Itsme231019

In the name of money

Posted on: November 15, 2007

rupiah“that’s a life” begitulah kira-kira apa yang saya tangkap dari komentar Mba Yola, sosok bloger yang tulisannya saya jadikan bahan pembelajaran, disamping bloger-bloger hebat lainnya.

komentar tersebut dituangkan sebagai respon akan kegelisahanku melihat paradoks yang terjadi di negri saudi yang banyak kormanya. kebetulan saya sendiri menjadi TKI di saudi yang tentu saja kerap menyaksikan aib-aib sosial disekitarku.

apa yang saya pahami dari apa yang dipikirkan mba Yola, bahwa hidup itu akan selalu tidak steril dari apa yang disebut paradoks. dalam pengertian apa yang secara ideal dalam pikiran tidak selalu sejurus dengan apa yang dirasakan pada tataran realitas.

contoh konkretnya mungkin apa yang dialami oleh banyak tki yang malang. idealnya, para tki mendapatkan gaji setiap bulannya tanpa ada keterlambatan sedikitpun. nah, ini yang berbicara adalah hukum. tapi jika melihat realitas, tidak sedikit tki apalagi tkw yang mengeluh karena gaji nya belum cair juga dari tangan majikan, padahal sudah bekerja berbulan-bulan. maka, terjadilah penyalahgunaan dan penyimpangan hukum. dari sinilah kejahatan mulai menunjukan taringnya.

setahu saya, negeri ini sistem hukumnya ketat, bahkan ada potong tangan segala, bahkan juga ada yang lebih dari sekadar potong tangah, yakni penggal kepala. tapi kenapa sistem ini gak menyentuh dan melindungi mereka yang tertindas di balik tembok rumah yang begitu tebal.

mereka para tkw yang tertindas itu adalah korban yang tak dikenal dan memang sulit untuk dikenal karena sulit dijangkau oleh publc scrutiny. kasihan sekali mereka. tapi makin kesini-makin kesini, gelombang tkw masih saja mengalir, seakan tidak sadar bahwa profesi ini sangat berisiko tinggi buat mereka.

seandainya mereka tahu apa yang terjadi disini sesungguhnya, maka mereka akan menciutkan niatnya untuk pergi jadi tkw. dalam perasaan saya, tkw disini dianggap sebagai budak seperti yang terjadi dizaman jahiliyah dulu, dimana seorang budak bisak diapa-apain sesuai kehendak pemiliknya.

kata mba Yola, mereka yang duduk di tempat terhomat pun tidak bisa lepas dari motivasi bisnis. kalau sudah kepincut bisnis secara besar-besaran, maka idealisme kemanusiaan pun akan hilang sirna karena balutan aspirasi kapitalistik terlalu tebal.

saya pun harus mulai hati-hati dengan apa yang berbau bisnis, karena kalau bisnis mengontrol kita, maka kita akan terjerembab menjadi budak bisnis, juga budak kapitalis, juga budak keinginan yang egois.

ternyata ego ini bisa saja menyelinap pada diri mereka yang duduk enak di tempat yang terhormat namun sayang karena dominasi egonya, tempat terhormat pun bergeser menjadi tempat yang menjijikan, setidaknya menurut versi hati nurani sebagai manusia yang emotionally cerdas.

ah udah dulu. maaf sekali, tulisannya masih belum runut dan urut. tapi paling tidak, ekpresi saya bisa terartikulasikan keluar dari hati dan pikiran saja dalam bentuk tulisan.

salam persahabatan buat siapapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: