Itsme231019

Archive for January 2008

Ketika mendengar kabar bahwa Pak Suharto Meninggal, Entah kenapa kok perasaan saya biasa-biasa saja. Tapi ketika saya mendengar bahwa Benazir butto meninggal, saya langsung mencari kabar kenapa dia meninggal.

Benazir butho tidak ada kaitan banyak dengan Indonesia, tapi perhatian saya kepadanya lebih cepat ketimbang ketika Pak Suharto meninggal. Entah kenapa ?

Saya tahu bahwa benazir butto adalah orang yang mendukung demokrasi. Sementara sejarah Pak Suharto penuh dengan repressi dan kediktatoran terhadap siapapun yang kontras dengan arus pemerintahannya.

Waktu kecil ketika menonton film G30S-PKI, saya melihat Pak Harto itu sebagai pahlawan karena telah menumpas PKI yang dianggap sebagai musuh bangsa. Namun, persepsi saya pun berevolusi karena sejarah yang dibikin ternyata belum tentu murni karena terdapat kepentingan didalamnya. Sebuah kepentingan yang belum tentu menyuburkan kesejahtraan rakyat banyak. Pendek kata, kepentingan sempit.

Kini Pak Suharto telah meninggal. Saya tahu Allah maha pemaaf bagi hamba-hambanya yang mau bertaubat.

Ketika saya berada di KBRI Riyadh, saya tidak melihat nuansa apa-apa diwajah anak bangsa. Sepertinya mereka tidak begitu menghiraukan bahwa bekas presiden mereka meninggalkan mereka. Mereka sibuk dengan kegiatan hariannya.

Barangkali banyak sekali anak bangsa yang merasa tidak diperhatikan sama bapaknya, karena ada segelintir anak bangsa yang dianak emaskan, dimanja, bahkan diberikan kebebasan sepenuh-penuhnya untuk berbuat sesuka hati, sehingga menimbulkan kecemburuan besar terhadap anak bangsa lainnya. So, kenapa pilih kasih?

Saya yakin pada detik ini, ada anak bangsa yang berlimpah ruah dengan kekayaannya, tapi juga dipojok yang lain, ada kelompok anak bangsa yang kondisinya sangat memprihatinkan.

Jika saja sekelompok anak bangsa yang beruntung bersedia menyelami denyut nadi sesama saudaranya yang terhimpit, itu saja ada sebuah ikatan emosional bahwa kita sama-sama anak bangsa yang harus saling bahu membahu dan bukan saling sikut dan saling menjungkirkan.

Bagaimana ingin menjadi bangsa besar, kalau semangat saling menjungkirkan dan mengekploitasi yang lemah masih saja memenuhi batok kepala kita.

Mungkinkah Indonesia Maju.

housemaidsumber : http://www.wakefield.gov.uk 

TKW adalah Tenaga Kerja Wanita. Atau TKP alias Tenaga Kerja Perempuan. Ya, Indonesia hingga detik ini masih rajin mengirimkan TKW ke luar negeri. Karena memang menghasilkan keuntungan buat negara. Penomena TKW ini juga terjadi karena di negeri asalnya, mereka para TKW sulit sekali mendapatkan pekerjaan. Kalau pun harus bekerja, tidak lepas dari pungutan liar yang tidak rasional. Pekerjaan TKW barangkali menjadi alternatif terakhir.

Saya ingin bereksplorasi dengan penyebab lain kenapa wanita menjadi TKW. Ternyata ada motif lain dari kepergian seorang perempuan menjadi TKW. Karena suaminya mengkhianati cintanya, sang istri menjadikan profesi TKW diluar negeri sebagai pelarian.

Jadi ada semacam pengkhiatan baik dari negara yang sepaputnya memberikan lapangan pekerjaan buat mereka, maupun dari sang suami (atau pacar) yang sepatutnya memberikan kesetiaan yang baik buat istrinya (pacarnya). Jadi hanya sebuah pelarian dari masalah yang dihadapi.

Motif yang lain berkaitan dengan aktualisasi diri. Mereka ingin menunjukkan kalau dirinya bisa bekerja mencari nafkah dengan cara menjadi TKW. Aktualisasi diri ini anehnya, justru ditempatkan pada ruangan dimana ia tidak akan bisa bergerak dengan bebas, karena menjadi TKW sesungguhnya sudah terperangkap dalam alur keinginan majikan.

Aktualisasi diri telah salah ditempatkan sehingga membiarkan diri terperangkap dalam sistem yang memborgol dirinya. Atas nama aktualisasi diri, mereka tak jarang menolak nasehat bijak orang tuanya. Akarnya adalah sikap gegabah, sok tahu dan tidak mau tahu.

Bisa jadi profesi TKW di luar negeri karena faktor “paksaan” dari pihak otoritas dalam keluarga. Yakni orang tua. Mereka memperalat anaknya untuk menghasilkan uang buat membantu ekonomi keluarganya.

Atau juga pihak suami yang memperalat istrinya untuk memproduksi uang buat menopang ekonomi keluarga. Kenapa sih orang tua tidak bertanggung jawab untuk melindungi anaknya dari marabahaya dan kenapa juga si suami tidak peduli sama istrinya. Boboraah ngasih kesetiaan, yang ada justru mengkhiataninya dan menjualnya.

Orang-orang yang gegabah, sok tahu, kalut, tertekan,  dan terkhianati adalah orang-orang yang menderita meskipun yang lebih menderita lagi adalah mereka-mereka yang menyebabkan penderitaan buat orang lain.

Dalam kondisi kekalutan ini, mereka kemudian menjadi target empuk bagi calo-calo yang berkeliaran mencari mangsanya. Gayung pun bersambut. Iming-iming dan impian-impian dimunculkan lalu dimasukkan dalam benak mereka.

Disinilah akan terjadi mata rantai tarik menarik kepentingan yang besar sehingga pengiriman TKW tidak akan berhenti, cenderung diawetkan dan disuburkan. Kebodohan, kemiskinan akan menjadi komoditas bisnis bagi mereka yang cerdik tapi licik.

 

Jika berbicara tentang kondisi TKW, maka juga berbicara tentang risiko yang terjadi. Menjadi TKW, tentu saja disana ada impian dan harapan agar ekonomi keluarga membaik. Namun harapan ini tidak selalu mulus, karena tidak sedikit kenyataan yang dihadapi justru sebaliknya. Hak-hak mereka seringkali dicibirkan bahkan diekploitasi.

Mereka para TKW tidak tahu harus pergi kemana, karena proteksi hukum pun ternyata sesuatu yang sangat mahal sekali buat mereka. Mereka juga mungkin tidak terlalu yakin kalau pihak yang memberi rasa keadilan bisa memberi rasa keadilan buat mereka, karena tidak sedikit kasus kejahatan justu dilakukan oleh para penegak hukum.

Memang diantara TKW ada yang menggapai kesuksesan. Namun kesuksesan ini perlu dipelajari lebih dalam lagi mengingat banyak kasus yang terjadi bahwa TKW mendapatkan Uang tambahan karena ia memberikan “pelayanan” yang bagus buat sebut saja majikannya. Ini artinya, keberhasilan semacam itu adalah keberhasilan semu karena uang yang didapat bukan karena kecerdasannya dalam bekerja tapi dengan jalan pintas “menjual diri”.

Sikap menjual diri ini pada akhirnya menimbulkan opini publik dikalangan majikan bahwa TKW asal indo memang murahan. Akhirnya setiap TKW dari Indonesia dianggap murahan. Ini adalah sebuah generalisasi yang sangat merugikan, karena TKW yang baik pun kemudian harus menanggung stigma yang sama.

Saya lalu berfikir sejenak, bukan kah branding Islam menjadi terpuruk karena telah disalahgunakan oleh segelintir orang. Begitu juga nama TKW indonesia akan tercoreng dengan mudah hanya karena segilintir TKW yang ingin kaya dengan jalan pintas via “menjual diri”. Saya bertanya apakah sikap menjual diri ini sangat berkaitan dengan kebodohan, kekalutan dan pelarian karena telah dikhianati oleh pasangan dinegeri asalnya? Kasihan sekali.

Saya berfikir, kalau kesuksesan itu terjadi hanya karena ada “pelayanan khusus” dari seorang TKW buat majikannya, maka kesuksesan yang betul-betul murni dari kecerdasan dan keringatnya dalam bekerja sesuai profesinya sebagai pembantu rumah tangga, nampaknya menjadi hal yang sangat sulit.

Apalagi kalau kecenderungannya bahwa status mereka dianggap sebagai property milik mereka, keberadaan mereka akan lebih banyak harus larut dan tunduk dalam irama dan alur keinginan majikan. Kasihan sekali para TKW itu.

Saat TKW itu mengirimkan uang. Uangnya justru disalahgunakan sang suami untuk memenuhi aspirasi jangka pendeknya. Alangkah bodohnya jika TKW itu mengirimkan uangnya kepada suami yang dulu mengkhianati cintanya. Seakan-akan TKW itu tidak tahu tabiat asli suaminya. Doyan selingkuh. Sebuah sikap yang tidak jantan dan tidak bertanggung jawab. Alangkah piciknya jika selingkuh ini dilakukannya karena merasa dirinya jantan. Sebuah kesalahan paradigmatik yang kronis.

Saat TKW itu pulang, di perjalanan, ternyata dihadang pula oleh para calo dan pungutan sana sini. Anggapan bahwa orang yang baru pulang dari Saudi atau apapun negaranya pasti menggondol banyak uang ternyata sudah merasuk kuat dibenak para calo bandara.

Mereka tidak tahu kalau para  TKW itu harus menguras keringatnya bahkan selama 24 jam dalam ruangan yang begitu sumpek di isi sama tuan dan nyonya yang berlagak bak raja dimana titah dan suruhannya harus di gugu dan tidak boleh diganggu gugat setitikpun.

Apakah ketika keluar dari perangkap, para TKW itu harus pula dibebani dengan perangkap-perangkap lain? Apa kah ia harus dipungut uangnya hanya karena berlabel TKW? Sadarkah bahwa memungut uangnya sepeserpun adalah bentuk kejahatan baru? Tidak adakah cara lain untuk membahagiakan mereka? Bukankah lebih baik menyambut mereka senyuman dan memberikan selamat sebagai penghormatan atas jasa-jasa mereka dalam membantu devisa negara.

Nampaknya para TKW ini , kasihan yang jarang dikasihani.

Oleh karena itu, kasihanilah mereka dan berikanlah mereka pencerahan untuk membangun kehidupannya dikampung agar bisa mandiri dan menyadarkan tetangganya bahwa bekerja mandiri dengan penuh keuletan lebih enak daripada harus bekerja buat sang raja.

Karena diperjalanan menuju rumah raja pun banyak sekali duri-duri yang mengintai dan mencoba menusuk…..untuk menghindarinya duri-duri dalam diri harus lebih dulu ditumpas agar apapun yang terjadi didepan mata bisa diatasi dengan pikiran yang rasional, kuat dan matang. So, kasihanilah mereka dengan pendidikan akan dignity

sumber :blog.miragestudio7.com

Saya sendiri berasal dari kampung, bagian perkampungan dari kota Bandung. Apakah saya yang dari kampung, lantas dengan sendirinya harus mendapat julukan kampungan?

Apa beda antara kampung dan kampungan? yang pertama adalah lebih menunjuk kepada geografis atau lokasi dimana seseorang tinggal. sementara yang yang kedua lebih menunjukkan suatu sikap yang “uncivilized” atau “uneducated” . bagaimana seseorang itu menyikapi sesuatu terlepas orang itu dari kota maupun desa.

Dari pemikiran diatas, orang kampung tidak tepat kalau dibilang kampungan hanya berdasarkan geografis. artinya orang kampung bisa saja lebih “ngota” ketimbang orang-orang yang hidup dikota ketika orang-orang kampung begitu respek dan simpati terhadap sesama.

Orang-orang yang tinggal dikota sebaliknya bisa saja lebih kampungan dari orang-orang kampung, jika orang-orang kota cenderung egois dan tidak punya respek baik terhadap sesama maupun terhadap alam.

Saya pun bertanya apakah korupsi yang terjadi di pusat-pusat kekuasaan itu bagian dari sikap kampungan? rasa-rasanya, praktek korupsi itu bukanlah praktek yang beradab, tapi justru jiji dan menjijikan. kalau korupsi itu praktek yang uncivilized, berarti pelaku-pelaku korupsi itu baik dikota maupun di desa, adalah orang-orang yang kampungan banget. Bisa jadi mobil mereka mewah, rumah mereka megah, tapi sayang dihasilkan dari mentalitas kampungan mereka.

Orang kampung jangan bersedih hati hanya karena tinggal di kampung. sebaiknya kampung kalian harus dikelola dengan sebaik-baiknya. Buanglah sampah pada tempatnya. Bangunlah jiwa-jiwa entrepreneur untuk para remaja desa agar menjadi generasi dengan karaktek yang tegas dan kuat, bukan generasi yang pintar mengeluh. kampung kalian harus bersih sebersih pikiran dan hati kalian. Bangun pula jiwa-jiwa kritis yang tidak mau dibodohi oleh orang-orang yang ngakunya pintar tapi justru membodohi.

Orang kampung dengan karakter yang metropolitan dan well-civilized, kenapa tidak?

ahmad, Riyadh 5/1/2008