Itsme231019

Being a good model, why not ??

Posted on: November 9, 2007

flowerKetika punya anak, saya merasa bahagia. Saya bermimpi kalau anak saya ini menjadi generasi dengan etika tertinggi dan berkarakter yang bagus.

Maka pikiran saya langsung meloncat kepada bagaimana mendidik anak dengan baik, respek dan penuh kasih sayang. Jika ingin mendapat anak yang shaleh dalam artian punya karakter yang bagus baik secara personal maupun sosial, maka orang tua perlu mengetahui bagaimana cara mendidiknya.

Orang tua perlu merasa penting dengan pendidikan bagi anak. Seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Tindak tanduk seorang ibu akan dijadikan model oleh sang anak. Maka sang ibu perlu mengembangkan dirinya baik secara nalar (kognisi), mental (psikologis), dan sosial. Katakanlah self improvement. Kedewasaan pun perlu dikembangkan. Wawasanpun perlu dilebarkan.

Bagaimana style mendidik anak dengan baik. Itulah pertanyaan yang menarik untuk digali. Karena anak merupakan anugrah yang harus dipelihara dengan baik.

Mengacu sumber dari Wikipedia, gaya orang tua dalam mendidik anak terbagi kedalam empat bagian yakni authoritative, authoritarian, permissive dan neglectful.

Saya akan mencoba mengartikulasikan satu persatu sesuatu frame pemikiran saya.

1.      Authoritative Parenting.

Orang tua yang menggunakan pendekatan seperti ini menggunakan otoritasnya sebagai orang yang penuh tanggung jawab. Dia punya ekspektasi yang luar biasa terhadap anaknya. Ekspektasi ini diimplementasikannya melalui aturan-aturan bikinan orang tua (karena punya otoritas) yang tentu saja disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak.

Aturan aturan ini selanjutnya dinegosiasikan atau didialogkan dengan pihak anak agar terjadi kehangatan hubungan dan kasih sayang antara orang tua dan anak.Orang tua yang authoritative selalu berusaha mendukung anaknya untuk mandiri (independent).

Namun demikian, dengan gaya seperti ini, orang tua nampak lebih ketat, tegas, dan menuntut kepatuhan anak. Dalam menghukum anak (punishment), orang tua yang authoritative selalu berusaha menjelaskan alasan kenapa hukuman itu terjadi. Jadi ada nilai rasional yang ditekankan, sehingga si anak tersentuh kesadaran intelektualitasnya dan tumbuh lebih percaya diri dan lebih mandiri.

Dikatakan authoritative, karena orang tua macam ini punya visi yang jelas dengan segudang pengalaman solid yang membuatnya yakin dalam mendidik sang anak. Dalam pandangan ku, ketika anak saya mengambil barang temannya, maka sebagai orang tua, saya harus ngasih “punishment” sebagai tanda ketidaksetujuan saya sama tindakannya sambil menjelaskan bahwa tindakan itu tidaklah benar.

Bahwa tindakan mengambil hak orang lain adalah perbuatan asosial, merugikan orang lain, dan tentu saja nama si pelaku menjadi jelek. Bagaimana kalau barang yang kamu cintai lantas diambil orang secara paksa, pasti kamu kecewa dan marahkan?.

Sebagai orang tua juga, tentu kita harus menjadi model terbaik. Misalnya saya harus memberika teladan dengan kebiasaan suka memberi kepada orang lain. Pemandangan ini lambat atau cepat akan diimitasi oleh sang anak. Jadi modeling juga sangat penting. Dan inilah bagian dari otoritas yang dijalankan orang tua. Betulkan ???  

2.      Authoritarian Parenting.

Orang tua yang authoritarian medidik anaknya untuk patuh dan taat secara total kepada orang tuanya, namun tidak menjelaskan alasan rasional kenapa aturan-aturan itu harus dijalankan oleh si anak. Orang tua semacam ini adalah orang tua yang otoriter. Ia punya ekspektasi yang begitu membumbung tinggi terhadap anaknya. Sayangnya, ekspektasi sang orangtua tidak dinegosiasikan dengan si anak, sehingga si anak disuruh patuh dan taat secara buta dan penuh totalitas dan submisivitas.

Orang tua semacam ini seringkali menggunakan pendekatan fisik dalam memberi hukuman kepada anak. Pendekatan otoriter seperti ini akan membawa dampak negatif bagi anak. Kreatifitas dan kebebasan anak begitu dipasung. Efeknya, si anak tumbuh tanpa punya inisiatif dan kemandirian. Si anak secara tidak sadar di didik untuk bergantung kepada yang lain. Ia tidak tahu apa yang harus dia pilih, kecuali kalau orang lain memberikan pilihan buatnya.

Pendekatan otoriter ini juga membuat si anak kehilangan daya imaginasinya dan rasa ingin tahu pun menjadi hilang. Anak seperti ini dididik untuk menjadi robot. Orang tua otoriter ini sering kali menggunakan “pokoknya, kamu harus belajar. Titik !!! kalau tidak, ntar saya pukul atau kamu saya jitak lho”. Atau “kamu dilahirkan untuk patuh sama saya, bukan melawan, tahu kamu !!!”. begitulah kira-kira karakter orang tua yang otoriter.

Orang tua semacam ini sesungguhnya punya tingkat kedewasaan yang rendah, karena ia menganggap dirinya sebagai orang tua yang harus dihormati. Orang tua semacam ini bersikap layaknya seperti raja, yang perkataan dan tindakanya selalu dianggapnya benar. Berbahaya juga karena, si anak diajari untuk memiliki kepatuhan buta sehingga pada taraf lanjut ketika menjadi besar dan menjadi orang tua, apa yang dia terima dari sikap arogansi orang tuanya akan menjadi referensi dia ketika ia harus juga mendidik anaknya. Maka terjadilah reproduksi yang buta dan turun temurun.

3.      Permissive Parenting.

Orang tua yang permissive nampaknya punya sejumlah ekspektasi bagi anaknya. Kehangatan hubungan tetap terjalin antara orang tua dan anak. Orang tua yang permissive menunjukan dukungan dan penerimaan namun tidak terlalu punya tuntutan sama anak. Jadi sekadar ada harapan cukup lah anak menjadi seperti orang tuanya, tidak perlu neko-neko.

Anak yang tumbuh dalam keluarga yang permissive biasanya punya tingkat perkembangan kedewasaan yang lambat. Kemandirian dan tanggung jawab kurang terlatih pada diri anak karena orang tuanya bersikap adem-adem aja tuh.

Pada taraf lanjut, si anak pun akan segera mengkambing hitamkan pihak lain ketika dia melakukan kesalahan dengan ulahnya sendiri. Dikampung saya, kecenderungan pemuda dan pemudinya menunjukkan sikap mereka yang tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Mereka gemar mencuri buah mangga didepan rumah saya, kalau pohon mangga itu lagi “rantuy” berbuah. Kalaulah mereka punya harga diri dan penuh tanggung jawab, pasti mereka lebih memilih untuk berterus terang kepada si pemilik untuk membeli mangganya, karena mengambil buah mangga tanpa izin adalah perbukan asosial yang merugikan.

Kesadaran akan hidup bermartabat nampaknya juga belum menjadi bagian dari masyarakat saya. Maka apakah gejala ini menunjukan bahwa orang tua yang yang melahirkan anak dengan karakter yang kurang bagus merupakan produk pendekatan yang permissive atau tindakan mencuri adalah didikan orang tuanya.

Disamping itu, banyak terjadi kasus hamil diluar nikah dikampung saya. Kenapa sih si pelaku gak punya tanggung jawab dan tidak berfikir dua kali. Kenapa sih orang tua mereka begitu permissive sama anak-anaknya yang nota bene adalah tulang punggung dan tunas bangsa.

4.      Dismissive Parenting.

Hampir mirip permissive style, orang tua yang dismissive menganggap anaknya merupakan wilayah yang tidak perlu dicampuri. Namun dismissive ini orang tua secara utuh membebaskan anaknya secara total, namun kebutuhan dasar anak masih disediakan orang tua.

Anak dengan orang tua semacam ini akan tumbuh liar dan tentu saja mencari nilai-nilai dari luar. Mungkin orang tua terlalu sibuk dengan kegiatannya atau memang tidak mau peduli banget sama perkembangan kepribadian anaknya. Miliu keluarga yang dismissive akan melahirkan anak tanpa identias dan warna yang jelas dari orang tuanya.

Ia membirakan anak mencari identitas dari luar. Mau identitas baik atau buruk, itu urusan anak bukan urusan orang tuanya. Wah, bahaya juga nih kalau orang tua menggunakan pendekatan dismissive ini. “ok deh, ini uang buat kebutuhan kamu dan hidup kamu. kalau ada apa-apa, ambil aja disana sesuai keinginan kamu”. orang tua semacam ini sedikit pun tidak punya ekspektasi terhadap anaknya. Singkat kata, anak secara sosial merupakan produk dari bagaimana orang tua mendidik mereka.

Makanya ada anak dengan karakter yang tanggung jawab, ada anak penakut dan pengecut, ada anak yang liar, ada juga anak yang destruktif dan tidak punya orientasi hidup. Itu semua harus dilirik dari latar belakang yang sangat berkaitan dengan bagaimana ia mendapatkan pendidikan dari orang tuanya.

Dengan tulisan sederhana ini, saya berharap agar bisa belajar untuk bagaimana saya sebaiknya mendidik anak agar anak saya menjadi orang yang bertanggung jawab, pemberani, sopan dan respek terhadap sesama. Tentu saja saya harus melihat ke dalam diri saya, apa yang harus saya suntikan kepada diri saya sehingga anak ku sesuai dengan apa yang saya lakukan.

Advertisements

2 Responses to "Being a good model, why not ??"

entah saya masuk di kelas orang tua yang mana..
bagi saya sebagai seorang ayah dari 2 putri, sangat penting untuk meneapkan disiplin pada anak-anak saya. Disiplin dalam arti penuh perhatian pada anak-anak dengan imbalan anak-anak pun harus patuh pada aturan untuk tidak “mobuhunga” pada apapun yang saya katakan demi masa depan anak-anak.

thanks for comment pahaji.
yes i agree that discipline should be put into action. and it should be negotiated with the children so that they would know the consequence if they break the rule.
i dont now exactly what type of parent you are, but one thing i know from you that you want to have a great children. i hope it will come true.
ahmad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: