, keislaman tidak berhenti pada pakaian saja, lauh lebih penting adalah bagaimana esensi islam itu diimplementasikan. seperti kesederhanaan, etika dalam bergaul, tidak berbohong, tidak korupsi, tidak mencuri dan seterusnya. saya mengkritisi orang yang rajin salat, rajin hajian, pake kopeh atau pake kerudung tapi alamak!!! suka main gosip juga…suka nyakitin orang juga…gimana tuh? kan gak sinkron.
saya pikir, rasa itu merupakan anugrah Allah yang telah diberikan sama kita, manusia. tapi barangkali pada proses lanjut, ada rasa yang tidak terasah dan ada yang terasah sesuai dengan lingkungan yang mempengaruhinya dalam proses kehidupannya.
saya setuju banget dengan pemikiran mba yonna bahwa kita harus mengasah perasaan kita terus-menerus. kan perasaan sifatnya fluktuatif sebagai mana juga keimanan, ada pasang surutnya.
alimanu yazdad wa yanqus . saya pikir itu saja.
thanks for nice and stimulating comments.
ahmad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: