Posted by: itsme231019 on: April 13, 2008
Perbincangan tentang aurat merupakan perbincangan yang bagi saya cukup menarik. Dikatakan menarik, karena memang terdapat debat didalamnya.
Sebagai muslim, saya kerap kali mendengar kata tersebut, terutama jika dikaitkan dengan tubuh perempuan.
Agama punya bahasanya sendiri tentang aurat. Menurut bahasa agama (barangkali lebih cocok interpretasi terhadap agama), sekujur tubuh perempuan itu aurat kecuali wajah dan tangan. Karena sebuah interpretasi, maka auratpun menimbulkan perspektif yang cukup beragam dikalangan yang concern dengan isu aurat.
Aurat sendiri (secara fiqih) berarti bagian tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh diakses oleh publik.
Karena dianggap aurat, maka sekujur tubuh perempuan itu harus dibalut dengan kain kecuali tangan dan wajah yang boleh tampak.
Tapi bagaimana perempuan itu membalut dirinya? Saya pikir, persoalan cara adalah persoalan yang cukup berkaitan dengan budaya seseorang dengan komunitas tertentu.
Pada point ini, perempuan indonesia punya caranya yang berbeda dalam menutupi tubuhnya dengan perempuan yang ada di saudi misalnya. Begitupun perempuan di iran punya style yang berbeda dalam berbusana dengan perempuan muslim di afrika. Bisa jadi mereka berbeda-beda dalam berbusana, tapi satu prinsip mereka yakni menutup aurat. Itu pun jika konteksnya menutup aurat.
Batasan aurat sendiri bisa jadi sangat beragam mengingat dunia ini tidak lah tunggal. Bahkan bisa jadi ada komunitas yang tak punya konsep aurat sama sekali.
Di irian jaya, laki-laki yang hampir telanjang dan hanya secuil kain dibadannya bisa jadi tidak dianggap aurat karena memang sudah terpola seperti itu. Bahkan dibarat, ada komunitas yang berani tampil telanjang dan bahkan mengambilnya sebagai trend dan gaya hidup. Kehidupan mereka tak punya kamus aurat.
Maka saya membayangkan, telah terjadi cara berfikir yang luar biasa berbeda. Yang satu berfikir bahwa perempuan itu aurat sehingga sekujur tubuhnya harus ditutup dengan kain, tapi dibelahan dunia lain, justru tampil telanjang di depan publik bisa jadi merupakan suatu pilihan yang dibanggakan. Dan hal demikian, bukan saja berlaku buat laki-laki, tapi juga perempuan. Bagi mereka, itu lumrah saja. Orang-orang yang aurat-minded bisa jadi kaget dan terperanjat melihatnya.
Berbicara tentang aurat maka tak lepas dari pembicaraan tentang pakaian untuk menutupinya. Dengan kata lain, bagaimana orang itu berbusana.
Dalam komunitas islam, misalnya, berbusana untuk perempuan menjadi perhatian yang cukup intens. Dan debat didalamnya tak pelak mencuat. Tapi, saya ingin melihat kemungkinan-kemunginan kenapa katakanlah seorang perempuan berkerudung.
Seorang perempuan berkerudung misalnya, tentu ada alasan kenapa ia berkerudung.
Bisa jadi ia berkerudung, karena paksaan dari luar. Misalnya saja ada aturan ketat bahwa seluruh mahasiswi wajib pake kerudung. Pada tahap ini, ia mengenakan kerudung bukan berdasarkan kesadaran tapi karena paksaan dari luar. Maka tak heran ada yang pake kerudung, tapi pakaiannya masih memperlihatkan lekuk-lekuk bentuk tubuhnya. Bukankah hal demikian bisa berpotensi menimbulkan aurat bagi yang melihatnya??
Bisa jadi perempuan berkerudung karena mengikuti fashion saja, yakni terombang ambing mengikuti irama fashion terkini. Tentu saja, fashion belum tentu sesuai dengan prinsip ajaran. Maka tak heran muncul istilah, berkerudung tapi telajang. Itu kan artinya berkerudung tapi tetap saja aurat.
Tapi ada juga yang berkerudung dengan penuh kesadaran bahwa hal itu bisa melindungi dirinya dari jahatnya alam dan merasa nyaman memakainya. Ia berkerudung bukan karena paksaan atau pun fashion. Ia berusaha untuk memadukan kesopanan berbusana (decency) dan kebersahajaan dalam berfikir dan berkepribadian.
Maka, dalam hal ini, implikasinya, sangat mungkin terjadi ada perempuan yang fanatik banget dengan jilbabnya atau kerudungnya, tapi prilakunya sinis dan menyakitkan. Bukankah sikap kecutnya dan muka masamnya adalah aurat juga? Kenapa ia care sama busananya tapi tidak care sama aurat lidahnya yang menyakitkan orang lain?
Implikasinya juga, bisa jadi ada perempuan yang tak berkerudung, tapi sikapnya sangat humanis, ramah, suka menolong dan respek terhadap manusia lainnya. Ia berusaha untuk mencerahkan orang lain.
Maka, saya pun mempertanyakan kembali konsep aurat. Lidah bisa jadi wilayah yang mengandung aurat, karena ia bisa menimbulkan fitnah. Oleh karena itu, lidah perlu dijaga dengan baik dan jangan diumbar sehingga tidak melahirkan kebohongan-kebohongan baik terhadap diri maupun terhadap publik. Tangan pun bisa menjadi aurat jika si empunya menggunakannya untuk menikam dan memukul orang lain.
Orang mungkin berfikir bahwa perempuan yang tak berkerudung adalah aurat. Orang mungkin berfikir bahwa perempuan yang bernyanyi adalah aurat, karena suara perempuan dianggapnya itu aurat. Tapi orang tak pernah berfikir bahwa kemiskinan itu aurat juga yang sifatnya sosial. Orang pun tak pernah menyangka bahwa kekerasan itu adalah juga aurat. Kenapa aurat-aurat sosial itu dibiarkan terbuka didepan mata.
Bukankah aurat-aurat sosial itu membutuhkan pakaian yang pas buat dirinya. Tentu saja pakaian disini tak bisa diartikan tekstual. Sifatnya sangat kontekstual sekali. Pakaian itu bisa berbentuk semangat hidup sederhana, bekerja keras, tidak meminta-minta, respek terhadap sesama, appresiatif terhadap beda, care terhadap lingkungan dan bersahabat. Kalau ada orang yang hidup glamor diatas penderitaan orang lain maka ia sesungguhnya telah memperlihatkan aurat-aurat dirinya kepada orang lain, dan itu haram hukumnya!!
(ahmad, 12/4/2008, Riyadh)
salam.
saya juga sesungguhnya berfikir kenapa sih perempuan-perempuan disini dilingkungan dimana saya hidup, saya kerap menemukan sikap mereka yang menyakitkan seringkali diumbar meski tubuh mereka dibalut dengan kain sehingga tidak kelihatan. mereka kadang tak segan memukul pembantunya di depan orang lain,seakan meraka tak merasa bersalah dengan tindakannya. padahal dimata saya, lidah yang suka mencaci dan menghina orang lain adalah aurat juga. mereka telah terkungkung oleh konsep aurat yang sempit, setidaknya itulah pemikiran saya. mereka tidak mampu melihat nuansa lain dari konsep aurat.
saya cukup apresiatif terhadap masukan dari mba yonna. dan saya pikir, apa yang dikatakan mba yonna bisa menegaskan dan mendukung point-point pemikiran yang saya angkat.
anyway, thanks for smart comment from your side.
ahmad.
nambah sikit akhi..aurat itu bukan ditutupi, tetapi tidak boleh ditampakkan, Allah tidak menggunakan kata menutupi, tetapi jangan menampakkan (annur 31) soalnya jaman sekarang banyak yang menutup aurotnya, tapi kan pakaian yang menutupi itu kadang sempit dan transparan, jadi tetap aja tidak nyar’i…
hayyakallah..
soal aurat islam hanya membatasi soal tubuh fisik, bukan lidah dan hati, tapi apakah soal lidah dan hati ga dibahas islam, o…islam sudah syamil and kamil, jadi memahami islam ga boleh kita kotak2 gicu… mesti syamil dan utuh, katika bicara aurat Allah brbicara kepada kedua jenis kelamin untuk ghadh bashar, mengenakan pakaian yg standar syar’i tetapi tak ckp itu bertingkah yg santun jg jadi standar yg utuh dlm setiap hal, maka org berjilbab judes, gak lebih baik dari tidak berjilbab yg judes…
tp menariknya ajaran islam tdk terjebak soal keshalihan pribadi, keshalihan sosial jauh lbh penting, maka ada PELACUR dalam riwayat bukhari, masuk surga gara2 menolong ANJING……….
AKANG… krja disana kerja apa???
akhi Hikam Muhtadi (blue genre) kuliah di Ummul qura, tp apa dah selesai ana ga ngup-date….
uhibbukum fillah ukhayya..
salam buat kang abinyahasan.
bagus lah sudah kreative bikin blog. oya, abinyahasan itu seorang bapak yang putranya bernama hasan ya? hehehe…
yup, syukur deh dan mabruk sudah bisa bikin blog, mudah-mudahan tetap bisa bersilaturahim dan terus keep in touch di dunia blog.
terima kasih atas masukan konstruktivenya. second opinion dari kang abinyahasan, cukup berisi dan punya perspektive. jadi intinya aurat itu tidak boleh ditampakkan, dengan demikian, casingnya, atau covernya, atau penutup nya apa saja, yang penting auratnya (isinya) tak boleh nampak. hmmm..betul juga.
jadi bahasa inggrisnya mungkin, they should not reveal their awrah dan bukan they should cover their awrah. betulkan?
akhi.. abu hasan tu ya ane…
emang anak ane namanya HASAN SYAUQI BEIK, kelahiran di Batam…antum katanya dah nikah, kpn and…..???
ane di batam aktif di DPD PKS Batam, amanahnya bagian dakwan dan ma’had..
tolong ajarin ane ya ngurusin blog…ana cuma ikutan petunjuk, tapi cuma dapat segitu.
kalo antum dah sempat lihat blog ane, kasih masukan ya… biar cakep kayak punya antum…
ditunggu…
salam.
buat kang Ispiraini, mengenai lagu di blog saya, memang didapat dari situs : http://sonific.com/
tapi disana, user atau pengguna hanya bisa memasang lagu yang sudah tersedia disana. sayang sekali lagu nasyid dan tilawah tidak ada disana. yang ada adalah lagu-lagu dan musik-musik barat. kalau saya sih, saya melihat dari makna lagunya saja, saya menyukai lagu imagine dari john lennon karena apa yang dilagukannya menginginkan perdamaian. dan saya pikir itu juga islami dimata saya.ada muatan dakwahnya.
jadi untuk dapat memasang tilawah atau nasyid, memang agak sulit dan saya sendiri belum menemukannya. tapi kalau tar ketemu, saya akan langsung kasih tahu ke kang ispiraini. okay!!
oya kang ispiraini, bisa coba-coba memasang lagu caranya : daftar dulu di situs http://sonific.com/
lalu pilih lagu yang disukai. disana ada tertulis kode widgetnya, lalu copy untuk kemudian disimpan pada widget sonific yang ada di widget wordpress milik kang ispiraini. tapi pastikan dulu bahwa widget sonificnya sudah diaktifkan di blog kang ispiraini, lalu klick edit dan masukan code dari situs sonific ke widget wordpress. lalu klick save change. selamat mencoba.
salam semua, dan maaf sebelumnya,
saya punya tanggapan mengenai, boleh di terima boleh engga, moga2 jadi inspirasi yg baik. Masalah aurat sebenarnya bagi Kaum muslim dan muslimah dalam dunia masa kini harus melihat dengan secara luas, maka saya melihat wajar orang irian seperti itu. Saya melihat wajar saja dalam tidak pemakaian kerudung bagi muslimah kondisi yg tak memungkin kan pakai kerudung(dan kerudung bukan sebagai luaran saja, tp dari kesadaran terhadap pemahaman dari Ajaran islam) dan saya menganggap biasa org yg melakukan free sex karena mereka org yg tidak tahu,
MAKA SAYA MENGHIMBAU bagi kaum muslimin dan muslimah untuk menginspirasi(dakwah) org2 yang masih belum tau dan jangan bertindak radikal( Islam sebagai rahmatan lil alamin), dan jangan lah melihat org2 belum paham tersebut itu dengan melarang tp meninspirasinya untuk berbuat baik(jangan berpikir ngeres di dunia masa kini), dan jangan lah mengeluh melihat dunia seperti sekarang ini, tp berusaha lah bertakwa kepada Allah dan mempelajari semua ajarannya yg berada di atas teori Universal, sekian dan saya terbuka untuk masukan dan responsi selanjutnya
Wassalam
Abu Ikhsan
April 17, 2008 at 4:38 am
hmmm….setuju banget nih, terutama soal lidah ya
Menurut saya, setiap muslimah yang berkomitmen menutup aurat harus pula berkomitmen menjaga perilakunya (berbanding lurus). Bukan berarti jadi jaga image, tertutup, dll. Nooo! Yang saya maksudkan adalah USAHA menjaga perilaku, lidah, iman, dll sebagai bentuk komitmen terhadap keIslaman kita. Sejak kita menjadi Islam, kita sudah “sign contract” untuk kaffah dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam tanpa ragu, berbantah2an, protes, dll.
Untuk jaman sekarang, di mana urusan menjaga lidah sudah gak gitu diperhatikan lagi, dengan bertebarannya acara gosip dan tabloid gosip dimana2, saya juga ikutan mikir topik baru dan segar yaitu “aurat sosial”. Excellent loh, biasanya orang jika mendengar kata aurat hanya memahami sebagai “tubuh” yang harus ditutup dengan kain panjang, dsb, dsb. saya sendiri baru bergumam “oh iya” waktu membaca artikel ini yang membahas “aurat sosial” atau hal2 lain yang gak kalah penting dari sekedar menutup aurat tubuh saja. Thanks for telling me this brand new idea