Itsme231019

Mentalitas Tempe

Posted on: November 19, 2007

tempe

Tempe adalah makanan yang sangat enak dan bergizi, setidaknya untuk selera lidah saya yang orang indonesia. tempe ini termasuk pelengkap bagi empat sehat lima sempurna.

namun, tempe ini menjadi hal negatif tatkala dikaitkan dengan mentalitas. maka kita pun mendengar mental tempe.

mentalitas. waktu saya anak smp, saya sering mendengar kata-kata “mental tempe” dari teman-teman saya. kosa kata ini diucapkan untuk menunjukkan bahwa seseorang yang bermental tempe dicirikan dengan takut mengambil risiko, penakut, pecudang dak kagak punya keberanian. orang seperti ini biasanya kalah duluan sebelum bertarung. istilah sundanya keok memeh dipacok.

mentalitas semacam ini sangat universial sifatnya karena ia bisa merepresentasi dari mentalitas manusia.

waktu saya mau melanjutkan studi ke smp, nenek saya pernah bilang sama saya “ulah keok memeh dipacok”. hal itu diucapkannya ketika saya cenderung menolak untuk sekolah di smp negeri 2 pacet karena jaraknya jauh dan sangat rentan bagi marabahay.

marabahaya yang saya maksudkan waktu itu adalah “takut dibegal ditengah sawah”, atau takut dihadang ular ditengah sawah, atau juga gak mau capek, karena jauh. ” lalu nenek saya bilang ” ari hirup teh ulah keok memeh dipacok”.

kata-kata bijak tersebut masih bersemayam dalam kesadaran nalar saya. begitu juga kata-kata mental tempe dari teman-teman sekampung saya buat teman-teman yang kebetulan punya kecenderungan penakut banget. sesungguhnya fenomena kata-kata ini merupakan representasi bahwa mental penakut, adalah sesuatu yang dianggap negatif oleh masyarakat.

berkaitan dengan mentalitas ini, maka saya pun melayangkan pikiran saya pada suatu keadaan dimana sekarang diberbagai jalan kok banyak sekali orang yang minta-minta dan menengadahkan tangan keatas sambil mengharap pemberian orang.

bagi saya, mentalitas minta-minta juga adalah bentuk lain dari mental tempe. artinya, mereka takut dan kagak punya keberanian untuk bergelut dengan kerja keras yang tentu saja punya risiko capek. tapi itulah realitas kehidupan.

bagi saya juga, orang yang sukanya nyuri barang orang, suka mencontek dikala ujian, plagiasi dikalangan pelajar kampus, atau korupsi dipusat-pusat pemerintahan merupakan representasi dari mental tempe. mereka kagak punya kebesaran dan keberanian hati dalam menjalani hidup ini.

tapi rasa-rasanya, saya pun perlu melihat kedalam diri sendiri untuk selalu mengunjungi dan memeriksa apakah diri saya autentik atau tidak, orisinil atau palsu. jadi, mentalitas tempe yang terjadi pada orang merupakan pelajaran berharga buat saya untuk lebih bijak dan jujur dalam menapaki jalan hidup ini.

gak apa-apa buat saya menjadi pekerja tki diluar negeri, tapi saya berusaha untuk jujur dan tidak menjadi beban buat orang lain. tentu saja, impian saya saya ingin kalau pekerjaan saya punya kaitan kuat dengan kontribusi sosial bagi masyarakat, idealnya begitu. namun paling tidak, saya harus bisa mandiri dan tidak menjadi beban sosial bagi masyarakat.

kalau lah saya menjadi beban, maka daftar panjang beban-beban sosial negeri kita akan makin bertambah, kalau begitu siapa lagi yang akan menjadi solusi, kalau saya ikut-ikutan jadi beban.

ah udah dulu deh dari saya. semoga bisa saya lanjutin pada episode selanjutnya……

salam hangat dari saudi arabia  

Advertisements

1 Response to "Mentalitas Tempe"

tempe ternyata banyak gizinya,………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: