Itsme231019

Nyontek, Pengalamanku Waktu Bocah

Posted on: November 26, 2007

n

Waktu kecil, saya punya pengalaman mencontek saat ujian. Penyebabnya, karena saya tidak tahu apa yang harus saya jawab. Tapi kenapa saya tidak bisa menjawab? Apakah karena saya tidak belajar, tidak pernah membaca ? atau apakah membaca, tapi soal-soal yang ditanyakan diluar apa yang dibaca atau dipelajari?  

Pertanyaan lain juga, adalah kenapa belajar itu terjadi ketika ujian justru berada diambang pintu? Untuk hal ini, ada sebutan sistem kebut semalam (SKS). Jadi sistem belajarnya dadakan saja.  

Yang saya rasakan waktu bocah, praktek mencontek ini akibat kemalasan saja. Waktu yang saya miliki lebih tersedot untuk bermain-main. Belajar hanya terjadi dikelas saja.  Guru sering memberi pekerjaan rumah (PR). Namun karena saya bawaannya malas, PR pun tak jarang dihiraukan begitu saja. Kalaupun dikerjakan, hanya sebatas sekedarnya saja. Jadi gak pernah seirus. 

Saya sering dimarahim ibu guru karena pekerjaan rumah saya sering terbengkalai.  Biasanya saya sadar kalau saya punya PR, justru ketika keesokan harinya saya akan memulai belajar dikelas. Itupun karena mendapat sinyal dari teman-teman.

Akhirnya, saya pun mengerjakan PR tergesa-gesa. Pas saya tidak tahu, praktek mencontek pun akhirnya menjadi senjata andalan saya. Tentu saja ibu guru datang dan memasuki kelas. Hati saya pun tak nyaman karena ada semacam rasa cemas dan takut.

Takut ditanya dan ditunjuk untuk menjelaskan PR.  Untung kalau paham, tapi sayang seringkali tidak paham. Jadi waktu itu, saya hanya memindahkan karya teman saya ke dalam catatan saya.  Waktu bocah, saya suka melakukan plagiat.

Artinya, pengalaman-pengalaman tadi merupakan cermin dari ketidak jujuran, tidak percaya diri, tidak ada dignity, dan tidak punya nyali. Lalu saya bertanya, kenapa kok masa kecil saya seperti itu? Apa yang mempengaruhi saya untuk bersikap sepecundang itu? Nampaknya yang menjadi hipotesa saya adalah bagaimana lingkungan mempengaruhi saya, dan bagaimana saya mempersepsinya.  

Alhamdulillah karakter pecundang itu tidak permanent dalam diri saya, seiring bertambahnya pengalaman, kedewasaan, dan tanggung jawab. Saya tidak tahu persis bagaimana perubahan itu terjadi.  

Namun kalau saya harus menjawab, maka jawabannya adalah proses self-awarness saya bermain, selalu aktif dan memperanyakan. Ternyata pengalamanlah yang kemudian membuat saya lebih bisa belajar untuk belajar bijak.   

Masa kecilku bisa menjadi cermin dan pelajaran bahwa ternyata praktek nyontek justru akan membuat tatanan menjadi ruksak. Juga sebagai cermin dari tidak adanya manajemen dalam hidup. Tidak punya kepedulian. Hidup tanpa dignity.  

Saya pun sadar betul bahwa sangat mungkin terjadi bahwa praktek korupsi, nepotisme, dan praktek-praktek kotor lainnya bermulai dari kebiasaan mencontek.  

Saya setuju apa yang dikatakan Mba Jenni, bahwa penyakit yang membuat Indonesia gak pernah maju, dan malah menunjukkan gelagat kemunduran, adalah penyakit mental yang sudah kronis dan melembaga.  

Oleh karena itu, kalau ingin maju, maka harus berani melepaskan ethos pecundang dan menggantikannya dengan ethos pemenang. Akhirnya saya hanya bisa berujar “just change to the right one”.

Advertisements

6 Responses to "Nyontek, Pengalamanku Waktu Bocah"

makasih udah mampir di web log saya..
“Hidup mencontek”
hehehe..
saya juga dulu pernah ko mencontek terutama PR, tapi kalo ulangan sejak SMA udah ga ma nyontek lagi, soalnya sesemprna apa pun nilainya ga mendatangkan kepuasan batin buat saya.
makanya mencontek harus dihindari..
dan sekarang saya sedang mendidik anak2 di sekolah supaya ga tersenth sedikit pun dengan bdaya mncontek.. setuju???

@nengthree.
Makasih juga atas kunjungannya di “gubuk kebebasan” saya. itu merupaka penghormatan bagi saya. Memang, pengalaman kita waktu kecil bisa menjelaskan bahwa budaya yang mengontrol kita tidaklah mencerahkan. Mungkin kita tahu bahwa mencontek itu dilarang, tapi kita jarang diberi tahu kenapa kenapa mencontek itu dilarang. Jadi, waktu kecil, kita tidak diajak untuk berdialog. “ah dasar kamu anak kecil, banyak nanya segala” adalah kata-kata yang kerap saya dengar waktu kecil. jadi apresiasi terhadap kreatifitas tidak ada, bahkan kreatifitas dianggap ancaman dan karena itu dicibirkan. so, mari kita rubah haluan itu kearah yang lebih rasional dan mencerahkan. anyway, thanks for comment.

Ayah ibu saya guru, beliau mendidik dengan disiplin dan penuh kasih sayang, juga menekankan pada budi pekerti, dan tak mudah ikut2an orang lain.

Saya tidak pernah mencontek, baik di TK s/d PTN. Juga paling ga suka kalau ada teman mau nyontek, untuk menghindari saya selalu duduk di kursi paling depan. Tapi kalau teman-teman pinjam catatan, atau mengajak belajar bersama, dengan senang hati saya akan bergabung. Syukurlah teman saya baik semua, mereka menghargai privacy saya untuk tidak ikutan mereka.

@edratna.
Thanks atas kunjungannya. Betul apa yang dikatakn mba edratna, bahwa transformasi nilai-nilai dikeluarga sangat berkontribusi pada pembentukan karakter anak. Kalau saja penyemaian disiplin yang bagus yang berlandaskan semangat kasih sayang, seperti yang Ayah ibu mba edratna lakukan, juga menjadi kesadaran orang tua lainnya, bisa dibayangkan, hasilnya akan spektakuler. bagaimana tidak, saya pikir, prilaku mencuri, prilaku mencontek, prilaku korupsi, akan bisa diminimalisir. jadi, pembentukan mentalitas disaat kecil akan berdampak pada perkembangannya disaat besar dan menjadi bagian integral dari hidupnya. sekian and thanks for comments.

Mungkin gak ya klo itu menjadi salah satu penyebab banyaknya korupsi di Indonesia?

Untuk iphan.
betul sekali bahwa sesungguhnya mencontek sama saja dengan korupsi. karena sesungguhnya tindakan mencontek adalah ingin mendapatkan sesuatu secara mudah dan instant, tidak mau bekerja dan berfikir keras. begitu juga korupsi, pelakunya sesungguhnya pintar, tapi kepintarannya dan posisi yang dipegangnya disalahgunakan untuk mengambil sesuatu secara gampang untuk kepentingan dirinya sendiri. mencontek dan korupsi sama-sama melukai pihak lain. yang penting, kesadaran hidup bahwa hidup ini harus orisinil, harus selalu tumbuh dalam diri kita dan kita sosialisasikan sama lingkungan terdekat kita. setuju ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: