Posted by: itsme231019 on: April 27, 2008
Hidup ini hanya satu kali, maka gunakanlah dengan sebaik-baiknya. Tapi haruskan amal baik itu hanya karena ada surga dan neraka? Barangkali itulah apa yang saya pikirkan ketika berhadapan dengan apa yang disebut dengan eskatologi, sesuatu yang berkatian dengan berakhirnya kehidupan ini.
Dalam pikiran sederhana saya, eskatologi itu adalah hari kiamat, titik ujung dari kehidupan ini. Pembicaraan eskatologi lebih memfokuskan diri pada dimensi akhirat, kehidupan di alam baka.
Untuk mengetahui apa itu eskatologi, saya ingin mengutip pengertian dari beberapa sumber. Menurut wikipedia, eskatologi (inggrisnya : eschatology ), adalah :
Eschatology (from the Greek ἔσχατος, Eschatos meaning “last” and -logy meaning “the study of”) is a part of theology and philosophy concerned with the final events in the history of the world, or the ultimate destiny of humanity, commonly referred to as the end of the world [1]
Sementara menurut kamus online merriam webster, eskatologi adalah :
Dengan demikian, eskatologi (eschatology) merupakan studi yang merupakan bagian dari kajian teologi dan filsafat yang berkaitan dengan kejadian final dari sejarah kehidupan ini. Singkatnya, kiamat dan akhirat sebagai fokus pembicaraan.
Saya pun berfikir, jika berbicara akhirat, maka disana akan ada yang disebut surga dan neraka. Surga adalah tempat bagi orang-orang yang berbuat shaleh dan neraka adalah tempat orang-orang yang berbuat salah. Itulah yang ada dalam fikiran saya.
Namun demikian, semua itu ada dalam rahasia Ilahi.
Tapi jika melihat dari aspek eskatologi, memang ada orang yang beribadah dan beramal berdasarkan fantasi dia akan akhirat, yakni mengharapkan surga dan takut neraka. Ibadahnya semata-mata karena mengharap surga. Saya bisa berandai-andai jika surga dan neraka tidak ada, maka masihkah manusia mau beribadah dan beramal?
Pada point inilah, persoalan akan berkembang. Level keberagamaan seseorang pun muncul menjadi wacana. Jadi, ada ibadah yang pamrih dan ibadah yang tulus.
Menarik sekali membaca tulisan kang jalal mengenai keberagamaan seseorang. Berikut ini kutipannya : “Wajah publik adalah penampilan yang ia tampakkan di hadapan umum sedangkan wajah privat adalah penampilan yang ia tampakkan di lingkungan yang terbatas. Bila ia salat di depan orang banyak (di hadapan publik), salatnya amat rajin sementara ketika ia salat sendirian (di lingkungan privat), salatnya menjadi malas. Contoh lain adalah seseorang yang selalu melakukan salat sunat di masjid tetapi selalu meninggalkannya ketika ia di rumah. Orang tersebut akan menambah amalnya bila di hadapan orang banyak dan mengurangi amalnya bila ia sendirian. Ketika di hadapan orang banyak, ia akan sangat memperhatikan waktu salat sementara di rumahnya, ia jarang salat tepat waktu” [3]
Bisa jadi, orang yang beribadah dengan penekanan yang berbeda pada dua wajah (private dan public), sangat terinspirasi oleh khayalan akan semangat eskatologis dalam dirinya. Ia melakukan amal baik bukan karena kesadaran utuh bahwa amal baik itu sangat inherent dan instrinsik tapi melihatnya sebagai kewajiban saja.
Lalu bagaimana dengan orang yang rela membiarkan dirinya mati dalam aksi bom bunuh diri (suicide bombing) hanya karena keyakinan bahwa ia akan mendapatkan bidadari yang selalu jelita di surga?
Pikiran sederhana saya berkata bahwa mereka telah terbuai oleh kenikmatan eskatologis di akhirat nanti. Dimata mereka, tindakan bom bunuh diri itu adalah jihad yang jika mati, maka matinya adalah syahid. Pada tahap ini, saya memiliki pikiran yang terus berkecamuk, kenapa jika ingin mendapatkan surga harus membunuh diri dan membunuh orang lain yang tak bersalah. Jika eskatologi tentang surga dan neraka itu ada, maka alangkah baiknya hidup yang satu kali ini dipergunakan sebaik-baiknya untuk memanusiakan manusia, tapi dengan kesadaran bahwa amal baik itu memang natural dan intrinsik, terbebas dari fantasi eskatologis. Gimana menurut anda?
Saya tahu bahwa surga dan neraka itu didekati dengan pendekatan keimanan, tapi apakah saya harus beramal baik karena mengharap surga dan takut neraka? atau apakah perbuatan baik itu dilakukan dengan kesadaran bahwa itu misi intrinsik manusia dalam bergaul dengan alam dan manusia lainnya? Jika neraka dan surga tiada, masihkah kita mau beramal dan beribadah? saya pikir ini persoalan yang sangat mendasar dalam meniti jembatan kehidupan ini, yang ada titik pangkal dan titik ujungnya.
salam.
thanks atas komentarnya.
betul sekali bahwa beribadah tanpa pamrih sangat sulit tapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan. sejarah telah mencatat bagaimana sosok sufi perempuan bernama rabiah al-adawiyyah. ia menurut catatan sejarah, beribadah bukan karena mengharap surga dan juga bukan pula takut neraka, tapi begitu cintanya sama Pencipta dirinya. artinya, bahwa ibadah itu secara inheren memang mengandung kebaikan. ada pahala atau tidak, dikerjakan saja.
any way, thanks atas komentarnya.
May 13, 2008 at 3:02 pm
Setuju. Kalo menurut saya beribadah tulus karena Allah atau beribadah untuk bersyukur karena telah diberi karunia yang tak terbatas oleh-Nya, levelnya lebih tinggi daripada beribadah hanya karena ingin mendapatkan imbalan, seperti surga dan neraka atau bahkan pahala. Dan inilah ibadah yang sangat sulit untuk dilakukan.