Itsme231019

waspadai berfikir instant

Posted on: October 25, 2007

Cara berfikir yang instant sangat berbahaya, karena tidak memahami process. Instant thinking bisa menyelinap pada siapa saja. Perempuan maupun laki-laki. Cantik atau jelek. Berfikir instant ini diindikasikan dengan keinginan besar untuk memecahkan suatu masalah tanpa ada usaha dan ketelitian. benar juga kalau dikaitkan dengan bentuk kemalasan, karena terdapat semangat mendapatkan sesuatu secara gampang (efforlessly). Saya ingin mengidentifikasi prilaku pemuda dikampung saya yang diantara mereka suka mengambil barang hak orang lain dari belakang dan tanpa basa basi (mencuri). Mereka menggunakan malam sebagai kesempatan emas untuk mengambil buah mangga yang ada dihalaman rumah ibu saya. Prilaku seperti ini jelas sebuah kepengecutan (looser) (banci) yang memalukan. Mereka tidak berani mengatakan apa yang mereka inginkan dengan baik. Jika saya kaitkan dengan berfikir instant, maka mereka cocok disebut pemikir instant, karena cara berfikir mereka untuk mendapatkan buah mangga sangat instant. Mereka enggan berfikir keras secara sehat. Mereka enggan mengatakan keinginan mereka kepada pemilik mangga. Saya pikir kalau mereka berkata jujur, paling tidak sipemilik mangga memahami kondisi si pemilik keinginan. Dan bisa jadi sipemilik mangga merasa salut akan keberanian dan kejujuran mereka. Dan sipemilik mangga harus memahami kondisi pemuda. Mereka sangat labil karena dalam proses pencarian jati diri. Mereka perlu bimbingan dan pemahaman tentang hidup. Berfikir instant ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Saya mencoba mengidentifikasi karakter masyarakat dikampung saya. Dari segi pendidikan, masyarakat saya bisa dibilang minim. Tingkatan paling atas mungkin sma. Dan itu bisa dibilang dengan jari. Kebanyakan punya latar pendidikan dasar dan itupun gak utuh sampai tamat. Hal ini saya kira berkait berkelindan dengan pola pendidikan yang berjalan di masyarakat. Proses pembelajaran lebih ditekankan pada dimensi hapalan mati. (kognitif). Sementara dimensi kreatifitas jarang dilirik bahkan dicibirkan. Kenapa? Persoalan ini perlu juga dibahas tapi mungkin gak disini. Tapi sebenarnya, adakah itu kaitannya dengan berfikir instant? Apakah gejala hamil diluar nikah dikalangan remaja berkorelasi dengan berfikir instant ini. Bisa jadi. Karena pada dasarnya berfikir instant, adalah bagaimana menikmasi sesuatu tanpa susah payah. mereka ingin menikmati rasa seks. Karena berfikir instant, mereka melakukan hal itu diluar rambu-rambu. Akibatnya banyak perempuan gadis yang hamil lebih dulu sebelum menikah. Kenapa sih mereka gak berfikir kalau untuk hal itu, mereka memilih jalur resmi dan bertanggung jawab lewat mekanisme pernikahan. Sehingga lebih sehat dan bertanggung jawab. Bisa dikatakan bahwa mentalitas mereka sangat kedodoran. Tergilas oleh lajunya zaman. Cahaya makin redup didepan mereka. Nilai-nilai pun hancur tak bermakna. Apalagi yang bisa diharapkan ? apalagi hal yang tersisa yang bisa dijadikan pijakan untuk melangkah? Rasanya terlalu sulit kalau cara berfikir belum berubah. Karena tindak tanduk selalu berpijak pada cara berfikir ini. Karena ia merupakan software yang menggerakan hardware yang berbentuk manusia. Jadi kalau setingan softwarenya bagus, makan tindak-tanduknya akan berjalan sesuai setingan awalnya. Cara berfikir instant adalah maunya sudah jadi, gak mau cape-cape, gak mau mikir lama dan keras (menjelimet). Pengennya tahu-tahu sudah jadi. Kalau budaya instant ini memasyarakat dan menyebar, saya pikir tidak akan muncul yang namanya ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan membutuhkan penelitian, pengkajian ulang terhadap dialektika hidup sehari-hari, ketajaman nalar dan semangat untuk terus mencari kebenaran. Semua proses ini jelas tidak bisa dilakukan dengan instant. Butuh keringat, percaya diri dan kerja keras. Itu adalah harus. Jika tidak ingin ilmu dan pengetahuan, tidak usah kerja keras. Cukup berbahagialah dengan enak-enak tiduran. Bermanja-manjalah. Tapi jangan heran jika satu saat, engkau akan menjadi generasi yang ompong dan lemah. Lost generation. Generasi yang tidak punya harga diri. Menjadi komoditi dan selalu menjadi pecundang tulen. Apa gak malu berpredikat pecundang dan looser.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: