Itsme231019

Negara Harus Cemburu

Posted on: February 12, 2008

Saya heran kenapa kok Indonesia lebih banyak mengirimkan perempuan sebagai pekerja ketimbang laki-laki. Dan kenapa juga perempuan yang dikirim lebih dominan sebagai pekerja TKW saja?

Gak salah-salah amat jika kemudian Indonesia dianggap bangsa babu. Sebuah bangsa yang bisanya ngirim babu atau jangan-jangan mentalitas orang-orangnya demikian?

Menjadi TKW atau Pekerja Rumah Tangga, artinya harus rela berada diposisi yang harus diatur. Artinya juga, tidak punya kebebasan dan kemerdekaan untuk mengatur kehidupannya secara kreatif.

Masih untung jika mendapatkan majikan yang cerdas hatinya sehingga dia memperlakukan TKW secara manusiawi. Tapi sayang, tidak semua majikan punya mindset yang cerdas seperti itu. Artinya majikan yang lain justru punya mindset bahwa TKW itu sebagai mesin untuk membereskan rumah yang berantakan dengan sekejap, tapi kesejahtraan TKW sendiri tidak terpenuhi. Anehkan, tapi begitulah cara berfikirnya.

Mobil saja jika tidak dikasih bensin, tidak akan jalan, lho kalau manusia disuruh bekerja habis-habisan tanpa dikasih makan atau minum, pola pikir apa yang dipakai, padahal kan sama-sama manusia? Bukankah ini representasi dari bentuk kanibalisme baru?

Dalam hal ini, saya bertanya kenapa agama tidak dipakai untuk memanusiakan manusia? Ketika hak-hak TKW diabaikan sementara tenaga dan pikirannya diperas, saya pun bertanya apakah ini bentuk dari dehumanisasi dimana manusia tidak dianggap manusia melainkan sebagai mesin.

Para suami yang punya istri, semestinya tidak membiarkan istrinya menjadi TKW, jika dia benar-benar mencintai dan menyayangi istrinya. Bantulah dia untuk mendapatkan pekerjaan yang layak buat istrinya selain menjadi TKW. Tapi bagi saya, sang suami semestinya harus berusaha dan menunjukkan bahwa dirinyalah yang selayaknya memegang peranan sebagai pencari mata pencaharian. Sehingga kejantanan sang suami terpancar lewat tanggung jawabnya terhadap istri dan anaknya.

Kalau sang suami bisanya cuma mengandalkan penghasilan istrinya sebagai TKW di luar negeri, lalu dimanakah kejantanan sang suami. Dan jika kemudian uang istrinya tersebut dipakai untuk kawin dengan perempuan lain, lagi-lagi dimanakah jiwa kesatria dan kejantanan suami. Lho kok bisa gitu ya. Mungkin merasa dirinya laki-laki dan berkuasa, sehingga kawin lagi tanpa sepengetahuan istri pun dianggapnya sebagai kejantanan. Waduh……super gawat nih.

Saya pikir ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan di Indonesia merupakan faktor begitu banyaknya perempuan indonesia menjadi TKW. Saya berfikir, kalau para perempuan diberdayakan secara maksimal, mereka lebih memilih bekerja keras di negeri sendiri ketimbang di negeri orang. Kalaupun harus memilih bekerja diluar, tentu dia punya daya tawar sehingga bisa bernegosiasi secara sehat yang steril dari iming-iming atau paksaan dan tekanan.

Saya menduga para TKW itu sepertinya tidak dilatih untuk bernegosiasi karena jika dididik dengan baik, mereka akan kritis dan cerdas dan tentu saja akan menolak menjadi TKW. Nah, agar mereka mudah menerima untuk menjadi TKW, maka pembodohan dan sejuta iming-iming dan impian sengaja diciptakan, dan itu semua dilakukan untuk kepentingan yang sifatnya bisnis dan duit. Nah, ujung-ujungnya kan duit lagi. Pembodohan diciptakan untuk menciptakan uang. Setidaknya itulah pemahaman saya.

Saya berandai-andai jika pengiriman TKW distop saja. Tentu saja kerugian finansial akan terjadi dibanyak tempat. Tempat-tempat seperti medical centre akan ambruk karena harus kehilangan salah satu pelanggan setianya, karena setiap TKW yang harus menjalani proses paspor, harus dicek kesehatannya. Ketika bikin paspor, tentu saja ada biaya pembuatan paspor. Artinya diberhentikannya pengiriman TKW berarti berkontribusi pada menyempitnya aliran keuangan yang masuk buat negara. Belum lagi para PJTKI yang memang kehidupan mereka sangat bergantung pada TKW ini.

Jadi memang tidak salah jika kemudian ada julukan pahlawan devisa negara.

Lalu saya pun tidak berhenti untuk bertanya. Apakah julukan ini berbanding lurus dengan proteksi hukum dan garansi rasa aman buat para pahlawan tersebut?

Pada tahap ini, saya hampir skeptis karena kondisi real menunjukan gambaran yang sebaliknya. Orientasi bisnis memang lebih menggurita dan dominan ketimbang orientasi kemanusiaan dan harga diri.

Agama mengatakan bahwa kemiskinan berpotensi membuat orang terperosok dalam kekufuran. Saya pikir memang benar. Bangsa yang miskin ternyata harus rela mengorbankan harga diri bangsa hanya untuk kepentingan bisnis. Bukankah ini sangat kapitalistik banget.

Saya pikir juga negara tidak punya rasa cemburu. Jika saja negara pencemburu, tentu dia tidak ingin anak bangsa dipermainkan oleh pihak ketiga apalagi dengan cara yang tidak manusiawi dan sangat melukai.

Nampaknya bangsa indonesia perlu belajar untuk cemburu. Bukankah Tuhan adalah pencemburu. Dan bukankah cemburu adalah indikasi kuat dari cinta. Negara juga harus cemburu tapi jangan menciptakan kecemburuan sosial. Gimana menurut anda?

Advertisements

6 Responses to "Negara Harus Cemburu"

agama tidak dipakai untuk memanusiakan manusia?

bagaimana bisa? wong asas negaranya sekuler
(memisahkan agama dari mengurusi rakyat didalamnya)

Salam.
Jika berbicara tentang sekuler, saya pikir negara sekuler harus memberikan kebebasan ekpresi beragama kepada rakyatnya. artinya ketika seseorang beragama, maka sikap keberagamaannya tidak boleh diganggu oleh negara.
tapi memang pada pihak lain, agama memang tidak boleh mencampuri urusan negara. jadi negara harus bersih dari unsur-unsur dan simbol-simbol keagamaan tertentu sehingga harus netral dari agama manapun. artinya juga harus menjadi pelindung bagi agama manapun juga dan bukan malah meregulasinya.
tapi dalam negara dimana syariat diberlakukan, terkadang dehumanisasi juga terjadi. sebetulnya islam mengajarkan untuk bersikap egaliter kepada sesama manusia, tapi TKW jarang sekali dianggap sebagai manusia tapi lebih dianggap sebagai mesin. dengan pola pikir seperti inilah, TKW seringkali menjadi pihak yang tidak diuntungkan.
tidak sedikit tkw yang mendapatkan kekerasan baik seksual, psikologis dan fisik. dan itu terjadi ditempat dimana syariat memang diberlakukan. kan aneh juga.
gimana menurut anda?

tulisan bagus.

ternyata memang ketika agama di-institusional-kan, ketimbang menjadi pelindung hak-hak individual malah meniadakan individual..

salam.
agama memiliki kita suci. disana terdapat ayat-ayat. ayat-ayat ini akan memunculkan pengertian yang berbeda jika dipahami secara berbeda. oleh karena itu dalam islam, dikenal ikhtilaf atau perbedaan. meski dalam islam sendiri, perbedaan itu rahmat, tapi pada tataran praksis, seringkali perbedaan tersebut menempatkan manusia pada konflik karena adanya klaim kebenaran pada satu pihak dan cenderung meniadakan kebenaran pada pihak lain.
berbicara tentang kondisi TKW, ternyata konsep egaliter menjadi barang asing ditempat yang syariatnya diterapkan. saya sendiri mendengar dari kawan yang sama-sama pekerja bahwa ada satu keluarga berisi 9 anggota. disana ada 3 pekerja domestik. teman saya ini bekerja pada rumah tersebut sebagai supir. lalu ia disuruh beli makanan special sejumlah anggota keluarga. habis itu, ia disuruh lagi untuk membeli sebungkus roti sambil berkata “ini makanan untuk 3 pembantu”.
dari cerita pengalaman temanku itu, saya berfikir lho kok bisa gitu sih…memang agama ditampilan secara berbeda-beda oleh orang yang berbeda.
sekian.

aww, hallo Ahmad 🙂

artikel ini ditulis dengan sebuah sudut pemikiran yang sangat bagus, tidak hanya mengedepankan logika berpikir tapi juga memakai hati nurani.

saya tersenyum penuh arti membaca kalimat akhir dari artikel ini:

Saya pikir juga negara tidak punya rasa cemburu. Jika saja negara pencemburu, tentu dia tidak ingin anak bangsa dipermainkan oleh pihak ketiga apalagi dengan cara yang tidak manusiawi dan sangat melukai.

Nampaknya bangsa indonesia perlu belajar untuk cemburu. Bukankah Tuhan adalah pencemburu. Dan bukankah cemburu adalah indikasi kuat dari cinta. Negara juga harus cemburu tapi jangan menciptakan kecemburuan sosial. Gimana menurut anda?

berikut tanggapan dari saya:
1. Bagaimana mau punya rasa cemburu jika gak punya rasa cinta?
2. Bagaimana bisa belajar cemburu kalo gak belajar mencintai?

jawaban:
1. Negara dan pemerintah justru mencintai TKW tersebut karena mengurangi beban pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan dalam negeri dan katanya bisa mendatangkan devisa atau kasarnya memberikan keuntungan untuk negara dan pemerintah. Sebuah perasaan cinta yang tidak disertai ketulusan dan kejujuran memang.

2. Mengesampingkan cemburu demi memperoleh keuntungan materi dan kepentingan pribadi. Tidak belajar cemburu karena tidak punya rasa sayang yang tulus.

Ketulusan mungkin yang menjadi jawaban atas tanya dan gelisahnya Ahmad, salam 🙂

Untuk mba Yonna.
ketulusan adalah juga kemurnian, orisinil, intrinsik dan genuine. pemberian misalnya, bisa bersifat genuine tapi juga bisa bersifat falsu. bisa saja orang memberi sesuatu untuk mendapatkan sesuatu, jadi ada vested interest yang terselubung dalam pemberian tersebut, sehingga pemberian tersebut bersifat palsu.
Jika saya melihat penomena pengiriman TKW bahkan dengan jumlah yang besar, aspek bisnisnya lebih kental daripada aspek kemanusian dan proteksi hukumnya. dimensi kemanusiaan dicibirkan demi keberlangsungan dimensi bisnis. dan itulah yang terjadi. negara pun telah kehilangan fungsinya sebagai pelayan rakyat, tapi justru semakin berambisi ingin dilayani rakyat.
rasa cemburu, rasa cinta dan rasa kemanusiaan menjadi kandas digerus ambisi bisnis yang angkuh dan apatis.
but anyway, thanks banget buat mba yonna yang berusaha memberikan nuansa-nuansa baru sehingga membuat obrolan menjadi berkembang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: