Itsme231019

Orang Kampung dan Kampungan

Posted on: January 4, 2008

sumber :blog.miragestudio7.com

Saya sendiri berasal dari kampung, bagian perkampungan dari kota Bandung. Apakah saya yang dari kampung, lantas dengan sendirinya harus mendapat julukan kampungan?

Apa beda antara kampung dan kampungan? yang pertama adalah lebih menunjuk kepada geografis atau lokasi dimana seseorang tinggal. sementara yang yang kedua lebih menunjukkan suatu sikap yang “uncivilized” atau “uneducated” . bagaimana seseorang itu menyikapi sesuatu terlepas orang itu dari kota maupun desa.

Dari pemikiran diatas, orang kampung tidak tepat kalau dibilang kampungan hanya berdasarkan geografis. artinya orang kampung bisa saja lebih “ngota” ketimbang orang-orang yang hidup dikota ketika orang-orang kampung begitu respek dan simpati terhadap sesama.

Orang-orang yang tinggal dikota sebaliknya bisa saja lebih kampungan dari orang-orang kampung, jika orang-orang kota cenderung egois dan tidak punya respek baik terhadap sesama maupun terhadap alam.

Saya pun bertanya apakah korupsi yang terjadi di pusat-pusat kekuasaan itu bagian dari sikap kampungan? rasa-rasanya, praktek korupsi itu bukanlah praktek yang beradab, tapi justru jiji dan menjijikan. kalau korupsi itu praktek yang uncivilized, berarti pelaku-pelaku korupsi itu baik dikota maupun di desa, adalah orang-orang yang kampungan banget. Bisa jadi mobil mereka mewah, rumah mereka megah, tapi sayang dihasilkan dari mentalitas kampungan mereka.

Orang kampung jangan bersedih hati hanya karena tinggal di kampung. sebaiknya kampung kalian harus dikelola dengan sebaik-baiknya. Buanglah sampah pada tempatnya. Bangunlah jiwa-jiwa entrepreneur untuk para remaja desa agar menjadi generasi dengan karaktek yang tegas dan kuat, bukan generasi yang pintar mengeluh. kampung kalian harus bersih sebersih pikiran dan hati kalian. Bangun pula jiwa-jiwa kritis yang tidak mau dibodohi oleh orang-orang yang ngakunya pintar tapi justru membodohi.

Orang kampung dengan karakter yang metropolitan dan well-civilized, kenapa tidak?

ahmad, Riyadh 5/1/2008

Advertisements

12 Responses to "Orang Kampung dan Kampungan"

justru di kampung-kampung lah kita menemui orang-orang yang bersih dari korupsi dan masih memegang nilai-nilai moral secara kuat. setuju, orang kampung yang metropolis, civilized, globalized but localized…. kenapa tidak!!!

lady dayeuh tea 🙂

for Mer (lady dayeuh)
hi gimana kabarnya lady dayeuh…semoga sehat ya.
memang sih sejatinya orang-orang kampung itu masih memegang nilai-nilai moral yang kuat sehingga bersih dari praktek korupsi..tapi ada juga yang kena gempuran budaya dimana korupsi dianggap hal yang biasa..tentu saja pelakunya secara tidak tertulis mendapatkan branding yang gak bagus setidaknya dibenak masyarakat.
ya mudah-mudahan dengan sosialisasi nilai-nilai hidup bermartabat, kampung menjadi komonitas yang memiliki kekuatan moral yang bagus.
anyway, thanks for nice comment and support nya

kasian yang jadi orang kampung….konotasi makna perilaku negatif norak disebut dalam kosakata “kampungan” hehe :mrgreen:

istilah kampungan juga berarti berpikiran sempit, tertutup pada hal baru dan perubahan, tidak mentoleransi perbedaan (karena terbiasa hidup dalam masyarakat homogen) dan masyarakatnya tidak hi-tech. ini berlaku universal, karena dimana2 yang namanya warga kota besar dan warga kota kecil atau desa pasti punya perbedaan karakter secara antropologi, bahkan di Amrik sendiri juga gitu. jadi kampungan juga bisa ditujukan buat orang bule2 tsb.

untuk manner, sopan santun, etika, kedewasaan, mandiri, kreatif, sikap tau diri, dll emang udah jadi stereotype positif orang desa. mungkin karena terbiasa berhadapan dengan keterbatasan fasilitas dan sarana sehingga menjadikan mereka sebagai pribadi yang tangguh dan tidak gampang menyerah, bagi yang menginginkan kehidupan lebih baik merantau ke kota besar adalah pilihan favorit.

meski saya anak jakarta tulen karena lahir dan besar di sini, saya bisa merasakan ketidaknyamanan anak2 luar Jakarta ketika mendengar istilah kampungan…apalagi saat mereka pindah ke jakarta dan mendapat perlakuan tidak enak misalnya.

saya pernah menulis tentang karakteristik anak jakarta, mungkin masih berhubungan dengan artikel ini

http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/12/28/karakteristik-anak-jakarta/

jangan lupa berkunjung ke artikel di atas ya hehehe…salam

4Yonna.
Hi mba yona, saya pikir dibanding kota, orang-orang dipedesaan masih sulit dijangkau internet atau telepone, meskipun beberapa desa sudah terjangkau. tapi saya juga bertanya apakah kampungan atau tidak kampungan sangat bergantung dari bagaimana menggunakan hi-tech?
saya pikir, tidak juga sih, bisa saja orang kampung gak bisa menjalankan komputer atau internet dengan baik, tapi dia respek terhada sesama dan alamnya. saya pikir, secara etika, orang kampung tersebut metropolitan dan educated, karena edutaced dalam pikiran saya bukan saja pandai membuat program komputer atau ahli science tapi bagaimana ia berkarakter dengan baik terhadap sesama manusia dan alam.
bukankah tidak sedikit orang yang ilmunya segudang,tapi justru untuk membodohi orang lain yang dianggapnya lemah dan karenanya bisa dilemahkan.
anyway, thanks for comment, stimulating comment. great.
ahmad (tki) from bandung

halo ahmad (ahmad ya namanya, kirain ismi hehe maksutnya itsme ya maklum lah salah baca :mrgreen: )

bener banget Mad, orang kota cuma nyekolahin otaknya doang tapi kelakuan, lidah dan jiwanya gak disekolahin sehingga meski pintar secara intelegensia/otak tapi kelakuannya…astaghfirullah caur tenan :mrgreen:

mending kalo otaknya pinter, ini udah otak payah, kelakuan parah, ngomong sembarangan…wah wah kasian banget itu orang, gak dididik apa ya? na’udzubillah anyway 🙂

tapi gak semua orang dari kampung diunderestimate kok, jika dia cerdas, pandai membawa dirinya, dll pasti orang sekelas pejabat pun akan respek ma dia. kembali ke pribadi masing2 sih ya….kalo mengenai asal usul kita itu udah nasib hehe maksutnya ada yang dilahirkan di kota besar dan ada yang dilahirkan di kampung, tergantung tempat tinggal orang tua kita ya?! selanjutnya berpulang pada kemauan kita untuk maju….thanks salam

4YONNA.
Hai mba yonna, menarik juga ngobrol bersama mba yonna,heheh. mudah-mudahan bisa menjadi ajang belajar berdiskusi.
mengenai karakter, saya kira bukan berkaitan dengan mendapatkan pendidikan atau tidak, tetapi bagaimana pendidikan itu dijalankan. maksud saya, bisa saja orang mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya, tapi terisolasi kehidupannya dari kehidupan sosial. ia cenderung individualistik dengan keilmuannya.sebaliknya, ada juga yang tidak mendapatkan pendidikan formal, tapi ia punya kepedulian sosial yang bagus. adalah sebuah idealitas jika intelektualnya bagus, moralnya bagus, sense of socialnya pun tinggi.
thanks atas komentarnya.
ahmad

Iya kayanya maksut ku dan maksut mu sama deh….artinya pendidikan secara integral bukan?! multiple inteligent istilah sekarangnya.

bagaimana pendidikan itu dijalankan…hmmm ya, mengamalkan ilmu yang kita peroleh ke kehidupan sehari2.

kayanya sih ya, sikap rendah hati adalah sikap sederhana tapi mahal…waktu itu orang susah maka gak sulit mgkn bersikap rendah hati karena masih butuh dan tergantung dgn bantuan orang lain, ntar giliran senang dan berkecukupan udah belagu deh karena keadaannya sekarang dia yang dibutuhkan dan diandalkan orang, jadi yang membedakan kampungan dan gak kampungan adalah sikap rendah hati yach?!

dua perilaku yang berbeda ternyata hanya dipisahkan oleh satu sikap rendah hati yach?!

makasih buat komentarnya yang inspiring 🙂

4Yonna.
Rendah hati bisa juga diartikan tawadhlu. artinya meskipun orang itu berilmu, tapi tidak sombong dengan keilmuannya. atau dia kaya, tapi tidak belagu dengan kekayaannya.
rendah hati membuat orang tersebut memperlakukan orang lain secara egaliter betul gak? jadi artinya punya simpati dan emphati juga.
Mba, thanks for fresh comment from you.

Iya Ahmad…aku yakin sih kalo kampungan dan gak kampungan adalah ada/tidaknya sikap rendah hati alias tawadhu pada pribadi orang tsb.

Gimana ya….menurut aku sikap rendah hati adalah sikap yang sangat aku suka. Aku kagum sama orang2 besar dan sukses yang rendah hati, jadi cerminku juga apakah aku juga sudah rendah hati atau belum?

Kadang2, sifat ini -saking mahalnya- baru bisa dimiliki seseorang setelah dia merasakan betapa kerasnya hidup dan mencari uang. Mungkin selama ini dia tidak dididik bersifat rendah hati oleh keluarga dan lingkungannya atau udah dididik tapi gak mempan, akhirnya dunia luar lah yang mendidiknya….kalo kurang ajar ya pasti diajarin ya hehe.

Kadang saya suka risih dan malu sendiri liat orang kampungan atau tidak rendah hati….baik dia orang kaya, terpelajar dan banyak temennya tapi belagunya semilyar atau orang biasa tapi belagunya setriliyun hehe. apalagi kalo dia narcis, gila hormat, gila pujian, gila pengakuan, suka maksain pendapat, paling bener sendiri, dll haduuuhh males berakrab2 ria ma orang spt itu…mending say hello aja deh.

Kadang ada orang yang mengartikan bahwa rendah hati adalah rendah diri, menunjukkan kelemahan diri kita dan pantang dimiliki karena bisa menurunkan harga diri, kehormatan/marwah, wibawa/izzah, nama baik, dllnya dia. Padahal dengan bersikap sombong justru dia malah menjatuhkan kehormatan dirinya sendiri…he looks silly with that kind attitude. Apalagi kalo dia suka merendahkan orang lain sebagai usaha menaikkan harga dirinya…tambah ancur :mrgreen:

Intinya, saya yakin dan setuju bahwa kampungan itu erat kaitannya dengan sifat tidak rendah hati. Na’udzubillahimindzalik…salam, senang ngobrol ma Ahmad

4Yonna.
dalam benak saya, rendah hati dan rendah diri merupakan dua topik yang berbeda. rendah hati lebih menunjuk ke proses mental dimana kedewasaan dan kematangan sikap benar-benar terjadi.

sementara rendah diri menunjuk kepada proses mental dimana potensi dirinya dinegasikan sehingga selalu melihat pihak luar dengan serba wah dan serba hebat, mirip ketika si A berkata bahwa si B uangnya banyak, mobilnya banyak, pasti hidupnya enak.

padahal konsepsi itu dibangun diatas ilusi si A, karena meskipun si B punya banyak uang,tidak ada jaminan kalau hidupnya tenang. pandangan inilah yang kemudian membuat si A minder disertai rasa iri. jadi memang, rendah diri itu sinonim dengan pesimis, jadi takut kalah dan takut salah sebelum bertanding dan bermain, sehingga rasa takut inilah yang membuat dirinya berputar-putar dalam kubangan kemunduran dan kejumudan.

sikap rendah hati membuat si miskin sadar bahwa bekeja keras dengan penuh kejujuran adalah proses untuk menggapai kehidupan sejahtra, demikian juga sikap yang sama akan membuat sikaya sadar bahwa dirinya adalah makhluk sosial yang harus berempati dengan sesama agar jurang sosial simiskin dan sikaya tidak terjadi.

kalau ternyata si kaya cuma bisa belagu dan show kekayaan justru ditengah-tengah orang miskin, saya tidak tahu dimana hati nuraninya disimpan?
but anyway, thanks sudah menstimulasi otak saya…heheheh.
ahmad

iya Ahmad, i wish orang2 seperti Ahmad banyak di dunia duuhh betapa bahagianya saya 🙂

sementara mgkn kita harus memastikan bahwa diri kita bukanlah termasuk golongan kampungan tsb. percuma juga kesel prihatin ma sifat kampungan tapi ternyata eh ternyata diri kita jugak kampungan…capeee deh :mrgreen:

eh ya jumud apa deh…dulu pernah dengar tapi lupa lagi hehe…kayanya bisa belajar bahasa Arab nih ma Ahmad…Arab slank aja Mad jangan yang susah2 ya hehe…salam, thanks 🙂

forYonna. jumud itu berasal dari kata mujammad yakni membatu alias tidak cair. ya banyak sekali bahasa indonesia yang merupakan serapan dari bahasa arab. mungkin itu bisa disebut dengan culture assimilation, betul gak?
betul apa yang dikatakan mba Yonna, bahwa ketika kita berbicara tentang karakter kampungan, maka sikap kita juga harus seimbang dengan apa yang diucapkan. harus autentik, yakni harus bersih atau paling tidak belajar untuk tidak kampungan.
terus ada yang bilang kalau ada kampungan, kenapa rasa-rasanya gak ada istilah kotaan? hehehe…gimana tuh.
mungkin istilah yang enaknya “ngota” artinya edutaced atau bahasa sundanya “nyakola”.
Mba Yonna, Thanks atas second opinionnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: