Itsme231019

hidup berdimensi sosial

Posted on: November 12, 2007

my dream

Aku selalu bertanya pada diriku. bagaimana aku bisa memberikan kontribusi sosial sementara aku ada di saudi sebagai pekerja (baca TKI). aku ingin rasanya berbagi apa yang aku miliki, kepada teman-temanku di kampung, meskipun tidak selalu dalam bentuk materi atau uang.

Aku pun selalu menelisik apalah artinya saya bisa bekerja dan mendapatkan uang, kalau hidup saya tidak berdimensi sosial? karena dalam pikiranku, manusia yang terbaik adalah ketika ia bermanfaat bagi yang lainnya. lalu, apakah keberadaanku didunia ini bermanfaat atau mudharat?

Inilah pertanyaan yang selalu mengedor-gedor kesadaran akalku. adalah aku tinggal di saudi bekerja untuk menjemput rizqi-Nya dengan kerja keras. meskipun rutinitas membuat ku penat, tapi aku harus menjalaninya. untunglah kepenatan ini bisa diimbangi dengan adanya akses internet dimana saya bisa melihat dunia luar lewat berita dan tulisan yang nongol di dunia cyber.

sedikit demi sedikit, saya pun menyerap banyak informasi, nuansa pemikiran, pergolakan keilmuan, perkembangan baru gaya hidup dan sebagainya. Subhanallah, dan masyaAllah, dengan kemampuan ilmu, muncullah internet. saya yang berada di saudi bisa tahu tentang cuaca di bandung hanya dengan pijitan tombol. Dunia memang semakin sempit.

alhamdulillah, istriku kini sudah melek teknologi meski dalam tarap pemula. komunikasi saya dengannya dilakukan dengan menggunakan chating sehingga bisa menghemat biaya. saya sangat kagum sama ilmu. maka gak heran kalau Rasulullah bilang, carilah ilmu meski harus ke negri Cina. itu merupakan penghargaan Rasul terhadap ilmu.

saya berharap, keberadaan saya bisa memiliki dimensi sosial, setidaknya untuk kelurga saya. tulisan dan pemikiran saya yang tertulis diatas kertas memang agak sulit untuk menjangkau orang dengan jumlah yang banyak. namun dengan bantuan blog ini, bukan saja istri saya, tapi juga teman-teman saya yang dulu pernah sama-sama kuliah di kampus, bisa menikmati curat-coret ekspresi diri saya.

saya senang sekali, karena lewat internet juga, saya bisa berkenalan dengan orang-orang yang bagi saya cukup hebat dan menjadi inspirator bagi saya. ini tidak mungkin terjadi. tapi dengan internet, atau blog yang merupakan produk dari ilmu, semua yang tadinya gak terpikirkan, malah jadi kenyataan real. pada tahap ini, saya berucap “subhanallah, masyaAllah. Allahu akbar.

mudah-mudahan lewat blog ini, keberadaan saya dengan berbagai representasi diri saya, bisa memiliki dimensi sosial atau bernilai sosial bagi orang-orang dikampung saya. istri saya suka mengkopi dan memprint tulisan saya. maka sangat boleh jadi, tulisan saya pun dibaca oleh mamahnya, bapaknya, adiknya, atau pun nenek dan kakeknya.

tulisan saya pun kini sudah masuk kesudut-sudut kamar di perkampungan. maka saya pun sadar, bahwa saya harus bisa memanfaatkan layanan blog ini sebaik mungkin. jadi mungkin kontribusi saya tidak harus melulu uang, namun berbentuk edukasi awarness.

eh iya, saya jadi ingat bahwa di kampung saya suka ada pengajian, baik rumah bu ustadz maupun di masjid. tapi terkadang, pelaksanaanya sangat monoton dan kurang atraktif. makanya ada kecenderungan dikalangan muda-mudi untuk lebih tertarik nonton sinetron di televisi dari pada ikut pengajian, habis pengajiannya monoton dan penuh dogma-dogma yang memasung rasionalitas.

barangkali jika para kiai atau pak ustadz juga mencoba melakukan edukasi lewat tulisan dan bikin mading ditengah-tengah perkampungan, maka ada perkembangan bagus. manfaatnya, para ustadz makin terlatih dalam penulisan dan merupakan tantangan sendiri untuk berkreasi. disamping itu, pemikiran sang kiayi akan tampil permanen dan bisa dicek and receck tentang kualitas tulisannya.

soalnya kalau pengajian hanya berupa penyampaian secara lisan apalagi dengan gaya yang membosankan, maka pesan itu masuk lewat telingan kanan, tapi keluar lagi dari telinga kiri. alhasil, pengajianpun tak lagi efektif. pengajian pun menjadi tak diminati lagi, malah ironisnya dimusuhi. gawatkan.

akhirnya muda mudi lebih memilih nongkrong dan nangkring disisi-sisi jalan. mereka membuat bentuk lain dari pengajian. pengajian jalanan. heheheh..ya begitulah kondisi masyarakat di kampung saya.

ingin saya rasanya menjadi model dan berkreasi agar teman-teman di kampung saya memiliki kesadaran yang terbarukan dan tersegarkan. saya rasa muda-mudi dikampung saya butuh seorang model yang tangguh dan kesatria. soalnya para sesepuh kampung nampaknya masih konservatif. mereka nampaknya malas untuk bisa memahami dan mendiagnosis aspirasi anak muda. maka terjadilah gap yang menganga lebar antara kaum tuda dan kaum muda.

kaum tua bilang bahwa kaum mudah sekarang kurang ajar dan tidak tahu etika. sementara kaum muda berkata bahwa kaum tua terlalu banyak menjudge, dan terlalu banyak fatwa. maka dialogpun sulit dibangun kembali karena bermain gengsi.

wah gawat dong. mudah-mudahan kepenatan antara tua dan mudah bisa dicairkan kembali. mutual understanding diantara dua generasi ini bisa saling bercumbu. yang tua mendukung aspirasi kaum muda, kalau itu memang pas bagi kemajuan pemikiran dan etika tertinggi. tapi kalau yang muda nampak salah, segera ambil tindakan tepat dengan cara yang lebih humanis, jauh dari label dan judge yang negatif dan destruktif.

kaya sekian dulu deh ekpresi dan imaginasi saya. selamat berkarya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: