Itsme231019

Penyegaran Pemahaman di Perkampungan

Posted on: December 17, 2007

Di kampung saya di Bandung, rasanya masih sulit untuk menemukan activist yang bergerak menyebarkan islam yang membebaskan. Sebaliknya, activist yang punya pandangan bahwa islam merupakan the way of life, banyak sekali. Dalam pemikiran mereka, islam bukan saja masalah agama, tapi juga masalah politik dan kenegaraan.

Terus saya pikir, kenapa kok activist yang beraliran moderat dalam berislam sangat sulit dijumpai. Kebanyakan activist yang berada di kampung, pandangan mereka hampir literal semua.

Pertanyaan saya juga adalah, kalau saja Islam moderat (untuk tidak mengatakan liberal) dianggap membebaskan, lantas islam yang tidak moderat (sebut saja islam fundamentalis) tidak membebaskan?

Saya mencoba menganalisis keduanya dari konstruksi subyektif saya. Bagi islam moderat, keberagamaan seseorang bisa berpijak pada pendekatan yang rasional terhadap pesan-pesan ajaran yang dianutnya.

Dengan demikian, pendekatannya tidaklah tekstual, tapi kontekstual. Karena bagi kelompok moderat ini, islam tidak tercipta dalam ruangan hampa, melainkan hidup dinamis dalam ruang kesejarahan tertentu. Dengan demikian, pola yang pertama ini lebih sesuai dengan rasionalitas dan karenanya membebaskan akal dari kejumudan.

Namun bagi kelompok yang kedua, pendekatan mereka terhadap agama sangat tekstual alias literal. Apa yang tertera dalam kita suci, itulah yang menjadi dasar pemahaman mereka. Dengan demikian, ruang-ruang sejarah dari pesan-pesan keagamaan dipersempit karena titik tekannya pada makna tekstualnya.

Dengan demikian, pola yang kaku dalam memahami agama seperti yang kedua ini tidak kreatif dalam memahami agama, sehingga disebut tidak membebaskan. Pikirannya terkungkung oleh teks.

Lalu, kenapa di kampung saya tidak ada activist yang mengusung islam yang membebaskan ini? Dan kenapa pula yang ada justru activist yang mengusung islam yang tidak membebaskan?

Apakah memang perkampungan bukan tempat strategis untuk mengembangkan islam moderat ini? Padahal saya pikir, orang-orang kampung perlu edukasi bahwa kalau mau maju, mereka harus mengembangkan dimensi rasionalitas dalam memahami agama, sehingga tidak melulu membebek sama figure tertentu. Sehingga sikap pengkultusan buta terhadap seseorang bisa dieliminasi.

Bagi teman-teman yang punya greget dalam penyegaran pemahaman keagamaan (termasuk pemahaman keislaman), juga sebaiknya memiliki orientasi ke masyarakat lapis bawah. Sehingga pemikiran dan paradigma mereka tercerahkan.

Sehingga, agama mereka bukan lagi sekadar candu yang hanya menghibur sementara waktu, tapi menjadi kekuatan terbesar dalam memperbaiki system local, termasuk pola pikirnya dalam bagaimana sebaiknya mengelola alam dan lingkungan mereka dengan baik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: