Itsme231019

Archive for March 2008

Distortion is a word that I have ever heard in many phenomena in this life. Well, here I am interested to know more about what distortion is.

According to wikipedia site, distortion means ” the alteration of the original shape (or other characteristic) of an object, image, sound, waveform or other form of information or representation.

From here, I can take some clues that in distortion, there are four aspects: object, original shape of an object, alteration and subject.

This distortion can take any forms, religious distortion for instance.

What is religious distortion? Religion teaches the people to respect not only to human but also to environment. But religion become distorted when its people do the opposite. Its people hate or even kill the other people in the name of religion. The gap between religion and its people become so wide.

Religion tells the people that the wealth should not be concentrated in a few hands but its people tend to collect the wealth excessively and forget the other, in some cases, they even use their power or wealth to weaken the powerless people. Here again, religion become really distorted by those who claim to be religious people. I strongly agree with the word ” al Islamu mahjub bi al-muslimin” means that Islam has been covered by its people (muslimin).

I am a Muslim. Therefore I should live in peace with other people. Because Islam itself is close to word salaam which mean peace. So someone who claims to be Muslim must live in peaceful way with other people. So that ideal teaching of religion is compatible with the real practice of its people. How does he/she say that he/she is a good Muslim while he/she still hurt the people or even his own fellow? How come? Isn’t kind of hypocrisy?

Islam teaches its people to live in modest way proportionally, but many of its people in many cases live with very consumptive way.

Islam teaches its people to spread peace, but many of its people in many moments live with spreading violence among people.

Islam encourages its people to look for knowledge even to other country, but many of its people in many cases like indoctrination which is contradict with science it self.

Islam encourages social justice in economy, but many of its people tend to accumulate the wealth on their own hands.

Islam value hard and smart working to gain the wealth in lawful way, but many of its people in many cases prefer the instant way like going to dukun  or commit corruption.

Islam teaches its people to behave in polite way, but many of its people prefer to use harsh and cruel word in their interaction with the people.

In the end, Islam is just religion which can be distorted and abused by its people who call themselves Muslim(in).

So, let us learn to search Islam not in its surface but in its original teaching.

I think that is all what I can express here. This expression is my tool to learn how to write in English and how to exercise writing itself.

Any second opinion?

Advertisements

Beri saya keadilan dong !!!. demikian aspirasi seorang tkw yang sempat kabur dari majikannya karena dia merasa hak-haknya tak pernah dipenuhi meski kewajiban dia sebagai pekerja rumah tangga sudah ditunaikannya.

Tkw tersebut bilang bahwa dirinya sempat terjatuh disaat bekerja karena tidak ada makanan untuk dimakan di rumah majikannya. Dia bilang tak jarang dia baru bisa makan sekitar jam 2 siang. Padahal untuk bekerja, saya butuh makan sebagai energi. Kasihan sekali.

Tkw tersebut sudah bekerja sekitar satu tahun lebih. Namun baru gaji dua bulan pertama yang sudah dikirimkan oleh majikannya ke Indonesia. Apakah uang yang dikirim itu sampai atau tidak, tkw tersebut tak pernah tahu, karena tidak pernah diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia. Bukti pengirimannya pun tak pernah diperlihatkan kepada tkw tersebut. Kasihan sekali.

Dalam hal bekerja, tkw tersebut kerap dibikin pusing oleh majikannya. Bagaimana tidak pusing, satu pekerjaan belum beres, dipaksa harus mengerjakan pekerjaan lain, terus pekerjaan yang lain pun belum sempat utuh, disuruh lagi untuk berpaling ke jenis pekerjaan lain. Hasilnya pekerjaannya berantakan tak karuan karena tidak diberi kesempatan untuk menyempurnakan pekerjaanya. Anehnya lagi, yang disalahkan lagi-lagi tkw itu sendiri yang dianggap tidak cepat dalam bekerja. Habis gitu, tkw tersebut diancam bahwa gajinya akan dipotong jika banyak terjadi kesalahan dalam bekerja.

Puihhh…….saya hanya bisa mengelus dada. Kalau saya menempatkan diri seperti tkw tersebut, ingin rasanya saya berontak. Lawong saya manusia sama seperti mereka yang butuh istirahat, butuh perhatian, butuh rasa, butuh makan, butuh rasa aman dan rasa keadilan.

Saya butuh keadilan, karena itu berilah saya keadilan. Begitu kira-kira statemen yang muncul dari jeritan tkw tersebut.

Melihat dari gambaran diatas, jelas pihak tkw merasa bahwa rasa keadilan itu telah dilukai majikannya bahkan pula oleh anggota keluarga di rumah tersebut.

Tkw tersebut punya anak yang ditinggalkan di Indonesia. Anaknya tentu saja butuh biaya untuk makan, untuk sekolah, untuk biaya kesehatan mereka. Tkw tersebut sedih dengan perlakuan dan sikap majikannya yang hanya bisa memeras keringat dan tenaga tkw tapi tidak tahu dan tidak mau tahu apa yand ada di hati dan pikiran tkw tersebut.

Setahu saya, agama mengajarkan bahwa upah atau gaji itu harus segera diberikan kepada pekerja sebelum keringatnya mengering. Ajaran yang mulia sekali. Namun ajaran tersebut sering kontradiktif dengan kenyataan. Tkw itu sudah cape dan kelaparan karena tak dikasih makan, masih saja disuruh ini dan itu padahal tkw tersebut tak lagi mampu melakukannya. It is beyond her ability.

Maka sangat wajar tkw tersebut menuntut keadilan. Give a justice !!!

Jika majikan mengharapkan tkw tersebut bekerja dengan baik, penuh tanggung jawab dalam menjalankan kewajibannya sebagai pembantu rumah tangga, maka hak-hak tkw tersebut harus pula dipenuhi. Berilah makan yang layak. Berilah gaji tepat pada waktunya sesuai kesepakatan. Berilah waktu yang cukup untuk makan sehingga punya energi untuk bekerja dengan baik. Jika ada kesalahan dari pihak tkw, tunjukkanlah dimana letak kesalahannya dan berilah cara yang lebih efektif dan efisient secara sopan dan respek. Itu baru namanya manusia yang berhati nurani.

Tapi sayang, tidak ada jaminan bahwa tkw mendapatkan majikan yang berhati nurani seperti itu, pun perangkat hukum yang melindungi tkw masih banyak cacatnya terutama pada dimensi operasional dan kontrolnya.

So, just give us the justice if you are really a human

Pada hari ini 13/3/2008, saya sempat bingung. Kebingungan saya muncul ketika seorang TKW mengeluh bahwa dirinya tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah melebihi kemampuan dirinya. Meski demikian, anehnya, pihak majikan berkata bahwa tkw tersebut bisanya Cuma tidur dan mengiris bawang saja di dapur. “Itu bukan bekerja namanya”, ucap tkw tersebut mengutip ucapan majikannya.

Meski tkw itu bekerja habis-habisan, namun tetap dimata majikan selalu tidak beres. Keringatnya memang selalu dibayar dengan cemoohan. Malang sekali nasibnya.

Tkw tersebut mengatakan bahwa ia bekerja dirumah yang ukurannya cukup besar dan bertingkat. Didalamnya ada 3 keluarga berikut anak-anaknya. Ruangannya banyak sekali, maklum anggota keluarganya banyak.

Si tkw sering kewalahan dalam menyajikan makanan soalnya masing-masing anggota keluarga dalam rumah itu punya keinginan yang berbeda-beda. Bayangin saja kalau 15 orang punya keinginan untuk dibikinkan makanan yang berbeda-beda oleh hanya satu orang tkw, apa yang bakal terjadi? Tentu saja tidak cukup satu jam atau dua jam. Apalagi jika keinginan mereka diucapkan dengan gaya yang merendahkan dan memaksa, apa yang anda rasakan jika menerima perlakuan semacam itu? Rasa kemanusiaan kita tentu akan berontak.

Disamping itu, si TKW dituntut harus juga menyelesaikan pekerjaan lain seperti mencuci pakaian yang selalu menumpuk dan kemudian menyetrikanya sampai rapih bener. Selain itu, ia juga harus membersihkan setiap ruangan baik lantai bawah dan atas. Belum lagi kamar mandi yang jumlahnya tidak sedikit.

Sering kali tkw tersebut tidak mendapatkan waktu yang cukup walau untuk shalat sekalipun. Seluruh tenaga dan pikirannya diporsir untuk menyelesaikan tugas-tugas rumah yang banyak sekali dan malang lagi, keringatnya tak kunjung dihargai.

Puihhhhhhhhh….saya bisa mengatakan bahwa superwoman lah yang hanya bisa melakukan itu semua. Tkw hanyalah manusia biasa dengan kemampuan yang juga terbatas. Dia dipaksa untuk melakukan pekerjaan yang melampaui batas-batas kemampuan dirinya. Dimata majikannya, itu memang tugas TKW. Kalau dia tidak mau bekerja kayak gitu, kenapa dia mau jadi TKW?

Saya hanya bisa mengelus dada dan berdoa semoga TKW tersebut bisa bertahan dalam menghadapi situasi tersebut. Mereka tak punya hari libur sehingga dalam seminggu, dia terpaksa harus bergelut dengan keringat, rasa letih dan cape. Tentu saja, TKW butuh ruang dimana dia bisa menemukan dan merasakan rasa kemanusiannya. Tapi ruang itu tak pernah ditemukannya.

Menjadi TKW memang mudah terperangkap dalam sistem yang ekploitative. So, C’mon just think twice before you want to be a house maid. Kayaknya butuh sosialisasi bahwa menjadi tkw itu pilihan yang harus dipikirkan dengan seribu satu pikiran. Is there any second opinion?

Pagi ini dari bandung, istri saya mengeluhkan bahwa melalui hp, laki-laki yang beristri itu merayunya dan akhirnya menyatakan ingin menikahinya. Saya merasa janggal kok ingin menikai perempuan yang sedang punya suami? Istri saya merasa takut dan terganggu sekali dengan sikap laki-laki tersebut.

Alhamdulillah, istri saya bersikap jujur sama saya. Ia pun menceritakan kasusnya kepada saya sebagai suaminya.

Kepada istri saya, laki-laki itu bilang bahwa dia menyukainya. Ucapan ‘sayang’ pun kerap diungkapkannya melalui hp.
“Kalau suami kamu sayang kamu, gak mungkin dia meninggalkanmu”, ucap istri saya, mengutip ucapan laki-laki yang berinisial E itu.

Istri saya pun menjawabnya begini : “saya ridha suami saya pergi jauh, dan itu bukan berarti suami saya tidak sayang saya”.

Sebagai suami, sesungguhnya kepergian saya berkelana ke negeri orang bukan tanpa alasan. Dan istri saya sesungguhnya merasa berat untuk melepaskan saya pergi jauh apalagi harus meninggalkan sang buah hati. Namun demi masa depan, istri saya pun merelakan saya untuk melakukan hijrah kenegri orang untuk mencari mata pencaharian disana.

Jadi saya meninggalkan istri dan anak justru karena saya sayang dan care sama mereka. Apalah artinya dekat dengan istri dan anak, tapi malah tidak membawa perubahan positive. Karena kondisi didalam negeri dalam pengamatan saya belum memberikan pencerahan buat rakyat. Apalagi kompetesi yang tidak sehat, nepotisme, praktek korupsi masih saja bergentangan disetiap sudut instansi dan institusi.

Tapi saya heran kenapa laki-laki tersebut tidak respek terhadap istri saya dan saya sekaligus. Padahal dia sendiri memiliki istri yang harus diperhatikan dan disayangi. Tapi kalau pada saat yang sama, dia juga ingin menikahi perempuan lain bahkan yang sudah bersuami, alangkah rakus dan gombalnya laki-laki tersebut.

Bisa jadi, laki-laki tersebut tidak cocok dengan istrinya sehingga tergerak untuk mencari yang lain. Tapi tentu salah alamat jika dia ingin menikahi perempuan yang bersuami. Tentu saja hal itu akan meruksak rumah tangga orang lain.

Dalam konteks kepemimpinan, laki-laki tersebut tak layak jadi pemimpin. Karena untuk menjadi pemimpin, harus ada karakter kejujuran, tidak plintat-plintut, tidak mengkhianati, tidak banyak janji tapi palsu dan tidak mengambil hak orang lain (mencuri). Bahkan untuk menjadi suami pun, laki-laki gombal memang dipertanyakan kualitas kesetiannya.

Akhirnya, kepada istriku saya bilang, jangan pernah diangkat lagi telepone dia sehingga bisa menutup celah-celah semangat gombalnya. Karena dia bisa saja menyamar dengan nomor lain, maka kepada istriku saya bilang untuk tidak mengangkat nomor yang tak dikenal. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada istriku yang belajar untuk jujur dan terbuka dalam menyelesaikan masalah.

Sebagai suaminya, saya pun harus setia, setia antara kata dan perbuatan saya. Mudah-mudahan laki-laki itu bisa sadar bahwa perempuan itu tidak menyukai semangat gombal tapi semangat kejujuran dan keberanian. Gombal adalah sikap banci. C’mon, let us be a real man with dignity and get rid our selves from banci mentality

Saya pikir hidup ini butuh rasa, karena rasa bisa membuat hidup makin hidup. Contoh kecil saja dalam konteks makanan. Hidangan sayur yang diberi bumbu akan lebih jauh terasa sedap ketimbang sayur tanpa bumbu. Jadi memang rasa itu perlu dan penting.

Konsep rasa ini sangat berkaitan dengan perasaan. Perasaan saya ketika bertemu dengan orang yang wajahnya dihiasi senyum akan berbeda dengan perasaan saya saat berjumpa dengan orang yang wajahnya dilumuri sinis dan judes.

Rasa adalah juga perasaan, feeling, dan karena itu sifatnya halus dan lembut bahkan sensitif.

Oleh karena itu, ketika orang mudah tersinggung, maka orang itu perasa sekali, persis seperti bunga putri malu, begitu tersenggol sedikit, langsung merungkup. Oleh karena itu pula sifat hati-hati dalam hal-hal yang sensitif perlu diperhatikan.

Sebagai manusia, tentu kita punya rasa kemanusiaan, sebuah rasa bahwa kita adalah manusia dan bukan hewan apalagi barang.

Pada tahap ini, saya berfikir, manusia hidup bersama manusia lainnya. Namun dalam proses interaksi, tak jarang rasa kemanusiaan ini hilang digerus oleh kepentingan tertentu, baik itu dilatari kelas, status, agama, ras, atau bahkan politik. Manusia pun bisa semakin jauh dari rasa kemanusiannya karena sudah dibelenggu oleh kepentingan dirinya.

Saya kok heran ada orang yang secara formal menjalankan agamanya dengan baik, namun tak segan memperlakukan manusia lainnya dengan pandangan yang meremehkan, seakan-akan dirinya atau kelasnya saja yang unggul. Mungkin karena perasaan unggul yang berlebihan inilah, dia mengira bahwa dirinya bebas melakukan apa saja sesuai kehendak dirinya walau harus melanggar etika. Hidup nya sudah tak lagi punya rasa juga tak punya nilai estetika.

Rasa adalah kemampuan untuk membedakan. Dengan rasa, kita bisa membedakan mana yang cantik dan tidak. Tentu saja cantik yang saya maksud disini tidak terbatas pada kecantikan lahir (pisikal) tapi juga kecantikan bathini (inner). Terkadang, ada orang yang wajahnya cantik atau tampan, tapi sikapnya justru membuat muak orang lain.

Oleh karena itu, Rasa kemanusian ingin menegaskan bahwa perbedaan warna kulit, status, kelas, agama, nasionality, bentuk wajah atau apapun bukan alasan untuk menyudutkan dan mengkerdilkan manusia lain.  

Selain rasa kemanusian, ada juga rasa keadilan. Ada orang yang tak bersalah justru disalahkan, dan pada saat yang sama ada juga orang yang terbukti salah tapi malah dibela bahkan dibenarkan. Kondisi ini jelas sangat melukai rasa keadilan. Lagi-lagi rasa keadilan ini kian terkucil dan dikucilkan disaat kepentingan sempit diberhalakan.

Lalu bagaimana dengan “rasa permusuhan” atau ” rasa kebencian”? jelas, permusuhan dan kebencian adalah sesuatu yang negatif. Tapi jika saya berkata ” saya benci kediktatoran, atau saya benci permusuhan, atau bahkan saya benci terhadap kebencian itu sendiri”. Jadi, yang negatif-pun jika dibenturkan dengan yang negatif lagi akan menghasilkan sesuatu yang saya rasa tidak selalu negatif, bahkan positif. Saya pikir, ini persoalan permainan kata saja.

Namun kembali lagi kepada konsep rasa tadi, bahwa manusia tidak akan menjadi manusia jika tidak punya rasa. Orang yang suka memukul dan menindas orang lemah adalah orang-orang yang perasaannya sudah kering kerontang. Bisa saja orang tersebut menyukai alunan musik, keindahan lukisan, namun nilai estetika yang dinikmatinya tidak membekas dihatinya, sehingga terlampau sulit baginya untuk memadukan estetika dalam irama musik dengan estetika dalam rasa kemanusiaan.

Mungkinkah selera akan sayuran yang punya rasa karena terdiri dari bumbu yang pas, akan mendorong manusia berfikir bahwa perbedaan merupakan bumbu penting yang membuat hidup ini akan terasa enak, sedap dan bahkan indah untuk dirasakan? Rasa may be cultural but rasa kemanusiaan (fitrah manusia) is universal. Is there any second opinion ?

Wallahu a’lam bisshawab.

Kamu bilang bahwa dirimu mencintaiku

Tapi tangisanku tidak pernah kau dengar

Kata-katamu begitu manis dan mulia

Tapi aku tak pernah merasakannya.

Janji-janjimu begitu fantastik

Tapi aku skeptis dengan janji mulukmu

Dari dulu kau selalu memutar ulang janjimu

Tapi tak pernah kau buktikan

Aku tidak membutuhkan cinta verbalmu

Karena semua orang bisa melakukannya

Tapi jika kau benar-benar punya cinta

Lindungilah diriku dari ketakutan

Tapi jika kau benar-benar punya cinta

Bebaskanlah aku dari keraguan akan cintamu

Cinta yang bukan melayang-layang di udara hampa

Tapi cinta yang benar-benar membumi

Jika kau benar-benar cinta

Berikanlah bagiku ruang kebebasan

Agar aku bisa mengontrol arti cintamu

Agar aku juga bisa menjadi aku

Tapi aku ragu akan cintamu

Karena masih saja cintamu verbal saja

Masih saja cintamu mengawang-ngawang

Penuh dengan janji-janji hebat tapi hampa

Aku ragu akan janji setia jika dibangun diatas udara hampa

Tak berisi dan mudah roboh

Ah yang benar saja kau Mencintaiku?

Kemerdekaan adalah harapan semua manusia. Karena dengan merdeka, manusia bebas menentukan pilihan hidupnya tanpa ada paksaan dan tekanan dari pihak diluar dirinya.

Menjadi merdeka artinya menjadi bebas. Bebas dalam memilih pasangan hidup, bebas dalam menentukan jurusan study yang diambil, bebas dalam menjalankan ibadah, bebas dalam berkeyakinan. Pada saat yang sama, merdeka juga harus bebas dari rasa takut, bebas dari tindak kekerasan, bebas dari ancaman, bebas dari kemiskinan, bebas dari segala bentuk tirani dan kejahatan.

Jika saya mencermati konsep kebebasan untuk mendapatkan sesuatu (yang positif) dan bebas dari sesuatu (yang negatif) maka saya merasa ada kesamaan dengan konsep Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar (perintah kebajikan dan mengingkari kemunkaran).

Dalam pandangan saya, konsep ma’ruf itu sama dengan perintah bebas untuk melakukan sesuatu yang positif. Misalkan saja saya bebas untuk menyatakan pendapat. Namun jika menyatakan pendapat ini dilakukan secara berlebihan (excessive) dan diluar konteks maka yang ma’ruf pun akan berpotensi menjadi kemungkaran yang harus ditolak dan dilawan. Misalkan saja mendidik anak namun dengan cara disiplin yang berlebihan sampai pada titik kekerasan fisik, maka proses mendidik pun akan berbalik menjadi kemunkaran yang harus ditolak. Jadi pada tahap ini, nahi munkar berfungsi sebaga alat kontrol untuk membatasi kebebasan yang excessive.

Oleh karena itulah sangat bijak dikatakan bahwa kebebasan seseorang itu dibatasi oleh kebebasan orang lain. Dan seseorang itu dikatakan bertanggung jawab atas sesuatu jika orang tersebut melakukannya atas pilihan dirinya secara bebas tanpa ada satu titik pun unsur tekanan dari pihak lain.

Beragama adalah sesuatu yang dianggap baik (ma’ruf), dengan demikian, kebebasan beragama adalah sesuatu yang harus dilindungi. Namun jika keberagamaan itu dilakukan secara fanatik bahkan sampai pada titik pengkultusan dan cenderung meremehkan keyakinan orang lain, maka keberagamaan semacam itu sangat berpotensi menjadi sesuatu yang munkar yang mesti distop bahkan dilawan. Pada tahap itulah, agama menjadi terdistorsi. Agama yang semestinya agen penyemai damai justru berubah menjadi alat penyemai benci dan permusuhan.

Oleh karena itulah, dalam islam (agama penyerahan total kepada Tuhan) sendiri disebutkan bahwa tidak ada pemaksaan dalam beragama. Artinya freedom of religion sangat dijunjung tinggi.

Kembali lagi kepada konsep merdeka, terutama pada konteks indonesia. Indonesia memang sudah bebas dari penjajahan fisik dengan para kolonial dulu. Penjajahan dari negara jepang, belanda dan portugis sudah selesai.

Tapi jelas tidak dan belum merdeka jika dilihat dari kerangka lain. Indonesia belum bebas jadi penjajahan korupsi yang justru dilakukan oleh “orang dalam” sendiri yang kebetulan duduk sebagai pejabat. Indonesia belum bebas dari kemiskinan sebagai akibat dari korupsi tadi. Indonesia belum bebas dari mental budak dan mental kuli sehingga mentalitas ini selalu menempatkan orangnya mudah memperbudak orang dan diperbudak orang lain sekaligus.

Jadi sesungguhnya Indonesia masih saja sulit untuk merdeka dalam melakukan sesuatu dan sulit juga untuk merdeka dari sesuatu, karena memang kepentingan sempit dan temporer kian dipertuhankan, dikultuskan bahkan dilembagakan.

Dengan demikian pergerakan untuk mendapatkan kemerdekaan untuk hidup dan memberikan kehidupan bagi orang-orang tertindas perlu terus digulirkan sementara gelagat mendapatkan kemerdekaan untuk hidup tapi justru untuk mematikan dan memberangus kehidupan orang lain yang tak berdosa, harus segera ditumpas