Archive for October 2007

Salam buat semua Saya tidak tahu persis apa yang harus saya tulis pada ruang kebebasan ini. Ruang kebebasan kini tergelar didepan saya,lantas bagaimana saya mengisi kebebasan tersebut. Apakah saya bersikap dingin-dingin saja, antusias untuk mengisinya atau malah menolaknya karena berbagai alasan. Tapi kalau dinalar lebih logis, kebebasan ini perlu diisi dengan hal-hal yang positif (baik itu lumrah atau gak lumrah) secara nilai-nilai lokal kita. Atas dasar pikiran inilah, maka kebebasan perlu diisi dengan baik dan bagaimana mengisinya merupakan satu hal yang perlu dikembangkan dan diimprovisasi. Atas kebebasan itulah, saya kemudian bisa menulis versi pikiran dan nurani saya tanpa ada sedikit gerunjelan takut pada diri saya. Maka kebebasan ini perlu dirayakan. Tentu saja, kebebasan yang saya maksud adalah kebebasan yang dewasa dan penuh tanggung jawab. Karena bagaimanapun kebebasan seseorang sangat dibatasi oleh kebebasan orang lain. Disinilah perlu adanya penghormatan dan penghargaan terhadap orang lain (the others). Tapi kebebasan memerlukan lingkungan yang mendukung. Tanpa lingkungan yang mendukung, maka kebebasan akan berjalan lambat. Artinya kemajuan yang berpijak pada kebebasan pun akan sulit tercipta. Maka apapun yang menghambat kebebasan perlu diminimalisir (untuk tidak mengatakan disingkirkan). Terkadang cara berfikir kita masih dikontrol oleh kungkungan budaya feodalisme sehingga prilaku yang muncul sebanding dengan fikiran yang terdikte tersebut. Oleh karena itu, kita harus bisa merekonstruksi pikiran kita dengan cara yang lebih segar dan mencerahkan secara nalar dan logika. Pikiran kita perlu disegarkan kembali karena fikiran kita merupakan konstruksi sosial yang punya sejarah. Banyak sekali informasi yang masuk kedalam batok kepala kita. Pada satu saat, kita menerimanya secara taken for granted alias begitu saja tanpa rasa curiga, dan disaat lain, kita pun berusaha mempertanyakannya, bagaimana dan kenapa kok bisa begitu. Namun yang kedua ini kita seringkali luput, karena sebagian dari fikiran kita sudah dibrainwashing oleh budaya lokal kita yang mapan. Tak apalah, namun yang jelas, usaha kritis terhadap fenomena sosial perlu dikonstruksi kapanpun dan dimanapun. (beyond the time and place).   


To Pull Historical Locomotif.

When celebrating independence day of Indonesia (RI) that passed some days ago, I began to think that as country, Indonesia is still young, even younger than China, Japan, or Yahudi whose age is about thousands years. Untill now, they remain solid, and have great elanvital in historical stage of international competition .

Compared to China, Japan, Turki or Yahudi, the country called ‘Indonesia’, is still young. It is still in process to be. Past Historical record of indonesia was full of intrick and tendency to destroy each other. Don’t let this kind of culture grow and continue.

The name of indonesia it self, in early period was originated from scotlandian historian, R Logan in 1850, and later this name (indonesia) was historically, declared during Sumpah Pemuda in 1928. “youth oath”. And in 17 August 1945, such political aspiration was later confirmed any more. So, the concept of Indonesia is not a solid and strong heritage of it’s past, like China for instance, but it is an aspiration and cultural and political project on the future.

If such political will and aspiration is not protected well, the culture of destroying each other on the past may potencially take place any more and Indonesia can hardly reach one hundreds years old as happened in the central of power in classic era of kingdom (monarchy). They used to destroy each others, eihter in the internal circle of kingdom or between monarchy.

Leadership continuity is a good lesson to be taken into account, that one example of histories of China is how their political leader could put the their personal ego under the interest of their nation. Whoever become president should be aware that he/she hold the historical responsibilty of their nation whose age is more than 4000 years old and in the present time, their population reachs about 1.3 miliyar.

Just imagine, a chinese big wall has been built more than 800 years, while a big projects that take place up to now such as Mega Yang Tse Irrigation producing electrical energy nearly can supply all electric need of Indonesia, has been designed since 50 years ago. It means that there is a political and governmental continuity to build the nation, whoever the president is.

Such phenomenon can be the lesson that bulding the nation strongly need a far broad vision to the future and having a big dream. It also need the guarantee of running estafet leadership which is loyal to pull their country locomotif.

Not just being a politican whose dream only to be ministry, get winner in the general election, and success to be the member of house representative parliement.

It’s a really narrow dream.Shaping this nation is like a jumping from the society which is attached by etnichal and religious sentiment toward community which strive to live together in the frame of nation, while it’s foundation of nation is still to weak. In such process of builing nation, there are too many historical trapes that should be taken into account.

If building nation is successful, the differences of ethnic, religion, language, and culture will be special wealth and beauty of unique Indonesia. But if it’s politicans are still narrow-minded, it’s differences will potentially be the trape and Indonesia will be more broken down and left behind though it’s rich with natural resource and cultures.

We have to read thoroughly global map competition and cooperation to put Indonesia which it’s most population is islam, but politically and economically, indonesia is strongly influenced by the west and China. It’s very interesting to consider that now India become a new player in economy and technology field with it’s tradition called ” Arianisme-Hinduisme”.

Besides, japan also has a strong national spirit which was examined long times ago. In the global map, we should come to know that at national level, our foundation is still weak. The peformance of politicans and government looks like joking and playing (not serious).

They prefer to think only of their benefit, don’t try to be aware that they are pulling the locomotif of nation history which is still young and easily shock by the external power. Poor apreciationAnd something terrible of this nation, is that there is a tendency to be difficult to appreciate the other fellow who is prestative,and hard to acknowledge and support the fellow who is failing.

They prefer to blame and insult rather than to praise (honor) and remind the others wisely. In other word, we prefer more to see the others in poverty and difficult to see the happiness in the people.

Basically, through sport subject (also it’s practice) in school, the learner are supposed to have a sportive character, like to work together, not arrogant when he/she win the game, and also not pesimistic when she/he is defeated. But it is a pity that such good values become marginalized by the educational orientation which it’s target only to get pass in cognitive examination, and overlooking the character building.

Stingy character and narrow heart could be seen in the religious domain. When we face the God, something dominan is only begging and asking for as if it is dictating God to satisfy his/her ambitions. He / she always forgets to thank.

The similar situation happen when he or she has social contact whith the others. They are no willing if the paradise occupied by the others and even be happy to hope the other in bad condition and go to hell. Of course, it’s not fair to compare a young indonesia with other country which is their age reached thousands years.

However, there ary many countries which are categorized as young and left far behind but become sooner prestigious and dignified in the global competition. In front of neighbour country, we are marginalized. Meanwhile, many politicians are busy to set the strategy how to win every power in any levels of election.

I eventually thought, there is a big something wrong in the way we live in this nation. This country was founded by the generation who had a great mind and a big dream, but it’s later process, the political stage is managed by those who has a narrow dream.

Cara berfikir yang instant sangat berbahaya, karena tidak memahami process. Instant thinking bisa menyelinap pada siapa saja. Perempuan maupun laki-laki. Cantik atau jelek. Berfikir instant ini diindikasikan dengan keinginan besar untuk memecahkan suatu masalah tanpa ada usaha dan ketelitian. benar juga kalau dikaitkan dengan bentuk kemalasan, karena terdapat semangat mendapatkan sesuatu secara gampang (efforlessly). Saya ingin mengidentifikasi prilaku pemuda dikampung saya yang diantara mereka suka mengambil barang hak orang lain dari belakang dan tanpa basa basi (mencuri). Mereka menggunakan malam sebagai kesempatan emas untuk mengambil buah mangga yang ada dihalaman rumah ibu saya. Prilaku seperti ini jelas sebuah kepengecutan (looser) (banci) yang memalukan. Mereka tidak berani mengatakan apa yang mereka inginkan dengan baik. Jika saya kaitkan dengan berfikir instant, maka mereka cocok disebut pemikir instant, karena cara berfikir mereka untuk mendapatkan buah mangga sangat instant. Mereka enggan berfikir keras secara sehat. Mereka enggan mengatakan keinginan mereka kepada pemilik mangga. Saya pikir kalau mereka berkata jujur, paling tidak sipemilik mangga memahami kondisi si pemilik keinginan. Dan bisa jadi sipemilik mangga merasa salut akan keberanian dan kejujuran mereka. Dan sipemilik mangga harus memahami kondisi pemuda. Mereka sangat labil karena dalam proses pencarian jati diri. Mereka perlu bimbingan dan pemahaman tentang hidup. Berfikir instant ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Saya mencoba mengidentifikasi karakter masyarakat dikampung saya. Dari segi pendidikan, masyarakat saya bisa dibilang minim. Tingkatan paling atas mungkin sma. Dan itu bisa dibilang dengan jari. Kebanyakan punya latar pendidikan dasar dan itupun gak utuh sampai tamat. Hal ini saya kira berkait berkelindan dengan pola pendidikan yang berjalan di masyarakat. Proses pembelajaran lebih ditekankan pada dimensi hapalan mati. (kognitif). Sementara dimensi kreatifitas jarang dilirik bahkan dicibirkan. Kenapa? Persoalan ini perlu juga dibahas tapi mungkin gak disini. Tapi sebenarnya, adakah itu kaitannya dengan berfikir instant? Apakah gejala hamil diluar nikah dikalangan remaja berkorelasi dengan berfikir instant ini. Bisa jadi. Karena pada dasarnya berfikir instant, adalah bagaimana menikmasi sesuatu tanpa susah payah. mereka ingin menikmati rasa seks. Karena berfikir instant, mereka melakukan hal itu diluar rambu-rambu. Akibatnya banyak perempuan gadis yang hamil lebih dulu sebelum menikah. Kenapa sih mereka gak berfikir kalau untuk hal itu, mereka memilih jalur resmi dan bertanggung jawab lewat mekanisme pernikahan. Sehingga lebih sehat dan bertanggung jawab. Bisa dikatakan bahwa mentalitas mereka sangat kedodoran. Tergilas oleh lajunya zaman. Cahaya makin redup didepan mereka. Nilai-nilai pun hancur tak bermakna. Apalagi yang bisa diharapkan ? apalagi hal yang tersisa yang bisa dijadikan pijakan untuk melangkah? Rasanya terlalu sulit kalau cara berfikir belum berubah. Karena tindak tanduk selalu berpijak pada cara berfikir ini. Karena ia merupakan software yang menggerakan hardware yang berbentuk manusia. Jadi kalau setingan softwarenya bagus, makan tindak-tanduknya akan berjalan sesuai setingan awalnya. Cara berfikir instant adalah maunya sudah jadi, gak mau cape-cape, gak mau mikir lama dan keras (menjelimet). Pengennya tahu-tahu sudah jadi. Kalau budaya instant ini memasyarakat dan menyebar, saya pikir tidak akan muncul yang namanya ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan membutuhkan penelitian, pengkajian ulang terhadap dialektika hidup sehari-hari, ketajaman nalar dan semangat untuk terus mencari kebenaran. Semua proses ini jelas tidak bisa dilakukan dengan instant. Butuh keringat, percaya diri dan kerja keras. Itu adalah harus. Jika tidak ingin ilmu dan pengetahuan, tidak usah kerja keras. Cukup berbahagialah dengan enak-enak tiduran. Bermanja-manjalah. Tapi jangan heran jika satu saat, engkau akan menjadi generasi yang ompong dan lemah. Lost generation. Generasi yang tidak punya harga diri. Menjadi komoditi dan selalu menjadi pecundang tulen. Apa gak malu berpredikat pecundang dan looser.

salam. namaku ahmad asal dari bandung. saya adalah saya dan kamu adalah kamu. beginilah saya adanya. saya ingin menjadi diri saya sendiri dengan berbagai kelemahan dan kelebihan. saya punya keyakinan bahwa apa yang kita rasakan, alami, pikirkan dan pahami adalah ilmu yang harus dihargai dan diapresiasi. kita tuliskan pengalaman tersebut sehingga akan menjadi sejarah tentang siapa diri kita. sekian

Itsme231019’s Weblog

pada hari ini tanggal 23 oktober 2007. saya berharap semoga indonesia menjadi nation yang kuat, bermental sportif, menghargai dan suka berkaca dari kesalahan yang lalu. percaya diri adalah modal utama dalam mengarungi samdura hidup ini. saya sangat merasa malu melihat sementara orang dari indonesia yang belum berjiwa kesatria. mereka suka mencuri. suka jailin orang dengan ilmu sihir yang dimilikinya. padalah punya ilmu sihir apa gunanya kalau pada akhirnya hanya digunakan untuk melukai dan mengambil hak orang. gak punya malu. barangkali sekian dulu tulisan saya. wasalam

setiap lebaran, alhamdulillah, saya bisa menyempatkan diri untuk mengunjungi kedutaan indonesia di riyadh. tujuan saya kesana, adalah saya ingin mendapatkan sesuatu yang mencerahkan buat pikiran saya. yang kedua, saya ingin bertemu orang-orang indonesia, merasakan keakraban dan kehangatan. namun kondisi yang saya harapkan sirna belaka. pas saya ke sana, tepatnya tanggal 12 oktober 2007 hari jum’at melihat pemandangan yang tak teratur. sampah dimana-mana terutama kertas-kertas atau selebaran iklan layanan haji. jelas ini menyangkut sistem dan kedisiplinan. saya tidak mendapatkan kupon untuk mendapatkan makanan karena kehabisan. sedihnya lagi, tidak ada acara lain selain makan-makan. itupun kuponnya habis. lalu klo kuponnya habis, mau ngapain lagi. mereka tidak siap menyediaan acara lain yang lebih mencerahkan. jelas ini sebuah joke yang tidak perlu.mengenai dapat makan atau tidak, bagi saya ini bukanlah hal yang terlalu penting dan esensi. namun saya lebih melihat pada sisi bagaimana mereka memanagenya. yang saya saksikan adalah sampah dimana-mana, orang bergerombol-gerombol. tidak terlihat cara berfikir yang smart dan maju. jadi seperti sebuah kebodohan yang diulang-ulang. saya ingin kedutaan indonesia sebagai media komunikasi antara anak bangsa dan pemerintah. kalau mereka gak menjalankan fungsi ini, lalu apa fungsi mereka. saya sedih dengan realitas ini. kalau misalkan mereka mengadakan dialog dan curhat dengan para sopir dan tkw, setidaknya ada agenda yang bisa diciptakan. ada ikatan emosional. timbul rasa memiliki terhadap negara sendiri. saya ingin ada open managemen antara pekerja sebagai anak bangsa yang harus dilindungi dan diakomodasi dengan pihak kedutaan sebagai pemberi perlindungan kepada mereka. saya bisa mengatakan bahwa budaya dialog masih tersumbat. rasa curiga masih terpendam. lalu sejak kapan negeri kita akan bangkit kalau kita masih betah dengan kebodohan tersebut.

salam. wahai dunia, saat ini saya ingin memulai aktifitas (apaun bentuknya) dengan senyum dan percaya diri. bagi saya hal itu adalah modal utama untuk mulai melangkah dan berproses. saya ahmad, anak ketiga dari 7 bersaudara. saya kini sedang mengarungi samudra kehidupan sebagaimana yang lain. kehidupan ini adalah sejarah. tulisan apapun bentuknya akan menjadi sejarah. atas dasar itulah, saya sangat apresiatif terhadap tulisan dan berharap bisa bermain dan menikmati kerja tulis menulis. saya yakin, pasti punya nilai sejarah, sekalipun tulisan itu gila dan nyleneh. kita perlu hargai. mari kita bangun iklim apresiasi dan penghargaan diantara anak bangsa, bahkan anak dunia. salam