Itsme231019

Archive for December 2007

education should encourage critical thinking

Kemajuan dan kemunduran suatu bangsa sangat bergantung pada sejauhmana bangsa tersebut concern terhadap pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan merupakan investasi masa depan sehingga perhatian terhadapnya menjadi keniscayaan. Bukan saja perhatian dari negara tapi juga dari berbagai elemen dalam sebuah bangsa.

Kalau melihat pendidikan di Indonesia, saya sendiri belum merasa bangga. Pendidikan di Indonesia masih terasa mahal sehingga hanya orang-orang yang memiliki kemampuan finansial cukup lah yang kemudian bisa menikmati pendidikan. Dari sini, dunia pendidikan menunjukkan motif komersialnya.

Selain itu, pendidikan yang seharusnya menghasilkan lulusan-lulusan yang cerdas secara emosional dan intetektual, pada kenyataannya tidak sedikit justru malah memproduksi lulusan yang ketika mendapat posisi di pemerintahan larut dalam kubangan sistem yang korup. Ini menunjukkan bahwa pendidikan masih gagal dalam membangun manusia seutuhnya, baik utuh secara intelektual maupun utuh secara nurani (emosional spiritual).

Nampaknya tidak ada salahnya kita mencoba mengunjungi kembali pemaknaan pendidikan sehingga kita mendapatkan esensi dari pendidikan untuk landasan kesadaran kita. Secara etymology pendidikan yang padanan bahasa inggrisnya education memiliki pengertian berikut ini :

The Word “Education” Derives From The Latin Educare, Meaning “To Nourish” Or “To Raise” Which Is Also Related To Educere Meaning “To Lead Out.”( http://en.wikipedia.org/wiki/Education)

Dengan demikian, pendidikan merupakan proses pembanguan (to raise) kepribadian atau karakter. Tentu saja karakter yang ingin dibangun adalah karakter yang baik. Dengan demikian, pendidikan adalah pondasi bagi bangunan karakter seseorang sehingga orang itu menjadi baik dan shaleh.

Berdasarkan pemaknaan pendidikan diatas, rasanya pendidikan di Indonesia masih perlu pembenahan secara internal, sehingga antara visi dan misi pendidikan bisa berintergasi dan berkorelasi kuat dengan proses pendidikan itu sendiri.

Di sisi lain, pendidikan kalau tidak dikelola dengan baik justru akan melahirkan kejumudan dan bukan pencerahan. Pendidikan adalah sebuah proses. Jika dalam prosesnya banyak sekali penjejalan dogma-dogma tanpa memberikan dan menstimulasi kebebasan dan justru membunuh rasa ingin tahu, maka pendidikan telah di salahgunakan (abuse).

Kondisinya akan menjadi kompleks ketika proses pendidikan dijalankan dengan gaya diktator dan dianggap sebagai alat untuk mendisiplin anak. Kondisi seperti ini justru akan menghasilkan orang-orang yang tidak punya karakter kuat, pasif, penakut dan pengecut. Sebuah karakter yang kontradiktif dengan tujuan pendidikan itu sendiri.

Sekali lagi, tanpa kesadaran akan esensi pendidikan, maka pendidikan selain akan menjadi komoditas bisnis sehingga hanya bisa dinikmati oleh kalangan the have dan kemudian menghasilkan lulusan yang kapitalistik tetapi juga menjadi alat untuk membodohi rakyat sehingga melahirkan orang-orang yang tidak sadar kalau dirinya tidak tahu.

Harapan saya, sebaiknya subsidi negara buat pendidikan terutama untuk rakyat kecil semakin diperluas dan juga dikelola dengan baik sehingga tidak membuka celah-celah penyalahgunaan dana.

Sistem pendidikan juga nampaknya perlu direformasi sehingga pendidikan betul-betul diciptakan untuk memberikan pencerahan, critical thinking, dan pembangunan karakter. Pendidikan diciptakan bukan untuk menghasilkan orang-orang mata duitan tapi justru untuk menghasilkan orang-orang yang bisa berkontribusi untuk manusia yang selama ini tergilas dan dibodohi terus.

Bisakah pendidikan kita membangun karakter yang hebat dan cerdas nurani dan intelektualnya?

Advertisements

nasehat

Assalamu’alaikum

Wahai anak-anakku, Ibu dan Bapak sudah tua. Umur pasti berkurang, apalagi sekarang sudah berkurang dari segala wasiat.

Amanat dari Ibu dan Bapak, Hati-hatilah, jangan sampai lupa persiapan untuk mati. Kalau ingin bahagia, dirikanlah shalat dengan khusuk, hindarilah hal-hal yang tidak bermanfaat, (termasuk) musik-musik yang memalingkan kalian dari ibadah.

Jika kalian, anak-anakku, sayang sama ibu, amanat ini tolong diperhatikan.

Jaga nama baik ana, keluarga, hal-hal yang buruk (seberapun ukurannya) di dunia akan kelihatan, tak terkecuali yang baik-baik. (apalagi di akhirat nanti)

Ibu (selalu) mendoakan semoga kalian bahagia dunia dan akhirat. Ibu pada saat-saat ini sangat khawatir terhadap kalian, anak dan cucu ibu semua.

Tolong, Sms (wasiat) ini disebarkan ke saudara-saudara (sedarah) Ana, ke si Adi dan si Erik. (wasiat ibu)

Selamat berjuang, memandang ridha Allah dan ridha orang tua.

Wassalam

Abdi sok bingung, nahanya dikampung abdi, Kukun, pengajian di masjid tetap berjalan. Dikawitan ti subuh ba’da shalat subuh, teras sore saatos shalat ashar, dugi ka wengi ba’da shalat magrib, tapi para remaja sareng remaji malah bararaong? Janten pangaosan atanapi pangajian seakan-akan teuaya bekasna.

Ah pasti aya nusalah. Abdi gaduh hipotesis atanapi dugaan. faktor-faktor yen pangaosan kahilangan fungsi, kumargi :Pertama, teuaya model. Kadua, sistem pembelajaran anu wungkul nekanken hapalan oger tiasa disebat normatif. Katilu, miskin dukungan timasyarakat.

Anu kahiji persoalan model. model anu dimaksad didieu sanes fashion tentang baju terbaru tapi figur atanapi teladan anu sae. Abdi tangtos ngaraos aneh pisan, jalmi anu sok ngawulang barudak di masjid teh kirang konsisten sareng ucapanana.

Contohnya, ucapanana sering nekanken ulah sok pulang-paling barang batur. eta teh doraka. Tapi dina kahirupan sahari-harina, aya hiji murid anu kabetulan mendakan eta jalmi anu sok ngawulang teh, nyandak sampe ti kebon batur. Akhirna, si murid oge rada bingungen. Dina pikiranana, pasti bertanya, naha ari di masjid, penampilanana manis pisan, tapi diluar masjid, sanes kirang amis deui, pait pisan.

Tangtos wae kondisi eui menimbulkan kesan buruk yen pangaosan teh geningan kitu. Model anu ditampilkeun ku pengajar di masjid teu cocok sareng model anu ditampilkeun di luar masjid. Akhirna si murid ngaraos sia-sia wae ngaos di masjid teh, dah teu aya model anu sae. atos untung muridna kritis, kumaha lamun ninggang ka murid anu resep taklid. bisa-bisa niru kalakuan anu jelekna, soalnya figurna oge jelek.

Kadua, persoalan sistem pengajaran. Sistem pengajaranana bisa disebat terlalu normatif. “lamun maraneh bobogohan, maneh bakal asup kana naraka”. nah sistem pangaosan anu kitu moal menarik, anu aya mah malah nyingsieunan. akhirna, daripada ngaos anu seur singsieunan, para remaja lebih resep kana nonton sinetron atanapi nalongkrong dijalanan. akhirna kan masalah lain maruncul, sapertos pergaulan bebas, bermain narkoba dst.

Anu katilu persoalan miskin dukungan ti masyarakat. maksadna, kamajuan pendidikan oge bergantung  tina sajauhmana dukungan ti masyarakat. dukungan tiasa mangrupi ngajurungken budakna ngaos ka masjid. oge tiasa mangrupi masihan kontribusi pemikiran kumaha supados pangaosan teh efektif sareng efisieun kanggo ngawangung mentalitas remaja anu hebring, kuat dsb. oge tiasa mangrupi dukungan finansial satiasana.

Anu terjadi, justru sebalikna. Masyarakatna cenderung cuek bebek kana widang pendidikan. Boboraah masikan kontribusi finansial atanapi pemikiran, ngajurungkeun budakna oge sigana tara diperhatikeun deui. atanapi tiasa wae ngajurungkeun budakna sina ngaji tapi manehna kalah nonton sinetron, kan teu nyambung.

sigana ngan sakitu bae seratanana. saleureusna abdi teh nuju belajar nuangkeun gagasan kanan tulisan. pami aya anu hoyong bertukar pikiran, atanapi masihan masukan or komentar, mangga dipersilahkeun. haturnuhun pisan

ahmad.

How to build a better Indonesia? this question is very important to pose, because for this time, Indonesian still remain left behind.

one of that problems is about overpopulation in Indonesia. specifically, there is a tendency that people from rural area concentrate in Jakarta. Why the people concentrate in Jakarta? It seems to me that Jakarta is center of business. Jakarta is perceived as a place in which people can be involved in business (any forms of business). In their mind, Jakarta is promising in terms of business.

That is why, many kind of people gather in Jakarta. from A to Z of people is available there. what will happen if too much people gather in Jakarta? my answer is, if the government can not manage this situation, there will be a new problem.

Moving to Jakarta, the people from rural area of course look for the opportunity of job. but what will happen if this opportunity is closed?

Comeback to their village is perceived as stupid choice. Any jobs even the worse one is eventually fine with them. Being beggar in the street,  pickpocket (pencopet), singing beggar (pengamen), or even thief is the last and easy choice for them. The mainthing, their job can produce the money, regardless what they do is good or not good.

This situation of course is not good, because it is a kind of social disease. The situation will be more crucial when begging become the mentality. they can not live without this kind of mentality.

What do you feel when you are in the bus, a singing beggar force you to give him money? absolutely, you feel threatened and  uncomfortable. and how if in every bus you get on, you have to face the same situation? It is not only boring but also threatening you. you feel insecure. In this point, when you feel insecure, it means that there is something wrong happen in our environment. The more the social disease exist, the more the crime will happen.

This kind of mentality is something possible to happen in the center of power. In my mind, the act of corruption is a bout mentality. the mentality to take something which is the right of others. If such negative act happen in the center of power, the public trust on will wane sooner. even worse if the people try to imitate such bad mentality. The corruption will be widespread and eventually is perceived as normal. in this point, everything become complicated.

This social disease should be at least minimalised. The solution can take form of awareness from our selves, or transformation and socialization about life with dignity to the public, and even taking social action in the ground.

I really appreciate the people who have the awareness to embrace the people in the street. It was my experience with my friend from PMII UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, to take part in educating them. It was called “Pesantren Anak Jalanan” (School for Neglected Children). My friends from PMII make the long-term agenda to give education for them. Their initiative is worth attention from the wide public.

There is no late to build the better Indonesia. Everybody of us can share our progressive idea to promote the life with dignity. the key is what we speak is something what we do. So we have to be compatible between words and actions. that’s all.

By Ahmad

   

Kenapa sih apa yang diomongkan atau apa yang dianut, seringkali tak sesuai dengan apa yang diamalkan. Ajaran tak sesuai dengan tindakan. Ajaran itu nampak manis-manis, tapi pada tataran operasional, tindakan seringkali menunjukkan kontradiksi.

Misalkan saja, kita masuk dalam suatau kelompok pecinta alam. Namun sikap kita yang suka merokok ditempat public merupakan aktivitas yang sesungguhnya ditentang oleh ajaran yang kita anut. Tapi kita masih saja melakukannya. Sebuah pertunjukan paradoksal bukan?

Bisa jadi ini muncul dari kemiskinan kesadaran akan suatu hal. Tapi apakah siperokok menyadari bahwa tindakan merokoknya bisa mencermari lingkungan dan juga menggerogoti kesehatannya?

Jawabannya bisa jadi ia punya kesadaran akan hal itu. Tapi kesadarannya tidak difollow up dalam sebuah tindakan. Jadi kesadarannya berhenti pada kesadaran kongnitifnya saja. Belum menyentuh action.

Dalam hal beragama juga, ajaran agama mengajarkan untuk berkata jujur, tidak berdusta, tidak menipu dsb. Tapi penganut suatu ajaran kerap kali menunjukan hal yang sebaliknya. Apakah ajarannya mengajarkan untuk menipu atau penyalahgunaan ajaran? Saya pikir yang kedua ini suatu hal yang banyak terjadi.

Contohnya saja Islam, seringkali tertutupi oleh kaum muslimin. “alislamu mahjubun bilmuslimin”, islam tertutupi oleh orang-orang islam. Dan ini juga bisa diproyeksikan kepada ajaran lain juga. Contohnya saja, nilai-nilai apresiasi terhadap alam seringkali tertutupi oleh pecinta alam. Tindakan tak semanis ajaran.

Dari sini nampaknya perlu belajar secara teratur untuk bersikap autentik antara apa yang diucap atau apa yang dianut dengan apa yang diamalkan. Perpaduan antara kata dan perbuatan.

The good compatibility between words and actions. The good synergy.

By ahmad

Di kampung saya di Bandung, rasanya masih sulit untuk menemukan activist yang bergerak menyebarkan islam yang membebaskan. Sebaliknya, activist yang punya pandangan bahwa islam merupakan the way of life, banyak sekali. Dalam pemikiran mereka, islam bukan saja masalah agama, tapi juga masalah politik dan kenegaraan.

Terus saya pikir, kenapa kok activist yang beraliran moderat dalam berislam sangat sulit dijumpai. Kebanyakan activist yang berada di kampung, pandangan mereka hampir literal semua.

Pertanyaan saya juga adalah, kalau saja Islam moderat (untuk tidak mengatakan liberal) dianggap membebaskan, lantas islam yang tidak moderat (sebut saja islam fundamentalis) tidak membebaskan?

Saya mencoba menganalisis keduanya dari konstruksi subyektif saya. Bagi islam moderat, keberagamaan seseorang bisa berpijak pada pendekatan yang rasional terhadap pesan-pesan ajaran yang dianutnya.

Dengan demikian, pendekatannya tidaklah tekstual, tapi kontekstual. Karena bagi kelompok moderat ini, islam tidak tercipta dalam ruangan hampa, melainkan hidup dinamis dalam ruang kesejarahan tertentu. Dengan demikian, pola yang pertama ini lebih sesuai dengan rasionalitas dan karenanya membebaskan akal dari kejumudan.

Namun bagi kelompok yang kedua, pendekatan mereka terhadap agama sangat tekstual alias literal. Apa yang tertera dalam kita suci, itulah yang menjadi dasar pemahaman mereka. Dengan demikian, ruang-ruang sejarah dari pesan-pesan keagamaan dipersempit karena titik tekannya pada makna tekstualnya.

Dengan demikian, pola yang kaku dalam memahami agama seperti yang kedua ini tidak kreatif dalam memahami agama, sehingga disebut tidak membebaskan. Pikirannya terkungkung oleh teks.

Lalu, kenapa di kampung saya tidak ada activist yang mengusung islam yang membebaskan ini? Dan kenapa pula yang ada justru activist yang mengusung islam yang tidak membebaskan?

Apakah memang perkampungan bukan tempat strategis untuk mengembangkan islam moderat ini? Padahal saya pikir, orang-orang kampung perlu edukasi bahwa kalau mau maju, mereka harus mengembangkan dimensi rasionalitas dalam memahami agama, sehingga tidak melulu membebek sama figure tertentu. Sehingga sikap pengkultusan buta terhadap seseorang bisa dieliminasi.

Bagi teman-teman yang punya greget dalam penyegaran pemahaman keagamaan (termasuk pemahaman keislaman), juga sebaiknya memiliki orientasi ke masyarakat lapis bawah. Sehingga pemikiran dan paradigma mereka tercerahkan.

Sehingga, agama mereka bukan lagi sekadar candu yang hanya menghibur sementara waktu, tapi menjadi kekuatan terbesar dalam memperbaiki system local, termasuk pola pikirnya dalam bagaimana sebaiknya mengelola alam dan lingkungan mereka dengan baik

Yes I do agree with one of Indonesian blogger notion that during blogging, it is better not only Indonesian language we used in writing in blog, but also an English language. The reason will be reasonable. To make the foreign people know about the beauty of Indonesia, to make Indonesian country a good branding for the people out there.

It does not mean that using Indonesian is not good, but when we want to spread good information about Indonesia globally, using English is the smart one. The reason is very simple because English is the international language.

When I write here in English, I put my self as the learner, including learner in English. So, I will appreciate any constructive comments from any one. Because to me, to try something new and doing wrong is much better then never try because of fear of mistake.

Based on such notion, I try not to stop moving the life, because the life must go on. Doesn’t it?

I know the people will say to me that I am one of TKI in overseas (Saudi Arabia), but I try to position my self as the learner. Long life learning, the learning that never end even until the last minute of this life.

Well, I don’t really care what they say about me. The important thing, I have to improve my self through learning and learning.

I also know that there are many friends of mine from the same almamater (red-Gontor Boarding School), have more chances to go on their study to higher level, either within the home country or overseas. I hope the best for them.

Compared to them, should I be pessimistic because of the lack of chances? I would answer, no…No…no. because I was born not to be pessimistic. The life is very broad and wide. It provides me many choices and chances, Right?

So, regardless of my position, the learning needs to be run in every moment of this life. That’s all what I can express about what I feel and think. Any constructive comments are almost welcome.

Ahmad

TKI