Itsme231019

Lingkaran Eksploitasi

Posted on: November 13, 2007

Tanganku tak berdaya, powerless banget. Hanya geram, marah, kecewa sekaligus terenyuh. Saya merasa ada sebuah paradoks yang begitu hebat terjadi disini.

Paradoks ini bahkan terjadi di berbagai sudut di kota ini, bahkan mungkin disetiap sudut kamar yang paling personal. Ada teman saya, dia suami istri, mengadukan kegelisahannya kepada saya dengan harapan ada perhatian dan bantuan.

Mereka sudah bekerja selama 6 bulan, namun tak sepeserpun mendapatkan gaji. Padahal mereka memiliki empat anak yang ditinggalkan di kampung yang nauh disana. Karena gajinya ditahan, maka suami istri ini gak bisa berkirim uang buat anak-anaknya. Anak-anaknya terlantarkan.

Lalu saya pun bertanya, kenapa sih majikannya tega banget tidak memberi gaji buat mereka, padahal tenaga dan pikiran mereka sudah dikerahkan habis-habisan untuk bekerja? Bukankah ini sebuah ekploitasi manusia terhadap manusia. Kasihan sekali pekerja suami istri ini. Anak-anaknya terlantarkan.

Sempat teman saya ini mengadu kepada saya. Yang saya bisa lakukan adalah saya memberinya ongkos agar mereka bergegas ke kedutaan Indonesia. Karena dalam pikiran saya, seharusnya pihak kedutaan menjadi tempat legal bagi perlindungan dan rasa aman buat anak bangsa yang bekerja jadi TKI.

Teman saya ini balik lagi dan bilang ke saya kalau pihak kedutaan hanya bisa angkat tangan untuk bisa membantunya. Lho kok bisa gitu ya, bukankah kedutaan berfungsi salah satunya untuk melindungi warganya yang sedang kesulitan. Kalau permintaan perlindungan ditolak, lalu buat apa mereka diadakan. 

Paradoks banget bukan !!!, tapi itulah kenyataan.Sejarahnya, teman saya tadi bekerja seorang majikan saudi, namun tidak kerasan karena majikannya suka main pukul (violance) kalau ada kesalahan. Akhirnya teman saya ini kabur dan minta perlindungan melalui kantor.

Lalu orang kantor menghubungi majikannya untuk menyelesaikan permasalahan. Masalahpun selesai dengan sebuah hasil bahwa teman saya tadi mendapatkan kesempatan untuk bekerja di majikan yang lain melalui jasa kantor tenaga kerja.

Biasanya jika ada orang mau mengambil pekerja yang sudah ada, dia harus mengeluarkan uang yang lebih mahal ketimbang mengambil pekerja baru dengan kontrak yang baru.  Sebagai informasi saja, untuk pengambilan tenaga kerja domesik, seorang customer harus mengeluarkan uang sejumah 6000 real, sementara untuk pekerja yang sudah ada, harganya berkisar 10 hingga 11 ribu real.

Kembali lagi ke kasus teman saya tadi. Berhasil bekerja di tempat yang baru, pun ternyata kondisinya tidak jauh jauh berbeda dengan majikan pertama, bahkan lebih buruk lagi. Ia pernah bertarung fisik dengan majikannya karena persoalan sepele. Saya pikir, kenapa penyelesaian masalah harus melalui kekuatan otot.

Kenapa kekuatan otaknya gak difungsikan. Ah entahlah, mungkin kondisinya gak mendukung. Sepertinya majikan yang kedua ini menyimpan dendam. Pada obrolan terakhir dengan saya lewat telepone, teman saya ini mengatakan bahwa dirinya digebuki habis-habisan oleh majikan dan saudaranya.

Malang sekali teman saya ini. Sudah dipekerjakan habis-habisan, hak-hak nya tidak berikan. Sudah begitu, dipukuli oleh majikan dan saudaranya dengan tiba-tiba, sebuah pertarungan yang tidak sportif dan menjijikan. Saya hanya bisa terenyuh menyaksikan cerita paradoks tentang ekploitasi manusia terhadap manusia yang dialami teman saya, yang kebetulan dipihak yang diekploitasi.

Saya hanya bisa berdoa semoga teman saya berikut istrinya bisa bertahan agar bisa survive. Mereka terpaksa harus menyelesaikannya sendiri, karena tempat terhormat yang merupakan representasi dari indonesia seperti KBRI, belum bisa menjadi pelindung yang baik. Duh malangnya orang-orang indonesia disini.

Mereka terutama pekerja domestik tidak punya harga apa-apa disini, bahkan keberadaannya diidentikan dengan sampah. Bahkan tidak sedikit, setelah mereka diekploitasi besar-besaran, mereka kemudian diperjual belikan atau direntalkan ke orang lain, yang kemudian untuk diekploitasi lagi.

Jadi harus menghadapi lingkaran ekploitasi yang tak berujung. Dan paradoks ini terjadi justru disebuah negara yang secara resmi berdasarkan syariat islam, alqur’an dan al-sunnah. Saya menduka paradoks ini bisa saja terjadi pada pekerja lain, namun dengan kasus yang berbeda.

Ya Rab….sampai kapankah paradoks ini berakhir. Ini hanya sebuah ekspresi kegelisahan akan realitas yang banyak mempertontonkan budaya paradoks ketimbang budaya kemanusiaan.

Advertisements

2 Responses to "Lingkaran Eksploitasi"

Mas Ahmed, nice to get u reading what is exploited arround us thoroughly. It’s likely that you are blessed that you are given that experience to see what ur friends are going through rite ? It’s a blessing to see the reality. I would personally say that the paradoks would never end becos that’s life. there should be binary opposition to make sense our world. Commenting on the work of our representative whereelse on the world, trust me, that they only work in the name of money 🙂

@yolagani. salam dan welcome buat Mba Yola di gubuk saya ini. saya senang sekali mba yola ikut memberikan kontribusi perspektifnya di gubuk saya ini. ah jadi malu nih..heheh…soalnya kegelisahan saya ini tidak dituangkan dalam bentuk tulisan yang sistematis. maklum mba, saya lagi belajar, dan mampirnya mba apalagi memberikan kritik, wah punya nilai yang luar biasa buat saya. itu sebagai motivasi buat saya untuk terus melecut diri. thanks buat mba Yola.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: