Itsme231019

Kampusku

Posted on: November 13, 2007

UIN (Universitas Islam Negeri). Sejenak saya merenung. Universitas ini ada label tambahan yakni Islam. Dikatakan islam, karena terdapat studi keislaman disana. Dan barangkali mayoritas mahasiswanya beragama islam. Sejenak saya berfikir, lalu gimana kalau orang yang non islam pengen belajar disana?  Apakah harus islam dulu sebagai syaratnya atau terbuka buat siapapun, tidak dibatasi oleh latar belakang keagamaan? Terlepas dari persyaratan menjadi “insider” dari UIN, ada kecenderungan baru bahwa studi keislaman di UIN menjadi kurang diminati oleh masyarakat. Ada beberapa hipotesis bahwa studi keislaman di UIN mendapatkan cap yang negatif seiring dengan bergulirnya pemikiran-pemikiran keagamaan yang dianggap “tidak lumrah” ditengah-tengah pemikiran keislaman yang mainstrem atau sudah mapan ditengah-tengah masyarakat. Terkadang pelabelan negatif ini dilancarkan dengan begitu pedas dan penuh caci maki. Dugaaan lainnya adalah merosotnya minat masyarakat terhadap bidang-bidang keagamaan di UIN disebabkan sebuah asumsi bahwa fakultas atau studi keagamaan tidak menjual alias unmarketable. Dalam pengertian, ia tidak memberikan prospek yang bagus dalam dunia bisnis dan pekerjaan.  Di UIN, fakulas-fakultas pada keilmuan umum pun kini dibuka untuk mengakomodasi public need dari masyarakat. Saya pikir, adalah hal yang bagus kalau UIN berupaya melebarkan sayap nya dengan membuka fakultas-fakultas baru. Nada –nada kecemasan bahwa fakultas-fakultas keagamaan di UIN akan gulung tikar, gak usah didramatisir. Sebaliknya kecenderungan ini harus dipelajari dan dijadikan bahan instropeksi untuk melecut diri lebih bagus, tentu saja dari kualitas.  Saya pikir kalau fakultas keagamaan di UIN mengelola fakultasnya dengan bagus, dalam artian sumber daya manusianya (para dosen, administrator, ketua dekan) bagus dan bersinergi secara solid, bukan hal mustahil Fakultas keagamaan bisa menjadi “prestigious faculty” bagi fakultas-fakultas lainnya. Nah bisa jadi, kelemahan tingkat solidaritas dan sinergi antar elemen baik ditingkat jurusan, fakultas dan kampus secara keseluruhan inilah salah satu faktor mengapa terjadi degradasi minat terhadap fakultas tertentu.  Di UIN sendiri saya kira ada dua kubu dosen yang berbeda. Ada yang jebolan barat dan ada yang jebolan timur tengah (TimTeng). Tentu saja dari segi pemikiran, dua kubu ini tidak selalu sama, bahkan berbenturan. Saya berpikir sejenah, kalau misalnya administrator kampus di pegang oleh dosen-dosen TimTeng atau bukan jebolan TimTeng tapi pemikirannya berkiblat kesana, apakah mereka akan memberi full academic freedom bagi dosen-dosen yang jebolan barat dalam proses belajar mengajar di kampus?  Ataukah ada semacam acceptance yang bersyarat. Saya pikir barangkali ini ada pengaruhnya juga bagi kemajuan UIN. Kalau seandainya academic freedom ini masih dihambat hanya karena kekhawatiran yang akhir-akhir ini banyak didengungkan oleh mereka yang Anti Barat, maka kemajuan itu pun akan berjalan terseok-seok, tertatih-tatih, dan akhirnya mati suri.  Maka dialog internal pun perlu dikembangkan, terutama diantara dua kubu yang berbeda untuk meminimalisir kecurigaan yang tak semestinya terjadi.  Memang ada benarnya apa yang dikatakan Ulil bahwa ketika seseorang belajar agama secara scientifik, maka ia harus berusaha membebaskan diri dari dogma-dogma yang mendikte. Karena sesungguhnya ketika menjadi mahasiswa dibidang keagamaan, maka pendekatan mereka terhadap agama tentu saja harus kritis dan rasional. Mereka harus bisa membebaskan dirinya dari jeratan absolutisme pemikiran agama.  Karena sesungguhnya agama itu benar, namun ketika agama memasuki ranah pemikiran, maka kebenaran pemikiran itu sangatlah nisbi dan realtif, lawong itu hanya pemikiran keagamaan atas sebuah agama. Pada point ini, saya pikir agama diibaratkan seorang perempuan. Ia bisa dinilai cantik, jelek, sopan, ramah, tergantung dari sudut mana orang menilainya dan memberikan penilaian kepadanya. Kembali lagi ke UIN. Bikinlah dialog yang akademis penuh kehangatan baik mahasiswa dengan mahasiswa, mahasiswa dengan dosen, dosen dengan dosen, dosen dengan administrator, administrator dengan administrator, administrator dengan dekan, dekan dengan rektor, rektor dengan mahasiswa. Jadi kalau melihat hubungan-hubungan ini tergambar sebuah sistem yang terpadu. Artinya semua elemen ini harus keep in touch satu sama lain, sehingga satu kebijakan besar bisa dirumuskan bareng-bareng.  Saya pikir, teman-teman mahasiswa pun pernah belajar tentang ilmu sistem. Kalau satu bagian dari sistem itu tidak jalan, maka pengaruhnya akan merembet ke bagian yang lain. Nah konteksnya sekarang fakultas keagamaan di UIN sedang “sakit”. Secara teori, maka sakit ini akan berpengaruh pada fakultas lain. Maka jadilah rumah UIN sebagai sebuah sistem tidaklah utuh. Ada satu bagian yang perlu diperbaiki. Apakah fakultas lain dan Sang Rektor terpanggil hatinya untuk ikut memperbaiki fakultas keagamaan yang sedang terpuruk, atau hanya membiarkan begitu saja, tanpa ada advise atau motivasi konstruktif? Saya pikir, fakultas keagamaan di UIN adalah bagian integral dari fakultas-fakulas lain. Dan Rektor adalah nakodanya. Selamat berkarya dan terus berkarya.  Dari ahmad, yang terhempas jadi TKI di Gurun pasir 

Advertisements

1 Response to "Kampusku"

great information, thanks for sharing it……:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: