Itsme231019

Valentine’s Day : Kreatifitas Gue Banget.

Posted on: February 15, 2008

bangau
sumber (http://www.sfgate.com)

Valentine day atau hari valentine (hari kasih sayang) tentu saja bukan tanpa sejarah. Dan hingga kini nampaknya hari tersebut – berkat dukungan media massa- kian mengglobal menembus batas-batas negara dan budaya.

Hari valentine ini nampaknya juga akan terus eksis. Anak-anak muda melihatnya sebagai momentum dimana mereka merasa di support untuk mengekspresikan rasa cintanya kepada orang yang dikasihinya.

Tapi mari kita coba melakukan kilas balik apa sih sejarahnya sehingga hingga kini hari valentine ini menjadi moment yang diperingati bahkan secara global dan selalu menjadi isu hangat dan cukup menyedot masyarakat. Pro dan kontra pun tak bisa dihindari dari tahun ke tahun.

Menurut beberapa versi yang saya pahami bahwa pada abad ketiga di Roma ada seorang saint (orang suci) bernama Valentine. Pada saat itu, Kaisar Claudius II yang sedang berkuasa, memutuskan peniadaan perkawinan bagi para pemuda untuk kepentingan perekrutan militeristik. Pemuda lantas dianggap segment potensial untuk jadikan tentara kekaisaran. Karena laki-laki yang sudah beristri dianggap tidak potensial dan cenderung ogah-ogahan menjadi tentara.

Terhadap keputusan tersebut, sebagai pemuda, Valentine berontak dan menunjukkan keberatannya terhadap penguasa. Ia pun secara diam-diam menjalin tali kasih dan  pernikahan dengan perempuan yang dikasihinya. Tapi akhirnya tindakan Valentine ini terbongkar dan hukuman matipun akhirnya dijatuhkan.   

Versi yang lain menyebutkan bahwa penyebab kematiannya adalah tindakannya yang berusaha membantu orang-orang kristen untuk melepaskan diri dari kungkungan penjara Roma yang sadis dan garang.

Versi ketiga mengatakan bahwa ketika di penjara, oleh sipir penjara (penjaga penjara) Valentine diminta bantuannya untuk menyembukan perempuan yang nota bene anak sipir tersebut. Valentine pun menyembuhkan perempuan tersebut dan kemudian jatuh cinta kepadanya.  Sebelum kematiannya, diyakini bahwa Valentine sempat mengekspresikan cintanya dengan kalimat “from your Valentine” kepada kekasihnya tersebut.

Dengan demikian, beragam versi tersebut menegaskan bahwa fenomena Valentine ini masih dibalut banyak misterius.

Saya sendiri selama bekerja menjadi TKI di saudi, gaung valentine day ini tidak begitu semarak. Karena memang, Valentine day ini dianggap sebagai produk budaya kristen sehingga mengikuti merayakannya dianggap haram. Selain itu, Valentine day ini juga dianggap sebagai moment dimana remaja dan remaji bebas mengekspresikan cintanya melalui berbagai style mulai dari saling bertukar hadiah, coklat, kado, bahkan sampai tindakan yang dianggap immoral seperti hubungan seks diluar nikah. Dan memang sih fakta berbicara bahwa di beberapa negara, Thailand misalnya, dikabarkan bahwa sejumlah perempuan menganggap bahwa valentine day merupakan moment untuk melepaskan keperawanannya jika diminta oleh kekasihnya. Pelepasan keperawanan ini dianggapnya sebagai ekspresi cinta. (1)

Oleh karena itulah banyak kalangan agamawan terutama Islam menolak acara valentine ini diadakan dengan setidaknya alasan-alasan diatas.

Ada juga kalangan yang justru pro valentine day. Bagi mereka, perayaan valentine day itu dianggap penting karena pada saat itulah penekanan pengungkapan rasa kasih dan sayang ditunjukkan terutama terhadap orang yang disayangi. Alasan lain juga berkaitan dengan freedom of choice dari masing-masing orang. Kalangan ini melihat  fatwa MUI bahwa valentine day itu perayaannya termasuk haram, nyaris tidak relevan dan tidak memberikan pencerahan.

Saya sendiri sih melihat Valentine day dari sudut esensi atau semangat nya saja. Yaitu semangat kasih sayang terhadap sesama manusia. Dan saya pikir, ekspresi rasa sayang itu tidak mesti dalam bentuk bertukar coklat atau saling berkirim bunga. Artinya fleksibel saja tapi juga tetap harus mengindahkan norma-norma yang ada dimasyarakat. Dan ekspresi cinta itu tidak terbatas pada si doi saja tapi juga pada si kakek, si nenek, si ade, si kakak, atau bahkan sama anak-anak jalanan dan anak-anak terlantar sehingga punya kontribusi positif secara sosial.

Valentine day itu kan hari kasih sayang. Saya pikir jika kita benar-benar sayang, berjasalah tapi jangan minta jasa karena sejatinya rasa sayang, kasih, dan cinta yang sejati tidaklah conditional. Apapun mereka bilang tentang kita, yang penting kita tetap konsisten untuk berbuat baik dan berbuat baik. Mendapat balasan, pujian, atau bahkan cercaan, itumah soal lian. Just do it.

Saya kira itu saja dari saya yang seorang TKI from Bandung. Hehehe…..gimana menurut anda?

 

(1) http://www.telegraph.co.uk/news/main.jhtml?xml=/news/2008/02/13/wvalentine113.xml  

 

Ahmad. Riyadh, 15/2/2008 

Advertisements

5 Responses to "Valentine’s Day : Kreatifitas Gue Banget."

halo lagi, fans datang berkunjung nich :mrgreen:

hmmm….sesuatu yang dilebih2kan memang bisa berubah jadi makruh dan haram. seperti perayaan valentine, jika tidak dilebih2kan maka gak ada masalah, tapi kalo udah dilebih2kan maka bisa timbul kemungkinan haram atau makruh.

ulama tidak mungkin mengeluarkan ijma, ijtihad atau fatwa tanpa dasar hukum yang akurat. kita jangan langsung mengomentari bahwa fatwa atau ijma ulama yang mengharamkan valentine’s day sebagai bukti sempitnya cara berpikir umat Islam. you know, untuk prinsip yang sudah tegas diatur tidak bisa ditawar lagi, tapi bagi hal yang masih ditawar maka kita masih bisa negotiable.

kadang, sikap tidak tegas dipahami sebagai sikap terbuka terhadap perbedaan. bagaimana kita menjadi seorang yang punya pendirian kalau kita tidak tau mana hal yang patut dipertahankan dan mana yang masih bisa ditawar? dalam mempertahankan prinsip sih juga gak perlu katrok yach…santai bro! hehe.

sebagai contoh nyata, seseorang yang tegas mempertahankan prinsipnya tapi dalam menunjukkannya tetap santun dan tidak ngotot adalah Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). beliau tegas mempertahankan prinsip, tapi karena sangat santun dan rendah hati dalam mempertahankan prinsipnya tidak membuat orang membenci atau antipati kepada beliau, bahkan orang Kristen pun simpati thd beliau. Pun beliau adalah ulama, penulis dan manusia berakhlak mulia yang rendah hati. Saat beliau wafat, para jamaah yang ingin menyolatkan beliau sampai antri dan sholat jenazah dilakukan lebih dari sekali karena membludaknya warga Jakarta Muslim yang ingin menyolatkan beliau.

Seandainya beliau masih hidup sampai sekarang dan ikutan blogging, saya daftar jadi fans berat beliau. Membaca kisah hidup beliau membuat saya merinding, karena saking kagumnya. Masya Allah La Quwwata Illa Billah, semoga yang dikagumi diberi keberkahan oleh Allah SWT amin.

Untuk menyikapi valentine ini, sikapi dengan tegas namun tetap santun. Jangan korbankan prinsip atas nama tenggang rasa dan toleransi, na’udzubillah. Sikap tenggang rasa dan toleransi sebaiknya ditunjukkan hanya untuk hal-hal yang tidak prinsipil saja. Antara terbuka dengan perbedaan dengan plin-plan memang sulit dibedakan. Trims banyak sblmnya, senang bisa diskusi ma Ahmad, Allah blesses you 🙂

Salam. hai mba yonna apa kabar? semoga tetap sehat ya. oya berbicara tentang berlebih-lebihan, memang itu merupakan sikap yang ekstrem…artinya terlalu gimana gitu….kalau dikaitkan dengan cuaca, mungkin ekstrem dingin dan ektrem panas. saya sendiri lebih menyukai yang moderat. sebagai orang islam, saya yakin bahwa islam mengajarkan sikap moderat dan objektif. umatan wasathan (umat pertengahan).
saya setuju banget dengan perkataan mba yonna bahwa jika harus berbeda, sikap sopan dan respek tetap harus didahulukan dan itu merupakan bermain secara sportif. jadi ingat lagu persib Bandung nih…bermain cantik dan sportif.
memang sih dalam islam ada hal-hal yang prinsip dan hal-hal yang cabangnya saja.
islam mengajarkan prinsip kejujuran, perkataan yang baik, berdebat dengan nasehat yang baik dan argumentasi yang bagus.
tapi pada tahap operasional, seperti bagaimana wudhlu dilakukan, bagaiama cara adzan dan lain sebagainya, dalam tubuh umat sendiri banyak sekali aliran dan pemahaman. terkadang, polarisasi pemahaman keagamaan dalam islam sendiri membuat islam tidak solid.
i think diversty will never end until this world finish. but how we handle this diversity? the answer is by peace, negotiation and taaruf.
saya pikir itu saja dari saya…thanks atas komentarnya.
ahmad

satuju lah kang…. pokona mah upami sae mah — demi kasih sayang heuheuyyy…. deudeuuh — hayu wae lah dijalanan….

teu nyarambung nya? :p

maklum yeuh nuju teu nyarambung…

mangga ah…

salam. muhun leres kitu pisan…tah sapertos anu diungkapkeun ku mba lady dayeuh….pami sae mah dijalanan oge moal nanaon..hehehe…kan sagala rupi oge kumaha niatna. sanes kitu?
pami teu nyarambungmah atuh….sambung-sambungkeun..supaya nyambung deui..hehehe.
nuhun ah atos ameng ka blog abdi anu sederhana kieu.
ahmad.

biasanya lmbng sinta dah lazinm skuntum bunga mawar tpi kucoba tuk berekspresi lwat kemesraan angsa yg mkin keharmonisan itu bkl terasa mga buat yg lgi merasakan wanginya cinta kini mga sllu bersuara dalam ciprakan air berenanga menyelami k bersamaan tk ttp terjalin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: