Itsme231019

Archive for February 2008

bangau
sumber (http://www.sfgate.com)

Valentine day atau hari valentine (hari kasih sayang) tentu saja bukan tanpa sejarah. Dan hingga kini nampaknya hari tersebut – berkat dukungan media massa- kian mengglobal menembus batas-batas negara dan budaya.

Hari valentine ini nampaknya juga akan terus eksis. Anak-anak muda melihatnya sebagai momentum dimana mereka merasa di support untuk mengekspresikan rasa cintanya kepada orang yang dikasihinya.

Tapi mari kita coba melakukan kilas balik apa sih sejarahnya sehingga hingga kini hari valentine ini menjadi moment yang diperingati bahkan secara global dan selalu menjadi isu hangat dan cukup menyedot masyarakat. Pro dan kontra pun tak bisa dihindari dari tahun ke tahun.

Menurut beberapa versi yang saya pahami bahwa pada abad ketiga di Roma ada seorang saint (orang suci) bernama Valentine. Pada saat itu, Kaisar Claudius II yang sedang berkuasa, memutuskan peniadaan perkawinan bagi para pemuda untuk kepentingan perekrutan militeristik. Pemuda lantas dianggap segment potensial untuk jadikan tentara kekaisaran. Karena laki-laki yang sudah beristri dianggap tidak potensial dan cenderung ogah-ogahan menjadi tentara.

Terhadap keputusan tersebut, sebagai pemuda, Valentine berontak dan menunjukkan keberatannya terhadap penguasa. Ia pun secara diam-diam menjalin tali kasih dan  pernikahan dengan perempuan yang dikasihinya. Tapi akhirnya tindakan Valentine ini terbongkar dan hukuman matipun akhirnya dijatuhkan.   

Versi yang lain menyebutkan bahwa penyebab kematiannya adalah tindakannya yang berusaha membantu orang-orang kristen untuk melepaskan diri dari kungkungan penjara Roma yang sadis dan garang.

Versi ketiga mengatakan bahwa ketika di penjara, oleh sipir penjara (penjaga penjara) Valentine diminta bantuannya untuk menyembukan perempuan yang nota bene anak sipir tersebut. Valentine pun menyembuhkan perempuan tersebut dan kemudian jatuh cinta kepadanya.  Sebelum kematiannya, diyakini bahwa Valentine sempat mengekspresikan cintanya dengan kalimat “from your Valentine” kepada kekasihnya tersebut.

Dengan demikian, beragam versi tersebut menegaskan bahwa fenomena Valentine ini masih dibalut banyak misterius.

Saya sendiri selama bekerja menjadi TKI di saudi, gaung valentine day ini tidak begitu semarak. Karena memang, Valentine day ini dianggap sebagai produk budaya kristen sehingga mengikuti merayakannya dianggap haram. Selain itu, Valentine day ini juga dianggap sebagai moment dimana remaja dan remaji bebas mengekspresikan cintanya melalui berbagai style mulai dari saling bertukar hadiah, coklat, kado, bahkan sampai tindakan yang dianggap immoral seperti hubungan seks diluar nikah. Dan memang sih fakta berbicara bahwa di beberapa negara, Thailand misalnya, dikabarkan bahwa sejumlah perempuan menganggap bahwa valentine day merupakan moment untuk melepaskan keperawanannya jika diminta oleh kekasihnya. Pelepasan keperawanan ini dianggapnya sebagai ekspresi cinta. (1)

Oleh karena itulah banyak kalangan agamawan terutama Islam menolak acara valentine ini diadakan dengan setidaknya alasan-alasan diatas.

Ada juga kalangan yang justru pro valentine day. Bagi mereka, perayaan valentine day itu dianggap penting karena pada saat itulah penekanan pengungkapan rasa kasih dan sayang ditunjukkan terutama terhadap orang yang disayangi. Alasan lain juga berkaitan dengan freedom of choice dari masing-masing orang. Kalangan ini melihat  fatwa MUI bahwa valentine day itu perayaannya termasuk haram, nyaris tidak relevan dan tidak memberikan pencerahan.

Saya sendiri sih melihat Valentine day dari sudut esensi atau semangat nya saja. Yaitu semangat kasih sayang terhadap sesama manusia. Dan saya pikir, ekspresi rasa sayang itu tidak mesti dalam bentuk bertukar coklat atau saling berkirim bunga. Artinya fleksibel saja tapi juga tetap harus mengindahkan norma-norma yang ada dimasyarakat. Dan ekspresi cinta itu tidak terbatas pada si doi saja tapi juga pada si kakek, si nenek, si ade, si kakak, atau bahkan sama anak-anak jalanan dan anak-anak terlantar sehingga punya kontribusi positif secara sosial.

Valentine day itu kan hari kasih sayang. Saya pikir jika kita benar-benar sayang, berjasalah tapi jangan minta jasa karena sejatinya rasa sayang, kasih, dan cinta yang sejati tidaklah conditional. Apapun mereka bilang tentang kita, yang penting kita tetap konsisten untuk berbuat baik dan berbuat baik. Mendapat balasan, pujian, atau bahkan cercaan, itumah soal lian. Just do it.

Saya kira itu saja dari saya yang seorang TKI from Bandung. Hehehe…..gimana menurut anda?

 

(1) http://www.telegraph.co.uk/news/main.jhtml?xml=/news/2008/02/13/wvalentine113.xml  

 

Ahmad. Riyadh, 15/2/2008 

Advertisements

Saya heran kenapa kok Indonesia lebih banyak mengirimkan perempuan sebagai pekerja ketimbang laki-laki. Dan kenapa juga perempuan yang dikirim lebih dominan sebagai pekerja TKW saja?

Gak salah-salah amat jika kemudian Indonesia dianggap bangsa babu. Sebuah bangsa yang bisanya ngirim babu atau jangan-jangan mentalitas orang-orangnya demikian?

Menjadi TKW atau Pekerja Rumah Tangga, artinya harus rela berada diposisi yang harus diatur. Artinya juga, tidak punya kebebasan dan kemerdekaan untuk mengatur kehidupannya secara kreatif.

Masih untung jika mendapatkan majikan yang cerdas hatinya sehingga dia memperlakukan TKW secara manusiawi. Tapi sayang, tidak semua majikan punya mindset yang cerdas seperti itu. Artinya majikan yang lain justru punya mindset bahwa TKW itu sebagai mesin untuk membereskan rumah yang berantakan dengan sekejap, tapi kesejahtraan TKW sendiri tidak terpenuhi. Anehkan, tapi begitulah cara berfikirnya.

Mobil saja jika tidak dikasih bensin, tidak akan jalan, lho kalau manusia disuruh bekerja habis-habisan tanpa dikasih makan atau minum, pola pikir apa yang dipakai, padahal kan sama-sama manusia? Bukankah ini representasi dari bentuk kanibalisme baru?

Dalam hal ini, saya bertanya kenapa agama tidak dipakai untuk memanusiakan manusia? Ketika hak-hak TKW diabaikan sementara tenaga dan pikirannya diperas, saya pun bertanya apakah ini bentuk dari dehumanisasi dimana manusia tidak dianggap manusia melainkan sebagai mesin.

Para suami yang punya istri, semestinya tidak membiarkan istrinya menjadi TKW, jika dia benar-benar mencintai dan menyayangi istrinya. Bantulah dia untuk mendapatkan pekerjaan yang layak buat istrinya selain menjadi TKW. Tapi bagi saya, sang suami semestinya harus berusaha dan menunjukkan bahwa dirinyalah yang selayaknya memegang peranan sebagai pencari mata pencaharian. Sehingga kejantanan sang suami terpancar lewat tanggung jawabnya terhadap istri dan anaknya.

Kalau sang suami bisanya cuma mengandalkan penghasilan istrinya sebagai TKW di luar negeri, lalu dimanakah kejantanan sang suami. Dan jika kemudian uang istrinya tersebut dipakai untuk kawin dengan perempuan lain, lagi-lagi dimanakah jiwa kesatria dan kejantanan suami. Lho kok bisa gitu ya. Mungkin merasa dirinya laki-laki dan berkuasa, sehingga kawin lagi tanpa sepengetahuan istri pun dianggapnya sebagai kejantanan. Waduh……super gawat nih.

Saya pikir ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan di Indonesia merupakan faktor begitu banyaknya perempuan indonesia menjadi TKW. Saya berfikir, kalau para perempuan diberdayakan secara maksimal, mereka lebih memilih bekerja keras di negeri sendiri ketimbang di negeri orang. Kalaupun harus memilih bekerja diluar, tentu dia punya daya tawar sehingga bisa bernegosiasi secara sehat yang steril dari iming-iming atau paksaan dan tekanan.

Saya menduga para TKW itu sepertinya tidak dilatih untuk bernegosiasi karena jika dididik dengan baik, mereka akan kritis dan cerdas dan tentu saja akan menolak menjadi TKW. Nah, agar mereka mudah menerima untuk menjadi TKW, maka pembodohan dan sejuta iming-iming dan impian sengaja diciptakan, dan itu semua dilakukan untuk kepentingan yang sifatnya bisnis dan duit. Nah, ujung-ujungnya kan duit lagi. Pembodohan diciptakan untuk menciptakan uang. Setidaknya itulah pemahaman saya.

Saya berandai-andai jika pengiriman TKW distop saja. Tentu saja kerugian finansial akan terjadi dibanyak tempat. Tempat-tempat seperti medical centre akan ambruk karena harus kehilangan salah satu pelanggan setianya, karena setiap TKW yang harus menjalani proses paspor, harus dicek kesehatannya. Ketika bikin paspor, tentu saja ada biaya pembuatan paspor. Artinya diberhentikannya pengiriman TKW berarti berkontribusi pada menyempitnya aliran keuangan yang masuk buat negara. Belum lagi para PJTKI yang memang kehidupan mereka sangat bergantung pada TKW ini.

Jadi memang tidak salah jika kemudian ada julukan pahlawan devisa negara.

Lalu saya pun tidak berhenti untuk bertanya. Apakah julukan ini berbanding lurus dengan proteksi hukum dan garansi rasa aman buat para pahlawan tersebut?

Pada tahap ini, saya hampir skeptis karena kondisi real menunjukan gambaran yang sebaliknya. Orientasi bisnis memang lebih menggurita dan dominan ketimbang orientasi kemanusiaan dan harga diri.

Agama mengatakan bahwa kemiskinan berpotensi membuat orang terperosok dalam kekufuran. Saya pikir memang benar. Bangsa yang miskin ternyata harus rela mengorbankan harga diri bangsa hanya untuk kepentingan bisnis. Bukankah ini sangat kapitalistik banget.

Saya pikir juga negara tidak punya rasa cemburu. Jika saja negara pencemburu, tentu dia tidak ingin anak bangsa dipermainkan oleh pihak ketiga apalagi dengan cara yang tidak manusiawi dan sangat melukai.

Nampaknya bangsa indonesia perlu belajar untuk cemburu. Bukankah Tuhan adalah pencemburu. Dan bukankah cemburu adalah indikasi kuat dari cinta. Negara juga harus cemburu tapi jangan menciptakan kecemburuan sosial. Gimana menurut anda?

Saya betul-betul tidak mengerti kenapa kata “sayang” ini begitu banyak terucap dari mulut banyak orang. Seakan ucapan “sayang” ini menjadi menu verbal sehari-hari dalam berinteraksi.

Waktu saya tinggal di jakarta, teman saya yang laki-laki memanggil temannya yang laki-laki juga dengan panggilan sayang. Saya tahu, panggilan tersebut sebagai “joking” belaka.

Kemudian, entah kenapa, saya juga kerap mendengar kata “sayang” ini begitu mudah terucap setidaknya dikalangan teman-teman saya ketika mereka ngobrol dengan temannya baik sesama jenis atau lawn jenis. Seakan-akan kata “sayang” ini menjadi bumbu yang penting dalam berkomunikasi terutama dikalangan orang yang memang sudah saling mengenal.

Oleh karenanya saya bisa mengatakan bahwa ucapan “sayang” ini sangat sering terjadi dalam komuniasi yang sifatnya sudah interpersonal. Seperti hubungan sosial dengan orang-orang terdekat dalam keluarga, dengan teman, dengan kekasih, atau pasangan suami istri.

Dan belakangan, kekasih saya mengeluh karena ia merasa dipaksa untuk menerima ucapan “sayang” dari seorang laki-laki yang mengenalnya. Kepada laki-laki tersebut, kekasih saya menegaskan bahwa dirinya tidak layak menerima kata “sayang” karena sudah punya komitment dengan kekasihnya yang lagi jauh di negeri orang. Namun laki-laki tersebut nampaknya bersikeras bahwa tindakannya tidak bermasalah. Kepada saya, sang kekasih lalu bilang bahwa laki-laki tersebut sudah beristri.

Saya pikir kok istrinya membiarkan suaminya mengumbar dan mengobral kata ” sayang” kepada perempuan lain yang sudah bersuami sekalipun. Bukankah istrinya lebih berhak mendapatkannya? saya tidak tahu persis apakah istrinya marah atau tidak?

Saya sendiri sih, rasanya gak enak dan tidak etis jika harus mengobral kata “sayang” begitu saja kepada sembarang orang, di sembarang tempat dan disembarang waktu. Saya pikir, dalam berkomunikasi, ada rambu-rambu komunikasi yang musti diperhatikan.

Dibenak saya, ucapan “sayang” itu sangat special sekali dan sangat interpersonal. Sehingga tidak sembarang orang yang harus di sapa “sayang”.

Saya agak terganggu dengan sikap pemaksaan laki-laki tersebut, apalagi dia tahu kalau perempuan yang disapa “sayang” tersebut sudah berkomitmen dengan kekasihnya yang lagi jauh di negeri orang dan menunjukkan keberatannya untuk menerima ucapan tersebut.

Lalu saya pun berfikir, ah jangan-jangan, laki-laki tersebut berusaha memanfaatkan keadaan. Dalam fikirannya bisa jadi, perempuan yang jauh dari kekasihnya akan mudah terkena virus kesepian sehingga dianggap kesempatan untuk menggaet hatinya. Tapi untunglah, kekasih saya itu setia, jujur dan berterus terang kepada saya tentang prilaku laki-laki tersebut apa adanya.

Sebenarnya sih, saya menyimpan setidak-tidaknya 3 perasaan ketika hal itu terjadi, yakni cemburu, salut, dan jengkel.

Saya merasa cemburu, karena saya tidak menerima jika kekasih yang mencintai saya dan sebaliknya, direbut oleh pihak ketiga yang memang sudah tahu tapi berusaha menyerobot. Kecemburuan ini berlanjut menjadi rasa jengkel terutama ketika laki-laki tersebut menjustifikasi bahwa tindakannya tidak apa-apa. He thinks for his own benefit.

Dan ketiga, saya salut ketika kekasih saya itu berusaha berterus terang dengan apa yang terjadi. Memang kesetiaan sangat berkait berkelindan dengan kejujuran dan keterbukaan. Saya bersyukur bisa membangun iklim keterbukaan dengan kekasih saya tadi.

Sebenarnya sih apa yang dimaksud dengan ucapan “sayang” tersebut? Pertanyaan ini membuat saya mencari padanannya dalam bahasa lain.

Ada beberapa kata dalam bahasa inggris yang menunjukkan kata “sayang” tersebut diantaranya ” affection, darling, honey”. Dan barangkali semua itu bermuara pada satu kata yakni “love”

Dalam bahasa arab saya menemukan banyak sekali kata-kata yang menunjukkan “sayang” tersebut, diantaranya : عاطفة , شعور, حب, حنان, غرام, رحمة, عشق, وجد dan masih banyak lagi. Saya menduga, bahwa kata-kata tersebut punya konteksnya sendiri-sendiri dalam mengekspresikan rasa sayang.

Saya sendiri melihat jika saya menyayangi seseorang maka saya harus menjaga hatinya dan berusaha membuat dia nyaman. Jika saya kemudian mengobral rasa sayang saya dengan yang lain, maka tidak kah saya telah melukai sang kekasih? Sure, it really hurts. Dan jika kemudian kekasih saya tadi berbagi sayangnya dengan yang lain, apakah hati saya tidak akan ambruk? Sebagai manusia, saya punya rasa cemburu dan itu indikasi kuat dari cinta. Bukankah Tuhan adalah pencemburu? Setidaknya itulah yang saya pahami.

ahmad. Riyadh, 8/2/2008