Itsme231019

Shock Culture Saya

Posted on: November 10, 2007

thinkerTinggal di saudi sebagai tki, berbagai pengalaman baru saya alami. Saya berusaha mempelajari situasi yang ada disini, dari mulai bahasa, budaya, kontak sosial sampai hubungan antara pribumi dan pendatang.Disini, bahasa sehari-hari yang dipakai adalah bahasa arab mahaliyah (baca : bahasa pasaran). Maksudnya bahasa yang dipakai untuk kegiatan sehari-hari. Kalau di indo, mungkin istilah dekatnya bahasa gaul ata bahasa populer sehari-hari, dalam artian tidak grammar banget.  Contohnya di indonesia “bokap dan nyokap” yang sesungguhnya merupakan perkembangan bahasa yang secara kebahasaan tidak punya sumber yang kuat.Para pekerja seperti sopir dan pembantu banyak yang pandai menggunakan bahasa pasaran ini, terutama secara lisan. Namun tak pandai dalam menuliskannya. Bahasa pasaran ini jelas berbeda dengan bahasa arab yang menggrammar. Maksud saya bahasa arab yang EYD (ejaan yang disempurnakan). Jadi ingat bahasa indonesia nih !! bahasa formal ini biasanya digunakan oleh para mahasiswa indo yang kebetulan kuliah disini, atau juga para tki yang memang punya latarbelakang bagus dalam bahasa arab ketika di Indonesia. Jadi, improvisasinya disini. Pengalaman pertama saya disini, saya sulit sekali memahami perkataan mereka, padahal saya di indonesia pernah belajar bahasa Arab, namun bukan yang pasarannya. Kontan saja, pas terjun kesini, saya mengalami gagap budaya (shock culture). Mereka ngomong yang jelek-jelek pun tentang saya, saya mah cuek-cuek aja. Cuek bukan karena saya tidak mendengarkannya, melainkan saya mendengarkannya tapi tidak tahu maksudnya. karena persepsi saya ” ah mungkin mereka ngomongin hal biasa-biasa saja”. Saya juga pernah disuruh ngambil the manis, tapi yang saya ambil adalah odol untuk gosok gigi. Mereka pun tertawa-tawa. Pokoknya pengalaman pertama membuat diri saya stress. Itu mengenai bahasa. Sementara mengenai hubungan sosialnya, orang sini nampaknya begitu seragam dalam berpakaian. Jadi mereka punya identitas khusus dalam hal berpakaian. Yang perempuan mengenakan pakaian abaya, garmen hitam yang membungkus tubuhnya dari kepala hingga mata kaki, bahkan lebih. Dan wajahnya ditutup pakai cadar, sehingga yang kelihatan Cuma mata doang. Sementara yang cowoknya pakai thoub putih dari leher hingga mata kaki. Kepala mereka pakai kerudung yang diatasnya dipakai gumpalan tali dinamakan gutrah untuk menahan kerudungnya agar sedikit stabil saat dipakai. Kerudung ini kalau diindonesia suka dipakai bapak haji sebagai selendang dipundaknya. Satu objek, namun cara memakainya berbeda oleh orang yang berbeda karena perbedaan budaya. Namun saya menyimpan pertanyaan. Apakai dengan perbedaan ini, orang setempat (baca : pribumi) memberikan perlakuan yang egaliter terhadap orang-orang dari luar (baca : non saudi) atau ada semacam rasialisme. Tak tahulah. Barangkali pengalaman kita akan menjelaskannya nanti ? betul gak.Sekian dulu dari saya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: