Itsme231019

Persandingan Psikologis antara Qta

Posted on: November 5, 2007

my special one in my life

Wahai kekasih pujaanku, aku terlahir untuk menjadi pendampingmu. Pendampingan langsung nampaknya suatu hal yang mustahil. Dirimu berada di bandung, sementara diriku berada di Saudi. Pendampingan langsung memang dibatasi oleh letak geografis.

 

Namun demikian, bersanding secara psikologis bisa kita bangun dan kembangkan. Kita punya perasaan rindu yang sama. Rasa rindu ini bisa kita curhatkan lewat teknologi terkini yakni sms atau chating. Meski tidak langsung, namun pesan-pesan yang tertuang lewat sms bisa menjadi obat penghibur atau juga marah karena mungkin saja terjadi mispersepsi. Terlepas dari itu, suasana psikologis tetap terbangun.

 

Belakangan secara ditanya istriku tentang keberkaitanku dengan rokok. Jujur saja saya pernah merokok tapi tidak berarti kemudian saya suka merokok. Kejujuran ini saya sampaikan pada istri saya. Jelas saja, istri saya langsung menunjukan kekecewaaanya lewat sms. Dalam pikirannya, bahwa suaminya memiliki kecenderungan baru yakni suka merokok, sebuah kebiasaan yang sangat tidak disukai sang istri.

 

Dalam hal ini, perlu diluruskan bahwa saya merokok bukan karena saya suka merokok, namun sebagai cara untuk menghilangkan bau hanyir dimulut setelah makan ikan atau makanan yang bau-bau. Bagi saya, itu hal yang wajar dan tidak ada maksud sedikitpun untuk menjadikan merokok sebagai kebiasaan saya.

Tapi memang sang istri punya ketakutan yan sangat besar dan mungkin saja berfikir bahwa merokok sudah menjadi kesukaan baru saya. Akhirnya saya dan istripun bikin kesepakan baru. Saya siap untuk tidak merokok meskipun kadang-kadang (meski setelah makan ikan ) dan istriku juga siap untuk setidaknya mengurangi makan yang pedes-pedes (syukur-syukur kalau lada menjadi makanan yang dimusuhinya).

 

Namun istriku masih menyimpan rasa kecewa atas sikap ku yang kadang-kadang suka merokok, dengan argumentasi bahwa merokok sangat destruktif bagi kesehatan dan menyia-nyiakan uang. Selanjutnya saya pun membuka kata sepakat. Namun kalau istriku masih kecewa, barangkali itu terpulang sama istriku sendiri, karena bagiku rasa kecewa tidak baik untuk dipelihara ketika ketika kata sepakat sudah tercapai. Yang perlu dibangun dan dipelihara adalah saling memberi dorongan, masukan konstruktif, keterbukaan, kejujuran, dan tentunya membangun saling pemahaman agar perdampingan psikologis ini tetap terajut dengan indah meski kita saling berjauhan.

 

Ada yang perlu saya tuliskan disini bahwa anak adalah anugrah Allah yang perlu disyukuri. Topik ini menjadi penting karena ketika kita punya anak, maka kita punya tanggung jawab untuk memeliharanya.

 

Sudah tentu, kita ingin menjadi orang tua yang baik dan bijaksana. Kita punya segudang impian dan berusaha berimaginasi tentang masa depan buat buah hati kita. Kita ingin punya anak yang kuat, pemberani, bertanggung jawab, berkarakter besar dan beretika tinggi. Menjadi model buat yang lain. Itulah harapan kita tentang anak kita.

 

Tapi harapan itu perlu diimplementasikan pertama-tama bagaimana kita menjadi model yang terbaik buat anak kita. Harapan-harapan kita tentang anak kita harus berbanding lurus dengan keautentikan dan originalitas diri kita, baik dalam bersikap, berkata dan berkarakter. Yang ingin saya tekankan adalah ketika kita ingin anak kita cerdas, maka diri kita pun harus cerdas lebih dulu. Kita harus banyak baca, berfikir, menganalisa, meneliti sehingga karakter tersebut akan menular dan bisa ditularkan dengan mudah kepada anak kita.

 

Kalau kita tidak otentik dalam kedirian kita, cepat atau lambat buah hati kita akan kehilangan kepercayaan kepada kita. Contoh konkretnya, kita berkoar-koar agar anak kita harus suka baca, tapi pada saat yang sama, kita malah asyik nonton sinetron tivi.

 

Kasus seperti ini menunjukan bahwa kita sedang mengajarkan sebuah ketidakotentikan dan kepengecutan diri kita kepada anak kita, tapi banyak orang yang tidak menyadari hal ini. Jadi artinya kebaikan yang kita inginkan terjadi pada anak kita merupakan sesuatu yang harus lebih dulu terjadi pada diri kita. Simple kan. Oleh karena itu, kita harus terus mengkonstruksi diri kita dengan karakter yang gigih, punya inisiatif, punya ide-ide, pemberani, bertanggung jawab dan penuh respek terhadap sesama.

 

Untuk istriku yang tercinta, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Pasti ada khilaf dan lupa diantara kita. Pintu maaf masing-masing dari kita harus selalu terbuka jika mispersepsi mencuat. Qita yakin ko bahwa hidup ini simple dan mudah, asalkan kita berfikir simple dan mudah. Karena sesungguhnya kemudahan hidup dan kesuksesan merupakan urusan mindset atau cara berfikir. Oleh karena itu, mari kita tebalkan fikiran yang positif, progressif dan open minded. Salam sayang untuk istriku tercinta dan putraku yang ganteng dan gagah berani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: