Posted by: itsme231019 on: April 29, 2008
Ibadah adalah perbuatan baik, pun beramal adalah perbuatan yang shaleh. Namun keindahan ibadah dan amalan itu akan ambruk jika disusupi virus bernama riya.
Apa virus riya itu? Mari sejenak menganalisis apa yang dimaksud dengan term “riya”.
Dalam bahasa Arab, riya merupakan derivasi dari ra’a yang berarti melihat. Riya, dengan demikian, adalah sikap atau perbuatan merekayasa “sesuatu” agar bisa dilihat orang lain. Dalam bahasa arab, ra’yun adalah pendapat, ide, pikiran, persepsi. Dengan begitu, riya juga berarti tindakan merekaya sesuatu agar orang lain punya persepsi yang ingin diciptakan siperekayasa tersebut.
Seorang laki-laki yang tadinya jarang pergi ke masjid, tiba tiba rajin banget ke masjidnya. Ternyata di masjid tersebut, ada sosok perempuan cantik yang suka mengaji. Laki-laki tersebut rajin datang ke masjid bukan karena shalat berjamaah itu baik dan bagus, atau bukan karena pengajian itu secara intrinsik bagus, tapi berlandaskan keinginan agar perempuan tersebut melihatnya dan punya persepsi bahwa laki-laki tersebut anak shaleh karena getol shalat. Itulah persepsi yang ingin dibangun laki-laki tersebut.
Maka, shalatnya, ngajinya, dan rajinnya kemesjid tak punya nilai apa-apa karena hal itu bukan intrinsik baginya, yang intrinsik baginya adalah perhatian perempuan tersebut terhadapnya. Dan sesungguhnya, baik disadari atau tidak, itulah agama bagi dirinya. Tapi saya ingin juga mengatakan bahwa tidak semua orang yang rajin ke masjid, rajin ngaji, lantas identik dengan riya.
Dalam Islam, riya itu bahkan equal dengan syirik yang tersembunyi. Dikatakan tersembunyi (hidden), karena ia pandai sekali menyelinap dalam ruang ketidak sadaran kita.
Seorang imam shalat memperbagus suaranya dan memanjangkan bacaan dalam shalatnya, diluar kesadarannya, terselip sebuah fantasi agar orang-orang dibelakangnya punya persepsi bahwa sang imam banyak hapalannya, atau suaranya bagus. Fantasi akan pujian dari orang lain itulah yang bernama riya. Sekali lagi, tidak lantas semua imam yang memanjangkan bacaan adalah riya.
Menurut yang saya pahami, syirik adalah menduakan Tuhan dalam beribadah. Syirik bisa dikatakan pengkhiatan cinta terhadap tuhan. Syirik berarti upaya menciptakan tuhan-tuhan baru. Inilah yang barangkali kemudian menjelaskan bahwa Tuhan pun ternyata pencemburu.
Apa yang akan anda dan kita rasakan jika kekasih anda/kita mengkhianati cinta anda/kita? Tentu saja akan segera muncul rasa terkhianati, kecewa.
Pada tahap ini, saya bisa mengatakan bahwa ibadah adalah juga cinta. Ibadah adalah totalitas. Ibadah adalah kepatuhan, yakni patuh dan tunduk pada nilai-nilai intrinsik ibadah itu sendiri.
Dalam pemahaman saya, shalat adalah ibadah, puasa juga ibadah, zakat pun ibadah. Tapi amalan shaleh pun bisa berbalik menjadi amalan salah jika niat atau intensi nya salah. Oleh karena itu, konsep niat dalam beribadah sangat memegang peranan penting.
Jika saya boleh mengatakan, niat itu mirip software. Ibadah ritual adalah hardwarenya. Shalat adalah hardware dari sebuah ibadah. Jika ibadah itu dijalankan oleh sofware yang mengandung virus riya, maka sistem pun akan menjadi down, lumpuh dan tak berkutik alias error. Ibadahnya mengalami cacat.
Dalam agama, anonim dari riya adalah ikhlas dan tulus. Bekerja dan beribadah dengan tulus berarti bekerja dan beribadah tanpa mengharapkan “imbalan” atau “pujian” dari luar. Dicemooh atau dipuji, kebaikan itu harus tetap kita jalankan secara konsisten.
Maka, hardware bernama ibadah pun jika dipasang software keikhlasan maka semua sistem akan berjalan mulus lancar. Tapi jika dipasang sofware virus riya, ibadah pun tak lagi bermakna.
Jika ingin berbuat baik, berbuat baiklah, baik ada pujian atau tidak. Andai saja pujian itu tak pernah ada, masihkah kita mau beramal dengan baik?
Konsep riya sesungguhnya mencerminkan suatu sudut persepsi lain bahwa keberagamaan yang ritual formal akan terasa hambar dan tak punya rasa seni jika tidak dihiasi dengan akhlak yang baik.
Pakaian yang kita pakai, mobil yang kita kendarai, emas yang kita miliki, adalah baju luar saja tentang identitas kita. Semua itu adalah identitas semu dan temporer. Siapa sih diri kita sebenarnya? Jika mobil yang kita miliki itu bukan diri kita yang sebenarnya, jika bacaan yang dipanjang-panjangkan dalam shalat itu bukan identitas murni kita, kenapa kita begitu tergoda untuk mengelabui orang agar melihat diri kita sebagai kaya dan alim.
Ternyata virus itu bernama riya…virus yang menggerogoti. Personally, saya pun melihat tulisan saya sebagai cambuk agar hati-hati dengan makhluk halus bernama riya.
salam.
Untuk Bung Tasa, thanks atas masukannya. yes, it is right, riya is very soft, so that most of people do not recognize it’s action within the self because it is hidden in the people’s space of unconsciousness.it may control the people action. I my self try to do anything based on it’s intrinsic value. it is not very easy, but not really impossible, i thought.
Untuk Mba Yonna, aduh, jadi geer nih..heheheh.opss..jangan-jangan saya terkena virus riya lagi….waduh gawat nih..heheh.
well, thanks atas masukannya. mudah-mudahan, kritikan dari teman-teman memacu saya untuk terus menulis dan menulis. pujian cenderung membuat orang terlena, dan kritikan sebaiknya dianggap pecut untuk berbenah diri agar berlari lebih kencang dan akurat.
thanks atas masukan teman-teman.
ahmad
terima kasih atas apresiasinya.
BGS BNGT…………………
April 29, 2008 at 9:01 pm
Tulisan yang sangat menggugah dari Bung Ahmad. Thanks for pointing this out.
Riya memang benar-benar menakutkan, sangat berbahaya. Sangat berbahaya karena sangat sulit untuk dihindari, saya sendiri harus mengakui bahwa virus ini sering menghinggapi. Sangat sulit untuk dihindari.