Itsme231019

Kebohongan yang beranak

Posted on: November 17, 2007

balonkata dosen saya dulu waktu di kelas, “jika seseorang berbohong, maka kebohongan itu akan melahirkan kebohongan baru”. jika dipikir-pikir dan direnungkan, memang benar.

misalnya saja, ketika saya ditanya sama istri saya. “mas apakahah kamu merokok”. saya bilang tidak agar sang istri gak marah sama saya. sesungguhnya saya merokok.

terus istri saya menemukan sebungkus rokok di saku celanaku. maka agar tidak ketahuan kartu saya, maka saya pun bilang bahwa sebungkus rokok itu adalah punya teman saya. jadi hanya titipan saja.

ketika istriku bertanya siapa teman yang dimaksud, maka aku pun menjawab si pulan. padahal nama itu hanya rekayasa saya saja.

nah kalau diteliti, maka kebohongan yang tadinya satu, menjadi bertambah banyak dan melahirkan kebohongan yang tak berujung. ini hanya sebuah misal saja.

lalu saya pun berfikir, gimana kalau kebohongan itu bersifat publik. ketika berbicara tentang publik, ia bisa menyangkut posisi atau figur rakyat yang punya tanggung jawab sama publik yang dipimpinnya.

tentu saja kalau kebohongan terhadap publik terjadi, maka secara teori kebohongan itu akan melahirkan kebohongan baru, dan lebih hebat lagi, jumlah yang dibohongi bukan satu orang atau dua orang, tapi jutaan orang. lalu bagaimana tuh harus bertanggung jawab atas jumlah yang begitu hebat. maka, disinilah dibutuhkan keberanian, kejujuran, tanggung jawab, dan memihak kebenaran.

kembali kepada berbohong, maka saya pun jadi sadar bahwa berbohong itu bukan saja akan mematikan hati nurani, tapi juga merugikan yang lain.

kebohongan adalah penipuan. jadi ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan. saya pun terus menjelajahi dan menggeserkan sedikit kepada hubungan antara kebohongan dan sihir.

soalnya di kampung saya, ada kecenderungan orang ingin kaya dengan jalur cepat seperti pergi ke dukun dan mengamalkan beberapa amalan yang sangat gak masuk akal. seperti menanyakan nomor keberuntungan sama orang gila atau sama anak kecil yang tak tahu menahu. ah ada-ada saja itu orang. tapi memang ada yang berhasil ada juga yang tidak.

maka, kalau begitu, kepercayaan seperti itu tidak real karena toh untung-untungan. tapi kenapa sih mereka suka sama sesuatu yang sebenarnya ilusi belaka. mereka tidak menggunakan kekuatan logikanya bahwa kalau mau hidup, ya kerja keras. buat apa Allah memberi akal, mata, telinga, tangan, kaki dan lain sebagainya, agar mereka bisa berfikir dengan baik sehingga melahirkan tindakan yang baik, bukan yang aneh-aneh.

ah, ternyata kasus kebohongan ini terjadi mulai dari orang-orang miskin diperkampungan sampai pada kebohngan publik yang sangat berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara yang levelnya lebih luas.

ya paling tidak, aku harus menjalani hidup ini dengan lebih terbuka, transparan, jujur, apa adanya. orisinil lah istilahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: