Itsme231019

Sekulerisasi, Disukai tapi juga Dibenci

Posted on: December 2, 2007

Persoalan Sekularisme hingga saat ini masih terasa hangat untuk diperbicangkan. Wacana sekularisme ini untuk konteks indonesia nampaknya juga masih melahirkan pro dan kontra.

Ada baiknya juga pendefinisian tentang sekularisme perlu diperhatikan dengan seksama dan khidmat. Definisi ini menjadi perlu dan penting setidaknya untuk memperjelas pemahaman kita tentang terma “sekularisme”, sehingga tidak terjebak pada sikap penolakan atau penerimaan begitu saja (taken for granted).

Sekularisme (SECULARISM) sesungguhnya merupakan derivasi dari secular. Berikut ini definisi yang dikutip dari kamus online http://www.m-w.com/dictionary/secular.

“Middle English, from Anglo-French seculer, from Late Latin saecularis, from saeculum the present world, from Latin, generation, age, century, world; akin to Welsh hoedl lifetime Date: 14th century

    of or relating to the worldly or temporal <secular concerns>
    not overtly or specifically religious <secular music>
    not ecclesiastical or clerical <secular courts> <secular landowners>
    not bound by monastic vows or rules; specifically : of, relating to, or forming clergy not belonging to a religious order or congregation <a secular priest>
    occurring once in an age or a century b: existing or continuing through ages or centuries c: of or relating to a long term of indefinite duration <secular inflation>

Sekularisme (secularism) yang tumbuh dari akar kata saeculum (bahasa latin) mengandung makna kekinian dan hari ini. Pemaknaan yang bersifat kekinian ini pada proses lanjut memiliki implikasi makna sekular yang menunjukkan adanya pemisahan antara religious affair (persoalan yang bersifat agama) dan persoalan yang bersifat dunia (worldly or time-related ones).

Secularity yang berupa kata benda dari secular (karena secular adalah kata sifat), adalah suatu kondisi yang bebas dari unsur-unsur agama.

Contohnya, pekerjaan makan, minum, atau mandi sesungguhnya adalah pekerjaan yang secara inherent bersifat duniawi saja. Namun demikian, pekerjaan yang sama dianggap mempunyai nilai-nilai agama sehingga ia juga dianggap termasuk aktifitas keagamaan, setidaknya oleh mereka yang punya pandangan dunia (worldview) demikian.

Dengan demikian, sekularisme merupakan ide dimana urusan negara harus dipisahkan dari urusan yang bersifat agama. Sehingga Negara dan Agama memiliki ruangnya masing-masing. Implikasinya negara tidak boleh diintervensi oleh agama dan Agama tidak boleh boleh dicampuri oleh negara. Maka jadilah negara sekuler.

Lalu bagaimana kondisi agama dibawah negara sekuler? Justru karena negara tidak boleh mencampuri urusan agama, maka sesungguhnya negara memberikan full freedom dalam beragama. Ada kebebasan untuk memilih agama ataupun memilih untuk tidak beragama sama sekali.

Pada konteks Indonesia, ide sekularisme ini menimbulkan kontra ditengah-tengah masyarakat. Pasalnya, sejumlah kelompok dari agama islam menunjukkan keberatannya dan penolakannya terhadap ide sekularisme ini. Dalam pandangan mereka, Islam adalah agama yang holistik, tidak saja berkaitan dengan ibadah personal tapi juga menyangkut sistem kenegaraan (syariah law).

Maka terjadilah pertarungan sengit antara keinginan negara sekuler dan keinginan negara yang berlandaskan agama mayoritas (baca : Islam). Masih dalam ijtihad saya, dua keinginan ini bisa disimbolkan sebagai pertarungan ide antara sekularisme dan fundamentalisme.
Saya selalu berpositif thinking, baik yang sekuler maupun yang fundamentalis sama-sama menginginkan negara yang baik yang bisa membawa kesejahtraan bagi rakyatnya secara tidak pandang bulu.

Menurut ijtihad politik saya, sekulerisasi pada tahap-tahap tertentu dan banyak hal memang diperlukan, karena ia merupakan sumber dari ilmu pengetahuan. Sekulerisasi berarti juga berfikir logis, kritis dan sesuatu yang terjadi harus bisa dibuktikan secara empiris. Sesungguhnya dalam pekerjaan yang bersifat agama pun, seperti beribadah, harus ada semangat sekulerisasi dalam diri. Artinya ibadah harus dibarengi dengan ilmu dan penghayatan logika.

Saya jadi ingat apa yang dikatakan ustadz saya waktu pengajian, bahwa islam adalah agama bukan sekadar kumpulan doa-doa tapi juga agama usaha dan kerja keras. Jadi, kita tidak boleh larut dalam rintihan doa dan mengemis-ngemis kepada tuhan agar menurunkan rizqi-nya dari langit, tapi kita sendiri malas bekerja. It’s really hard to imagine ???

Bukankah Allah tidak akan merubah kondisi suatu kaum sampai kaum itu merubah nasibnya sendiri. Semangat sekulerisai nya adalah bahwa perubahan itu tidak bim salabim muncul begitu saja, perlu proses yang wajar dan logis yang harus ditempuh.

Agama pada tahap-tahap tertentu mengajarkan fatalisme, setidaknya bagi orang-orang yang tertindas. Mereka menganggap bahwa penderitaan yang terjadi adalah nasib yang tak perlu dikritisi, itu kan kehendak tuhan. Begitulah kira-kira pandangan dunia mereka.

Jika barang-barangnya di ambil pencuri, “biarlah, serahkanlah itu semua pada yang kuasa, karena diakhirat nanti, pasti ada balasannya yang setimpal” sebuah ungkapan yang penuh kepasrahan.

Tapi disisi lain, agama juga dijadikan alasan untuk melahirkan kekerasan. Berapa banyak korban yang berjatuhan, dan itu terjadi atas nama agama.

Jadi pada tahap-tahap tertentu, sekulerisasi memang perlu, karena sesungguhnya ilmu pengetahuan merupakan produk dari semangat sekulerasi.

Bukankah komputer, Hp, televisi, laptop, internet adalah sesungguhnya produk dari sekulerisasi dan kita menyukainya….lalu kenapa sekulerisasi harus dibenci. it’s really hard to imagine..

Dalam menjalankan agama pun, semangat sekulerisasi memang perlu agar tidak terjebak pada penghambaan buta dan tidak terjebak pada hal-hal yang bersifat klenik atau superstisi yang irrational. Superstisi adalah pekerjaan syirik dan dosanya besar sehingga sulit di ampuni. So..just take care.

Advertisements

3 Responses to "Sekulerisasi, Disukai tapi juga Dibenci"

apakah sekulerisasi penting dalam kehidupan kita? lebih penting mana antara demokrasi dan sekulerisasi?………

yes, sekularisai, i think is important. when we try to learn something, we need secularisasi to study something as it is. by it, we try to learn something objectively not by intuitive way that is difficult to be examined.
i like to say that demokrasi as important as sekularisasi especially for now.
thanks

Sebenarnya tidak ada dalam agama (din) istilah sekularisasi, tegantung kita mamandangnya saja yang salah dalam mendefinisikan (mennafsirkan) agama ini, kalau kita melihat tentang agama ini secara persial maka begitulah persepsi kita tentang agama ini padahal agama itu bersifat universal sedangkan masalah selainnya (sain) atau ilmu pengetahuan yang kita ketahui selama ini bersifat persial dari agama. Maka yang harus kita ketahui tentang akidah islam ini sebagiamana pemikiran Al Qur’an yang lengkap dan menakjubkan, sehingga kita mendefinisikan tentang agama ini tidak akan terjadi dikotomi yang salah kaprah.

harus kita ingat dan perdalam tentang hal ini!, bahwa istilah di atas tidak dikenal dalam islam agama yang semprna ini. maka sebenarnya tidak ada hubungannya antara sekularisme dan fundamentalisme, maka dalam agama islam ini yang dikenal hanya istilah mu’amalah (ibadah secara umum) dan ibadah mauhdhoh (ibadah secara Khusus) sprti shalat, zakat, haji, berkorban, nazar atau do’a2 tertentu baik do’a ibadah maupun do’a mas’alah). atau dalam islam secara umum dikenal definisi ibadah “semua nama-nama yang menyangkut semua perintah baik yang Allah cintai dan Dia ridhoi.

sedangkan permasalahan yang anda sepakati tentang sekularisasi:
Sekulerisasi berarti juga berfikir logis, kritis dan sesuatu yang terjadi harus bisa dibuktikan secara empiris. Sesungguhnya dalam pekerjaan yang bersifat agama pun, seperti beribadah, harus ada semangat sekulerisasi dalam diri. Artinya ibadah harus dibarengi dengan ilmu dan penghayatan logika.

Sebenarnya, Bahwa Agama islam ini bukannya kurofat, mitologis, postulat dan legenda, akan tetapi agama islam ini adalah sebuah kepastian dalam arti logika matematika dan fisika, maka salah kita menafsirkan agama selama ini sepertinya hal keghoiban.
maka harus kita ingat bahwa agama islam ini tidak memberikan ruang lingkup sedikitpun masalah kurofat lain halnya dengan agama paganisme (yahudi, nasroni dan selainnya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: