Itsme231019

Pendidikan, Komersialisasi dan kejumudan

Posted on: December 28, 2007

education should encourage critical thinking

Kemajuan dan kemunduran suatu bangsa sangat bergantung pada sejauhmana bangsa tersebut concern terhadap pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan merupakan investasi masa depan sehingga perhatian terhadapnya menjadi keniscayaan. Bukan saja perhatian dari negara tapi juga dari berbagai elemen dalam sebuah bangsa.

Kalau melihat pendidikan di Indonesia, saya sendiri belum merasa bangga. Pendidikan di Indonesia masih terasa mahal sehingga hanya orang-orang yang memiliki kemampuan finansial cukup lah yang kemudian bisa menikmati pendidikan. Dari sini, dunia pendidikan menunjukkan motif komersialnya.

Selain itu, pendidikan yang seharusnya menghasilkan lulusan-lulusan yang cerdas secara emosional dan intetektual, pada kenyataannya tidak sedikit justru malah memproduksi lulusan yang ketika mendapat posisi di pemerintahan larut dalam kubangan sistem yang korup. Ini menunjukkan bahwa pendidikan masih gagal dalam membangun manusia seutuhnya, baik utuh secara intelektual maupun utuh secara nurani (emosional spiritual).

Nampaknya tidak ada salahnya kita mencoba mengunjungi kembali pemaknaan pendidikan sehingga kita mendapatkan esensi dari pendidikan untuk landasan kesadaran kita. Secara etymology pendidikan yang padanan bahasa inggrisnya education memiliki pengertian berikut ini :

The Word “Education” Derives From The Latin Educare, Meaning “To Nourish” Or “To Raise” Which Is Also Related To Educere Meaning “To Lead Out.”( http://en.wikipedia.org/wiki/Education)

Dengan demikian, pendidikan merupakan proses pembanguan (to raise) kepribadian atau karakter. Tentu saja karakter yang ingin dibangun adalah karakter yang baik. Dengan demikian, pendidikan adalah pondasi bagi bangunan karakter seseorang sehingga orang itu menjadi baik dan shaleh.

Berdasarkan pemaknaan pendidikan diatas, rasanya pendidikan di Indonesia masih perlu pembenahan secara internal, sehingga antara visi dan misi pendidikan bisa berintergasi dan berkorelasi kuat dengan proses pendidikan itu sendiri.

Di sisi lain, pendidikan kalau tidak dikelola dengan baik justru akan melahirkan kejumudan dan bukan pencerahan. Pendidikan adalah sebuah proses. Jika dalam prosesnya banyak sekali penjejalan dogma-dogma tanpa memberikan dan menstimulasi kebebasan dan justru membunuh rasa ingin tahu, maka pendidikan telah di salahgunakan (abuse).

Kondisinya akan menjadi kompleks ketika proses pendidikan dijalankan dengan gaya diktator dan dianggap sebagai alat untuk mendisiplin anak. Kondisi seperti ini justru akan menghasilkan orang-orang yang tidak punya karakter kuat, pasif, penakut dan pengecut. Sebuah karakter yang kontradiktif dengan tujuan pendidikan itu sendiri.

Sekali lagi, tanpa kesadaran akan esensi pendidikan, maka pendidikan selain akan menjadi komoditas bisnis sehingga hanya bisa dinikmati oleh kalangan the have dan kemudian menghasilkan lulusan yang kapitalistik tetapi juga menjadi alat untuk membodohi rakyat sehingga melahirkan orang-orang yang tidak sadar kalau dirinya tidak tahu.

Harapan saya, sebaiknya subsidi negara buat pendidikan terutama untuk rakyat kecil semakin diperluas dan juga dikelola dengan baik sehingga tidak membuka celah-celah penyalahgunaan dana.

Sistem pendidikan juga nampaknya perlu direformasi sehingga pendidikan betul-betul diciptakan untuk memberikan pencerahan, critical thinking, dan pembangunan karakter. Pendidikan diciptakan bukan untuk menghasilkan orang-orang mata duitan tapi justru untuk menghasilkan orang-orang yang bisa berkontribusi untuk manusia yang selama ini tergilas dan dibodohi terus.

Bisakah pendidikan kita membangun karakter yang hebat dan cerdas nurani dan intelektualnya?

Advertisements

9 Responses to "Pendidikan, Komersialisasi dan kejumudan"

Kalau saja…. Bapk Presiden dan kabinetnya, anggota dewan yang terhormat dan seluruh pejabat pemerintahan yang punya gaji gede, mau dengan ikhlas dikurangi gajinya, kemudian dananya dialihkan ke pendidikan, ya… mungkin pendidikan di Indo akan lebih baik.

4Nin.
Memang hal demikian merupakan tindakan mulia dan salah satu faktor dari sekian faktor bagi kemajuan pendidikan. Tapi apakah itu mungkin terjadi demi kemajuan pendidikan di negeri ini? itu sangat terpulang sama hati dan kemurahan mereka. yang penting, masing-masing dari kita juga harus terus melakukan perubahan positif itu. jadi kita harus menjadi yang terbaik, apapun kemampuan kita. tentu saja dalam bingkai yang positif. jika kita tukang nulis, nulislah yang terbaik, jika kita tukang masak, jadilah tukang masak yang terbaik. kalau kita bergantung bahwa perubahan itu dari pemerintah, rasanya sulit sekali. kita harus melakukan perubahan itu.
thanks atas komentarnya

nuhun pisan tos ameng ka bumi abdi.
wilujeng tepang taun, kang!

4 ladydayeh, sami-sami. pami ti bandung menuju ka bumi, abdi sok pasti ngalangkungan dayeh..abdi keudah nyebatkeun “punten ngalangkung” hehehe…nuhun oge tos berkunjung ka blog. wilujeung tahun anyar 2008.

Ahmad, nice arricle,

Dari segi kedalaman dan kelengkapan materi/mata pelajaran tingkat awal, Indonesia pada level tertentu melebihi negara maju. Yang menjadi masalah adalah ketidak-fokusan, ketidak-relevansian dalam kaitannya dengan jenis ketrampilan yang dibutuhkan dan cara penyampaian yang tidak kondusif.

Hal ini bertentangan dengan negara maju, sebutlah AS. Di negara Paman Sam ini, cara penyampaian mata pelajaran dibuat sedemikian rupa (antara lain se-rileks mungkin) sehingga murid bisa menyerap pengetahuan sebanyak mungkin.

Selain itu yang paling saya sukai adalah program “show and tell”. Dalam proram ini setiap murid boleh membawa apa saja yang ia punyai, termasuk mahluk hidup dan manusia. Sang murid akan maju ke depan kelas, menunjukkan apa yang ia bawa, menceritakannya ke pada teman kelasnya. Setelah itu semua teman boleh bertanya. Di sinilah terjadi pelatihan bagaimana berpikir sistematis, jelas dan berargumen yang baik.

Program ini juga baik untuk menumbuhkan rasa saling menerima perbedaan, sehingga tidak memacu rasa cemburu dan benci.

Setiap penerimaan rapor/report, guru, murid dan orang tua duduk selama satu jam untuk membahas perkembangan murid. Metode yang lazim dipakai adalah analisa SWOT (strength, weakness, opportunity, threat). Jadi orang tua tau betul di mana kelemahan, kelebihan dan bidang mana yang akan diperbaiki.

for Mas Beni.
saya setuju sekali dengan metode pengajaran seperti itu. “show and tell” yang berarti menunjukan dan menceritakan. Mas Beni, insyaAllah deh kalau saya suatu saat terjun untuk berinteraksi dengan anak-anak dikampung saya dalam format proses pembelajaran, saya ingin sekali mengadopsi dan mengembangkan metode tersebut.
kalau tidak salah metode tersebut bagian constructivism, dimana si murid dikasih ruang untuk mengekplorasi pengalaman nya sendiri dan ini juga berarti memberikan perspektif baru buat murid-murid yang lain. dengan demikian pola pengajaran demikian akan memperkaya perspektif murid-murid yang terlibat.
Mas Beni, thanks for great input of your observation and experience.

halo itsme231019….

kayanya belum ada ya….saya nambahin deh….dakwah bilhal aku rasa adalah metode pendidikan yang paling ampuh, efektif dan tepat sasaran. mgkn termasuk show and tell ya, mirip2…

selain pendidikan juga harus ada kontrol sosial…kalo gak, pendidikan gak mgkn jalan dengan bener kalo gak ada kontrol sosial 🙂

salam, nice thought

4Yonna.
mba Yona, gimana kabarnya? semoga tetap sehat.
dalam pendidikan, memang model atau keteladanan dari pihak pendidik memang sangat perlu sekali. saya kira, memberikan model yang bagus adalah juga dakwah bilhal, artinya dakwah bukan sekadar kata-kata, tapi juga aksi nyata. dan itu lebih kuat ketimbang manis dimulut tapi diterjemahkan kedalam tindakan.
saya pikir, dakwah bilhal ini adalah juga dakwah sosial.
berbicara tentang kontrol sosial, memang sangat diperlukan seperti halnya kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan. karena bisa saja terjadi dalam dunia pendidikan apa yang disebut dengan academic dishonesty atau intellectual crime (kejahatan intelektual), seperti mencontek, plagiasi dsb. nah kontrol sosial menjadi perlu agar borok-borok pendidikan bisa dibasmi.
thanks mba yonna for visiting my blog.
ahmad (saudi arabia) tki from bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: