Itsme231019

Perasaan Saya biasa-biasa saja

Posted on: January 28, 2008

Ketika mendengar kabar bahwa Pak Suharto Meninggal, Entah kenapa kok perasaan saya biasa-biasa saja. Tapi ketika saya mendengar bahwa Benazir butto meninggal, saya langsung mencari kabar kenapa dia meninggal.

Benazir butho tidak ada kaitan banyak dengan Indonesia, tapi perhatian saya kepadanya lebih cepat ketimbang ketika Pak Suharto meninggal. Entah kenapa ?

Saya tahu bahwa benazir butto adalah orang yang mendukung demokrasi. Sementara sejarah Pak Suharto penuh dengan repressi dan kediktatoran terhadap siapapun yang kontras dengan arus pemerintahannya.

Waktu kecil ketika menonton film G30S-PKI, saya melihat Pak Harto itu sebagai pahlawan karena telah menumpas PKI yang dianggap sebagai musuh bangsa. Namun, persepsi saya pun berevolusi karena sejarah yang dibikin ternyata belum tentu murni karena terdapat kepentingan didalamnya. Sebuah kepentingan yang belum tentu menyuburkan kesejahtraan rakyat banyak. Pendek kata, kepentingan sempit.

Kini Pak Suharto telah meninggal. Saya tahu Allah maha pemaaf bagi hamba-hambanya yang mau bertaubat.

Ketika saya berada di KBRI Riyadh, saya tidak melihat nuansa apa-apa diwajah anak bangsa. Sepertinya mereka tidak begitu menghiraukan bahwa bekas presiden mereka meninggalkan mereka. Mereka sibuk dengan kegiatan hariannya.

Barangkali banyak sekali anak bangsa yang merasa tidak diperhatikan sama bapaknya, karena ada segelintir anak bangsa yang dianak emaskan, dimanja, bahkan diberikan kebebasan sepenuh-penuhnya untuk berbuat sesuka hati, sehingga menimbulkan kecemburuan besar terhadap anak bangsa lainnya. So, kenapa pilih kasih?

Saya yakin pada detik ini, ada anak bangsa yang berlimpah ruah dengan kekayaannya, tapi juga dipojok yang lain, ada kelompok anak bangsa yang kondisinya sangat memprihatinkan.

Jika saja sekelompok anak bangsa yang beruntung bersedia menyelami denyut nadi sesama saudaranya yang terhimpit, itu saja ada sebuah ikatan emosional bahwa kita sama-sama anak bangsa yang harus saling bahu membahu dan bukan saling sikut dan saling menjungkirkan.

Bagaimana ingin menjadi bangsa besar, kalau semangat saling menjungkirkan dan mengekploitasi yang lemah masih saja memenuhi batok kepala kita.

Mungkinkah Indonesia Maju.

Advertisements

4 Responses to "Perasaan Saya biasa-biasa saja"

banyak orang yang merasa biasa2 aja waktu beliau tutup usia. wajar aja sih….selama 32 taun berkuasa, pasti beliau punya salah kepada rakyat Indo dan bagi rakyat yang menjadi korban kesalahannya tsb tidak merasa berduka dengan kepergiannya.

kalo saya pribadi mah netral2 aja….antara biasa dan kasian….toh kalo mau menghujat silakan asal gak kebablasan, karena kita sendiri belum tahu akan nasib kita di akhir hayat nanti…jadi mending jadikanlah kepergian beliau sebagai ibroh untuk kita semua, semoga kita bisa mengambil hikmahnya 🙂

Betul apa yang dikatakan mba Yona bahwa kepergiannya tentu saja menjadi pelajaran berharga. ketika saya melihat beberapa orang indonesia yang kayaknya tidak punya keterkaitan emosi dengan kepergian bapak suharto semakin menegaskan bahwa seorang presiden yang baik adalah sosok yang selalu gundah dan tidak nyaman jika rakyatnya dilanda kemiskinan. sehingga presiden yang selalu merasakan denyut nadi orang-orang tertindas sembari melakukan jalan keluar dari ketertindasannya, maka kepergiannya akan memunculkan kedalaman emosi yang paling dalam pada sanubari rakyatnya. Namanya akan dikenang sebagai presiden yang merakyat dan bukan presiden yang pura-pura merakyat.
Mudah-mudahan para pejabat dan pucuk pimpinan Indonesia benar-benar menjalankan roda kepemimpinannnya bukan untuk kepentingan partai belaka tapi untuk rakyat indonesia dan juga alam Indonesia. mudah-mudahan mimpi itu terus kita kejar sampai dapat.
ahmad. thanks for mba Yona atas komentarnya.

Jadi biasa-biasa aja nih? Hehe. Emang sih kayaknya basi banget ngomongin Pak Harto, secara juga ia sudah tiada tapi kalau dipikir-pikir lucu juga kalau mengetahui kenyataan yang namanya Soeharto sudah tidak ada di bumi Indonesia. Sosoknya begitu melekat dengan kehidupan kita sehari-hari, bukankah begitu? Suka atau tidak, sudah begitu lama ia ada di dalam pikiran banyak orang di Indonesia. Ada yang suka, ada yang benci, dan ada yang biasa-biasa saja.

Salam.

Hai mas Tasa, thanks dah berkunjung ke blog ini. iya nih, entah kenapa, perasaan saya biasa-biasa saja dalam artian tidak merasa kehilangan banget.
Seperti Mas Tasa, saya juga punya kekhawatiran bahwa suhartoisme masih bercokol di bumi Indonesia ini.
Yang bisa kita lakukan adalah, terus menerus membangun kesadaran dan perubahan pola pikir bahwa jika ingin nation kita maju, ya berfikirnya harus jangka panjang dan berorientasi untuk umat secara keseluruhan bukan untuk partai politik saja. mungkin saya terlalu idealist, tapi tidak ada alasan untuk berusaha menggapainya.
betul gak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: