Itsme231019

Archive for November 2007

slavery

Inilah rumahku. dimana aku bebas mengekspresikan diriku. Namun rumahku ini terbuka buat nuansa dialog dengan orang-orang yang tentu juga punya rumah kebebasannya.

Diantara rumah-rumah ini idealnya bisa saling berbagi pandangan dan pemikiran. Jadi ada semacam dialektika yang negotiable dan sportif. dan bagi saya ini adalah bibit-bibit demokrasi yang perlu dibangung dan dikembangkan.

Pada saat ini, ada yang mengusik diri saya. Usikan ini berupa pertanyaan “bolehkah aku bekerja di negeri orang sebagai Pembantu (TKW)?

Saya pikir, ada banyak yang bisa dianalisa dari penggalan kalimat diatas. Menarik sekali, karena kalimat tersebut merupakan simbol dari realitas kehidupan sehari-hari.

Dalam pandangan saya, kalimat tersebut ada kaitannya dengan mentalitas dan karakter anak bangsa. Bayangin saja, hingga saat ini, indonesia masih termasuk negara yang banyak bermain sebagai Agen memproduksi tkw ke luar negeri.
Nampaknya, Pilihan menjadi babu sudah terlanjur menjadi trend dikalangan orang-orang tertindas. dalam benaknya, tidak ada pilihan lain kecuali membabu. dan saya pikir, ini sangat berbahaya terutama ketika membabu ini menjadi sebuah mentalitas dan kepribadian. ia akan sulit dihilangkan, karena sudah mengkarakter dan mengkristal dalam diri.

Saya pikir, ada something wrong dalam cara kita berfikir, terutama kita sebagai anak bangsa. Okelah, bangsa kita masih terpuruk. Bangsa kita masih banyak menyimpan nilai-nilai bobrok dalam dirinya. Nampaknya perubahan itu harus terus digali dan dikembangkan kearah yang lebih dignity.

Pilihan menjadi tkw adalah cerminan bahwa kondisi sosial dimasyarakat kita masih banyak ketimpangan. Untuk bisa bekerja di pabrik misalnya, ternyata harus mengeluarkan sejumlah uang agar bisa diterima sebagai karyawan. Sebuah tontonan yang aneh dan irrational sekali. Jadi ada semacam nilai-nilai ekploitatif terhadap orang-orang tertindas.

Orang-orang tertindas ini bukan diberi harapan, namun justru untuk diekploitasi. Dan sesungguhnya harapan-harapan yang diberikan bersifat semu belaka. Ia merupakan iming-iming dan mimpi-mimpi yang cantik namun ternyata mengkhianati.

Karena ruang-ruang pekerjaan dinegeri sendiri dinilai ekploitatif dan licik, pilihan bekerja di negeri orang sebagai tkw pun makin dilirik. Tapi ternyata prosesi menjadi tkw pun, terkadang tak lepas dari unsur-unsur ekploitasi. Si tkw diharuskan bayar ini dan itu dengan berbagai justifikasi.

Saya bertanya, kenapa sih harus memilih menjadi babu. Kenapa hidup ini harus dijalanin dengan minder (inferior). Karena menjadi tkw adalah sesungguhnya cermin dari inferiority.

Saya pikir, kalau kita punya skill yang bisa dibanggakan. Kenapa harus menjadi tkw atau babu buat orang. Nah, bagaimana agar kita punya skill dan kemampuan? Maka jawabannya adalah pendidikan.
Jika berbicara pendidikan, maka dengan sendirinya tersimpan didalamnya proses pembelajaran.

Kita harus berani untuk belajar dari setiap kesalahan agar tidak terulang kembali. Kesalahan-kesalahan itu bisa terjadi dalam lingkup sosial masyarakat kita.
Kita tahu bahwa tidak sedikit kecurangan-kecurangan terjadi disetiap jengkal dinegeri kita ini. Dan ternyata kecurangan-kecurangan itu membuat bangsa ini makin terpuruk.
Nah disini kita harus memposisikan diri sebagai agen solutif dan kontribusi positif bagi bangsa. Setidaknya dimulai dari lingkup hidup kita yang terkecil. Dari diri sendiri, keluarga, teman-teman dan masyarakat setempat.

Edukasi awareness tentang hidup dignity seperti
• tidak meminta-minta,
• tidak mencela,
• tidak mengeluh,
• hidup sederhana,
• respek terhadap sesama,
• tidak mengambil hak orang lain,
• hidup dengan kerja keras,
• percaya diri,
• menghindari sebisa mungkin untuk menghutang,
• tidak mengekploitasi orang lain,
• suka memberi, dan
• taat terhadap hukum demi kemaslahatan bersama,
• apresiatif terhada alam adalah merupakan nilai-nilai hidup dengan etika tertinggi yang harus ditradisikan ditengah-tengah masyarakat.

Tentu saja harus dimulai dari diri sendiri, lalu kita rembetkan kepada yang lain, sehingga akan mengharu biru sebagai karakter bangsa.

Percaya akan kemampuan diri akan mengantarkan pada pilihan yang terbaik dala hidup. Tentu saja pilihan menjadi tkw adalah pilihan terburuk, karena memang mengandung banyak risiko dengan tingkat tinggi.
Akhirnya, saya ingin mengucapkan, “Pede aja lagi” ….sepakat

Advertisements

n

Waktu kecil, saya punya pengalaman mencontek saat ujian. Penyebabnya, karena saya tidak tahu apa yang harus saya jawab. Tapi kenapa saya tidak bisa menjawab? Apakah karena saya tidak belajar, tidak pernah membaca ? atau apakah membaca, tapi soal-soal yang ditanyakan diluar apa yang dibaca atau dipelajari?  

Pertanyaan lain juga, adalah kenapa belajar itu terjadi ketika ujian justru berada diambang pintu? Untuk hal ini, ada sebutan sistem kebut semalam (SKS). Jadi sistem belajarnya dadakan saja.  

Yang saya rasakan waktu bocah, praktek mencontek ini akibat kemalasan saja. Waktu yang saya miliki lebih tersedot untuk bermain-main. Belajar hanya terjadi dikelas saja.  Guru sering memberi pekerjaan rumah (PR). Namun karena saya bawaannya malas, PR pun tak jarang dihiraukan begitu saja. Kalaupun dikerjakan, hanya sebatas sekedarnya saja. Jadi gak pernah seirus. 

Saya sering dimarahim ibu guru karena pekerjaan rumah saya sering terbengkalai.  Biasanya saya sadar kalau saya punya PR, justru ketika keesokan harinya saya akan memulai belajar dikelas. Itupun karena mendapat sinyal dari teman-teman.

Akhirnya, saya pun mengerjakan PR tergesa-gesa. Pas saya tidak tahu, praktek mencontek pun akhirnya menjadi senjata andalan saya. Tentu saja ibu guru datang dan memasuki kelas. Hati saya pun tak nyaman karena ada semacam rasa cemas dan takut.

Takut ditanya dan ditunjuk untuk menjelaskan PR.  Untung kalau paham, tapi sayang seringkali tidak paham. Jadi waktu itu, saya hanya memindahkan karya teman saya ke dalam catatan saya.  Waktu bocah, saya suka melakukan plagiat.

Artinya, pengalaman-pengalaman tadi merupakan cermin dari ketidak jujuran, tidak percaya diri, tidak ada dignity, dan tidak punya nyali. Lalu saya bertanya, kenapa kok masa kecil saya seperti itu? Apa yang mempengaruhi saya untuk bersikap sepecundang itu? Nampaknya yang menjadi hipotesa saya adalah bagaimana lingkungan mempengaruhi saya, dan bagaimana saya mempersepsinya.  

Alhamdulillah karakter pecundang itu tidak permanent dalam diri saya, seiring bertambahnya pengalaman, kedewasaan, dan tanggung jawab. Saya tidak tahu persis bagaimana perubahan itu terjadi.  

Namun kalau saya harus menjawab, maka jawabannya adalah proses self-awarness saya bermain, selalu aktif dan memperanyakan. Ternyata pengalamanlah yang kemudian membuat saya lebih bisa belajar untuk belajar bijak.   

Masa kecilku bisa menjadi cermin dan pelajaran bahwa ternyata praktek nyontek justru akan membuat tatanan menjadi ruksak. Juga sebagai cermin dari tidak adanya manajemen dalam hidup. Tidak punya kepedulian. Hidup tanpa dignity.  

Saya pun sadar betul bahwa sangat mungkin terjadi bahwa praktek korupsi, nepotisme, dan praktek-praktek kotor lainnya bermulai dari kebiasaan mencontek.  

Saya setuju apa yang dikatakan Mba Jenni, bahwa penyakit yang membuat Indonesia gak pernah maju, dan malah menunjukkan gelagat kemunduran, adalah penyakit mental yang sudah kronis dan melembaga.  

Oleh karena itu, kalau ingin maju, maka harus berani melepaskan ethos pecundang dan menggantikannya dengan ethos pemenang. Akhirnya saya hanya bisa berujar “just change to the right one”.

korupsi

Indonesia adalah negara yang besar. Ia besar karena sumber daya alamnya begitu melimpah. Tanahnya subur. Memiliki beraneka ragam budaya, agama dan juga bahasa. Namun tiba-tiba ia dikerdilkan oleh orang-orang yang yang bermental kerdil. Kekerdilan ini muncul dalam bentuknya yang bervariasi. Korupsi adalah salahsatunya.

Praktek korupsi ini hampir terjadi dibanyak tempat. Dipusat maupun di daerah. Di institusi umum maupun institusi berbau agama. Nyaris disetiap tempat.
Apa sih sesunggunya korupsi itu sehingga banyak orang yang tergiur untuk melakukannya.

Berikut ini pengertian korupsi versi http://www.wikipedia.org

“In broad terms, political corruption is the misuse by government officials of their governmental powers for illegitimate private gain. All forms of government are susceptible to political corruption. Forms of corruption vary, but include bribery, extortion, cronyism, nepotism, patronage, graft, and embezzlement. While corruption may facilitate criminal enterprise such as drug trafficking, money laundering, and trafficking, it is not restricted to these organized crime activities. In some nations corruption is so common that it is expected when ordinary businesses or citizens interact with government officials. The end-point of political corruption is a kleptocracy, literally “rule by thieves” (http://en.wikipedia.org/wiki/Political_corruption)

“korupsi adalah bentuk penyalahgunaan kepentingan publik oleh pejabat publik untuk kepentingan pribadi yang yang tidak syah”.

Bentuknya bermacam-macam. Ia bisa berupa praktek suap-menyuap, lewat pintu belakang, uang pelicin yang berkedok hadiah, pembobolan uang dengan paksa, praktek politik uang, nepotisme (berdasarkan ikatan kekeluargaan), cronyisme (berdasarkan ikatan konco-konco), dan masih banyak bentuk-bentuk lain dari praktek korupsi ini. Intinya adalah adanya penyalahgunaan.

Saya tidak habis pikir, kenapa posisi di pemerintahan begitu diburu bahkan dengan cara-cara saling sikut sana, sikut sini. Uang pun rela dikeluarkan habis-habisan hanya untuk bisa duduk kursi pemerintahan. Apa sih yang dicari? Saya takut, kalau motivasinya bukan untuk memperbaiki bangsa tapi justru menggerogoti bangsa.

Saya juga berfikir keras kenapa uang itu identik banget dengan kekuasaan. Seakan-akan, kalau gak ada uang, gak bisa menikmati kekuasaan. Saya jadi ingat kasus pemilihan kepala desa di desa saya. Ternyata yang keluar jadi pemenang adalah seorang yang kebetulan punya kekuatan uang.

Dengan demikian, seseorang yang sesungguhnya punya kemampuan yang bagus menjadi tersingkirkan karena uangnya gak tebal. Ironis memang.

Kalau saja masyarakat punya kesadaran politik yang bagus dan sehat, mereka akan berfikir bahwa sesungguhnya politik uang merupakan pintu bagi menyeruaknya praktek-praktek korupsi yang lebih hebat yang akan meruksak tatanan sosial. Artinya, publik akan dibohongi dan dirugikan.

Ingat, bahwa kekuasaan sangat mungkin diselewengkan, apalagi kalau tidak ada pengawasan dari berbagai elemen masyarakat.
Kadang-kadang, masih ada pengawasan saja, korupsi tetap saja tuh terjadi, apalagi kalau tidak dikontrol. Enak banget rasanya hidup ini.

Tapi sesungguhnya, praktek korupsi ini bisa saja terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya saja seorang guru mendapat suap dari orang tua wali agar anaknya mendapatkan rangking yang bagus atau agar anaknya diterima disekolah tersebut. Nah, proses seperti ini banyak terjadi bahkan di institusi pendidikan. Paradoks bukan.

Sejatinya kan, institusi pendidikan adalah agen moral yang anti korupsi. Tapi lagi-lagi, yang namanya jabatan apapun tingkatannya sangat rentan terkena virus korupsi. Jangan-jangan, jabatan yang berbau keagamaanpun bisa-bisa terkena virus tadi. Wah, bahaya juga ya.
Ah udah ah….nampaknya segini dulu deh perenungannya. Jika ada ide-ide baru, just feel free to put here..ok. have a nice day with honesty and originality. So..Ingin jadi good government, ogah ah untuk main korupsi. Memalukan saja.
Ahmad.
TKI Saudi Arabia

begging

Hidup bergantung sama pihak lain akan menumpulkan daya kreatitifas. Oleh karenanya, ketergantungan harus digeser menjadi kemandirian. Kemandirian juga adalah kebebasan dan kemerdekaan.

Dalam kemandirian, akan muncul kedewasaan, kreatifitas, tanggung jawab, keberanian, orisinilitas dan karakter yang bagus.

Ketika saya berfikir tentang kebergantungan, maka pikiran saya tiba-tiba tertumpu pada suatu kondisi dimana seseorang yang punya tingkat ketergantungan yang tinggi sama narkoba, maka ia tidak bisa hidup kecuali dengan mengkonsumsi narkoba.

Lalu bagaimana kondisinya kalau narkoba yang menjadi tumpuan hidupnya tak lagi ada, karena mungkin gak punya uang untuk mendapatkannya? Bisa ditebak, ia akan terdorong untuk mendapatkannya denga cara apapun, sekalipun harus merugikan orang lain. Misalnya mencuri. Ini adalah efek samping dari sebuah kebergantungan. Efeknya sangat negatif dan destruktif baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Saya juga bisa membayangkan bagaimana kebergantungan ini terjadi ketika seseorang masih menggantungkan hidupnya kepada orang tuanya, padahal ia sudah menikah. Masih untung kalau orang tuanya bijak dan bisa menerimanya dengan baik.

Tapi bagaimana kalau kebetulan orangtuanya kurang menerima? Sudah bisa diduga, masalah akan selalu ada. Kebebasan dan rruang gerak pun menyempit,  sehingga akan melahirkan ketidaktenangan yang bersifat psikologis.Lagi-lagi efek dari kebergantungan ini melahirkan efek negatif bagi perkembangan psikologis orang yang bergantung.

Dalam konstruksi pemikiran saya, orang pun bisa bergantung secara pemikiran keagamaan. Yang saya maksudkan dengan kebergantungan kepada pemikiran keagamaan adalah ketika seseorang mengabsolutkan suatu pemikiran sehingga tidak ada pemikiran lain yang benar kecuali pemikiran yang ia pegang erat-erat bahkan membabi buta.

Tentu saja, kondisi ini pun akan melahirkan kemandegan dan kejumudan pemikiran.

Pada tahap ini, jika orang-orang semacam ini tampil dalam arena debat, maka kemungkinan yang akan terjadi adalah debat kusir yang tak ada ujung solusinya. Maklum dia hanya bisa mereproduksi pemikiran orang lain yang terlanjur dianggap absolut oleh dirinya.

Alhasil, pemikiran yang lain gak ada yang benar. Ketergantungan pada absolutisme pemikiran sama bahanya dengan kebergantungan pada narkoba.

Lalu, saya pun sering melihat begitu banyak orang-orang menjadi peminta-minta di jalan-jalan di kota besar terutama di Indonesia. Baik itu diterminal, di tempat lampu merah ataupun didalam bis.

Ada yang terang-terangan meminta, ada juga dengan cara ngamen, ataupun mengekploitasi ayat-ayat al-qur’an untuk meminta sumbangan dari para penumpang. Saya pikir, duh bangsaku ini penuh dengan mentalitas meminta, mencopet bahkan memaksa penumpang untuk ngasih dia uang (yang terakhir tukang palak).  Saya takut mentalitas semacam ini dijadikan profesi jalanan.

Kalau kondisi semacam ini sudah mengkristal dalam diri mereka, maka mereka tidak bisa hidup kecuali dengan meminta-minta, memalak dan mengemis. Kebergantungan membuat hidup mereka dalam kubangan kemunduran dan kebodohan. Maka, penyadaran publik tentang dignity menjadi penting dalam hal ini.

Supremasi hukum dan law enforcement harus benar-benar ditegakkan. Para penegak hukum harus setia dengan penuh kesadaran dan komitment tinggi terhadap hukum, sehingga akan melahirkan public trust dimasyarakat. Janganlah pembuat hukum menjadi hukum itu sendiri sehingga bisa bebas dari jerat hukum yang dibikinnya. T

Tanamkanlah kesadaran bahwa semua orang sama saja didepan hukum. Tidak pandang bulu. Mentalitas mengemis dan meminta-minta di jalanan sama saja nilainya dengan mentalitas korupsi dipusat pemerintahan, bahkan yang kedua ini lebih buruk dan picik karena uang yang dikorupsi adalah uang rakyat. Uang rakyat dikorupsi untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Lalu dimanakah mental kepemimpinan orang-orang yang berada ditempat –tempat terhormat seperti itu. Kalau orang-orang petinggi saja sudah korup, bagaimana pula dengan orang-orang dijalanan. Mereka diajari oleh petingginya untuk korup juga. Untuk bergantung buta, ogah ah. Mendingan mandiri biar bisa merdeka dan berkreasi tanpa ada gangguan psikologis. Mengalir deh dala kubangan kreatifitas. Sepakat !!

ilusi

Jam 01.12 am, hari kamis, saya membaca berbagai tulisan dari sumber yang berbeda. Bidikan saya adalah soal takhayul. Orang menuliskan soal takhayul ini sangat bervariasi sesuai dengan apa yang mereka pahami dan maksudkan dengan topik tersebut.

Saya pun punya definisi sendiri tentang takhayul ini. Tentu saja definisi ini pun merupakan kontstruksi dari apa yang saya pahami. Takhayul sesungguhnya bersumber dari bahasa arab yakni takhayala, yatakhayalu, takhayul. Barangkali istilah grammarnya, kata benda abstrak seperti halnya kata-kata ; kepercayaan, kebebasan. Takhayul sesungguhnya adalah khayalan belaka. Ia merupakan bayangan yang diimaginasikan.

Kebetulan saya juga punya teman dari Mesir. Menurutnya kata takhayul itu bisa dimaksudkan sebuah kondisi dimana seseorang berkhayal dengan pikirannya. Ia memikirkan sesuatu padahal ia tidak tidur.

Lalu apa bedanya antara takhayul dan mimpi ? pada level ini, nampaknya perlu pendefinisian lebih lanjut dengan tekanan dan batas-batasnya. Menurut pemahaman saya, takhayul ini semacam sistem kepercayaan. Jadi ada unsur keyakinan terhadap sesuatu yang ada diluar jangkauan nalar dan logika. Lalu keyakinan ini sangat boleh jadi mentradisi ketika ditransformasikan dari generasi ke generasi.

Menarik sekali menelisik sebuah tulisan yang berjudul Republik Takhayul yang termuat pada http://kompas.com/kompas-cetak/0310/07/utama/609615.htm . disana terdapat penggalan kata yang berbunyi ” Dari kecil kita diajarkan agar jangan duduk diatas bantal atau guling, katanya nanti bisulan. Kenapa sih enggal bilang aja nanti bantalnya kotor?”

Penggalan kalimat diatas memberikan sebuah potret cara berfikir yang tidak logis. Fenomena ini bisa jadi berkembang di banyak masyarakat di Indonesia. Dikampung saya pun, sistem kepercayaan semacam itu masih ada dan eksist.

Agama islam yang menentang praktek takhayul semacam ini ternyata tidak membuat penganutnya sadar bahwa hal itu tidak sejalan dengan ajaran islam yang dipegangnya. Dalam al-qur’an, perbuatan takhayul itu termasuk kategori syirik dan dosa paling besar, karena menduakan Tuhan.

Dari sini saja sudah ada gejala gap yang cukup besar antara pemeluk dan yang dipeluknya. Fenomena takhayul ini hebatnya lagi makin didukung oleh tayangan televisi yang banyak mengekploitasi hal-hal yang bersifat khayali. Dikatakan khayali karena sama sekali tidak menyentuh kehidupan real dimasyarakat.

Tayangan-tayangan tersebut tentu saja secara tidak sadar, menggiring para pemirsa untuk berfikir bahwa persoalan bisa diselesaikan dengan khayalan alias metode takhayul. Untuk menjadi kaya, cukup dengan pergi ke dukun dan mengamalkan sejumlah ritual yang diyakininya sebagai mekanisme untuk menjadi kaya.

Kalau di pikir-pikir, buat apa dia diberi akal dan kekuatan nalar kalau kemudian dia hanya percaya kepada sesuatu yang ilusi belaka.Masih berkaitan dengan fenomena takhayul, sejumlah bencana alam juga kemudian dikait-kaitkan dengan unsur takhayul ini. Untuk hal ini, saya menemukan tulisan berjudul “Bencana dan Sejumlah Takhayul”, yang termuat 12 Maret 2007 pada http://www.tempointeraktif.com/hg/opini/2007/03/12/opi,20070312-123347,id.html disana tertulis “Anggota DPR dan paranormal Permadi mengatakan kepada media online Detik.com bahwa gempa di Yogyakarta tahun lalu terjadi karena Nyi Rodo Kidul, yang dipercayanya sebagai Ratu Pantai Selatan, marah kepada pendukung Rancangan Undang-Undang Pornografi. Apa sebab? Nyi Roro terancam tak boleh memakai kemben lagi…

Tentu saja statement apalagi dari sejumlah publik figur yang mengait-ngaitkan bencana alam dengan kemarahan Nyi Roro Kidul, akan punya dampak sosial bagi masyarakat. Sangat mungkin terjadi, komuniksi seperti ini akan menggiring masyarakat terutama yang tidak kritis untuk mempercayai begitu saja. Efek nya lagi, masyarakat dididik untuk malas berfikir. Jadi berfikirnya sangat instant dan penuh ilusi.

Di beberapa masjid pun, sang khatib mengatakan bahwa bencana alam ini tidak lebih dari kehendak Tuhan, sebagai sentilan dan cobaan bagi umat manusia. Hal ini sangat dimaklumi, karena dalam khotbah apapun harus dikait-kaitkan dengan unsur agama. Setidaknya itulah paradigma banyak orang tentang ritual keagamaan ini.Jadi, kesadaran-kesadaran logika intelektulitasnya jarang disentuh-sentuh.

Sesungguhnya, bencana alam itu boleh jadi sangat berkaitan dengan ulah manusia. Contohnya saja, bencana banjir merupakan ekses dari ekploitasi dan penggundulan hutan sewenang-wenang. Banjir lumpur di Sidoarjo pun bisa jadi sangat terkait dengan proses pengeboran yang gegabah.

Dunia pendidikan pun nampaknya masih menyimpan potret yang buram, setidaknya di beberapa institusi pendidikan dengan kasus-kasus tertentu. Fenomena takhayul pada kalangan pelajar bisa muncul dalam praktek-praktek kekerasan. IPDN merupakan institusi pendidikan dimana proses kekerasan dilembagakan. Seolah-oleh kekerasan ini merupakan bagian integral dari pendisiplinan.

Sesungguhnya ini mirip-mirip takhayul atau bentuk lain dari takhayul yang dilembagakan. Maka gak salah-salah amat jika publik kemudian menginginkan IPDN dibubarkan saja karena ia merupakan institusi kekerasan.    

Unsur-unsur kekerasan juga nampaknya makin diekploitsi dalam tayangan televisi. Kekerasan yang saya maksud bisa berbentuk verbal, psikologis dan fisik. Keluhan-keluhan publik pun muncul terutama dari mereka yang kritis dan sensitif terhadap tayangan televisi.

Pada tulisan berjudul “Tayangan Seks, Kekerasan, dan Takhayul Digugat” yang dimuat pada situs http://pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0805//21/0108.htm ada kutipan dari Ibu Tuti, salah seorang peserta “Seminar TV Watch : Mendorong Prilaku Kritis Masyarakat, Khususnya Generasi Muda terhadap Program Tayangan Televisi”. Kutipannya” Saya cukup sedih melihat tayangan televisi kia akhir-akhir ini. Lakon-lakon remaja yang berkisah tentang percintaan lebih banyak mengeksploitasi persoalan-persoalan air mata, rebutan pacar, perkelahian dan takhayul”.

Bagi saya, tayangan-tayangan demikian tidak punya visi pendidikan. Ia hanya menyajikan aspek hiburan saja, dan hiburan jenis inilah yang nampaknya digemari masyarakat kita.

Padahal sesunggunya apa yang disimaknya itu tidak ada kaitan langsung dengan kehidupannya sehari-hari. Sebagai hiburan saja. Jadi sesunggunya masyarakat kita menyukai hal-hal yang sifatnya hiburan. “seks, kekerasan dan takhayul” nampaknya menjadi hiburan yang melembaga di masyarakat kita.

Lalu dimanakah ruang ruang bagi pencerahan akal, logika, dan rasionalitas bisa ditemukan, kalau ruang-ruang itu sudah terlanjur dipenuhi oleh semangat takhayul. Tentu nya diri kita sendiri harus membuat ruangan itu.

Akhirnya, saya ahmad yang bergelut dengan keringat di padang pasir ini berharap bahwa kesadaran positif itu harus terjadi pada diri saya dengan penuh keyakinan, dimana keyakinan ini memantul dalam tindak tanduk saya. Anyway, life must go on

Saya dibesarkan pada tigak kampung. karena kampung, maka sebut saja rural area dalam artian didaerah pinggiran. tapi tak apalah, gak jadi soal.

sejak kecil, saya dibesarkan oleh nenek saya yang berdomisili di kampung cipeujeuh. nuansa agama dan kesadaran masyarakatnya terhadap pendidikan dan etos kerja cukup bagus.

kampung cipeujeuh ini terdiri dari tiga kampung, yakni cipeuejuh kidul (cipkid) (selatan), cipeujeuh tengah dan cipejeuh kaler (utara). kebetulan saya besar di cipeuejuh bagian selatan. kampung bagian selatan ini selalu ramai dengan kegiatan, baik itu pengajian orang tua dan remaja.

dari segi seni, cipeujeuh selatan menjadi ikon tersendiri. karena diakhir tahun pelajaran, dikampung ini selalu diadakan imtihan, dalam artian pementasan seni karya guru dengan murid-muridnya. mulai dari drama, kabaret, tari-tarian, pencak silat tak luput dari garapan.

pemuda cipeujeuh selatan ini hingga sekarang masih terus bergerak. pemuda-pemudanya tidak ada yang terlihat ganggur. semuanya beraktifitas. ada yang jadi supir, berdagang, mencangkul, pokoknya bekerja.

tapi kondisi ini tidak terlihat mencolok di cipejeuh tengah maupun di cipeujeuh utara. entah kenapa. 

saya pernah mengikuti pengajian di cipeujeuh utara. menarik sekali ternyata yang mengikuti pengajian itu bukan orang lokal tapi justru dari luar. nampaknya pengajian di cipeujeuh utara ini, gak diminati oleh para remaja.

yang diminati remaja justru nongkrong-nongkrong, begadang dan suka mojok berdua. itulah gambaran sekilat tentang muda-mudi di cipeujeuh utara. hal yang sama juga terjadi di cipeujeuh tengah.

namun demikian, dari cipeuejeuh tengah ini, ada sebagian orang yang mengikuti lifestyle dikampung cipeujeuh selatan. biasanya mereka para remaja yang punya visi yang educated. karenanya memilih untuk bergabung dengan remaja cipeujeuh selatan.

namun kini, saya tidak berada di cipeujeuh selatan, tengah ataupun utara. saya berpindah ke kampung yang bernama kukun. kondisinya lebih parah lagi.

belakangan banyak sekali kasus-kasus hamil diluar nikah dikalangan remaja. pemuda dan pemudinya nampak malas alias ogah-ogahan mengikuti pengajian. kecenderungan minum-minum terlihat kental dikampung ini. pemandangan lain juga seperti praktek perdukuan makin diminati.

dibanding cipeujeuh, kampung kukun lebih parah. bahkan reputasinya menjadi jelek dan stigma ini makin diketahui saja oleh kampung-kampung lain.

saya, tentu punya tanggung jawab sosial bagaimana kampung kukun ini mengalami perubahan positif. rupanya mentalitas, dignity, tanggung jawab, etika, respek, keberanian, kejujuran, merupakan nilai-nilai yang harus ditanamkan tentu saja dengan memberikan teladan real.

mudah-mudahan kampungku menjadi komunitas yang demokratis, berpendidikan, bermental kuat, gigih dan tidak menyerah.

parent

Kutak tahu apa yang harus kuketikan. bukan karena kehabisan ide, tapi terlalu banyak ide sehingga ku tak tahu ide mana yang harus kutangkap sebagai bahan curhatan saya.

pada hari ini, tanggal 20 November 2007, alhamdulillah, operasi usus yang dialami bapaku berjalan lancar. kini bapakku harus berbaring dirumah sakit dimekah tanpa dihadiri keluarga.

dalam pembicaraan lewat telephone, suara bapakku nampak lemah, namun demikian nampak sabar dan tegar.

saya pun sebagai anaknya, berusaha untuk menghiburnya walau lewat telephone. saya berdoa semoga kondisi bapakku cepat pulih. saya bilang, sudah saja minta pulang karena kondisinya gak baik untuk bertahan bekerja di mekah.

maklum jadi supir perumahan, gak punya waktu yang teratur. bisa dikatakan harus standby dan selalu siap siaga jika diminta untuk mengantarkan majikan. karena tidak ada jam kerja yang teratur inilah, pola makan bapak saya tidak teratur.

bapak saya pun terkena penyakit maah. kasihan juga bapakku ini. aku jadi ingat waktu aku masih kecil. bapakku begitu semangat menyekolahkanku. aku selalu diantarnya untuk urusan pendidikan.

meski bapakku hanya lulusan smea, tapi ia cukup lancar dalam berbahasa inggris. waktu kecil, ketika aku belajar bahasa inggris, bapakku nampak senang menemaniku bercakap-cakap denganku pakai bahasa inggris. kalau aku berbicara bahasa inggris (latihan speaking), bapakku ini begitu seksama mendengarkannya.

bagiku, bapakku adalah guru pertama yang mengenalkanku dan menyuntikan semangat untuk belajar bahasa inggris.

kini, aku pun sudah punya putra. aku pun punya impian yang harus kugapai tentang anakku ini. aku ingin anakku cerdas berbahasa inggris. agar ia bisa bergaul secara mendunia. namun demikian, nilai-nilai positif dari lingkungan dekatnya tetap terpelihara dengan baik.

kembali lagi ke cerita tentang bapakku ini. bapakku sebenarnya tipe orang yang gak mau ketinggalan teknologi. ia suka sekali ngotak-ngatik hp dan selalu mempertanyakan tentang teknologi dan perkembangan hp.

ah..bapakku, semoga kondisi bapak cepat pulih dan bisa tersenyum normal. biar kecemasan ibuku gak berlarut-larut. mudah-mudahan semuanya kembali membaik normal.