Itsme231019

Masih “menari-nari” di fikiranku

Posted on: November 8, 2007

batok kepala“Wah aku kagum sama tulisan kamu, apalagi sama orangnya”, begitulah ungkap istriku lewat sms. Mendapat sms tersebut, saya merasa termotivasi untuk terus mengembangkan tulis-menulis. Prinsip saya, pertama-tama yang harus saya bangun adalah rasa cinta untuk menulis, sehingga tidak ada unsur tekanan dari manapun. Ia harus muncul secara intrinsik dan orisinil. bukankah lebih baik seperti itu kan ?

Dalam proses selanjutnya, saya pun akan berusaha untuk menulis lebih fokus dan lebih scientific. Meskipun saya sebagai tki, tapi tidak ada alasan untuk tidak tidak belajar dan mengimprove diri. Justru sebagai tki, sebenarnya banyak pengalaman baru yang terjadi yang sesungguhnya menarik untuk ditulis. Maklum Saudi bukanlah indonesia. lain negara lain budaya. beda budaya, beda bahasa. karenanya menarik untuk dibahas, setidaknya pengalaman yang personally saya rasakan dan amati.

Berkaitan dengan istriku, sesungguhnya saya menulis pengalaman dan fikiran saya, adalah sebagai rangsangan agar dia juga tertarik untuk menulis. Impian saya, kalau bapak dan ibunya suka menulis, maka boleh jadi anaknya juga akan mudah terpola atau terkondisikan sesuai dengan iklim yang dibentuk ibu bapaknya. Yakni, iklim edukatif seperti menulis, membaca, berdiskusi dan berargumentasi dengan elegan.

Saya pernah mencicipi bangku kuliah di ciputat pada jurusan komunikasi dan penyiaran islam. Tapi sayang, tidak utuh. saya keburuh drop out karena keburu kepincut sama lowongan pekerjaan.

Waktu dikampus, saya pernah diajar komunikasi oleh Pak Andi Faisal Bakti. Beliau merupakan alumni kanada. Saya personally, tertarik terhadap pemikirannya, cara dia berargumentasi dan cara dia mengajar dikelas.

Ia lebih suka memberikan kebebasan akademis kepada mahasiswanya. ia selalu menggunakan konsep “negotiation” dalam banyak penyikapan. karena baginya, komunikasi seperti jantung yang terus berdetak dan berdenyut. ia tidak boleh berhenti. ketika mahasiswanya belum mengerti apa yang ia bicarakan, baginya hal tersebut hal yang wajar, karena sejelas apapun pesan yang disampaikan, si penerima belum tentu mengetahui pesan yang dimaksud. oleh karenya, komunikasi dan negosiasi perlu terus digulirkan. betul ga kan pak !!!

Menyimak pemikiran Pak Andi ini, fikiran saya terus bergejolak dan gelisah. karena apa yang selama ini sudah mapan dalam otak saya, seperti dibongkar lagi ketika mempelajari fikiran dosen favorit saya ini. dia mengajarkan bahwa sebagai mahasiswa, kita harus kritis terhadap budaya yang selama ini mengontrol kita. mahasiswa harus bisa memfungsikan logika sehingga akan timbul pencerahan, bukan sekadar reproduksi dan taklid (imitasi).

Menurut dia, yang membedakan mahasiswa dengan tukang beca adalah terletak pada kemampuannya dalam menuliskan gagasan dan idenya secara sistematis. kalau mahasiswa gak bisa nulis, maka tidak ada bedanya dengan tukang becak. kira-kira seperti itu ide yang beliau sampaikan.

Dari beliau juga, saya dikenalkan apa itu postmodernisme. disamping itu, saya juga dikenalkan sama dunia komunikasi. dikenalkan juga multiculturalisme, psikologi agama, dan psikologi komuniasi. saya sendiri jujur saja belum menguasai itu semua. karena katanya, kalau mau berkembang, maka harus bikin refleksi, orisinil dan murni dari fikiran kita tentang apa yang terjadi, tentu juga harus dengan bahasa kita sendiri.

pada tahap ini, maka ilmu itu sudah menjadi milik kita dan bagian dari kita. dan itu sudah menjadi hak milik kita. pada point ini, saya langsung ingat sama mba jenni dengan konstruktivisme yang menjadi fondasi berfikir dan sikapnya.

bahwa kita punya pengalaman yang unik. maka menurut ideologi konstruktivisme, maka pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan kita. maka lagi-lagi disini, pola pembelajaran haruslah student centered. artinya si learner dibantu untuk mengkonsruksi pengalaman dan lingkungannya sesuai dengan pengalaman sebelumnya.

barangkali, itulah setitik pemahaman saya terhadap apa yang saya fikirkan. akhirnya, kepada istriku, saya ucapkan terima kasih banyak atas motivasinya, juga kepada mba jenni dan pak andi, yang masih “menari-nari” di fikiranku.

ahmad

riyadh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: