Itsme231019

Takhayul yang melembaga

Posted on: November 21, 2007

ilusi

Jam 01.12 am, hari kamis, saya membaca berbagai tulisan dari sumber yang berbeda. Bidikan saya adalah soal takhayul. Orang menuliskan soal takhayul ini sangat bervariasi sesuai dengan apa yang mereka pahami dan maksudkan dengan topik tersebut.

Saya pun punya definisi sendiri tentang takhayul ini. Tentu saja definisi ini pun merupakan kontstruksi dari apa yang saya pahami. Takhayul sesungguhnya bersumber dari bahasa arab yakni takhayala, yatakhayalu, takhayul. Barangkali istilah grammarnya, kata benda abstrak seperti halnya kata-kata ; kepercayaan, kebebasan. Takhayul sesungguhnya adalah khayalan belaka. Ia merupakan bayangan yang diimaginasikan.

Kebetulan saya juga punya teman dari Mesir. Menurutnya kata takhayul itu bisa dimaksudkan sebuah kondisi dimana seseorang berkhayal dengan pikirannya. Ia memikirkan sesuatu padahal ia tidak tidur.

Lalu apa bedanya antara takhayul dan mimpi ? pada level ini, nampaknya perlu pendefinisian lebih lanjut dengan tekanan dan batas-batasnya. Menurut pemahaman saya, takhayul ini semacam sistem kepercayaan. Jadi ada unsur keyakinan terhadap sesuatu yang ada diluar jangkauan nalar dan logika. Lalu keyakinan ini sangat boleh jadi mentradisi ketika ditransformasikan dari generasi ke generasi.

Menarik sekali menelisik sebuah tulisan yang berjudul Republik Takhayul yang termuat pada http://kompas.com/kompas-cetak/0310/07/utama/609615.htm . disana terdapat penggalan kata yang berbunyi ” Dari kecil kita diajarkan agar jangan duduk diatas bantal atau guling, katanya nanti bisulan. Kenapa sih enggal bilang aja nanti bantalnya kotor?”

Penggalan kalimat diatas memberikan sebuah potret cara berfikir yang tidak logis. Fenomena ini bisa jadi berkembang di banyak masyarakat di Indonesia. Dikampung saya pun, sistem kepercayaan semacam itu masih ada dan eksist.

Agama islam yang menentang praktek takhayul semacam ini ternyata tidak membuat penganutnya sadar bahwa hal itu tidak sejalan dengan ajaran islam yang dipegangnya. Dalam al-qur’an, perbuatan takhayul itu termasuk kategori syirik dan dosa paling besar, karena menduakan Tuhan.

Dari sini saja sudah ada gejala gap yang cukup besar antara pemeluk dan yang dipeluknya. Fenomena takhayul ini hebatnya lagi makin didukung oleh tayangan televisi yang banyak mengekploitasi hal-hal yang bersifat khayali. Dikatakan khayali karena sama sekali tidak menyentuh kehidupan real dimasyarakat.

Tayangan-tayangan tersebut tentu saja secara tidak sadar, menggiring para pemirsa untuk berfikir bahwa persoalan bisa diselesaikan dengan khayalan alias metode takhayul. Untuk menjadi kaya, cukup dengan pergi ke dukun dan mengamalkan sejumlah ritual yang diyakininya sebagai mekanisme untuk menjadi kaya.

Kalau di pikir-pikir, buat apa dia diberi akal dan kekuatan nalar kalau kemudian dia hanya percaya kepada sesuatu yang ilusi belaka.Masih berkaitan dengan fenomena takhayul, sejumlah bencana alam juga kemudian dikait-kaitkan dengan unsur takhayul ini. Untuk hal ini, saya menemukan tulisan berjudul “Bencana dan Sejumlah Takhayul”, yang termuat 12 Maret 2007 pada http://www.tempointeraktif.com/hg/opini/2007/03/12/opi,20070312-123347,id.html disana tertulis “Anggota DPR dan paranormal Permadi mengatakan kepada media online Detik.com bahwa gempa di Yogyakarta tahun lalu terjadi karena Nyi Rodo Kidul, yang dipercayanya sebagai Ratu Pantai Selatan, marah kepada pendukung Rancangan Undang-Undang Pornografi. Apa sebab? Nyi Roro terancam tak boleh memakai kemben lagi…

Tentu saja statement apalagi dari sejumlah publik figur yang mengait-ngaitkan bencana alam dengan kemarahan Nyi Roro Kidul, akan punya dampak sosial bagi masyarakat. Sangat mungkin terjadi, komuniksi seperti ini akan menggiring masyarakat terutama yang tidak kritis untuk mempercayai begitu saja. Efek nya lagi, masyarakat dididik untuk malas berfikir. Jadi berfikirnya sangat instant dan penuh ilusi.

Di beberapa masjid pun, sang khatib mengatakan bahwa bencana alam ini tidak lebih dari kehendak Tuhan, sebagai sentilan dan cobaan bagi umat manusia. Hal ini sangat dimaklumi, karena dalam khotbah apapun harus dikait-kaitkan dengan unsur agama. Setidaknya itulah paradigma banyak orang tentang ritual keagamaan ini.Jadi, kesadaran-kesadaran logika intelektulitasnya jarang disentuh-sentuh.

Sesungguhnya, bencana alam itu boleh jadi sangat berkaitan dengan ulah manusia. Contohnya saja, bencana banjir merupakan ekses dari ekploitasi dan penggundulan hutan sewenang-wenang. Banjir lumpur di Sidoarjo pun bisa jadi sangat terkait dengan proses pengeboran yang gegabah.

Dunia pendidikan pun nampaknya masih menyimpan potret yang buram, setidaknya di beberapa institusi pendidikan dengan kasus-kasus tertentu. Fenomena takhayul pada kalangan pelajar bisa muncul dalam praktek-praktek kekerasan. IPDN merupakan institusi pendidikan dimana proses kekerasan dilembagakan. Seolah-oleh kekerasan ini merupakan bagian integral dari pendisiplinan.

Sesungguhnya ini mirip-mirip takhayul atau bentuk lain dari takhayul yang dilembagakan. Maka gak salah-salah amat jika publik kemudian menginginkan IPDN dibubarkan saja karena ia merupakan institusi kekerasan.    

Unsur-unsur kekerasan juga nampaknya makin diekploitsi dalam tayangan televisi. Kekerasan yang saya maksud bisa berbentuk verbal, psikologis dan fisik. Keluhan-keluhan publik pun muncul terutama dari mereka yang kritis dan sensitif terhadap tayangan televisi.

Pada tulisan berjudul “Tayangan Seks, Kekerasan, dan Takhayul Digugat” yang dimuat pada situs http://pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0805//21/0108.htm ada kutipan dari Ibu Tuti, salah seorang peserta “Seminar TV Watch : Mendorong Prilaku Kritis Masyarakat, Khususnya Generasi Muda terhadap Program Tayangan Televisi”. Kutipannya” Saya cukup sedih melihat tayangan televisi kia akhir-akhir ini. Lakon-lakon remaja yang berkisah tentang percintaan lebih banyak mengeksploitasi persoalan-persoalan air mata, rebutan pacar, perkelahian dan takhayul”.

Bagi saya, tayangan-tayangan demikian tidak punya visi pendidikan. Ia hanya menyajikan aspek hiburan saja, dan hiburan jenis inilah yang nampaknya digemari masyarakat kita.

Padahal sesunggunya apa yang disimaknya itu tidak ada kaitan langsung dengan kehidupannya sehari-hari. Sebagai hiburan saja. Jadi sesunggunya masyarakat kita menyukai hal-hal yang sifatnya hiburan. “seks, kekerasan dan takhayul” nampaknya menjadi hiburan yang melembaga di masyarakat kita.

Lalu dimanakah ruang ruang bagi pencerahan akal, logika, dan rasionalitas bisa ditemukan, kalau ruang-ruang itu sudah terlanjur dipenuhi oleh semangat takhayul. Tentu nya diri kita sendiri harus membuat ruangan itu.

Akhirnya, saya ahmad yang bergelut dengan keringat di padang pasir ini berharap bahwa kesadaran positif itu harus terjadi pada diri saya dengan penuh keyakinan, dimana keyakinan ini memantul dalam tindak tanduk saya. Anyway, life must go on

Advertisements

2 Responses to "Takhayul yang melembaga"

Salam kenal …

Yah dari kecil kita ini kan memang dibesarkan dengan takhayul dan kita meneruskannya ke generasi berikutnya. Saya sendiri nggak terlalu percaya takhayul tapi bukan berarti saya membenci takhayul, kalo memang masuk akali ya nggak apa2 toh nggak ada ruginya kecuali kalo yang sudah sampai bertentangan dengan keyakinan saya. Takhayul di TV itu laris manis dan kadang2 stasiun TV mersa bahwa mereka hanya menyampaikan relaita di masy. However, Saya mersa bahwa justru mereka yang membuat takhayul itu.

@mikearmand. thanks atas komentar dan kunjungannya. memang banyak masyarakat di indonesia yang masih feodalistik. gaya hidup seperti inilah yang mudah melahirkan takhayul. eufimisme adalah produk dari feodalisme. Makanya, ketika anak dilarang untuk duduk diatas bantal, alasan yang dipakai adalah biar tidak bisulan padahal yang diinginkan adalah agar bantalnya tidak kotor. jadi masyarakat kita cenderung tidak jujur dalam proses transformasi nilai-nilai. anyway, thanks atas kunjungannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: