Itsme231019

TKW, kasihan yang jarang dikasihani

Posted on: January 12, 2008

housemaidsumber : http://www.wakefield.gov.uk 

TKW adalah Tenaga Kerja Wanita. Atau TKP alias Tenaga Kerja Perempuan. Ya, Indonesia hingga detik ini masih rajin mengirimkan TKW ke luar negeri. Karena memang menghasilkan keuntungan buat negara. Penomena TKW ini juga terjadi karena di negeri asalnya, mereka para TKW sulit sekali mendapatkan pekerjaan. Kalau pun harus bekerja, tidak lepas dari pungutan liar yang tidak rasional. Pekerjaan TKW barangkali menjadi alternatif terakhir.

Saya ingin bereksplorasi dengan penyebab lain kenapa wanita menjadi TKW. Ternyata ada motif lain dari kepergian seorang perempuan menjadi TKW. Karena suaminya mengkhianati cintanya, sang istri menjadikan profesi TKW diluar negeri sebagai pelarian.

Jadi ada semacam pengkhiatan baik dari negara yang sepaputnya memberikan lapangan pekerjaan buat mereka, maupun dari sang suami (atau pacar) yang sepatutnya memberikan kesetiaan yang baik buat istrinya (pacarnya). Jadi hanya sebuah pelarian dari masalah yang dihadapi.

Motif yang lain berkaitan dengan aktualisasi diri. Mereka ingin menunjukkan kalau dirinya bisa bekerja mencari nafkah dengan cara menjadi TKW. Aktualisasi diri ini anehnya, justru ditempatkan pada ruangan dimana ia tidak akan bisa bergerak dengan bebas, karena menjadi TKW sesungguhnya sudah terperangkap dalam alur keinginan majikan.

Aktualisasi diri telah salah ditempatkan sehingga membiarkan diri terperangkap dalam sistem yang memborgol dirinya. Atas nama aktualisasi diri, mereka tak jarang menolak nasehat bijak orang tuanya. Akarnya adalah sikap gegabah, sok tahu dan tidak mau tahu.

Bisa jadi profesi TKW di luar negeri karena faktor “paksaan” dari pihak otoritas dalam keluarga. Yakni orang tua. Mereka memperalat anaknya untuk menghasilkan uang buat membantu ekonomi keluarganya.

Atau juga pihak suami yang memperalat istrinya untuk memproduksi uang buat menopang ekonomi keluarga. Kenapa sih orang tua tidak bertanggung jawab untuk melindungi anaknya dari marabahaya dan kenapa juga si suami tidak peduli sama istrinya. Boboraah ngasih kesetiaan, yang ada justru mengkhiataninya dan menjualnya.

Orang-orang yang gegabah, sok tahu, kalut, tertekan,  dan terkhianati adalah orang-orang yang menderita meskipun yang lebih menderita lagi adalah mereka-mereka yang menyebabkan penderitaan buat orang lain.

Dalam kondisi kekalutan ini, mereka kemudian menjadi target empuk bagi calo-calo yang berkeliaran mencari mangsanya. Gayung pun bersambut. Iming-iming dan impian-impian dimunculkan lalu dimasukkan dalam benak mereka.

Disinilah akan terjadi mata rantai tarik menarik kepentingan yang besar sehingga pengiriman TKW tidak akan berhenti, cenderung diawetkan dan disuburkan. Kebodohan, kemiskinan akan menjadi komoditas bisnis bagi mereka yang cerdik tapi licik.

 

Jika berbicara tentang kondisi TKW, maka juga berbicara tentang risiko yang terjadi. Menjadi TKW, tentu saja disana ada impian dan harapan agar ekonomi keluarga membaik. Namun harapan ini tidak selalu mulus, karena tidak sedikit kenyataan yang dihadapi justru sebaliknya. Hak-hak mereka seringkali dicibirkan bahkan diekploitasi.

Mereka para TKW tidak tahu harus pergi kemana, karena proteksi hukum pun ternyata sesuatu yang sangat mahal sekali buat mereka. Mereka juga mungkin tidak terlalu yakin kalau pihak yang memberi rasa keadilan bisa memberi rasa keadilan buat mereka, karena tidak sedikit kasus kejahatan justu dilakukan oleh para penegak hukum.

Memang diantara TKW ada yang menggapai kesuksesan. Namun kesuksesan ini perlu dipelajari lebih dalam lagi mengingat banyak kasus yang terjadi bahwa TKW mendapatkan Uang tambahan karena ia memberikan “pelayanan” yang bagus buat sebut saja majikannya. Ini artinya, keberhasilan semacam itu adalah keberhasilan semu karena uang yang didapat bukan karena kecerdasannya dalam bekerja tapi dengan jalan pintas “menjual diri”.

Sikap menjual diri ini pada akhirnya menimbulkan opini publik dikalangan majikan bahwa TKW asal indo memang murahan. Akhirnya setiap TKW dari Indonesia dianggap murahan. Ini adalah sebuah generalisasi yang sangat merugikan, karena TKW yang baik pun kemudian harus menanggung stigma yang sama.

Saya lalu berfikir sejenak, bukan kah branding Islam menjadi terpuruk karena telah disalahgunakan oleh segelintir orang. Begitu juga nama TKW indonesia akan tercoreng dengan mudah hanya karena segilintir TKW yang ingin kaya dengan jalan pintas via “menjual diri”. Saya bertanya apakah sikap menjual diri ini sangat berkaitan dengan kebodohan, kekalutan dan pelarian karena telah dikhianati oleh pasangan dinegeri asalnya? Kasihan sekali.

Saya berfikir, kalau kesuksesan itu terjadi hanya karena ada “pelayanan khusus” dari seorang TKW buat majikannya, maka kesuksesan yang betul-betul murni dari kecerdasan dan keringatnya dalam bekerja sesuai profesinya sebagai pembantu rumah tangga, nampaknya menjadi hal yang sangat sulit.

Apalagi kalau kecenderungannya bahwa status mereka dianggap sebagai property milik mereka, keberadaan mereka akan lebih banyak harus larut dan tunduk dalam irama dan alur keinginan majikan. Kasihan sekali para TKW itu.

Saat TKW itu mengirimkan uang. Uangnya justru disalahgunakan sang suami untuk memenuhi aspirasi jangka pendeknya. Alangkah bodohnya jika TKW itu mengirimkan uangnya kepada suami yang dulu mengkhianati cintanya. Seakan-akan TKW itu tidak tahu tabiat asli suaminya. Doyan selingkuh. Sebuah sikap yang tidak jantan dan tidak bertanggung jawab. Alangkah piciknya jika selingkuh ini dilakukannya karena merasa dirinya jantan. Sebuah kesalahan paradigmatik yang kronis.

Saat TKW itu pulang, di perjalanan, ternyata dihadang pula oleh para calo dan pungutan sana sini. Anggapan bahwa orang yang baru pulang dari Saudi atau apapun negaranya pasti menggondol banyak uang ternyata sudah merasuk kuat dibenak para calo bandara.

Mereka tidak tahu kalau para  TKW itu harus menguras keringatnya bahkan selama 24 jam dalam ruangan yang begitu sumpek di isi sama tuan dan nyonya yang berlagak bak raja dimana titah dan suruhannya harus di gugu dan tidak boleh diganggu gugat setitikpun.

Apakah ketika keluar dari perangkap, para TKW itu harus pula dibebani dengan perangkap-perangkap lain? Apa kah ia harus dipungut uangnya hanya karena berlabel TKW? Sadarkah bahwa memungut uangnya sepeserpun adalah bentuk kejahatan baru? Tidak adakah cara lain untuk membahagiakan mereka? Bukankah lebih baik menyambut mereka senyuman dan memberikan selamat sebagai penghormatan atas jasa-jasa mereka dalam membantu devisa negara.

Nampaknya para TKW ini , kasihan yang jarang dikasihani.

Oleh karena itu, kasihanilah mereka dan berikanlah mereka pencerahan untuk membangun kehidupannya dikampung agar bisa mandiri dan menyadarkan tetangganya bahwa bekerja mandiri dengan penuh keuletan lebih enak daripada harus bekerja buat sang raja.

Karena diperjalanan menuju rumah raja pun banyak sekali duri-duri yang mengintai dan mencoba menusuk…..untuk menghindarinya duri-duri dalam diri harus lebih dulu ditumpas agar apapun yang terjadi didepan mata bisa diatasi dengan pikiran yang rasional, kuat dan matang. So, kasihanilah mereka dengan pendidikan akan dignity

Advertisements

12 Responses to "TKW, kasihan yang jarang dikasihani"

Saya sangat bersimpati kepada para TKW dan TKI pada umumnya. Salam saya bagi mereka semua, Ahmad. Mereka dalam doa saya.

Hi mba jennie, terima kasih sudah mampir ke blog ini, wah sebuah penghormatan yang begitu besar buat saya.hehehe..thanks banget atas simpati tulusnya…insyaAllah salamnya saya sampaikan buat mereka, paling tidak teman-teman saya. thanks and have a nice day.

Assalaamu ‘alaikum
Buat saya, istilah atau gelar pahlawan devisa kepada para TKW kita di luar negeri merupakan label yang ironis dan tidak selayaknya, mengingat perlidungan pemerintah kepada mereka masih belum selayaknya.

Melihat dan berkaca dari fakta, begitu banyaknya TKW/TKI yang mendapatkan perlakuan buruk dan tidak terlindungi secara hukum, selayaknya pemerintah mulai berfikir ulang untuk mengizinkan warga negara Indonesia (wanita) bekerja di luar negeri. Mungkin tidak perlu melarang, tapi membuat kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada mereka, demi keselamatan mereka dan kehormatan bangsa.

@Ram-Ram Muhammad.
Betul apa yang menjadi tekanan mas ram-ram bahwa perlu mengkaji ulang pengiriman TKW keluar negeri. Jadi harus ada semacam garansi kalau hukum benar-benar ditegakkan.

saya pikir, Indonesia harus tegas. Pastikan kalau orang
yang mau mengambil TKW itu harus diteliti trackrecordnya dalam artian, apakah majikan itu pernah tidak memberi gaji sama pembantu, atau apakah majikannya pernah mengganggu atau memukul pembantu…dan masih banyak lagi.
kalau memang diketahui trackrecordnya jelek dan tidak layak baik secara moral maupun secara finansial, ya bikin blacklist dan jangan diberi kesempatan yang kedua kalinya.

jadi selain law enforcement yang bagus, juga ketajaman yang bagus dalam menelisik data-data majikan agar mudah dibongkar jika terjadi kasus abuse terhadap pembantu.

anyway, thanks sudah mampir ke gubuk kebebasan ini.

Salam,
A’ Ahmad, thanks 4 your visit on my blog. It’s great to know you. Maaf jg baru sempat mampir ksini. It’s an impressive writing. I definitely agree with what you wrote. Beberapa hari yg lalu saya juga mendengar bahwa satu lagi TKW dari Indonesia dihukum pancung di Saudi. Saya sendiri tidak tahu bagaimana proses hukum disana. Tapi dugaan saya, Saudi terlalu gegabah menerapkan hukuman itu. Terlebih kalau yg menjadi korban adalah warga negara mereka. Setahu saya, hukuman qishash slama ini hanya diterapkan pada org2 luar Saudi, benarkah?
Memang pendidikan merupakan solusi terbaik. Karena tidak jarang juga yang menjadi TKW cuma beralasan ingin mencari pengalaman di luar negeri. Padahal seperti yg A’ Ahmad tulis, kenyataannya sama sekali tidak seindah yg dibayangkan..

@Bang Fathan.
Hi Bang Fathan, thanks for visiting my blog. it is a great thing to have a comment and fresh idea from your side. In English language, i am actually still learning. even though i am worker here (TKI), but learning is always important. “long life education” right?
Yang saya tahu bahwa orang-orang Non pribumi (outsider), dalam banyak hal tidak punya kekuatan dan kecerdasan. Kelemahan ini kemudian membuat outsider yang tidak paham betul bahasa arab, akan membuatnya dipihak yang disalahkan meskipun dalam posisi benar.
Barangkali saya tidak akan banyak mengekplorasi hal tersebut karena saya merasa tidak bebas untuk menyuarakannya. maklum kondisi disini, kebebasan berekspresi disini masih barang mahal. kritik adalah ancaman.
Saya sendiri sangat merasakan bahwa ada semacam rasisme bahkan rasa kesukuan yang kuat. bisa dikatakan juga blind nationalism. akibatnya, orang-orang yang diluar mainstrem kesukuan mereka akan menjadi bulan-bulanan meski dalam track yang benar. apalagi yang menjadi korban tuduhan adalah seorang TKW yang dianggap lemah, powerless habis.
anyway, thanks for fresh visiting my blog.

TKW, TKI, apapun namanya….adalah bukti nyata bahwa bekerja di Indonesia tidak selalu memberikan kesejahteraan bagi para pekerja, tidak ada kepastian hukum, rendahnya upah, dll.

bagi mereka yang merasa sudah tidak ingin meneruskan kehidupannya di Indonesia maka bekerja di luar negeri adalah salah satu pilihan yang Ahmad sebutkan sebagai pelarian karena ada masalah dengan suami misalnya.

bagi yang benar2 terpaksa maka daripada nganggur lebih baik berpisah sementara dengan keluarganya. tapi banyak juga yang tergiur karena mendengar kisah sukses pendahulu mereka di negeri orang, makanya jaman sekarang tambah sulit cari pembantu karena mereka lebih memilih jadi TKW.

emang kasian ma TKW yang nasibnya tragis. dengar2 dari TKW yang pernah kerja di luar, para TKW yang bermasalah itu rata2 emang kurang hati2 dalam bergaul, bersikap dan berpakaian. sedangkan bagi yang lurus dan baek2 aja hampir tidak menemukan masalah serupa. yah itu katanya doang, saya gak tau persis cuma emang masuk akal kalo masalah sering timbul dari diri kita sendiri ya?! salam

4Yonna.
Memang betul apa yang dikatakan mba Yonna bahwa permasalahan bisa muncul dari sikap TKW itu sendiri. seperti sunyam senyum didepan majikan, atau pakaiannya cenderung menggoda. Makanya, setiap TKW yang mau ke saudi, diwanti-wanti oleh orang PT bahwa jangan suka senyum didepan majikan atau anggota keluarga majikan yang berjenis laki-laki, karena bisa dianggap lampu hijau buat si majikan untuk meneruskan aksinya.
sesungguhnya ada segelintir TKW yang melakukan penyimpangan dengan cara menjual dirinya agar mendapatkan uang secara instant. nah segelintir orang inilah yang kemudian menimbulkan opini publik bahwa TKW asal indo memang murahan.
generalisai inilah yang sangat merugikan, sehingga tkw yang baik-baikpun dianggap murahan juga. meskipun generalisasi ini tidak akurat, tapi itulah yang terjadi.
personally, saya gak setuju kalo para suami membiarkan istrinya menjadi TKW karena itu sebuah paradoks. lalu dimana tanggung jawab suami terhadap istrinya? suami yang payah.kepengecutan itu ditunjukkan pula ketika uang istrinya yang TKW itu digunakan justru untuk “cheating”. memang tambah payah..heheheh
thanks mba atas second opinionnya.
ahmad

Wow, you have a great blog. Kayaknya udah bisa naro foto dan lagu yah.

TKW jelas pahlawan yang tidak diakui. Jauh-jauh bekerja di negeri orang tapi malah jadi korban pemerasan suami atau keluarga yang tidak bertanggung jawab. Kasihan sekali. Udah gitu mesti bayar pungli-pungli gak jelas lagi.

Salu buat para TKW.

4Tasa,
thanks for your great motivation to me. yes, i got the idea to put the song in my blog through my hard work to search it. finally i got it. hehehe..i am so happy.

iya sih, kok di Indonesia banyak sekali para suami yang cengeng dan kurang jantan. Masa sih dia membiarkan istrinya harus pergi menjadi TKW sementara dirinya tinggal dikampung, tidak mau bekerja keras. kebalik kali.

Jika benar-benar jantan, saya pikir, sang suami lah yang harus bekerja. kejantanan yang membuat suami harus bertanggung jawab terhadap istri.
tapi saya pikir, si istri juga gak baik kalau terlalu bergantung terhadap suami, karena situasi ketergantungan tidak akan memunculkan kreatifitas dan kemandirian. tapi saya pikir juga, profesi TKW terlalu berisiko…karena perlindungan hukum dan rasa aman masih terasa mahal.

karena sesungguhnya pengiriman TKW banyak dilihat dari orientasi bisnis saja, masalah proteksi hukum seringkali dikesampingkan……bahkan dilirik dengan mata sebelah..artinya pura-pura tidak tahu.
anyway, thanks for great opinion.

Assalamu ‘alaikum
Salam kenal…Saya ucapkan selamat kepada blog anda. Saya mantan TKI di Arab Saudi yang kini sudah menetap kembali di Indonesia. Yang bisa saya katakan, pengiriman TKW ke luar negeri adalah Model Trafficking terselubung yang legal….Pemerintah harus bertanggung jawab habis – habisan akan kehancuran moral sebagian TKW kita!!

Assalamu ‘alaikum
Salam kenal…Saya ucapkan selamat kepada blog anda. Saya mantan TKI di Arab Saudi yang kini sudah menetap kembali di Indonesia. Yang bisa saya katakan, pengiriman TKW ke luar negeri adalah Model Trafficking terselubung yang legal….Pemerintah harus bertanggung jawab habis – habisan akan kehancuran moral sebagian TKW kita!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: