Itsme231019

Iman, adikku sang pahlawan tak dikenal

Posted on: November 2, 2007

Iman Nurdin Amarullah. Itulah nama adikku. Ia telah pergi meninggalkan saudara-saudaranya yang lain. Setahu saya, ia memiliki karakter sosial yang bagus. Karakter tersebut, ia tunjukkan terhadap teman-temannya. Disaat punya uang, ia tak sungkan-sungkan berbagi dengan teman-temannya. Ia juga suka berbagi apa yang dia miliki bukan saja sama adiknya tapi juga kakak-kakaknya (termasuk sama saya). Ketika saya kuliah di jakarta, saya dikasih uang sekitar Rp.20.000. katanya untuk ongkos. Saya salut sama rasa kemanusiaan adik saya itu. Sebetulnya saya malu, sebagai kakak, kok saya malah menjadi tangan dibawah, sementara adik saya itu berusaha untuk menjadi tangan diatas. Subhanallah. Semoga kepolosan dan kebeningan hatinya mendapat ridha Allah swt. Setahu saya, ia juga punya impian ingin bisa kuliah. Ia mungkin ingin merasakan kuliah seperti kakak-kakaknya. Tapi sayang, impian itu belum tercapai. Namun demikian, impian itu harus terus diperjuangkan. Keinginan itu tentu saja bukan sekadar keinginan. Dalam hati kecilnya, ia ingin ada perubahan lewat pendidikan. Ia ingin menjadi model yang baik bagi teman-temannya. Adik saya itu nampaknya berusaha ingin mandiri. Indikasinya, ia memutuskan untuk bekerja menjadi supir pribadi di jakarta, mengikuti jejak kakaknya Agus Tiana Rahman. Lagi-lagi, dari hasil keringatnya itu, ia sangat dermawan. Ia sangat menjunjung nilai kesetiakawanan yang tinggi. Banyak kawan-kawannya yang salut dan mengagumi sifat dan sikapnya.  Ketika saya dikasih tahu bahwa ia telah meninggal, saya pun meneteskan air mata dan tentu merasa kehilangan seorang pahlawan. Ia meninggal justru disaat umurnya masih muda. Tentu saja ia punya segudang impian. Ia ingin menjadi model yang terbaik bukan saja untuk teman-temannya tapi juga untuk dunia. Ia ingin menjadi manusia yang suka memberi.  Dalam persepsi saya, ia sangat pandai dalam memainkan musik. Dalam hal musik, ia bergabung dengan teman-temannya dan sempat menelorkan album kreasinya. Kata keponakannya, Ganjar, si iman itu bagi saya seperti saudara saya sendiri.  Dalam persepsi saya juga, ia seorang pemberani. Ia selalu mendambakan kebebasan dalam berekspresi. Ia berusaha mencari kebenaran, dimanapun.  Ibuku sering memarahinya karena ia suka merokok. Namun ibuku terkadang terjerumus menggunakan cara yang kurang tepat. Tapi alhamdulillah, adiku itu bisa bersabar dan tidak memasukkan kedalam hati.  Suatu saat, saya, dengan alasan tertentu, membuat kritik agar adik saya berhenti dari merokok. Saya pun membuat gambar seorang pemuda yang rambutnya gondrong sambil merokok ditempel ditembok dengan harapan adik saya berusaha insaf. Namun apa yang tejadi. Melihat gambar tersebut, adik saya keluar dari rumah selama 2 hari. Ternyata ia menganggap bahwa gambar itu sebuah kritikan yang kurang tepat dan tidak edukatif. Sebenarnya, ia membutuhkan sentuhan-sentuhan manusiawi dalam proses nasehat. Ia tidak mau dogma-dogma yang tidak mencerdaskan. Ia lebih suka nasehat yang logis dan menyentuh kesadaran intelektualitasnya. Wahai adikku, maafkan jika ada salah. Karena sesungguhnya yang terjadi adalah miskonsepi dalam proses perubahan. Saya berdoa semoga amal baikmu diterima oleh Allah sebagai ibadah. Semoga engkau, adiku mendapat tempat yang baik disisinya. Amin.  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: